
Ara baru saja tertidur Ketika ponsel Karen berdering, ia menatap layar ponselnya satu panggilan dari Neal, dengan cepat Karen
menjawabnya.
“Selamat malam Tuan.”
“Bagaimana keadaan istriku, apakah ia sudah makan.”
“Nona baru saja tertidur Tuan, Nona hari ini tak banyak bicara sepertinya…Karen ragu saat melanjutkan ucapannya.
“Sepertinya Apa?” tanya Neal mendengar keraguan dari nada bicara Karen.
‘Maaf Tuan, bukannya saya ingin ikut campur, sepertinya Nona sangat merindukan Tuan, ia makan sangat sedikit, aku sudah mencoba untuk membujuk Nona tapi ia tetap menolak, aku tidak tega melihat Nona sedih seperti itu Tuan.” Karen tak tau ia mendapat kekuatan dari mana sehingga begitu lancar menyampaikan uneg-uneg yang membungkus kepalanya.
Lama Neal terdiam mendengar ucapan Karen, hatinya terasa diiris terasa begitu pedih, ingin rasanya ia berlari menemui istrinya tapi
Anara selalu memintahnya untuk terus berada disisinya membuatnya tak bisa melarikan diri, seperti sekarang ia mencoba mengubungi Karen sambil bersembunyi di perpustakaan. Dan baru saja ia akan melanjutkan bicaranya sudah terdengar suara Anara memanggilnya sehingga membuat Neal berdecak kesal.
“Oh iya Tuan, tadi siang Daddy dan Mommy anda berkunjung tapi mereka tak sempat bicara dengan Nona karena saat itu Nona tidur beliau tidak ingin menggaggu tidurnya Nona.”
“Baiklah, selalu temani istriku jangan biarkan dia sendrian, besok aku akan menemuinya.” Neal pun segera mengakhiri panggilannya dan segera keluar menemui Anara.
“Apa yang kau lakukan di perpustakaan,” Anara langsung bertanya begitu wajah Neal muncul dibalik pintu.
“Ada sedikit masalah di kantorku, jadi Mark menghubungiku.”
“kau bisa menerima telpon di depanku kenapa harus bersembunyi?”Neal hanya diam tidak menjawab pertanyaan Anara.
“Baiklah sekarang aku ingin tidur, kau temani aku ya,”pintah Anara dengan wajah memelas.
“Baiklah,” jawab Neal singkat lalu mendorong kursi roda Anara, Anara tersenyum senang saat Neal menyetujui permintaannya, Anara sudah sangat merindukan tidur dalam pelukan Neal, beberapa kali ia pernah
melakukannya, mereka hanya tidur tidak pernah melakukan hal lebih karena Neal tidak
akan melakukannya sebelum mereka sudah resmi jadi suami istri.
****
Arabella terbangun ditengah malam, ia menatap Karen yang tertidur pulas diatas sofa. Ara perlahan bangun dan mendudukan tubuhnya disisi ranjang, menatap keluar jendela yang ada disebelah kanan tempat tidurnya, perlahan ia turun dari tempat tidurnya menatap ponsel Karen yang terletak di atas meja, ia kembali menatap keluar jendela, perlahan melangkah kakinya mendekat kesana, Ara menarik gorden jendela agar tidak menghalangi pandangannya.
Perlahan ia mendorong jendelanya membiarkan udara malam masuk, udara dingin langsung membungkus wajah Ara yang pucat, ia memejamkan matanya menikamati keheningan malam, perlahan ia mengusap perutnya,” maafkan mommy sayang tidak bisa menjagamu dengan baik,”lirih Ara, butiran bening
__ADS_1
kembali meluncur dipipinya.
****
Karen meregangkan ototnya yang terasa begitu kaku ia menatap ke tempat tidur Ara tapi tempat tidur itu kosong, ia melirik pada jam dinding yang ada di kamar yang menunjukan pukul tujuh pagi, ia berdecak kesal karena bangun terlambat, ia bangun dan mendudukan tubuhnya disofa sambil memainkan ponselnya.
Karean mentaap kearah pintu kamar mandi belum ada tanda-tanda Ara akan keluar, perlahan ia bangkit takut sesuatu terjadi pada Ara saat dikamar mandi.
“Nona, apakah kau baik-baik saja,” karean berkata sambil mengetuk pintu kamar mandi, karen mengernyitkan keningnya karena tak mendengar sahutan dari dalam, ia mencoba memanggil Ara lagi tapi tetap sama, perlahan ia membuka pintu kamar mandi, wajah Karen langsung memucat tak melihat keberadaan
Ara disana.
‘Nona…!
Karen berlari keluar dari kamar menyisir setiap sudut dilantai itu tapi ia tetap tidak menemukan sosok yang dicarinya , ia bergegas menuju lift menekan tombol untuk ke lantai dasar, Karen berdiri dengan gelisah
didalam lift tubuhnya terasa gemetar membayangkan hal buruk yang ada dalam
pikirannya, begitu pintu lift terbuka ia keluar dengan tergegas.
Bugh!
Karean meringis kesakitan sambil memegang bahunya yang sakit, “Maaf.” Karen berucap maaf sambil menundukan tubuhnya tanpa menatap wajah orang yang baru saja
“Hai Nona…
Karen terus berlari tidak memperdulikan teriakan Daniel yang mencoba memanggilnya, Karen bertabrak dengan Daniel ia tidak menyadarinya karena ia begitu terburu-buru
“Ada apa denganya kenapa ia terburu-buru seperti itu, dasar wanita aneh,” Daniel pun segera melanjutkan langkahnya.
Karen menyisir taman rumah sakit, tapi ia juga tidak menemukan keberadaan Ara disana,” Nona kau ada dimana,” ucap Karen lirih sambil mengedarkan pandangannya kesekelilingnya, ia mengusap air matanya dengan kasar.
“Jangan seperti ini Nona,” isaknya pelan. ia begitu ketakutan.
“Aku harus kembali ke kamar jangan-jangan Nona sudah kembali ke kamarnya,” Karen kembali berlari masuk ke dalam rumah sakit menuju lift, ia meremas kedua tangannya yang terasa dingin. Begitu pintu lif terbuka ia berlari menuju kamar Ara dengan cepat
menarik daun pintunya. Tapi keadaan kamar sama seperti waktu ia tinggalkan. Karen jatuh terduduk dilantai sambil memanggil nama Ara.
“Nona jangan pergi…!
****
__ADS_1
Neal sedang berjalan menuju meja makan untuk sarapan, Ivander dan Helena sudah menunggu disana, Langkah Neal terhenti Ketika mendengar dering ponselnya, ia segera merogoh ponselnya dari saku jasnya, segera menjawab panggilan telponnya.
Wajah Neal langsung memucat ponsel yang ada digenggamannya terlepas, kakinya terasa lemas, hampir saja ia terduduk dilantai untungnnya Ivander dengan sikap menangkap tubuh Neal menahannya agar tidak terjatuh, ia menatap wajah Neal yang pucat seolah aliran darahnya berhenti.
“Neal, ada apa Nak,” tanya Ivander begitu kwatir melihat Neal, Helena pun ikut berdiri disamping Neal.
“A-ara papa…Ara,” bibir Neal bergetar saat menyebut nama istrinya, Ivander memeluk tubuh Neal, ia menangis dalam pelukan Ivander.
“Ada apa dengan Ara, Nak?” wajah ivander terlihat panik, ia tak pernah melihat sisi rapuh Neal seperti ini, ia bahkan menangis dalam pelukannya seperti anak kecil, rasa cinta sungguh dapat membuat manusia setegar Neal menjadi rapuh.
“Ara… Ara sudah pergi, ia meninggalkanku Papa.”Tubuhnya meluncur dalam pelukan Ivander berdiri bertumpuh pada kedua lututnya, tangannya mencengram kepalanya kuat.
“Ara pergi,” ulang Helena dan Ivander berbarengan, rasa sedih tetap menggelitik hati keduanya, Helane tak bisa menahan tangisnya menyandarkan wajahnya ke bahu suaminya.
“Aku ini suami yang jahat, aku membiarkan istriku sendirian disaat dia membutuhkan diriku, membiarkanya menelan dukanya sendiri,” bisik Neal lirih.
“ Ivander mengepalakan kedua tangannya ia memejamkan matanya hatinya seperti diremas saat mendengar ucapan Neal, ” aku ini pria egois, demi putriku aku mengabaikan seorang wanita yang sedang membutuhkan suaminya disisinya,” guman Ivander dalam
hati.
“Maakan aku, aku yang salah,” lirih Ivander dengan suara bergetar. Ia memegang kedua lengang Neal membantunya untuk bangun.
“Kita akan mencari istrimu bersama-sama, kita pasti akan menemukannya,” ucap Ivander sambil menatap wajah Neal yang kuyuh.
“Istri…!
Mereka serentak menolehkan wajahnya kebelakang, Anara berdiri di belakang mereka di bantu oleh seorang pelayan.
“K-kau sudah menikah Neal,” ucap Anara dengan suara bergetar.
.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Selamat membaca 💪💪💪