
Mark mengalihkan wajahnya dari ponselnya dan melirik pada Natasya,” jika kau ingin berdansa pergilah aku akan menunggumu disini.”
Tentu saja bukan itu jawaban yang ia inginkan keluar dari bibir Mark, ia menghela napas lalu
menyentuh lengan mark,” Aku mengajak kakak berdansa denganku, berdansa
membutuhkan pasangan…
“Kau bisa mengajak salah satu pria disini,” potong Mark cepat sehingga membuat Natasya berdecak kesal.
“Baiklah jika itu yang kau mau, disini sangat banyak pria yang sedari tadi begitu lapar melihatku.” Selesai bicara Natasya bangkit dari duduknya namun saat ia beranjak pergi
tangannya dicekal oleh Mark sehingga ia melirik Mark dengan wajah kesal.
“Lepaskan tanganku,” tukas Natasya jutek sambil menarik tangannya tapi cekalan Mark yang kuat ditangannya membuat ia gagal melakuakannya.
“Aku akan menemanimu.” Mark pun beranjak bangun dan menggandengan tangan Natasya menuju lantai dansa, hatinya bersorak senang tapi ia mati-matian menahannya tidak menunjukan didepan Mark biar pria itu menganggapa dirinya masih kesal padanya.
Mark dan Natasya bergabung dengan beberapa pasangan yang ikut berdansa, keduanya berdansa mengikuti alunan musik tanpa ada yang berbicara terkadang mereka saling bertatap dalam diam, sampai ada yang menegur mereka untuk bertukar pasangan tapi Mark menolaknya, ia pun menarik tangan Natasya menjauh dari lantai dansa, dan
ia hanya menurut tanpa protes.
“Aku ingin pulang, jika kau masih ingin disini silahkan.”
“Tidak kita pulang bersama saja.” Natasya menyetujui ajakan Mark walaupun pesta belum berakhir.
“Hai Nat, apakah kau mau berdansa denganku,” ajak Alex tiba-tiba muncul dibelakang Natasya.
“Maafkan aku Alex, aku harus pulang,” tolak Natasya halus sambil melirik Mark disampingnya.
__ADS_1
“Kau mau pulang? Yang benar saja Nat ini belum jam dua belas malam dan pesta ini belum berakhir,” tutur Alex tidak percaya sambil melirik jam dipergelangan tangnnya.
“Aku tidak terlalu menyukai pesta… kau pasti sudah tau itu kan Al.”
“Aku tau, tapi juga tidak pulang secepat ini, atau kekasihmu memaksamu pulang.”Alex berkata sambil menatap Mark dengan mengangkat satu sudut bibirnya, memasang wajah angkuhnya. Mark yang malas meledani pria banyak bicara seperti Alex itu hanya menghabiskan energinya saja. Ia hanya menatap Alex sekan ingin mencabik pria itu sehingga membuat Alex membuang wajahnya tak berani menatap pada Mark lagi.
“Mark sangat lelah aku tidak ingin ia sakit bila memksa untuk terus berada disini.” Natasya berkata sambil melirik manja pada Mark dan mengusap lengan Mark dengan mesra.
“Baiklah… sampai jumpa lagi Alex, ayo sayang,” ajak Natasya mesra menarik Mark pergi dari sana meninggalkan Alex yang masih menatap kepergian mereka.
“Apakah pria tadi mantan kekasihmu, aku ingin sekali memukul wajah angkuhnya itu. Bagaimana bisa kau berhubungan dengan pria sombong seperti itu.” Mark bertanya ketika mereka sudah dalam mobil dalam perjalan pulang ke apartemen.
“Alex adalah rekanku sesama model dan aku tidak pernah memiliki hubungan dengannya.” Natasya mencoba menjelaskan karena ia tidak ingin Mark salah paham padanya dan ia pun tidak menyukai sifat Alex yang terkesan arogan dan menganggap remeh orang lain karena ia sekarang seorang model yang sedang dalam puncak kariernya.
