
Daniel baru saja selesai melakukan operasi, ia menadapat telpon mendadak karena ada pasien yang mengalami kecelakaan dan harus ditangani dengan cepat, karena tak ada dokter spesialis bedah yang berjaga karena itu ia pun harus profesional siap dipanggil dalam keadaan darurat seperti itu.
Daniel berniat mengunjungi Sera ke ruangannya karena malam ini ia dapat giliran untuk jaga malam, melihat pintu ruangan itu yang terbuka ia pun langsung masuk tanpa mengetuknya terlebih dahulu, ia termagu didepan pintu saat melihat Sera dan dokter Adam sedang mengobrol berdua saja dalam ruangan itu. Kedua pun langsung menolehkan wajahny asaat melihat kehadiran Daniel disana.
“Daniel, kenapa kau ada disini? kau kan tidak ada jadwal jaga malam hari inikan,” sapa Sera heran menatap Daniel yang masih betah berdiri di depan pintu.
“Kenapa, kau tidak suka aku datang, apa kehadiranku menggangu kebersamaan kalian,” tukas Daniel ketus sambil melipat kedua tangannya di dadanya dan menyandarkan satu bahunya di kusen pintu.
“Bukan…bukan seperti itu,” bantah Sera cepat sambil bangkit dari duduknya berjalan menyusul Daniel yang masih tidak beranjak diposisinya. “ Masuklah,” ajak Sera sambil menarik tangan Daniel entah kenapa ia tidak enak hati melihat Daniel yang marah padanya sedangkan Adam hanya tersenyum melihat tingkah keduanya seperti sepasang kekasih yang tengah bertengkar.
“Ayo masuklah Daniel akan lebih seru kalau kau ikut bergabung,” selah Adam sambil menyandarkan punggungnya.
“Yakin kehadiranku tidak menggangu kalian,” tegas Daniel menatap Adam lalu beralih pada Sera dengan tatapan dingin, ia pun beranjak melangkah menuju sofa di ikuti oleh Sera dibelakangnya.
“Aku tidak tau kalau kau juga piket malam ini,” tanya Adam sambil mendekap kedua tangannya ke dadanya..
“Tidak, aku sebenarnya dapat giliran besok, tapi ada panggilan darutat karena ada pasien gawat yang harus segera naik meja operasi sedangkan dokter Josep berhalangan karena ada acara keluarga dan ia sudah memberi tahuku untuk menggantikannya kalau ada pasien yang membutuhkan pertolongannya,” jelas Daniel menyugar rambutnya yang terlihat lebih panjang. Setiap tingkah Daniel tidak lepas dari pengamatan Sera yang duduk di sofa sebelahnya, ia sangat menyukai penampilan Daniel seperti itu ditambah bulu-bulu halus yang mulai tumbuh menghiasi rahangnya, Adam melirik Sera dengan ekor matanya sambil menarik satu sudut bibirnya.
Deringan ponsel Adam terdengar nyaring ketika mereka bertiga berada dalam kebisuan, Adam merogoh saku jas putihnya ia pun pamit undur diri begitu melihat layar ponselnya meningglkan Sera dan Daniel dalam ruangan itu. Sera tiba-tiba merasa gugup karena tinggal berdua saja bersama Daniel, ia meremas jari tangannya bergantian
untuk mengatasi kegugupannya, sementara Daniel yang diam sedari tadi memperhatikan tingkah Sera yang diam sambil menunduk tak berani menatap padanya.
“Apa yang kau lakukan berduaan dengan Adam di ruanganmu, bagaimana kalau ada perawat yang melihat kebersamaan kalian, kau akan menjadi bahan gosip di setiap sudut rumah sakit ini.”
Mendengar perkataan Daniel seketika Sera mengangkat wajahnya yang seketika menunjukan rasa tidak sukanya,” kami hanya mengobrol saja apa salahnya.”
“Dua orang laki-laki dan perempuan berada dalam satu ruangan, bisa saja otak Orang-orang yang suka bergosip
mengarang cerita yang seru sehingga akan sangat menarik bagi penikmat gosip.” Tukas Daniel menatap Sera dengan menautkan kedua alisnya.
Sera yang mulai kesal dengan ucapan Daniel yang seperti menuduhnya berdiri dengan berdecak kesal dari sofanya dan menatap Daniel dengan tatapan tidak suka,” aku pikir itu hanya ada dalam otakmu, mungkin kau seperti itu kalau berduaan dengan seorang wanita, ingat ya Dokter Daniel yang terhormat
aku bukan perempuan murahan seperti yang kau tuduhkan.”
__ADS_1
Daniel pun tergelak," Dokter Sera siapa yang mengatakan kau wanita seperti itu."
"Aku seperti itu bila berduaan dengan wanita,” ulang Daniel.
“Bisakah kau jelaskan apa maksudnya.”
“Kau pikir saja dengan otak jeniusmu itu sekarang cepat keluar dari ruanganku, seperti yang kau bilang tidak boleh dia orang lelaki dan wanita berduaan dalam satu ruangan nanti ada gosip,” usir Sera dengan wajah
terasa panas seolah membalikkan perkataan Daniel. Mana mungkin ia akan menjelaskan maksud kalimatnya itu pada Daniel bisa hancur harga dirinya.
“Kau nyaman sekali saat mengobrol dengan dokter Adam tapi giliranku kau malah mengusirku. Dan jika aku berada disini tak akan ada yang berani bergosip tentangku, tapi kalau pun iya aku rasa tidak masalah untuk ku."
