Arabella Secret

Arabella Secret
Rencana bulan madu


__ADS_3

Maxim berdiri sambil menyandarkan sebelah bahunya ke dinding kedua alisnya menaut dengan seringai  kepuasaan menghias bibirnya,  kedua tangannya bersidekap di dadanya. Perlahan  Mark menjauhkan tubuhnya dari tubuh Natasya menatap balik Maxim.


“Itu bukan seperti yang ada dalam pikiranmu,” ucap Mark tegas tapi Maxin semakin melebarkan seringainya.


“Sudahlah Mark tak usah sungkan padaku, santai saja, siapa yang bisa menolak pesona sepupuku ini,” sahut Max santai sambil memasukan kedua tangannya ke saku celananya.


“Terserah kau saja,” ucap Mark lagi malas untuk berdebat dengan Maxim ia pun melangkah pergi tapi dengan cepat Natasya menggelayutkan tangannya ke lengan Mark membuatnya menahan langkahnya dan menatap Natasya tajam.


“Kakak mau kemana? Ayo kita makan dulu.”


“Sudah aku bilang aku tidak lapar,” tegas Mark sambil menarik lengannya hingga terlepas dari genggaman Natasya, ia pun meneruskan langkahnya tapi saat tiba di depan Max langkahnya terhenti karena Maxim memegang lengannya lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Mark.


“Jangan terlalu dingin padanya, nanti kau akan menyesal kalau sepepuku sudah menyukai lelaki lain.” Maxim pun melepaskan pegangannya sambil terkekeh lalu melangkah mendahuluinya.


*****


Pesta kecil itu sudah berakhir semua sudah kembali ke rumah masing-masing, walaupun pesta itu hanya sederhana tapi begitu semarak dengan kehadiran semua anggota keluarga besar Neal. Kehebohan semakin terasa Ketika sesi melemparan Bunga semua berebutan untuk mendapatkannya tentu saja bagi mereka yang belum menikah Natasya dan Jessy yang paling ngotot untuk mendapatkannya, Ara hanya tertawa melihat


tingkah mereka.


Dan sepetinya keberuntungan berpihat pada Natasya ia berhasil mendapatkan Bunga itu, ia bersorak kegirangan sambil mengedarkan


pandangannya ke sekelilingnya dan ia berhasil menemukan orang yang sedang


dicarinya yang juga sedang menatapnya, Natasya tersenyum pada Mark sambil


mengangkat bunga itu, tapi ekspresi datar dan tatapn dingin itu tak berubah saat menatapnya.


Neal melangkah mendekati istrinya yang sedang berdiri di balkon kamarnya,” Sayang, "sapa Neal lembut sambil  memeluk tubuh istrinya dari belakang  lalu mengecup puncak kepalanya lalu menyandarkan dagunya ke bahu istrinya, Ara memegang tangan Neal yang melingkar di perutnya lalu mendongakan wajahnya dan mencium pipi Neal, rasa hangat langsung menyelimunya ia memejamkan matanya sambil menempelkan pipinya ke ke kepala suaminya rasa bahagia membuncah didadanya.


“Kau mau kita bulan madu kemana.”


“Bulan madu,” tanya Ara mengulang lagi ucapan Neal sambil mengangkat kepalanya menatap suaminya yang juga sedang menatapnya.


“Iya, kita belum pernah pergi bulan madu,” sahut Neal sambil menatap bola mata indah itu bergantian.

__ADS_1


“Haruskan kita melakukannya?”


“Kenapa? Kau tidak mau kita pergi bulan madu,” ucap Neal sambil membalikan tubuh istrinya agar menghadap padanya.


“Bukan seperti itu, tapi kau kan bekerja,” tanya Ara lembut sambil mengusap dada suaminya lembut.


“Pekerjaanku ada Mark dan Maxim yang akan mengurusnya, “ ucap Neal mencoba menyelinapkan rambut istrinya yang menutup wajah istrinya karena tertiup angin ke belakang telingannya.


“Maxim?” tanay Ara mengernyitkan keningnya.


“Iya ,sudah saatnya ia belajar. Jadi kau ingin pergi kemana?”


