
“Anara...ada apa dengannya ,” tanya Ara dengan jantung yang berdetak semakin cepat sehingga menimbulkan rasa perih di dadanya.
“Anara... sebenarnya dia sudah meninggal.” Neal berkata sambil memperhatikan wajah istrinya yang seketika langsung berubah, wajahnya memucat menatapnya dengan tatapan tidak percaya, tubuhnya seakan mengambang karena begitu shock dengan apa yang baru saja didenagnrnya, Neal langsung menangkup pipi istrinya.
“Maafkan aku menyembunyikan ini darimu. aku benar-benar minta maaf sayang, ” Neal berkata dengan penuh rasa bersalah. Air matanya mulai meleleh dadanya berdenyut dan hatinya seperti baru saja diremas sehingga membuatnya menjadi sesak, tangis yang tersangkut ditenggorokannya semakin membuat sakit disana, rasa bersalah pada Anara menghantui dirinya, ia menjauhkan tubuhnya dari Neal sambil menggelengkan kepalanya dengan tangis yang masih tertahan di mulutnya tapi Neal menahannya menariknya kedalam pelukannya ia memeluk tubuh istrinya erat sehingga tubuhnya ikut terguncang.
Ara terus berontak dalam pelukan Neal memukul tubuh suaminya dengan kedua tangannya dan akhirnya tangis itu pecah ia meraung melepaskan rasa sesak yang mengimpit dadanya, Neal ikut merasa sakit mendengar isakan pilu istrinya.
"Lepaslkan aku Neal, lepaskan aku...!
"Tidak sayang, jangan seperti ini." Neal berusaha terus membujuk istrinya mencoba menenangkannya yang terus menyalahhkan dirinya.
“Aku…pasti aku yang menyebabkan Anara meninggal, aku tak seharusnya berada disini, aku tidak pantas mendapatkan semua hal yang seharusnya menjadi miliknya."
Ara terus meratap sedangkan Neal berupaya menenangkan istrinnya," Tidak sayang, kau bukan menyebab
dia meninggal,percayalah padaku.” Neal terus membujuk istrinya.
"Tidak Neal, aku tidak pantas menadapt pembelaan darimu ." Ara berkata sambil mendorong tubuh Neal dengan kuat sehingga peluakn itu terlepas ia pun segera turun dari ayuna itu, lututnya yang lemas tidak mampu memopang berat tubuhnya sehinga ia terjatuh dibawah ayunan.
Suara tangisan Ara terdengar oleh para pelayan sehingga mereka berlari keluar , tapi saat melihat Ara menangis dalam pelakukan suaminya tak ada yang berani mendekat apalagi bertanya mereka hanya melihat dari kejauhan mencoba menerka-nerka apa yang baru saja terjadi.
“Anara pasti masih hidup kalau aku melepaskan dirimu untuknya, tapi apa yang aku lakukan, seharusnay aku
saja yang mati bukan Anara.”
"Tidak sayang, apa yang kau bicarakan, aku tidak akan pernah melepaskanmu karena aku sangat mencintaimu.” Emosi Neal mulai terpancing mendengar perkatan istrinya ia tidak akan pernah menukar istrinya dengan apa pun sehingga saat mendengar ucapan istrinya yang membuat hatinya sakit.
“Papa Ivander dan mama Helena pasti sangat membenciku, aku yag telah membunuh putri mereka, aku sungguh
tidak tau diri,” ratap Ara pilu. Inilah yang ditakutkan Neal mengapa ia menyembunyikan kematian Anara dari istrinya. Tapi bagaimana pun rapatnya ia menyembunyikan ini tentu suatu saat Ara pasti akan tau dan istrinya akan semakin tersakiti lagi.