Serangan mengernyitkan keningnya mencerna masuk perkataan Daniel barusan.
“Dokter Adam tidak resek sepertimu jadi sekarang cepatlah keluar dari sini,” usir Sera sambil memalingkan wajahnya. Sebenarnya ia tak mau berlama-lama berduaan dengan Daniel karena membuatnya gugup, ia bersusah payah untuk menahan jantungnya yang selalu berdebar lebih kencang bila bertemu dengan Daniel.
“Aku resek,”ulang Daniel sambil bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Sera. “ bisa kau perjelas dimana letak keresekanku itu,” tukas Daniel terus melangkah mendekat
pada Sera sudut bibirnya terangkat membentuk seringai sinis dengan tatapan tak
“A-aku.” Sera tergagap sambil reflek memundurkan tubuhnya ia terus matanya tak lepas memperhatikan Daniel yang terus
mendekat padanya hingga ia tidak bisa lagi mundur ketika tubuhnya sudah membentur lemari, Daniel mengukung kedua tubuhnya dengan menumpuhkan kedua lengannya disampingnya bersandar di dinding lemari.
Berada sedekat itu dengan Daniel sungguh memacu adrenalinnya, jantungnya berdetak seperti baru lomba berlari seratus meter, Sera menundukan wajahnya saat merasakan napas Daniel meyentuh wajahnya yang membuat tubuhnya terasa panas dingin dan ia juga ingin menyembunyikan wajahnya yang mungkin sudah memerah agar tidak terlihat
oleh Daniel, disatu sisi ia merasa ketakutan dalam kungkunagn Daniel tapi disatu sisi lain ia bersorak senang dapat berdekat dengan pria yang memang sudah memikat hatinya ini sejak lama.
“Apakah kau diam-diam suka mengintipku hingga kau begitu lantang mengatakan kalau aku suka berbuat resek pada wanita.”
“Untuk apa aku mengintipmu membuang-buang waktuku saja,” tepis sera tanpa berani menatap Daniel.
Daniel menarik dagu Sera sehingga ia dapat melihat dengan jelas wajah cantik Sera yang merona hingga ke lehernya membuat Daniel menahan senyumnya. “Kenapa kau menuduhku seperti itu, aku bisa melaporkanmu dengan tuduhan perbuatan tidak menyenagkan,” tuduh Daniel begitu sarkas sehingga membuat Sera terkejut menatap Daniel dengan melotot namun dengan cepak kembali mengalihkan tatapannya.
__ADS_1
“Jangan mengancamku, kau tidak punya bukti apapun jadi tidak akan ada yang percaya pada ucapanmu,” bantah Sera lagi-lagi tanpa menatap Daniel.Tentu saja Daniel hanya asal bicara saja menakuti Sera tapi sepertinya wanita cerdas itu tidak takut terhadap
ancamannya.
Sera mencoba menahan napasnya agar jantungnya tidak berdetak semakin cepat karena ia akan sangat malu bila Daniel dapat mendengarkannya bahkan ia sampai memicingkan matanya, kecerdasananya seakan lenyap apa hubungan menahan napas dengan laju kecepatan detak jantung, bisa-bisa ia mati karena berusaha menahan napas, kasmaran benar-benar bisa membuat seseorang bisa menjadi sangat bodoh.
Daniel tak dapat menahan tersenyum lagi melihat Sera yang terus membantahnya tapi bertolak dengan wajahnya yang memerah
kalau sebenarnya ia malu berada sedekat itu dengan dirinya tapi ia mencoba menepiskan akan rasa itu. Daniel ingin bermain-main dengan Sera sampai sejauh mana gadis itu bertahan mempertahankan harga dirinya yang tinggi itu.
Ia menarik dagu Sera semakin mendekat padanya sehingga ia semakin mendongak tapi dengan kasar Sera menepiskan tangan Daniel karena ia tidak ingin terlihat lemah dihadapannya ia mencoba mendorong tubuh Daniel agar menjau darinya tapi sayangnya sedikit pun tubuh Daniel tidak bergeser.
“Pergilah Daniel menjauh dariku,” ucapnya. Tapi sayangnya Daniel tidak suka ditolak ia menangakap kedua tangan Sera dan menguncinya di atas kepalanya dan menekatnya dengan kuat tapi tidak menyakiti Sera, ia kembali berontak dengan mengoyangkan tubuhnya tapi Daniel menarik pinggang Sera sehingga tubuhnya menempel dengan sempurna ketubuhnya, Sera terpekik kaget ketika merasakan payudaranya menempel dengan ketat ke tubuh Daniel.
“Daniel kau sudah gila!” teriak Sera panik karena ini pertama ada yang berani berbuat seperti ini padanya.
“Aku hanya ingin membuktikan apa yang kau tuduhkan padaku,” bisik Daniel tepat di depan telinga Sera sehingga membuatnya merinding, ia bukannya takut mendengar ucapan Daniel tapi ia takut tidak dapat menahan dirinya kalau Daniel benar-benar
bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Pikiran kotor memenuhi kepala Sera membayangkan apa yang akan dilakukan Daniel padanya membuat wajahnya semakin panas matanya mengerjap-ngerjap untuk menyadarkan dirinya dari bisikan setan yang
menginginkan Daniel melakukan hal yang sedang berputar di dalam otaknya saat
ini. Daniel menahan tawanya melihat gadis itu terlihat sangat lucu dan menggemaskan dimatanya.
“Wajahmu memerah sayang, apakah kau tidak sabar menunggu aku untuk melakukannya,” bisik Daniel sensual.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung