
Ara menurunkan kacamobilnya ingin menikmati udara kota Tyumen yang sangat di rindukan, di kota ini banyak kenangan tersimpan yang tak akan pernah terlupa. Rasa sedih berkumpul dalam hatinya saat menyusuri jalan menuju rumahnya, ketakutan akan rasa ibunya tidak bisa menerima kehadirannya kembali. Rasa bersalah telah membohongi ibunya yang terus membayangi pikirannya, dan jika kesalahannya memang tidak bisa dimaafkan sungguh membuat rasa sesak di dadanya.
Neal menggenggam tangan istrinya dan membelainya lembut melihatnya sedari tadi tak bersuara, walaupun
Ara tak mengatakannya tapi ia tau kalau istrinya menyimpan kekwatiran tentang ibunya, apakah ibunya dapat memaafkan kesalahan yang pernah di buat dan menerima kehadirannya seperti dulu lagi.
“Aku takut apakah semuanya bisa kembali seperti semula.” Ara berkata tanpa mengalihkan tatapannya.
“Kita berdua akan berusaha untuk itu sayang, jangan terlalu di pikirkan, semarah apa pun seorang
ibu di hatinya akan selalu ada cinta untuk anak-anaknya,” bujuk Neal berusaha menguatkanhati istrinya.
Ara menolehkan wajahnya menghadap pada suaminya lalu menyandarkan kepalanya kebahunya,” semoga saja,
aku hanya bisa berharap sekarang.”
****
Mobil berhenti di depan rumah Ara, Neal turun dari mobil lebih dahulu lalu ia pun mengulurkan tanganya
membantu istrinya turun, ia melihat wajah istrinya yang gugup, ia mempererat genggaman tangnanya seakan ingin menyalurkan kekuatan pada istrinya,” percayalah semua akan baik-baik saja, ayo kita temui ibumu,” ucap Neal tersenyum lembut menatap lekat manik istrinya. Ara pun mengangguk mencoba untuk tersenyum walaupun hatinya diselimuti kecemasan yang luar biasa.
Jantungnya semakin berdebar saat menatap rumahnya, ia terus berdoa dalam hatinya sambil terus melangkah
masuk ke dalam pekarangn rumah ibunya. Manik coklatnya memperhatikan sekitarnya, tak ada yang berubah semua masih seperti saat ia tinggalkan. Rumah terlihat sepi seakan tidak ada kehidupan disana. Ara semakin memperkuat genggaman tangannya didalam genggaman suaminya, bayangan terburuk yang
membayangi ingatannya membuatnya semakin dilanda kecemasan, Neal dapat merasakan kecemasan yang sedang mendera pikiran istrinya.
“Tenanglah, semua akan baik-baik saja,” Neal berkata sambil mengusap lembut lengan istrinya mencoba
menenangkannya.
Tok…tok
Neal mengetuk pintu rumah yang terlihat kusam karena catnya yang mulai memudar, Ara yang berdiri disampingnya menunggu dengan harap cemas, ia pun merangkul bahu istrinya dan mengusapnya dengan lembut menatap istrinya memberikan seulas senyum penenang untuk istrinya yang sedang menjalin jari tangannya mengurangi kecemasannya.
Klek…
Daun pintu terbuka disusul seorang wanita paruh bayah berdiri diambang pintu menatap siapa yang sedang mengunjunginya, Corry tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya saat menatap siapa yang mengetuk pintu rumahnya, keduanya diam mematung diposisinya tanpa melepaskan kontak mata diantara mereka.
“Ibu…” Ara memanggil ibunya dengan suara dan bibir gemetar, ia ingin memeluk tubuh rentah yang sangat ia rindukan tapi rasa ketakutan dan kecemasan membuatnya takut untuk melakukannya dan menahan dirinya.
Cory menatap putri yang sangat ia cintai bahkan melebihi dirinya sendiri, ia tidak bergeming dari tempatnya karena rasa keterkejutannya, ia mengerjapakn matanya berharap ini bukanlah mimpi ketika ia membuka matanya kembali ia masih melihat wajah cantik putrinya sudah basah dengan air mata.
