Arabella Secret

Arabella Secret
Saling menyuapi


__ADS_3

“Aku tak akan membeli gaun ini kalau kau menolak untuk berbelanja juga.” Nada suara Ara terdengar seperti perintah yang membuat Karen bingung,”aduh Nona ini terlalu baik mana ada majikan menyuruh orang suruhannya untuk belanja ditempat seperti ini,”bathin Karen.


“Kenapa kau diam… kau jangan takut suamiku tidak akan bangkrut bila kau ikut juga belanja disini, ia punya banyak uang,  Coba kau lihat ini.” Ara berkata sambil mengelurkan sebuah kartu Atm unlimited dari dompetnya lalu


menunjukan pada Karen. “ Aku belum pernah menggunakannya saatnya sekarang kita gunakana,” ucap Ara sambil terkekeh.


“Nona… aku tidak ingin Tuan Neal memecatku di hari pertama aku bekerja, nanti dia menyangkah aku memanfaatkan Nona.” Karen Kembali mencoba menolak kebaikan Ara dengan sopan karena ia juga tak ingin menyakiti hati nona mudanya yang berhati sepetri malaikat.


Ara menarik napas panjang lalu menyentuh lengan Karen,” ini adalah hadiah dariku atas pertemanan kita, kau tak usah takut tidak ada yang akan memecatmu.” Mata Ara tiba-tiba tertuju pada tas punggung yang terlihat sangat cantik, ia pun melangkah mendekat pada rak pajangan, Karen mengikuti langkah Ara dengan ekor matanya. Begitu sampai dekat rak Ara langsung  meraih tas itu.


“Karen… coba lihat, ini  sepertinya  sangat cocok untukmu," ujar Ara sambil menunjukan tas itu pada Karen. Ia pun mendekat pada Ara.


“Aku belikan ini untukmu, dan aku tidak menerima penolakan.” Ara berkata sambil menarik tangan Karen dan meletakkan tas itu di tangannya. “Sekarang ayo kita cari sepatu dan tas untukku,” sahut Ara lalu memanggil pelayan toko dan memintah untuk mencarikan benda itu untuknya. Karen yang masih terdiam menatap tas ditangannya, ia menelan ludahnya kasar saat melihat label  harga yang terterah disana.


Setelah menemukan semua barang yang mereka cari, Ara pun menyodorkan kartu Atm-nya  pada kasir untuk membayar semua belanjaannya. Setelah semua barang mereka dikemas mereka pun keluar dari dalam toko.


Neal yang sedang sibuk dengan setumpuk dokumen di mejanya, ia melirik ponselnya saat mendengar  nada pesan masuk. Dengan malas ia meraih ponselnya.  Senyuman menghias dibibirnya saat membaca pesan itu,” dia sepertinya sedang bersenang–senang, ini pertama kali ia menggunakan kartu yang aku berikan,” guman Neal pelan.


****


Ara dan Karen sedang dalam mobil mereka sedang menuju restoran untuk makan siang, deringan ponsel Ara dari dalam tasnya menghentikan obrolan mereka. Ara segera mengambil ponselnya dari dalam tasnya. “ada apa Neal menelponku,” guman  Ara pelan. Mendengar nama Neal di sebut Karen menelan ludahnya kasar,” jangan  jangan Tuan Neal…. Karen mencoba menghilangkan pikiran negative yang bergelayut dipikirannya.


“Hallo Neal… ada apa?”


“Apa aku tidak boleh menelponmu,”sahut Neal kesal dengan nada sedikit meninggi.


“Bukan seperti itu, tentu saja boleh kau kan suamiku.” Ucapan lembut Ara mampu mendinginkan hati Neal yang mulai kesal.


“Kau lagi dimana?” Tanya Neal sudah dengan nada rendahnya.


“Aku dan Karen sedang di jalan menuju restoran untuk makan siang, apakah kau sudah makan?”. Pertanyaan Ara membuat hati Neal bersorak senang.


“Belum… kau makan siang dimana?”. Ara pun menyebutkan nama restoran yang akan ditujuhnya.


“Kalau begitu sampai bertemu disana, jangan masuk dulu sebelum aku datang,” perintah Neal lalu menutup telponnya.


Ara terbengong dengan ponsel yang masih menelpen ditelinganya, Karen pun memperhatikan wajah Ara yang duduk disampingnya. “Ada apa Nona, anda baik–baik sajakan?” Tanya Karen kwatir.


