
Mark sampai ke apartemennya sudah hampir tengan malam karena ia ikut makan malam bersama keluarga Neal, setelah makan malam mereka pun mengobrol sehingga membuatnya pulang sedikit terlambat, apartemennya hanya diterangi oleh cahay remang-remnag berasal dari lampu yang menyalah di sudut ruangan yang akan menyalah otomatis bila hari dudah gelap, lalu melangkah ke kamarnya, ia ingin mandi air hangat ingin merilekskan tubuhnya yang begitu lelah. Perlahan ia membuka pintu kamarnya dan menyalahakan lampu, ia masuk melangkah dengan pelan, ia menautkan kedua alisnya saat melihat ranjangnya sudah ditepati oleh seseorang yang sedang membelakanginya , selimut menutupi tubuhhnya sebatas pinggang.
Mark mengusap wajahnya kasar, tentu saja yang sedang berbaring di ranjangnya sekarang adalah Natasya, ia teringat perjanjian konyol yang sudah ia lakukan tadi pagi dengan wanita itu dan ternyata ia memang tidak main-main dengan ucapnya.
Baikalah aku akan membuat hidupmu seperti di neraka sehingga kau sendiri dengan suka rela keluar dari apartemenku sebelum batas waktu yang kau tentukan.
Mark melangkahkan kakinya menunju tempat tidurnya, meletakan satu tanganya di pinggangnya lalu menarik selimut yang membungkus tubuh Natasya,” Tikus kecil turun dari kasurku,” perintah Mark lalu menarik kakinya dengan kuat sehingga membuat Natasya yang tertidur menjadi terbangun karenanya. Ia memalingkan wajahnya menatap pada Mark yang sedang berdiri disamping tempat tidur dengan wajah garangnya, tapi sedikit pun tidak membuat Natasya takut karena sudah mempersiapkan mentalnya dengan sangat baik ketika memutusakn untuk tinggal bersama Mark.
“Kenapa kau menarik kakiku…mengggangu orang tidur saja,” protes Natasya mencoba menarik selimut itu kembali tapi ia kalah cepat Mark menariknya dan melemparkannya ke lantai.
Tak mau meladeni Mark Natasya kembali menutup matanya melanjutkan tidurnya, kesal melihat Natasya yang mengacuhkannya Mark melangkah mengambil air mineral yang ia simpan dalam lemari kaca kamarnya, ia kembali melangkah ke tempat tidur membuka tutup botol itu lalu menuanga airnya ke wajah Natasya sehingga membuat wanita itu terkejut dan langsung mendudukan tubuhnya di ranjang sambil mengusap wajahnya yang basah.
“Kau kenap suka sekali menyiramku,” seru Natasya kesal.
“Kua tidur di ranjangku tikus kecil, sekarang cepat keluar dari kamarku,” ucap Mark menatap Natasya tajam.
“Apartemenmu ini hanya punya satu kamar tentu saja mulai sekarang kita akan berbagi kamar ini karena aku tidak mau tidur di sofa, kau tenang saja aku sudah membari batas dengan guling,” ucap Natasya sambil menunjukan guling yang sudah membagi tempat tidur itu dua bagian yang sama besar.
Mark mendengus kesal saat mendengar penjelasan Natasya,” tidak aku tidak mau berbagi ranjang denganmu.”
“Ya sudah kau saja tidur di sofa.”
“Apa yang kau takutkan padaku kalau tidur satu ranjang denganku, aku tidak akan menidurimu jadi kau tidak usah takut aku tidak akan melakukan cara kotor untuk mendapatkan hatimu.”jelas Natasya jengkel.
Mark baru saja akan tertawa saat mendengar penjelasan Natasya yang terdengar begitu konyol ditelingannya, ia mencoba menahan tawanya, ia begitu enteng mengucapkan kata-kata itu sedikit pun tidak ada keraguan dari nadanya.
__ADS_1
“Sudah berapa kali kau berbagi ranjang dengan pria.” Tanya Mark penasaran karena melihat Natasya begitu santai saat mengucapkannya.
“Tentu saja ini yang pertama,” ucap Natasya polos.
“Sudahlah jangan ganggu lagi mataku sangat mangantuk.” timpal Natasya lagi lalu kembali membaringkan tubuhnya tidak mempedulikan Mark yang mentapnya dengan kesal seakan ingin melemparkannya keluar dari kamarnya. Mark hanya dapat menarik napas panjang sungguh awal yang sangat buruk ia merasa menyesal mengambil keputusan menerima tawaran Natasya untuk tinggal bersamanya.