“Ibu…maafkan Ara.” Hanya itu kata-kata yang dapat meluncur dari bibirnya, ia mengulurkan tangannya
__ADS_1
mencoba menyentuh jemari keriput yang termakan usia. Cory tidak menghindar ketika jemari dingin Ara menyentuh tangannya dan membuatnya sekan tersadar sehingga ia mengalihkan tatapannya. Tatapan itu terhenti ketika menatap perut putrinya yang terlihat membuncit.
“Selamat pagi ibu, maaf kedatangan kami yang mendadak tanpa memberi kabar.” Neal sedari tadi diam akhirnya ikut bersuara memecah kesunyian yang terjadi diantara mereka. Cory pun memindahkab tatapannya pada
pria yang berdiri disamping Ara, wajah yang tidak mungkin ia lupakan walaupun mereka hanya bertemu dua kali saja.
Ketika melihat wajah Neal itu mengingatkannya kembali pada luka yang ditorehkan oleh putrinya didalam hatinya, rasa kecewa akan dirinya yang tidak bisa menjaga putrinya dengan baik sehingga rela menjual dirinya demi kesembuhannya sendiri, ia memejamkan kedua matanya dan buliran bening itu pun terjatuh tanpa dapat
dicegah.
“Kau sudah bosan denganputriku Tuan dan sekarang ingin mengembalikannya kepadaku.”ucap Corry menatap lekat wajah Neal. Ucapan yang dilontarkan Cory membuat Neal dan Ara terkejut.
“Ibu, aku….”Neal meremas bahu istrinya lembut sehingga wanita itu beralih menatapnya, Neal menggelengkan kepalanya meminta istrinya untuk tidak meneruskan perkataannya, ia memberi kode pada istrinya biar dia saja yang
menjelaskan pada ibunya Ara, Ara pun menganggukan kepalanya mengerti maksud suaminya itu.
“Ibu, sebelumnya saya meminta maaf karena tidak memintah ijin kepad ibu untuk menikahi Ara, ini
awalnya tidak mudah untuk kami berdua, dan aku akan menceritaknya semuanya kepada ibu kenapa kami harus menyembunyikan semua ini darimu.”
Neal menatap istrinya sejenak ia pun menarik napas panjang dan menceritakan semuanya kepada Cory, tentang awal kenapa ia terpaksa menikah dengan Ara dan perjanjian yang dibuat oleh ibunya. Cory memundurkan tubuhnya menatap Ara dan Neal bergantian sehingga membuat keduanya mengernyitkan keningnya heran melihat wajah Cory Seperti mengawatirkan sesuatu.
“Tunanganmu memiliki wajah yang mirip dengan Arabella,” tanyanya dan dibalas anggukan oleh Neal.
“Tidak, aku baik-baik saja,” balas Cory mencoba mengusai dirinya mencoba berpikir positif mungkin memang adala seseorang yang kebetulan memiliki wajah yang mirip dengan Ara.
Neal pun kembali melanjutkan kembali ceritanya yang sempat terhenti, satu pun tidak sembunyikan oleh Neal karena ia tidak ingin Cory meragukan Ara lagi. Cory hanya terdiam menyimak setiap kalimat yang diucapkan oleh Neal, air mata itu turun semakin deras betapa beratnya beban yang di pikul oleh Ara seorang diri, dan segala
tuduhan yang ia lemparkan semakin membuat denyut kesakitan didadanya. Cory menatap wajah sendu Ara yang juga penuh dengan linangan air mata.
Perlahan ia mendekatkan kedua tanganya menangkup kedua pipi putrinya, isak yang sedari tadi ditahannya
akhirnya pecah,” maafkan ibu sayang, apakah aku masih pantas dipanggil seorang ibu,” isak Cory menatap manic coklat muda itu yang sudah penuh dengan air mata.
Ara menggelengkankepalanya sambil menyentuh tangan ibunya,” tidak, Ara yang salah seharusnya Ara tidak membohongi ibu, tapi Ara tidak tau harus bagiamana lagi, saat itu hanya ada satu pilihan karena Ara tidak sanggup kehilangan ibu, biarlah sedikitpengorbanan itu tidak akan berarti dengan semua kasih sayang yang telah ibu
curahkan kepada Ara.”
