Arabella Secret

Arabella Secret
Dia berhak mendapatkan cinta


__ADS_3

Neal dan Mark memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum bertemu dengan kliennya, sebenarnya ini sudah agak terlambat jika di katakan untuk makan siang karena sudah lewat pukul dua siang, mereka  mencari restoran  di sekitar Mall karena Hotel  tempat mereka mengadakan pertemuan saling terhubung, mereka masuk ke ruangan khusus VIP restoran itu. Tiba-tiba suara yang tidak asing memanggilnya, ia pun meneolehkan wajahnya ke sumber suara dan


benar saja ia melihat Jessy adiknya sedang melangkah ke arahnya.


“Sedang apa kau disini?" Tanya Neal begitu Jessy berdiri didepannya.


“Aduh kakak... rentu saja aku kesini ingin makan," jawab Jessy. Neal menatap jessy kesal ,melihat kakaknya yang kesal ia tersenyum sambil bergelayut manja di lengan kakaknya.


“Sebaiknya kakak ikut kita saja, kita makan bareng," ajak jessy dengan suara manjanya. Neal pun mengiyakan dan mengikuti langkah Jessy begitu pun dengan Mark.


Ara menghentikan obrolannya dengan  Max melihat Jessy yang datang sambil


mengandeng Neal, Neal menatap Ara tajam membuat Ara mengalihkan pandangannya.


Neal mengambil posisi duduk tepat di depan Ara, kemudian memandang tajam pada Max yang duduk di sebelah Ara.


“Apakah kakak membututi kami ke sini," sapa Max mengoda Neal.


“Itu hal konyol yang tak akan pernah aku lakukan seumur hidup," tukas Neal tegas. Max langsung terkekeh mendengar jawaban kakaknya.


Mereka segera memesan makanan begitu Pelayan restoran menghampiri mereka, setelah menulis semua pesanan mereka pelayan itu pun berlalu.


“Kakak lain kali ikut kita pergi ke arena bermain, disana sangat seru," ajak  Jessy yang duduk di samping Neal dengan penuh semangat.


“Tidak... kakak tidak ada waktu untuk melakukan itu," tolak Neal lembut.


“Kakak tidak boleh bekerja terlalu keras uang kakak kan sudah banyak, kakak juga harus menikmati hidup kakak," sungut jessy menatap kakaknya itu.


“Kakak sangat  menikmati hidup kakak, kamu tahu apa tentang hidup karena kamu masih kecil," ucap Neal.


“Tidak... Jessy sudah dewasa kakak sebentar lagi aku akan menyelesaikan kuliahku," sahut jessy kesal.


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Neal lagi karena ia sudah sibuk dengan ponselnya. Ara lebih banyak diam sejak kedatangan Neal, karena ia selalu merasa mati kutu di depan Neal karena ia sangat takut di marahi oleh suaminya itu.


“Kakak tahu, ternyata kakak ipar sangat takut ketinggian ia hampir saja pingsan ketika kami ajak naik bianglala," jelas Jessy. Neal segera mengalihkan pandangannya dari ponselnya setelah mendengar perkataan Jessy. Ia menatap Jessy sejenak lalu


beralih pada istrinya itu Ara tidak berani menatap balik Neal.


“ Kau ini kenapa sangat bodoh sudah tau takut kenapa masih harus naik!"Seru Neal marah.


“Jangan memarahi kakak ipar kak, kami yang memaksanya naik," ucap Max membela Ara.

__ADS_1


“Kamu tau apa akibat dari perbuatanmu, bagaimanana kalau Ara terjatuh!" seru Neal marah menatap Max dan Jessy bergantian.


“Tuan, aku bik-baik aja, imbuh Ara karena ia tidak enak hati melihat Max dan jessy di marahi karena ulahnya.


“Kau diam! Aku tidak sedang berbicara denganmu," ucap Neal menatap Ara dengan kilatan kemarahan,seketika Ara membungkam tidak berani buka mulut lagi.


