
Tak ada berbeda dengan hari-hari sebelumnya sepulang bekerja Neal akan langsung menuju mini bar di rumahnya, menenggelamkan dirinya dengan alkohol, seperti malam ini sudah berkaleng-kaleng bir berpindah keperutnya, melemparkan kaleng-kaleng kosong itu sembarangan, membuatnya berserakan di lantai. Ia berharap alkohol dapat menghilangkan sejenak bayangan Ara di kepalanya tapi itu hanya harapannya yang tidak pernah berasil, dalam setengah sadarnya ia masih mengingau memanggil - manggil istrinya berharap wanita itu muncul di depannya, mendekapnya hangat dengan tubuhnya , aroma wangi tubuh istrinya yang sudah sangat dirindukannya.
Ini sudah dua minggu semenjak Ara menghilang, segala upaya sudah dilakukakan oleh Neal, ia menyebarkan orang-orangnya disetiap sudut kota Moskow, mengirim orang-orang mematai-matai rumah ibu Ara, menduga Ara pulang kesana, tapi Ara tak pernah muncul disana, mengecek semua daftar nama penumpang yang meninggalkan kota Moskow, baik itu yang pergi dengan pesawat, kereta dan Bus, tapi tak pernah ada atas nama Arabella. Ia menghilang seperti ditelan bumi.
Ia tak lagi tidur di kamar yang pernah ia tepati dengan Ara, karena ia tidak sanggup untuk masuk lagi kesana, setiap sudut kamar itu penuhi oleh bayangan istrinya, itu akan semakin membuatnya gila, Neal memutusakn untuk pindah ke kamar di lantai dasar, Memintah para pelayan memindahkan pakaian dan barang-barangnya dari sana. Walaupun ia lebih sering menghabiskan malam di mini bar rumahnya dan akhirnya tertidur disana.
Maria membuka pintu mini bar dengan hati-hati dan menutupnya kembali setelah ia masuk kedalam, suasan didalam begitu temaram satu-satunya penerang berasal dari lampu di atas buffet yang ada disudut mini bar, mata Maria mengitari ruangan itu mencoba mencari keberadaan Neal, tatapan terhenti saat ia melihat siluet tubuh Neal yang sedang duduk dibangku bulat kayu didepan meja mini bar, duduk dengan menelungkupkan tubuhnya di meja menindih satu tangannya dengan wajahnya sambil memainkan kaleng bir dengan tangan yang satunya.
Perlahan Maria menghampiri putranya, buliran air mata mulai berjatuhan dari mata Maria saat melihat putranya yang terlihat begitu menyedihkan, ia menarik tubuh Neal ke dalam pelukannya, mengusap kepala Neal lembut memberikan banyak kecupan disana, menatap wajah Neal yang kuyuh, perlahan ia menyentuh pipi dan dagu Neal yang mulai kasar oleh rambu-rambut yang tumbuh disana.
“Ara sayang… kau kah itu, aku sangat merindukanmu,” guman Neal sambil mengeratkan pelukannya membenamkan wajahnya didada mommy nya yang disangkah istrinya.
“Nak…ini Mommy sayang,” ucap Maria pelan.
“Mommy….!” Tanpa rasa malu Neal menangis seperti anak kecil dalam pangkuan mommy-nya, “kemana lagi aku harus mencarinya Mom." Neal berucap diselah tangisnya..
“Sabar sayang, kita pasti akan menemukan Ara kembali,” bujuk Maria mengusap punggung Neal lembut.
“Jangan seperti ini Nak, alkohol tidak akan menyelesaikan apa pun, jika terus-terusan seperti ini nanti kau sakit, kalau kau sakit bagaimana kau akan mencari Ara, berhentilah bersikap lemah seperti ini, kau harus berusaha lebih kuat lagi, Mommy yakin Ara juga tidak suka melihatmu lemah seperti ini.”
“Apakah ia masih memikirkan aku Mom, bagaimana kalau dia membenciku.”
“Maka buatlah ia menyukaimu sayang.” Neal mengangkat wajahnya menatap mommy-nya. Menatap wajah wanita yang telah melahirkannya itu yang selalu ada buatnya.
__ADS_1
****
Ivander memasuki kamarnya setelah menyibukan dirinya di ruang kerjanya, matanya langsung tertuju pada tempat tidur mencari sosok istrinya tapi ia tidak mendapati Helena ada disana, tempat tidur masih sangat rapi berarti belum ada yang menidurinya. Ivander kembali melangkah keluar kamar, langkahnya seperti sudah hafal kemana harus menggiring tubuhnya.
Pintu kamar Anara sedikit terbuka, ia sedikit mengintip ke dalam,tampak Helena sedang duduk disisi tempat tidur Anara, dengan posisi memunggunginya, sebelum masuk Ivander menarik napas panjang hampir setiap malam Helena mengunjungi kamar Anara, mungkin itu hal wajar mengingat Anara putrinya mereka satu-satunya, kepergiannya tentu saja meninggalakn luka mendalam di hatinya.
Ivander memeluk tubuh Helena dari belakang memberikan kecupan singkat di puncak kepalanya,” ini sudah lewat tengan malam kenapa kau masih belum tidur, tak biasanya kau tidur selarut ini.”
Helena memandangi Ivander yang masih memeluknya sisa-sisa air mata masih terlihat di wajah cantik Helena walaupun usianya tidak muda lagi tapi sisa kecantikannya waktu masih muda masih terlukis jelas.
“Apa yang kau pegang?” tanya Ivander sambil mencoba mengambil benda dalam dekapan istrinya, tak ada penolakan dari Helena ia membiarkan Ivander mengambil bingkai foto dalam peluaknnya. Ivander menatap foto
yang ada di dalam bingkai kayu itu, foto dirinya ketiga masih muda ia berdiri di tengan diapait oleh dua wanita cantik dikiri kanannya, senyum lebar Helena yang memperlihatkan giginya yang rapi menandakan hatinya begitu sangat bahagia saat foto itu diambil, tangan kirinya melingkar di lengan Ivander sedangkan satu tangannya lagi memegang perut besar wanita yang ada di samping kiri Ivander, senyuman tipis juga menghiasi bibirnya yang tipis.
“Apakah Janie akan marah padaku Ivan,” tanya Helena menatap kosong keluar jendela kamar yang masih terbuka.
“Dia sudah berjuang untukku tapi aku tidak bisa menjaganya dengan baik,” isak Helena mulai terdengar, ia mencoba menahan tangisnya tapi ia tak bisa . ia mengutuk dirinya yang begitu lemah yang hanya tau menangis saja.
“Tidak…kau menjaganya sudah sangat baik sayang, jangan menyalahkan dirimu, Anara hanya titipan Tuhan kepada kita, saat Dia memintah kembali tentu saja kita tidak bisa mencegahnya.” Ivander mengusap lembut pundak Helena, lama mereka terdiam sibuk dengan pikirannya masing – masing, Helena memegang tangan Ivander yang masih betah memberikan usapan lembut di pundaknya, Ivander menghentikan usapannya ia menatap tangan Helena yang menggengam tangannya, tangan itu terasa begitu dingin.
“Aku sangat merindukannya, sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya,” bisik Helena pelan tapi telinga Ivander menangkapnya dengan jelas.
“Sebaiknya kita tidur ini sudah sangat larut, aku tidak ingin kau sakit.” Helena menganggukan kepalanya pelan menyetujui ajakan Ivander.
__ADS_1
**
Ivander menatap wajah Helena yang sudah tidur dalam pelukannya, memberikan kecupan lembut di kening istrinya, Ivander menarik lengannya yang dihimpit oleh kepala istrinya dengan hati-hati karena takut membangunkan Helena, ia mengangkat sedikit kepala istrinya lalu meletakkan bantal di bawah kepalanya.
Ivander menatap langit-langit kamarnya , kenangan tentang Janie yang sudah lama di kuburnya berputar seperti film di kepalanya, pengorbanan yang dilakukannya dengan apa pun tidak akan pernah bisa ia balas. Kepergian Janie yang hanya pamit lewat sepucuk surat pada dirinya dan Helena sungguh membuatnya sangat terluka, apalagi istinya. Mereka sudah bersahabat lama semenjak duduk di bangku sekolah menengah pertama, Ivander mengenal sosok Janie karena di kenalkan oleh Helena kepadanya saat ia mulai melakukan pendekatan pda Helena.
“Janie…dimana pun kau berada saat ini semoga kau selalu hidup bahagia, semoga suatu saat nanti Tuhan bisa mempertemukan kita kembali.” Ivander memejamkan matanya berupaya membuang ingatan tentang Janie di
kepalanya.
.
.
.
.
.
Bersambung
Kapan ketemu Neal sama Arabella? sabar ya....😄😄
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak👍👍
Semoga readers menyukainya❤