Cory merengkuh tubuh rapuh putrinya kedalam pelukanya ia merasakann separuh nyawanya kembali lagi,
Ara membalas pelukan itu sambil memejamkan matanya, pelukan yang sudah cukup lama tidak ia rasakan dan betapa rindunya dirinya dengan dekapan hangat ibunya. Lama keduanya saling berpelukan melepaskan rasa rindu yang sudah lama tertahan, Neal hanya diam sambil mengulum senyum bahagia melihat pemandangan didepannya. “Dan sekarang kau sedang hamil sayang,” Tanya Cory sambil melepaskan pelukanya, Tangannya
bergerak menyentuh perut Ara yang terlihat membuncit dibalik gaun yang dipakainya.
“Iya ibu, usianya baru tiga bulan, tapi kata dokter aku hamil bayi kembar itu kenapa ia sedikit lebih besar,“ jelas Ara tersenyum bahagia sambil mengusap perutnya lembut.
__ADS_1
Deg…
Jantung Cory beredetak dua kali lebih cepat mendengar ucapan Ara, perubahan wajah ibunya kembali menjadi perhatian Ara.
“Ibu kenapa, apa ibu sakit.” Ara berkata sambil menyentuh wajah ibunya, ia kwatir penyakit ibunya kambuh kembali.
“Tidak sayang, ibu baik-baik saja. Ayo kita masuk,” ajak Cory menarik tangan putrinya, ia pun mengajak Neal untuk ikut masuk kedalam.
Ara menarik napas lega saat melangkah masuk kedalam rumah, beban yang dipikulnya seakan terlepas
membuat wajah cantiknya tidak henti melukiskan senyum bahagia. Ara menagajak suaminya untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
“Tunggulah sebentar Neal, Ara. Ibu akan membuatkan minum untuk kalian.”
"Tidak ibu. Ibu duduk saja biar Ara yang buatkan,”ucap Ara sambil menahan tangan ibunya dan menyuruhnya untuk duduk disofa. “ tapi sayang kau sedang hamil, kau tidak beleh capek,” ucap Cory mengusap lembut perut Ara sehingga membuatnya terkekeh.
“Ibu, Ara hanya membuatkan minum saja, mana mungki capek, iya kan sayang,” ucap Ara sambil melirik suaminya. Neal pun ikut tersenyum mengiyakan ucapan istrinya. Ara pun beranjak ke dapur meninggalakan Neal dan Corry.
“Terima kasih sudah menjaga putri ibu dengan baik. Maafkan ibu karena saat itu ibu tidak mendengarkan penjelasan Ara,” ucap Cory sedih menatap Ara yang tengan memanaskan air di kompor.
“Ara begitu kwatir, ia sangat takut ibu tidak mau menerima kehadirannya lagi, terima kasih ibu sudah memaafkan Ara.”
“Sebesar apa pun kemarahan seorang ibu pada anaknya sesungguhnya kasih sayangnya jauh lebih besar dari kemarahan itu. Ini juga bukan sepenuhnya salah ibu seandainya Ara mendapatkan kehidupan lebih layak, ibu selalu merasa bersalah kepadanya tidak bisa memberikan semua itu, dari kecil dia selalu hidup susah.”
Air mata kembali berlinang di wajah Cory membayangkan kehidupan Ara yang jauh dari kata layak, walaupun ia dan suaminya selalu bekerja keras untuk kebahagian Ara tapi suaminya yang bekerja sebagai pegawai rendahan gaji yang mereka terima hanya bisa untuk mencukupi biaya hidup bulan ke bulan dan itu pun mereka harus
berhemat.
“Bahkan ia tidak dapat melanjutkan sekolahnya ke bangku kuliah dan terpaksa bekerja untuk membantu ekonomi keluarga apalagi semenjak ayahnya meninggal, uang pensiun yang kami terima sangat kecil.”
Neal menyentuh tangan Cory yang mulai keriput termakan usia senja, ia ikut sedih mendengar cerita Cory tentang perjalan hidup istrinya,” ibu, aku yakin Ara tidak pernah menyesali semua itu karena ia terlihat sangat bahagia bersamamu. Aku berjanji akan selalu membahagiakan Ara, memberikan apa yang belum pernah ia raih dan inginkan.”
“Terima kasih, Nak. Ibu selalu mendoakan semoga kebahgian selalu bersama kalian.” Cory berkata sambil
mengusap air matanya melihat Ara yang berjalan ke arahnya ia tidak ingin Ara melihatnya bersedih.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1