Mark hanya diam saat mendengar penjelasan dari Natasya dan keduanya pun tak saling bicara lagi.
“Kita mau kemana?” tanya Natsya mellihat Mark tidak menyusuri jalan menuju ke apartemen. Mark hanya diam sambil tersu megemudikan mobilnya, kemudian mobil berhenti di pinggir jalan yang memiliki tempat parkir yang cukup luas. Kemudia ia pun
“Turunlah,” perintah Mark membukakan pintu mobil untuknya. Natsya pun menurut dan keluar dari mobil. Matanya langsung terpesona melihat jembaatan Patriarchal yang sangat menakjubkan pada malam hari sungguh sudah lama sekali ia tidakk berkunjung kesini.
“Kak…ini indah sekali,” lirih Natasya menatap jembatan paduan bergaya eropa abad ke 19 dan deretan lampu yang bersinar disepanjang jembatan menambah kesan romantis. Mark menarik tangan Natasya untuk berjalan menyusuri jembatan. Disana banyak pejalan kaki yang berjalan dengan pasangannya menikmati keindahan malam.
“Apakah kau sering datang kesini,” tanya Natasya melirik Mark yang berjalan disampingnya.
“Tidak juga,” jawab Mark singkat. Ia menghentikan langkahnya lalu menyandarkan kedua tangannya dibibir pembatas jembatan dan menatap lurus kedepan melihat pantulan cahaya di atas sungai yang begitu memanjakan mata pengunjungnya ditambah lagi alun-alun Katedral dan monumen kaisar
Alexander.
Hanya kesunyian yang menyelimuti mereka seakan ingin menikmati semua keindahan didepan mata mereka. Natasya memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya karena tubuhnya mulai terasa menggigil menahan angin malam yang dingin, walaupun musim dingin telah lewat tapi angin malam yang dingin ditambah gaun tanpa lengannya sekan akan membekukan tubuhnya. Mark melirik Natasya dengan sudut matanya yang sedang mengusap lengannya dengan telapak tangannya, perlahan ia pun membuka jasnya dan membalutkan ke tubuh Natasya tanpa bersuara.
__ADS_1
“Terima kasih Kak,” ucap Natasya memandang Mark dengan seulas senyum bahagia membungkus bibirnya. Mark
hanya menjawab dengan gumauan singkat saja dan kembali asyik memperhatikan
sekelilingnya yang mulai sepi oleh pejalan kaki.
Natasya mencoba ingin bertanya pada mark walaupun keraguan jelas terpancar di matanya,” apakah Kakak pernah memiliki seorang kekasih?” Akhirnya pertanyaan itu lolos keluar dari bibirnya dengan lancar.
“Ini sudah larut sebaiknya kita kembali.” Mark berkata seakan ia ingin mengalihkan pertanyaan Natasya padanya.
“Tapi kau belum menjawab pertanyaanku.”
“Aku rasa aku tidak punya keharusan untuk menjawab pertanyaanmu itu,” timpal Mark menatap tajam pada natasya.
“Aku memang tidak memiliki hak apa pun, tapi aku hanya ingin tau saja.” Mark pun membalikan tubuhnya tanpa mengubris ucapan Natasya dan ia pun akhirnya mengikuti langkah Mark dibelakangnya.
“Kau lambat sekali,” tukas mark sambil menarik tangan Natsya dan menautkan dengan jarinya dengan erat, seperti sepasanag kekasih yang tengah menikmati kencan mereka. Walaupun kecewa karena pertanyanan diabaikan begitu saja oleh Mark tapi saat menatap tangannya berada dalam genggaman tangan yang kokoh itu membuat hatinya menjadi hangat. Ia terus melangkah sambil menatap mark yang berjalan disampingnya.
“Berhentilah menatapku seperti itu,” protes Mark tanpa menoleh membuat Natasya tersenyum malu untuk pertama kalinya, karena bila bersama Mark ia selalu membuang jauh-jauh urat malunya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.
Selamat membaca semoga readers menyukainya 🙏🙏