“Aku baik – baik saja… suamiku akan ikut makan siang bersama kita.”


“Apa!... Tuan Neal ikut makan siang dengan kita?”

__ADS_1


“Kenapa… kau tidak suka?” Tanya Ara menatap wajah Karen heran.


“Bu-bukan seperti itu, mana mungkin, aku sedikit takut saja… Nonakan tau kalau Tuan Neal itu bos saya, jadi wajar aku kalau…


“Jangan dipikirkah, bersikaplah biasa saja,” ujar Ara tersenyum. “ Jangan takut… suamiku tidak doyan daging manusia,” lanjut Ara sambil terkekeh, Karen ikut tertawa mendengar perkataan Ara, walaupun dalam hatinya masih diliputi kecemasan.


****


Karen segera memarkir mobilnya begitu sampai di restoran yang mereka tujuh, Ara mengedarkan pandangannya untuk mencari mobil suaminya.  Melihat mobil suaminya belum terparkir disana, ia memutuskan untuk menghubungi suaminya itu, tapi Ara harus menelan kekecewaan karena panggilannya tak dijawab oleh Neal. Ara pun memutuskan untuk menunggunya di dalam mobil. Karen sudah turun dari mobil tanpa  mematikan mesin mobilnya,   karena Ara masih berada di dalam mobil.


Ia mengedarkan pandangnnya kesekeliling  pekarangan restoran. Tempat parkir  restoran yang luas dipadati oleh mobil pengunjung restoran. Untung saja Karen sudah memesan tempat untuk mereka sehingga ia tidak perlu repot mengantri dengan pengunjung yang lain untuk berebut tempat. Restoran mewah ini memang terkenal dengan masakannya yang enak–enak, karena itu tidak pernah sepi dengan pelanggang, walau[un untuk sekali makan disini harus merogoh kocek dalam–dalam.


Mata Karen tertuju pada sebuah mobil yang masuk ke dalam pekarangan Restoran, ia sudah bisa menebak mobil mewah yang baru saja terparkir tak jauh dari mobilnya adalah milik bosnya. Mark yang keluar dari mobil segera membuka pintu untuk Neal. Karen menatap Neal yang keluar dari dalam mobil dengan kaca mata hitamnya sambil mengancingkan jasnya. Karen segera menundukkan kepalanya saat melihat Neal menatap ke arahnya. Ia dan Mark pun berjalan menuju ke arahnya.


“Dimana istriku.” Neal bertanya begitu berdiri di depan Karen. Sedangkan Mark berdiri dibelakang Neal tanpa bersuara ia hanya mengawasi Karen dengan tatapannya.


“Nona masih menunggu dalam mobil Tuan,” sahut Karen masih menundukkan kepalanya.


“Saya akan memanggilkan Nona Tuan,” ucap Karen lalu melangkah pergi. Tapi langkahnya tertahan Ketika mendengar perintah Neal.


“Tidak perlu, biar saya saja.” Neal pun melangkah menuju mobil istrinya dan membukakan pintu mobil untuknya.


“Kau sudah datang,” ucap Ara tersenyum senang melihat Neal berdiri di depan pintu mobil. Ia pun segera keluar dari dalam mobil dan menyambut uluran tangan suaminya begitu ia keluar dari mobil.


“Kau lama sekali hampir saja aku meninggalkanmu, “Sungut Ara mengikuti langkah Neal menuju restoran.


“Aku akan menghukummu kalau kau berani melakukannya,” ujar Neal sambil mempererat genggaman tangannya  diantara jari – jari tangan Ara. Ara hanya terkekeh mendengar jawaban suaminya itu. Sementara Mark dan Karen mengikuti langkah mereka dari belakang.


Seorang pelayan mengantar mereka menuju ruangan VIP  yang telah dipesan oleh Karen sebelumnya, ruanagn itu berada di lantai dua restoran itu. Ruangan yang terpisah dengan pengunjung lain melindungi privasi  setiap pengunjung disana. Mereka pun segera mendudukan tubuhnnya pada meja makan yang ada disana sambil menunggu pesanan mereka,


“Neal… aku  mau ke toilet sebentar,” Ucap Ara sambil bangun dari duduknya. Karin pun ikut bangun tapi dengan cepat Ara mencegahnya.. “Kau disini saja, tak perlu kwatir aku tak akan hilang disini,”imbuh Ara sambil tersenyum lebar lalu melangkah menjauh.  Ketiganya hanya menatap punggung Ara sampai menghilang dari balik pintu.


Karen Kembali menelan ludahnya menyadari sekarang ia bersama dua orang yang begitu menakutkan bagi dirinya,


apalagi saat ia melirik Neal yang sedang menatapnya tajam,


“Sepertinya istriku menyukaimu, apa saja yang telah kalian lakukan.” Pertanyaan Neal barusan membuat Karen sedikit kelabakan, ia tidak ingin Neal salah paham dengannya mengingat tas mahal yang dibelikan Ara untuknya.


“Aku menemani Nona belanja Tuan,” jawaba Karen sangat lancar walaupun hatinya diliputi ketakutan.


“Tapi… tadi Nona memaksa untuk membelikan aku tas, aku sudah menolaknya tapi Nona tetap memaksa,”imbuh Karean lagi, sejenak ia melirik Mark yang juga ikut memperhatikannya.

__ADS_1


“A-aku akan mengembalikan tasnya,” lanjut Karen.


“Kau tidak perlu melakukannya, kau harus menghargai pemberian istriku, tapi bukan berarti kau boleh memanfaatkan kebaikan hatinya, kau tau kalau aku selalu mengawasimu.” Neal berkata dengan suara tegasnya.


“I-ya Tuan saya paham, saya tak mungkin melakukannya.”


“Perlakuakan istriku dengan baik dan buat dia selalu nyaman.”


“I-Iya Tuan, aku akan melakukannya … terima kasih Tuan,” ucap Karen bernapas lega. Perbincangan mereka pun terhenti saat pelayan datang membawakn pesanan mereka, dan segera menatanya di atas meja. Para pelayan segera keluar begitu pekerjaan mereka selesai, Ara yang baru saja kembali dari toilet segera mendudukan tubuhnya di samping suaminya. Dan mereka pun segera memulai makan siangnya.


“Kau yakin, tak ada satupun makanan di atas meja ini yang membuatmu alergi?” Tanya Neal menatap istrinya yang baru saja menyuap makan kedalam mulutnya.


“Tidak… aku hanya alergi dengan kepiting saja,” jelas Ara sambil menghentiikan kunyahannya.


“Baiklah… sekarang buka mulutmu,” perintah Neal sambil mentap Ara dengan sendok yang berisi makanan sudah berada didepan mulutnya. Ara yang hanya menurut membuka mulutnya dengan patuh dan menerima makanan yang disuapi oleh Neal. Perlahan ia mengunya makanan dalam mulutnya dengan pandangannay tak lepas dari suaminya.


‘Kau tidak menyukainya?” Tanya Neal melihat istrinya yang memandanginya, dengan cepat Ara menggelengkan kepalanya,” makanann enak… aku sangat menyukainya,”tutur Ara sambil tersenyum.


“Kalau begitu ayo buka lagi mulutmu,” perintah Neal lagi.  Ara pun kembali menerima suapan dari suaminya. Dan  Ara pun tak mau kalah ia pun menyuapi Neal dengan makan yang ada dalam piringnya, dan Neal pun tidak menolak dengan senang hati ia menerima setiap suapan dari istrinya. Terjadilah saling suap menyuapi antara sepasang suami istri itu, tidak memeperdulikan dua orang yang juga ikut makan bersama mereka.


Sementara Mark dan Karen berusaha  tetap fokus dengan makanan mereka, walaupun pemandangan di depan mereka sangat sayang untuk dilewatkan. Sesekali mereka memberanikan  diri menatap  Tuan dan Nonanya itu.


“Tuan… sepertinya kau sudah jatuh dalam pesona istri penggantimu ini sebelumnya aku belum pernah melihatmu seperti ini,” bisik hati Mark sambil melirik dua insan yang duduk di depannya itu.


“Katanya ini hanya istri penganti tuan Neal tapi sedikit pun aku tidak melihatnya, ia memperlakukan Nona Ara dengan sangat manis, atau jangan–jangan…. Karen tak lagi melanjutkan pikirannya yang sudah bercabang–cabang kemana-mana.


.


.


.


.


.


Bersambung


Aduh babang Neal manis banget😄😄😄....... kasihan tu yang jomblo di depanmu😅😅


Readers jangan lupa jempolnya👍👍

__ADS_1


__ADS_2