Arabella Secret

Arabella Secret
Sangat mengejutkan


__ADS_3

Setelah puas berbelanja Nathalie dan Ara mulai merasa lapar, Ara pun mengajak Nathalie untuk makan disalah satu restoran yang ada disana tapi Nathalie menolak dan memaksa Ara untuk makan di restoran yang dulu sering mereka kunjungi, Ara berusaha menolak ajakan Nathalie karena ia mulai merasa cemas kalau terlalu lama berduaan dengan Nathalie akan menambah kecurigaannya. Tapi akhirnya Ara menyerah dengan sikap Nathalie yang terus memaksanya dengan merengek dan terus memohon kepadanya.


Ara menatap keluar jendela mobil saat mobil yang dikemudikan Nathalie membela jalanan yang tidak begitu ramai, ia membuka jendela mobil membiarkan angin musim gugur membelai wajahnya, sepanjang jalan yang mereka lalui di penuhi oleh pepohonan yang berderet rapi di pinggir jalan, daun-daun di pohon yang berwarna hijau pada musim panas telah berganti menjadi warna kuning, merah dan coklat,  dan setelahnya  akan  segera luruh ke bumi. meninggalkan ranting-ranting seperti pohoon mati saja. Tiba-tiba lamunan Ara dipecahkan oleh suara Nathalie


“Ara… apakah menikah bisa merubah seseorang,” Nathalie bertanya sambil melirik Ara yang duduk disampingnya.


“Kau bertanya seperti itu karena masih menganggapku aneh sekarang,” Ara balik bertanya sambil melirik Nathalie sekilas.


“Bukannya aku meragukanmu tapi aku lihat kau sekarang memang banyak berbeda.” Nathalie menghentikan bicaranya sambil melirik Ara denga ekor matanya, ia melihat Ara malah tersenyum mendengra ucapanya.


“Kau terlihat lebih dewasa sekarang, tak ada Anara manja yang keras kepala,” lanjut Nathalie.


“Terlepas dari apapun mendapatmu tentangku, aku masih Anara yang dulu sahabatmu Nat,” ucap Ara menyentuh tangan sahabatnya sambil menatap Nathalie dengan senyum lembut.


“Tapi, aku sungguh menyukai dirimu yang sekarang,” balas Nathalie ikut tersenyum melirik Ara.


Keduanya tak lagi berbicara hanyut dalam pikirannya masing-masing hanya suara radio yang terdengar dari mobil yang dikemudikan Nathalie. Ia memacu mobilnya lebih kencang lagi agar kebih cepat sampai. Tiba-tiba wajah cantik Nathalie pucat sambil memanggil Ara yang membuat Ara ikut cemas


“Ara…! rem mobilnya!” teriak Nathalie panik.


“Kenapa Nat..?” tanya Ara ikut  panik mendengar teriakan Nathalie.


“Rem mobilnya blong...!” pekik Nathalie keras dan Ara yang kaget juga terpekik tak kalah kuat. Kepanikan terjadi di dalam mobil.


“Awas Nat….! Teriak Ara melihat sebuah bus yang melaju kencang dari arah yang berlawanan.

__ADS_1


“Ara…ayo kita melompat…aku tidak bisa mengendalikan mobil ini lagi,” teriak Nathalie sambil mencoba melepaskan sabuk pengamannya. Laju mobil sudah tak bisa dikendalikan.


“Tidak Nat….aku takut…” Ara mulai menggigil ketakutan ia mencoba mengikuti Nathalie yang sedang melepaskan sabuk pengamannya tapi tangannya yang gemetar karena ketakutan yang menyerangnya  membuatnya gagal untuk melepaskannya.


Bus di depan mobil mereka segera membanting stir begitu melihat mobil yang dikemudikan Nathalie yang berjarak beberapa meter saja didepannya, Nathalie pun dengan cepat membanting stirnya lalu sambil berteriak,” meloncat Ara… sekarang,” teriak Nathalie keras sambil membuka pintu mobilnya dan segera meloncat keluar dari mobil. Tinggallah Ara yang masih terjebak dengan sebuk pengaman yang masih membelit tubuhnya.


Brughh!


Terdengan benturan keras saat mobil Nathalie menabrak pohon pelindung yang ada dipinggir jalan. Kepala dan tubuh Ara terbentur keras yang membuatnya seketika kehilangan kesadarannya. Nathalie yang sempat meloncat dari mobil mendarat di rerumputan dipinggir jalan, benturan keras pada tubuhnya tak membuatnya pingsan dengan tertatih-tatih ia mencoba bangkitt dan  berjalan ke mobilnya, orang-orang yang ada di jalan segera membantu Nathalie dan sebagian lagi segera menghampiri Ara yang sudah terkapar tak sadarkan diri dengan darah yang hampir memenuhi wajah dan tubuhnya.