Kemarahan Neal terhenti ketika makanan yang mereka pesan sudah datang, beberapa pelayan menata makanan dan minuman di atas meja dengan rapi, setelah semua selesai para pelayan itu pun segera kembali. Mereka pun segera memulai makannya  tanpa ada


satupun yang berbicara.


*****


Baru saja mereka menyelesaikan makannya, tiba-tiba seorang pria datang menghampiri meja mereka dan langsung mendudukan tubuhnya di kursi kosong sebelah Ara karena Maxim sedang pergi ke toilet.


“Halo Neal, kebetulan sekali kita bertemu disini," sapa pria itu.


“Kak Danie!" Seru Jessy senang.


“Aduh aku sangat kangen sama kak Daniel sudah lama sekali kita tidak bertemu," lanjut Jessy.


“Kamu sudah besar saja dan semakin cantiik," ucap Daniel lalu menatap wanita yang ada di sebelahnya.


“Hai Nona cantik kita bertemu lagi," sapa Daniel menatap Ara sambil menaikan  satu alis matanya Ara hanya diam tak menjawab sapaan Daniel hingga membuat Daniel terkekeh.


“Maaf apakah sebelumnya kita pernah bertemu Tuan?" Tanya Ara pelan. Daniel kembali terkekeh mendengar pertanyaan Ara.


“Kamu satu-satunya wanita yang sangat mudah melupakan wajah tampanku ini," ujar Daniel.


“Baiklah aku akan membantu kamu untuk mengingatnya, aku...


“Cukup Daniel!" Seru Neal.


“Max sebaiknya kalian segera pulang," ucap Neal pada Max yang baru saja kembali.


“Aku terserah mereka saja kakak," sahut Maxim lalu pandanganya berali pada Daniel yang duduk di kursi bekas temapat ia duduki


tadi.


“Halo brother, lama tidak berjumpa," sapa Max bersalaman ala cowok.


 “Senang bisa bertemu kembali," sahut Daniel tertawa Max pun ikut tertawa.

__ADS_1


“Apakah kali ini kamu akan betah disini?" Tanya Max.


“Akan aku pertimbangkan untuk betah," sahut Daniel tersenyum sambail melirik Ara. Terlihat tatapan tidak senang Neal kepada Daniel.


“Kalian  segera pulang, lain waktu kalian bisa melakukannya," ucap Neal menatap Jessy dan Ara bergantian, Jesy pun mengiyakan. Ia pun segera mengajak Ara pergi.


“Ayo kakak ipar kita pulang," ajak Jessy.  Ara pun mengangukan kepalanya keduanya


segera bangun dari kursinya.


“Hantar mereka pulang Max," seru Neal.


“Iya kak," sahut Max.


“Aku balik dulu Daniel,  mampirlah ke rumah aku sekarang nginap di rumah Kak Neal," ucap Max.


“Iya, dengan senang hati aku akan datang," sahut Daniel dengan senyum manisnya.


Ketiganya pun segera pamit setelah mereka keluar dari restoran Neal menatap Daniel yang dudu di depannya.


“Aku tidak suka melihatmu mengodanya seperti itu," ucap Neal dingin dan wajah datarnya.


“Kenapa? "Tanya Daniel masih tetap tersenyum.


“Pernikahanmu denganya hanya sandiwara, dia berhak mendapat cinta dari siapa pun, jadi aku akan terus melakukan hal itu," lanjut Daniel.


"Dia sekarang adalah istriku, kuharap engkau menghargai itu," seru Neal mulai kesal dengan perkataan Daniel.


“Begitu Anara bangun aku akan membawanya jauh darimu, karena kau tidak ada hak lagi atas dirinya," ucap Daniel serius. Neal terdiam mendengar perkataan Daniel.


“Terserah kamu aku tidak peduli," ucap Neal lalu melangkah meninggalkan Daniel di sana. Daniel hanya menatap punggung Neal sampai tak terjangkau lagi dari pandangan matanya, barulah ia beranjak meninggalkan tempat itu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2