“Sayang, Anara meninggal buka karenamu, jangan menyalahkan dirimu, itu bukan salahmu sayang,” bisik Neal
lirih. ia mengusap lembut punggung istrinya menempelakan pipinya di rambut istrinya satu tangannya merangkul erat leher istrinya. Neal melepasakn pelukannya saat tak mendengar suara isakan lagi tapi disaat ia menjauhkan tubuhnya istrinya yang terkulai lemas dengan mata yang terkatup rapat, Neal yang panik melihat keadaan istrinya
__ADS_1
berusaha membangunkan Ara dengan menepuk pelan pipi istrinya asambil memnaggil-manggil namanya tapi tak ada sahutan yang keluar dari bibir istrinya, Neal semakin panik melihat istrinya dengan cepat ia menggendongnya sambil berteiak memanggil pelayan.
****
Neal masuk ke kemar sambil membawa nampan berisi makanan untuk istrinya, ia melihat Ara tenga duduk bersandar di tempat tidur menatap kosong ke jendela besar di depannya yang tidak ditutup gorden, Neal menghela napas panjang sambil terus berlangkah menghampiri istrinya. Ara sudah melewatkan makan siangnnya dan sekarang ia tidak ingin istrinya kembali melewatkan makan malamnya. Semenjak siang ia sudah memberikan waktu untuk istrinya sendiri karena Ara tak mau bicara padanya, ia pun tidak memaksa Ara karena ia butuh waktu untuk sendiri. Ia terus mendiamkan dirinya. Dan sekarang Neal tak akan membiarkan istrinya larut dalam rasa bersalah dan ia tidak tahan lagi melihat Ara yang mogok bicara.
Neal meletakan nampan itu diatas nakas lalu mendudukan tubuhnya disamping istrinya, ia menatap Ara lekat istrinya matanya yang bengkak karena terlalu lama menangis sisa-sisa air mata yang mengering dipipinya terlihat dengan jelas, tapi Ara sedikit pun ia tidak mengalihkan pandangannya dari jendela kaca besar itu mengacuhkan kehadiran Neal disana. Neal mengusap punggung istrinya dan mengecup pelipisnya cukup lama ia mendiamkan bibirnya disana baru kemudia ia melepaskannya, tapi Ara sedikit pun tidak bergeming.
“Sayang,” sapa Neal lembut meraih tangan istrinya dalam genggamannya. “ Makanlah sedikit, kau belum makan apapun."
“Neal, biarkan aku sendiri,” ucap Ara pelan sambil menarik tangannya dari genggaman suaminya tapi Neal menahannya.
“Tidak, aku sudah memberikan banyak waktu untukmu sendiri. Sampai kapan kau akan mendiamkan aku seperti ini, berapa kali harus aku katakan ini bukalnlah salahmu semua ini bukan salahmu, jangan menyalahkan dirimu sendiri dengan hal yang tak pernah kau lakukan.”
“Ini yang aku kwatirkan kenapa aku menyembunyikan ini darimu, jika kau masih ingin mencari siapa yang salah dalam hal ini maka akulah orangnya,aku yang salah... aku yng memutuskan mengakhiri hubungan dengan Anara karena aku telah jatuh cinta padamu Ara. Apa aku harus berpura-pura tetap menyukainya hanya karena ia pernah menjadi tunanganku, sementara hatiku telah diisi oleh wanita lain, itu akan semakin menyakitinya. Dan bukan Anara saja yang terluka...aku dan dirimu juga akan menderita. Aku juga tidak ingin berada diposisi seperti ini, jadi aku mohon berhentilah menyalahkan dirimu. "
Ara mengalihkan tatapannya beralih pada wajah suaminya ada kesakitan dari sorot matanya yang sekelam malam itu, menyiratkan ia juga terbebani, air mata Ara kembali bergulir membasahi wajahnya ia kembali sesegukan
menahan tangisnya," aku sangat takut Neal, aku takut, " lirih Ara dengan suara yang mulai parau karena terus-terusan menangis.
“Anara melepas dan mengikhlaskan saat aku memilih untuk bersamamu, jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, percayalah padaku sayang.” Neal meraih tubuh istrinya kedalam pelukannya tangis Ara semakin keras, kenapa kisah cintanya sepelik ini terjebak dalam kisah cinta segitiga yang menyakitkan.