Ara pun berpikir sejenak sambil mengerucukan bibirnya satu tangannya memegang dagunya, Neal tak lepas


memperhatikan wajah istrinya yang terlihat menggemaskan dengan wajah seperti itu, ia tahan untuk mengecup bibir yang mengodanya sedari tadi, kecupan singkat Neal dibibirnya membuta Ara menatap suaminya itu lalu mencubit pipi suaminya gemas.


“Eemmm, kau ingin menyuruh aku berpikir tapi malah mengganggu saja.”


“Kau sepertinya sengaja ingin mengodaku,” sahut Neal kembali mencium bibir istrinya lembut.


“Kau sudah menentukan kita pergi kemana,” tanya Neal lagi sambil melepaskan ciumannya. Ara pun menganggukan kepalanya pelan sambil mengatur napasnya


“Bali. Baiklah besok kita berangkat sekarang kita pemanasan dulu,”ucap Neal lalu mengangkat tubuh istrinya.


“Pemanasan?” tanya Ara sambil mengernyitkan keningnya.


“Iya, karena sampai disana aku akan mengurungmu di dalam kamar aku akan menyiramu sepanjang hari,” sahut Neal tersenyum mesum, wajah Ara seketika memerah karena ia tau kemana maksud bicara suaminya. Setelah sampai di tempat tidur ia membaringkan tubuh istrinya hati-hati.


“ Sayang, kita hampir melakukannya tiap malam, apakah itu juga termasuk pemanasan,” tanya Ara dengan wajah


malu-malu.


“Disana kita akan melakukannya siang malam, pulang disana aku ingin Neal junior sudah tumbuh disini,” ucap Neal sambil mengusap perut datar istrinya.


Perkataan Neal mengingatkan Ara kembali pada bayi merka yang pernah tumbuh disana, Neal mengangkat wajahnya saat mendnegar istrinya terdiam, ia melihat kesedihan di wajahnya.

__ADS_1


“Sayang,” sapa Neal lembut sambil mengusap wajah istrinya sehingga Ara mengalihakn tatapan pada Neal.


“Maafkan aku, aku….”


“Tidak sayang, jika ada yang disalahkan aku lah orangnya. Seandainya saat itu aku menuruti keinginanmu untuk ikut bersamaku, pasti sekarang kita sudah mengendong bayi kita,” ucap Neal pelah sambil memeluk istrinya erat. Ia kembali merasa rapuh jika teringat kembali peristiwa itu. Ara balas memeluk suaminya erat.


“Kita tidak bisa memutar waktu yang telah berlalu, aku tau penyesalan akan membuat kita semakin sakit, tapi aku sebagai manusia biasa terkadang tidak dapat mengendalikan hatiku yang masih begitu sedih jika teringat akan kenangan itu,” lirih Ara sambil mempererat pelukannya.


“Aku akan selalu berusaha menjadi suami yang terbaik untukmu.” Neal pun melepaskan pelukannya menatap wajah istrinya yang basah oleh air mata, ia pun menghapusnya dengan ibu jarinya.


“I love you honey.”


“I love you to my husband.”


Ara menarik kedua sudut bibirnya menepiskan sebuah senyuman walau masih dibalut oleh wajah kesedihan.


“Aku tidak ingin melihatmu menangis dan bersedih lagi, apalagi ini malam pertama kita aku tidak ingin ada kesedihan sayang,” ucap Neal menipiskan senyum dibibirnya. Ia


menjerit kaget saat pinggangnya dicubit oleh istrinya.


“Malam pertama datang dari mana sayang,” ucap Ara melototkan kedua matanya saat memandang suaminya.


“Malam pertama  di pernikahan kedua kita sayang,” goda Neal sambil terkekeh dan ucapannya berhasil membuat semburat merah dipipi istrinya.


“Ayo sayang sudah saatnya aku menyiram kebunku agar kita bisa cepat panen bayi ,” ucap Neal sambil tersenyum dan menatap mesum pada istrinya, Ia langsung menindih istrinya dan mulai merayu istrinya dengan cumbuannya, dan tentu saja Ara tak akan pernah sanggup untuk menolak dan pasrah apa pun yang dilakukan suaminya kepadanya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


Selamat membaca semoga kalian menyukai nya ❤❤


__ADS_2