****


Neal yang sedang serius mengikut pertemuan tahunan yang dilakuakn oleh beberapa pengusaha dari berbagai negara untuk pengembangan bisnis mereka, kosentrasinya tiba-tiba terusik oleh Mark yang duduk disampingnya saat pria itu sedang berbicara dengan seseorang lewat ponselnya, wajah  dingin Mark langsung menegang sambil melirik Neal dan  menyerahkan ponsel di tanganya pada Neal yang menatapnya sambil mengernyikan keningnya saat melihat wajah tegang Mark.


“Ada telpon dari  ibu anda Tuan, sebaiknya Tuan mendengar langsung dari ibu anda” Mark menundukan wajahnya yang tegang, Neal segera mengambil ponsel dari tangan Mark. Seluruh tubuh Neal menegang begitu mendengar kabar dari Mommynya tanpa bersuara ia keluar dari ruangan itu yang  membuat tatapan heran dari peserta yang hadir disana, kepergian Neal membuat acara terganggu namun dengan cepat Mark memintah maaf dan mengatakan hal yang baru saja menimpah Neal, membuat semua yang hadir terdiam dan bersimpatik, Mark pun mohon pamit dan tidak bida melanjukan pertemuannya lalu pergi meninggalkan acara itu segera menyusul Neal dan segera menelpon pihak bandara untuk menyiapkan penerbangan untuk mereka kembali ke Rusia.


****


“Berhentilah menangis sayang, doakan saja semoga Ara baik-baik saja,” ucap Ivander mengusap punggung istrinya lembut. Helena hanya membisu perlahan mengusap air matanya, ia begitu cemas terlihat dari tangannya yang gemetar, dengan cepat Ivander meraih tangan istrinya dan menggenggamnya erat, ia menghapus air mata Helena dengan jarinya lembut.


Ivander membawa Helena kedalam pelukannya, ia melihat kecemasan istrinya hampir sama seperti saat ia pertama kali mendengar kabar Anara, Ivander tau ia sudah jatuh cinta kepada Arabella menyayanginya seperti putrinya sendiri, itu hal sering dikatanya kepada Ivander ia ingin memiliki kedua putrinya itu. Tentu saja kabar ini sangat memukul mentalnya takut hal buruk pada Anara akan berulang pada Arabella. Atau mungkin bisa lebih buruk lagi dari itu, mengingat sudah lebih satu jam mereka menunggu tak kunjung mendapat kabar tentang keadaan Arabella.


Maria dapat melihat kesedihan yang sedang dirasakan Helena, dan ia jjuga tak jauh berbeda ia juga sangat mencemaskan keadaan Ara, selain menantunya ia juga sudah mengangkap Ara sebagai putrinya sendiri, prilaku Arabellla yang lembut dan begitu baik hati dan sangat sopan juga telah mencuri hatinya, ia juga sangat menyayangi Arabella , saat Neal memperlakukannya sangat buruk makannya Maria begitu marah dan kesal pada putranya. Perlahan Maria dan Dimitri ikut mendudukan tubuhnya di bangku yang sama dengan Ivander dan Helena, perlahan Maria menggengam erat tangan Helena.


“Ara pasti akan baik-baik saja, ia wanita yang kuat,” lirih Maria pelan yang  membuat Helena mengangkat wajanhya dan menatap besannya itu.

__ADS_1


“Kenapa Tuhan tidak membiarkan aku saja yang mengantikan posisi mereka,” isak Helana sambil memeluk Maria.


“Tuhan punya alasan untuk semua yang terjadi, jangan pernah menyalahkan Tuhan,” ucap Maria lembut.


Seorang Dokter  keluar dari IGD dengan langkah tergesa-gesa Ivander dan Dimitri dengan cepat bangkit dari duduknya menyusul kedatangan Dokter itu.


“Bagaimana keadaan putri kami Dok,” tanya Ivander tak sabar.


“Kami sedang melakukan yang terbaik untuk putri anda, ada beberapa luka di kepalanya dan beruntung luka  itu tidak terlalu dalam tidak menimbukan cidera serius , tapi kami mohon maaf  Tuan... kami tidak bisa menyelamatkan bayi yang ada dalam kandungannya,  Ara sekarang pendarahan kami butuh golongan darah A negative karena stok darah dari rumah sakit sedang kosong,”jelas dokter itu cepat.


Keempat paruh baya itu kaget bukan main mendengar penjelasan sang Dokter, Maria tersurut beberapa langkah tak percaya dengan apa yang didengarnya, Helana kembali jatuh pingsan saat mendengar penjelasan dari Dokter untung saja  dengan sigap Ivander menangkap tubuh istrinya, Dokter pun segera memangil perawat untuk membawa Helena menjalani perawatan.


“ Maaf Tuan, kami butuh darah cepat, siapa…..


“Dokter ambil darah saya saja karena golongan darah saya A negative ,” usul  Ivander seakan baru tersadar, karena penjelasan dokter tentang keguguran Arabella juga membuatnya begitu syok.


“Baiklah Tuan, ayo ikut kami cepat,” ajak Dokter itu. Ivander pun dengan langkah  cepat menyusul sang Dokter yang telah mendahuluinya.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


Selamat membaca semoga Readers menyukainya 💙


__ADS_2