Neal tak henti memberikan usapan lembut di punggung istrinya ,mencoba terus menengkannya hingga tangis
itu mulai mereda Neal pun melepaskan pelukannya meletakan tangannya di bahunya menatap wajah kuyuh istrinya, hatinya begitu perih melihat keadaan istrinya. Ia mengusap lembut wajah istrinya dengan kedua tanagnnya dan kmbali mencoba membujuk istrinya untuk makan.
“Sekarang cobalah untuk makan walaupun sedikit saja kau harus mengisi perutmu sayang,” ucap Neal
mengangkat dagu istrinya. Ara menjawab dengan gelengan kepala.
Neal meraih kedua tangan istrinya dalam genggamannya lalu mengecupnya cukup lama, Ara hanya diam menatap puncak kepala suaminya, Neal kembali mengangkat kepalanya sehingga mereka saling bertatapan, Neal menarik satu tangannya lalu membelai pipi istrinya lembut.
“Sayang, kau harus makan, kasihan bayi kita ia akan kelaparan jika kau terus menolak untuk makan.” Neal berkata sambil mengulum senyum dibibirnya.
Deg…
__ADS_1
Jantung Ara berdegup kencang saat Neal mengucapkan kata bayi di bibirnya, ia menatap mata bola mata hitam itu bergantian dengan menautkan kedua alisnya.
“Bayi,” guman Ara pelan tapi masih bisa didengan jelas oleh telinga Neal.
“Iya sayang, saat kau pingsan Daniel datang untuk melihat kondisimu, ia mengatakan kau sedang hamil untuk lebih memastikan besok kita akan pergi ke dokter kandungan, Daniel telah membuat janji dengan dokternya,” papar Neal tak dapat menyembunyikan kebahagiannya seulas senyuman menghiasi wajah tampannya, mendung kesedihan perlahan pergi dari wajahnya.
Ara menyentuh perutnya, kehangatan menjalar di pembuluh darahnya saat mendengar ucapan Neal, kabar itu seakan menjadi obat untuk hatinya yang terluka, Tuhan kembali memberikan kepercayaan padanya, isakannya kembali memenuhi kamar sehingga membuat Neal kembali cemas.
“Sayang,” Neal kembali mendekap tubuh rapuh istrinya, Ara membalas pelukan suaminya dan menenggelamkan wajahnya di dada suaminya, tempat ternyaman untuknyan bersandar.
“Bayi, benarkah kita akan memiliki bayi lagi,” Ara berucap diselah isaknya.
“Iya sayang, kita akan memiliki bayi lagi, kau senangkan?” Ara pun menganggukan kepalanya membuat senyum lebar di wajah Neal, ia menghujani wajah istrinya dengan ciuman, sehingga wajah sedih Ara menepiskan sebuah senyuman disana. Mana mungkin ia tidak akan bahagia karena ia selalu berdoa pada Tuhan untuk dipercayakan lagi memiliki anak bersama Neal.
“Sekarang, ayo kita makan aku akan menyuapimu.” lalu Neal melepaskan pelukannya dan menraik sebuah kursi
dan menempatkan tepat didepan istrinya lalu menjangkau makanan di atas nakas. Ia mulai menyuapi Ara sup yang hampir dingin karena terlalu lama membujuk istrinya, Ara pun mulai menerima suapan itu dari suaminya, ia tidak akan membuat bayinya kelaparan, ia mencuri-curi pandang pada suaminya yang tengah menyuapinya sehingga membuat Neal gemas melihatnya, Ia mengelus puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang, Ara dapat merasakan tatapan penuh cinta yang tak pernah lepas dari sorot mata suaminya.
.
.
.
.
.
Bersambung
Terima kasih untuk yang sudah bersabar 🙏
Laptop nya mungkin terlalu sering diajak bergadang merajuk dia, mungkin pengen liburan juga 😂😂😂
Kita lanjut ya, semoga bisa lancar sampai novel ini tamat. ❤
__ADS_1