Malas berdebat lagi dengan Natasya karena bisa-bisa sampai pagi mereka tidak akan selesai, menghadapi Natasya yang keras kepala, Mark beranjak ke kamar mandi, menghabisakn wakru beberapa menit disana ia pun selesai dan keluar dengan melilitkan handuk di pinggangnya, ia melirik sekilas ke tempat tidur dan melihat Natasya sudah kembali terlelap dengan pulas, ia menggelengkan kepalanya sambil berjalan menuju walk in closet untuk berganti dengan pakaian santai.
Saat ia membuka lemarinya ia melihat pakaian Natasya bergantungan disana tak satu pun ada pakaiannya disana, ia membuka pintu lemari yang satunya dan hanya ada pakaian santai Natasya didalamnya, ia pun kembali menutup pintu lemari dengan kesal.
“Sialan, kemana ia membuang baju-bajuku,” rutuk Mark kesal.
Ia pun melangkah ke lemari besar satunya lagi tempat ia biasa menyimpan pakaian kerjanya, perlahan menggeser pintu lemarinya, ia menarik napas lega saat melihat pakaiannya tersusun rapi disana, ia menggeser pintu besar disebelahnya dan pakaian santainya terlipat dengan rapi di sana.
Mark melangkah keluar dari walk in closet matanya tertuju pada Natasya yang tertidur masih dengan posisi yang sama, ia pun melangkah mematikan lampu kamar lalu menyalakan lampu tidur di atas Nakas disamping tempat tidur sebelah Natasya, ia pun memungut selimut Natasy yang dilemparkannya tadi lalu melangkah mendekati Natasya yang tidur meringkuk karena kedinginan walaupun kamar sudah memakai pemanas ruangan.
Mark memperhatikan wajah Natasya yang terlelap, ia bahkan terlihat begitu cantik dalam tidurnya, Mark menarik napas panjang lalu membalutkan selimut itu ke tubuh Natasya dengan hati-hati, walaupun ia sangat kesal dengan wanita yang ada didepannya saat ini ia juga tidak mungkin membiarkanya membeku karena kedinginan.
Mark beranjak mengambil selimut dilaci bawah tempat tidur lalu segera membaringkan tubuhnya di sebelah Natasya yang sudah di beri batas dengan sebuah guling , ia membalutkan selimut hangat itu sampai menutupi sebatas dadanya, ia kembali melirik kesampingnya merasa aneh saja harus berbagi tempat tidur dengan orang lain dan seoarang wanita lagi, hal yang baru pertama kali seumur hidupnya, perlahan ia memejamkan matanya mencoba menyingkirkan semua pikirannya.
****
Bunyi alarm dari ponsel Mark yang cukup keras membuat keduanya terbangun, Mark bangkit dari tidurnya
begitu pun dengan Natasya keduanya saling lirik, Natasya mengukir senyum lebar saat menatap Mark tapi tidak dengan Mark hanya melirik sinis, tak peduli dengan sikap Mark ia mendekatkan tubuhnya dan mencium pipi Mark dengan cepat sehingga Mark tak dapat menghindar.
__ADS_1
“Selamat pagi sayang.”sapa Natasya manja.
“Jangan panggil aku sayang, aku bukan kekasihmu,” protes Mark menatap Natasya kesal.
“Tapi sebentar lagi kau akan jadi kekasihku bukan hanya kekasih Kakak akan jadi suaminku,” ucap Natasya mengerling nakal.
“Dalam mimpimu,” sahut Mark lalu turun dari tempat tidur.
Natasya hanya terkekeh pagi-pagi sudah membuat Mark kesal, ia sangat bahagia tidak menyangka bisa tidur satu ranjang dengan pria yang dicintainya, sambil senyum-senyum Natasya turun dari tempat tidur lalu merapikannya, melihat Mark yang sudah kelauar dari kamar mandi ia pun masuk untuk mencuci wajah dan menggosok giginya.
Natasya keluar dari kamar ia akan memasak sarapan untuk dirinya dengan Mark sesuai dengan apa yang diajarkan Ara padanya, saat ia akan menuruni tangga ia mendengar suara Mark dari sebuah ruangan yang bersebelahan dengan kamarnya, penasaran apa yang sedang dilakukannya Natasya pun mengintip, mata Natasya tak berkedip saat melihat Neal sedang berolah raga, wajah tampan dan tubuh kekar Mark yang penuh keringat membuatnya terlihat semakin seksi di mata Natasya, sehingga membuatnya semakin bersemangat
Natasya tidak tahan berlama-lama disana sebelum ia khilaf , ia kembali melanjukan langkahnya untuk menuruni tangga menuju dapur yang ada di lantai bawah. Setiba di dapur Natasya membuka kulkas, ia hanya menemukan teklur, tomat dan selada saja, ia kembali menutupnya, ia pun beranjak membuka lemari dan melihat beberapa potong roti disana.
“Sepertinya aku nanti harus berbelanja, tidak ada makanan disini.”ucap Natasya sambil mengambil rotinya.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1