Arabella Secret

Arabella Secret
Kau butuh sendiri


__ADS_3

Karin yang sedang berbaring di sofa sambil memainkan  ponselnya dibuat kaget oleh seseorang yang tak dikenalnya membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu, dengan sigap ia melompat dari tidurnya dan menghadang Daniel yang baru masuk sehinga  langkahnya menjadi tertahan, ia  menyisir tubuh Daniel dari ujung  kepala sampai ke ujung kakinya dengan tatapan tajam, Daniel yang merasa dihalangi balas menatap Karen dengan menyipitkan kedua matanya.


“Kau siapa?” tanya Daniel tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Karen.


“Aku yang seharusnya bertanya seperti itu padamu, enak aja masuk menyelonong seperti maling saja,” hardik Karen tegas ia sudah memasang kuda-kuda kalau iba-tiba pria di depannya itu menyerangnya.


“Minggir aku ingin bertemu Ara,” dengus Daniel kembali meneruskan langkahnya tapi dengan cepat Karen memepet Daniel menarik tangannya lalu memelintirkannya ke belakang tubuhnya, Daniel yang mendapat serangan mendadak tidak bisa mengelak  ia bahkan tidak berkutik saat Karen mengunci pergerakannya. Satu tangannya melingkar di lehar Daniel dengan kuat.


“Gadis bodoh lepaskan tanganku,” seru Daniel meringis menahan sakit di pergelangan tangannya.


“Brengsek badan kecilnya ternyata kuat juga,” maki Daniel dalam hati.


“Tidak…aku tidak akan melepaskan dirimu,” Selesai bicara Karen mencoba mendorong paksa Daniel keluar dari ruangan itu.


“Kau berani mengusirku maka aku akan memblacklist namamu dari daftar orang yang boleh berkunjung ke rumah sakit ini,” maki Daniel merasa sangat kesal.


“Aku yang akan menedangmu keluar dari sini,” teriak  Karen tak kalah kuat.


“Lepaskan…! Perintah Daniel mencoba berontak tapi sungguh Karen mengunci geraknya, pada hal tubuh Karen kalau jauh dari ukuran tubuhnya ia bisa memangkul tubuh Karen hanya dengan satu tangannya saja.


Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar dan diiringi terbukannya daun pintu, seorang  perawat yang datang membawakan makan malam untuk Ara kaget saat melihat Daniel dalam cengraman Karen, matanya bergantian menatap Daniel dan Karen.


“Maaf selamat siang Dokter Daniel, saya  mengantarkan makan malam untuk Nona Arabella,” sapa perawat itu sopan, dengan langkah tergesa ia menghampiri nakas di samping tempat tidur dan meletakknya disana.


Karen yang bingung saat melihat perawat itu menyapa Daniel,” Dokter…. Kau seorang Dokter,” tanya Karen pelan tanpa melepaskan tangannya.


"Kau sudah tau sekarang lepaskan tanganmu," perintah Daniel. Karen yang tersadar dengan cepat melepaskan tangannya dari tubuh Daniel. Setetlah tubuhnya terbebas  dari kungkungan Karen dengan cepat  membalikkan tubuhnya menatap Karen dengan tajam seakan menembus tubuhnya. Karen hanya menelan ludahnya dengan wajah memucat. Semetara perawat tadi sudah berlalu takut tidak mau terlibat dengan suasan disana yang sedikit panas.


“Maaf…. Hanya itu kata-kata yang keluar dari bibir Karen.


“Maaf… hanya itu yang bisa kau lakukan setelah membuat tanganku sakit,” dengus Daniel menatap wajah cantik Karen lekat.

__ADS_1


“A-aku  hanya ingin menjaga Nona Ara aku tidak ingin orang asing mengganggunya,” sahut Karen pelan dengan wajah memelas.” Salah kau sendiri datang memakai pakaian seperti ini,” lanjut Karen.


"Terserah aku mau memakai pakaian apa, berani kau berbuat seperti itu lagi padaku aku akan mengusirmu dari sini."


"Kau pikir aku takut, kau disini hanya Dokter jadi jangn berlagak seperti pemilik rumah sakit ini," balas Karen tak kalah ketus, rasa takutnya tadi telah menguap entah kemana.


Daniel tertawa meledek saat mendengar ucapan Karen," Kau lihat wajahku baik-baik setelah ini kau boleh ke luar lihat daftar nama Dokter disana kau akan tau siapa diriku."


"Aku tidak ada waktu mengurusinya," dengus Karen sambil membuang mukannya.


"Terserah...minggir," Daniel berkata sambil mendorong bahu Karen, hampir saja Karen terjatuh karenanya untunglah ia dengan cepat bisa menjaga keseimbangnnya.


"Kau...Karen mengepalkan kedua tangannya dengan kesal. “Nona Ara sedang tidur, kau bisa datang lagi kalau ia sudah bangun “ seru Karen menatap punggung Daniel, tapi itu tidak menghentikan niat Daniel.


"Kau diam, suaramu bisa membangunkannya. Aku kesini hanya ingin melihatnya sebentar."


Daniel menatap wajah Ara yang masih terlelap, dengan lembut ia menyentuh kening Ara dengan punggung tangannya, rasa iba menyelimuti hati Daniel.


Daniel melihat pergerakan tubuh Ara perlahan Ara membuka matanya, beberapa kali ia mengerjapkan matanya yang masih terasa kabur samar ia melihat sosok seorang pria sedang berdiri didepannya, hatinya bersorak senang berharap pria itu adalah Neal suaminya senyum menghias bibirnya yang pucat, tapi ia kembali menelan senyumnya saat matanya sudah dapat melihat dengan jelas sosok didepannya.


“Hai…kau sudah bangun,” sapa Daniel lembut sambil tersenyum pada Ara. Ara hanya menganggukan kepalanya pelan tanpa bersuara, Karen ia sedari tadi berdiri tak jauh dari sana langsung berlari ke tempat tidur Ara.


“Nona sudah bangun, apa Nona haus?” tanya Karen mengusap kepala Ara lembut, Ara pun menganggukan kepalanya, Karen pun menekan tombol remot control yang ada disisi kiri tempat tidur, bagian atas  sisi Kasur terangkat pelan. Setelah Ara duduk dengan posisi nyaman Karen pun mengambil gelas yang ada di atas nakas lalu mendekatkan ke bibir Ara.


“Karen biar aku saja,” ucap Ara pelan sambil mengambil gelas yang ada di tangan Karen. Ara mendekatkan bibir gelas ke bibirnya dan menenguknya dengan pelan menyisahkan separuh isinya, ia pun menyerahkan kembali gelasnya pada karen, tak lupa mengucapkan terima kasih.


Daniel menatap Ara dan Karen bergantian tanpa bersuara,” apa hubungan Ara dengan wanita ini, mereka terlihat begitu akrab,” bathin Daniel. Saat ia kembali menatap Ara ternyata Ara juga sedang menatapnya. Baru saja ia akan membuka mulut tapi Ara lebih mendahuluinya.


“Terima kasih sudah datang, tapi kau tak perlu repot melakukannya.”


“Apa  yang kau bicarakan, sedikitpun aku tidak merasa repot,” bantah Daniel menatap wajah Ara lekat. “ aku hanya ingin memastikan keadaanmu baik-baik saja, Daniel menghentikan sejenak bicaranya " aku akan selalu ada untukmu, jadi jangan pernah takut kau akan sendiri.”

__ADS_1


Siapa orang ini kalau ia hanya seorang dokter di rumah sakit ini tapi kenapa ia begitu perhatian pada Nona Ara, sikapnya sangat berbeda dengan Dokter yang menangani Nona, atau jangan-jangan…


“Aku baik-baik saja, kau tak perlu mengawatirkan aku.” Ara berkata tanpa menatap Daniel wajahnya terlihat begitu dingin.


“Jangan berbohong padaku, kau pasti sudah tau aku bukan hanya sekarang saja mengawatirkanmu walaupun kau tidak pernah mengubrisku. Baiklah, kau istirahatlah aku pergi dulu jangan sungkan untuk menghubungiku kalau kau butuh bantuanku, jangan bebani pikiranmu dengan hal-hal yang tidak penting, jika dia tidak menginginkanmu masih banyak orang lain yang peduli padamu, sampai jumpa lagi Ara.”


“Jangan berkunjung lagi Daniel, aku…


“Aku tidak akan menerima penolakanmu lagi, jika kau tak mau maka aku akan memaksamu, jangan berpura-pura tegar di depanku, setelah kau sembuh aku akan membawamu pergi ke…


“Berhentilah mengasihani aku,” suara Ara bergetar berusaha menahan tangisnya. Daniel berdecak kesal mendengar ucapan Ara, ia mencondongkan tubuhnya menangkukan kedua tangannya di pipi Ara, menarik wajahnya agar menghadap padanya, “aku tidak perna mengasihanimu, aku hanya ingin kau bahagia, hanya dengan kau pergi dan tak melihatnya lagi barulah kau bisa  belajarlah untuk melupakannya, mungkin…


 Ara menepis tangan Daniel hingga terlepas “Aku tidak peduli ia mencintaiku atau tidak, aku akan mencintainya dengan cara kusendiri, tak selamanya apa kita  inginkan dapat kita miliki.”Air mata yang sedari tadi ditahan Ara akhirnya luruh juga, Daniel menatap Ara sedih berusah menghapus air mata Ara tapi dengan cepat Ara menjauhkan wajahnya dari Daniel.


“Pergilah Daniel jangan mengunjungiku lagi, anggap saja kau tidak pernah mengenalku.”


“Baiklah…mungkin kau perlu waktu untuk sendiri.” Terdengar nada kecewa dari suara Daniel, ia pun beranjak pergi meninggalkan kamar Ara dengan langkah gontai, setelah kepergian Daniel tangis Ara pecah, Karen memeluk Ara membiarkanya menangis  mungkin ini dapat mengurangi sedikit bebah di hatinya.


.


.


.


.


Bersambung


 Aduh mewek lagi😭😭😭


Mafkan diriku ini😢😢😢

__ADS_1


 Jangan luap like dan komen ya..👍👍


__ADS_2