
Kakakkkkk…!!!
Keduanya melepaskan tautan mereka begitu mendengar teriakan seseorang dengan serentak mereka menolehkan wajahnya, terlihat Jessy berdiri berjarak beberapa meter dari mereka yang tengah memunggunginya sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ara mendorong tubuh Neal pelan saat melihat Maxim ikut masuk ke kamar mereka, Neal berdecak kesal karena terganggu oleh kehadiran kedua adiknya yang masuk ke kamarnya disaat tidak tepat, masih untung mereka belum masuk acara inti kalau tidak bisa bahaya.
“Jessy, sudah berapa kali kakak bilang kalau masuk itu ketuk pintu dulu,” protes Neal mendudukan tubuhnya disisi ranjang sedangkan Ara merapikan penampilannya yang sudah acak-acakan sambil menundukan kepalanya ia sangat malu karena ini kali kedua ia dipergoki oleh Jessy ketika sedang bermesraan dengan Neal. Jessy pun membalikan tubuhnya sambil bersungut menatap kakaknya,” katanya Kak Ara sama kakak lagi marahan makanya aku langsung masuk tidak taunya ada adegan 18+.”
Wajah Ara yang sudah memerah menahan malu semakin merona, Jessy ikut naik ke atas ranjang dan duduk disamping Ara yang masih tertunduk diam dan diikuti oleh maxim, “Sepertinya kita masuk di waktu yang salah,”timpal Maxim terkekeh ikut mendekat dan naik ke tempat tidur yang diiringi tatapan tajam kakaknya.
“Kak Ara sudah tidak marahan lagi sama kakak,” tanya Jessy sambil menyentuh tangan kakak iparanya itu dan Ara pun menggelengkan kepalanya.
“Kakak mana tahan lam-lama marahan sam kakak ipar,” ledek Maxim mencicir pada kakaknya.
“Anak kecil jangan terlalu ikut campur,” decak Neal dengan nada masih menahan kesal.
“Kak Ara marah kenapa sama kakak,” tanya Max ikut penasaran. “ Kakak tidak mengijinkan kakak ipar untuk bekerja,” sahut Jessy yang mewakili Ara untuk menjawab pertanyaan saudara kembarnya itu.
“Aduh kasihan, ini pasti permintaan keponakan uncle nih, Kak ipar kenapa ngidamnya pengen bekerja , kenapa tidak menginam mintah mobil sport keluaran terbaru sama kakak, ponakan uncle ngidamnya di ganti saja ya biar mobilnya uncle dulu yang bawah sampai kamu lahir,” ucap Max sambil mengusap perut Ara lembut tanpa ada rasa sungkan dan malu sedikit pun. Karena ia benar-benar sudah menganggap Ara seprti kakanya sendiri. Ucapan
Maxim berhasil membuat Ara tertawa renyah ditambah lagi eskpresi Maxim dan suaranya yang di buat selucu mungkin.
“Itu mau pamanmu sayang tidak usah di dengar,” ucap Jessy ikut mengusap perut Ara.
“Aku sudah tak sabar menunggumu lahir sayang,” bisik Jessy tepat di depan perut Ara sehingga membuat wanita itu terharu dengan perhatian kedua adik Neal padanya. Ia hanya tersenyum melihat kedua adik iparnya saling berdebat tentang bayi yang baru tumbuh dalam rahimnya itu.
“Bibi Jessy dan Paman Maxim sebaiknya mandi dulu nanti dedek bayinya mual,” ucap Ara yang mulai
pusing melihat dua orang itu saling adu mulut tidak ada yang mau mengalah, bahkan keduanya mulai saling lempar bantal. Keduanya pun langsung berhenti mendengar ancaman Ara karena mereka tau kalau Ara mudah sekali mual dan muntah.
“Kau Jessy cepat keluar duluan karena kau itu sangat bau.” timpal Max ikut mengusir Jessy sehingga membuat wanita itu melototkan matanya ,arah pada Maxim.
“Max…yang bau itu kamu seperti tikus got,” teriak Jessy sangat kesal sambil menutup hidungnya memasang wajah seprti orang ingin muntah.
“Bawel, aku mana pernah bau” tukas Max sambil menarik rambut panjang Jessy sehingga membuat gadis itu menjerit kesakitan, ia langsung cabut keluar kamar saat melihat tatapan geram Neal padanya Jessy yang merajuk merengek sambil memegang kepalanya, Neal pun menghampiri adiknya itu dan mengelus kepalanya lembut,” kau jangan ladenin Max kalau tidak ingin menjadi korban kejahilannya.”
“Kakak nanti harus memarahi Max, aku akan menyuruh mommy untuk memblokir atmnya,” rengek Jessy sambil memeluk kakanya itu.
“Iya, nanti akan memarahinya sekarang kau mandi dulu, pulang kerja bukannya mandi tapi keluyuran kesini.”
__ADS_1
“Aku merindukan kak Ara saja semenjak bekerja kita jarang bertemu,” ucap Jessy sambil menghapus air matanya,
Ara pun ikut memeluk Jessy sambil memperlihatkan senyum terbaiknya.
“Aku juga merindukanmu jessy.”
“Kakak malam ini menginap disinikan,” tanyannya penuh harap karena ia kangen sekali mengobrol dengan istri kakaknya yang sudah ia anggab seperti kakaknya sendiri. Ara yang ragu hanya menatap suaminya memintah bantuan jawaban.
“Baiklah…malam ini kakak akan menginap disini,” jawab Neal akhirnya yang diikuti sorak gembira Jessy. Akhirnya ia pun pamit untuk pergi mandi tak lupa meninggalkan kecuapan di pipi Ara dan kakaknya sambil bersenandung senang ia keluar dari kamar.
Neal mengunci pintu kamar lalu berjalan mendekat pada istrinya dengan senyuman penuh maksud,” sekarang penganggu sudah pergi ayo kita lanjutkan kembali,” tutur Neal sambil mendorong tubuh istrinya pelan hingga telentang di tempat tidur.
“Sayang sebaiknya kita mandi juga,” elak Ara mendorong dada Neal karena ia sudah tau maksud suaminya.
“Sebentar saja sayang, kita butuh olah raga sore dulu,” bujuk Neal lalu menenggelamkan wajahnya dileher
jenjang istrinya mengecupnya hangat dan meninggalkan jejaknya disana, tangannya mulai menyusup menyentuh titik-titik sensitive tubuh Ara sehingga membuatnya tak bisa menolak keinginan suaminya itu.
****
Setelah makan malam yang penuh dengan kehangatan mereka pun mengobrol di ruang keluarga, suasana
Jessy yang sudah tak sabar ingin mengobrol dengan Ara segera menarik tangannya menjauh dari sana, ia pun mengajak Ara ke kamarnya, dan mualilah jessy bercerita pada Ara tentang hubungannya dengan David yang memang sebelumnya sudah ia beri tau juga pada Ara. Ara ikut senagn mendengar hubungan yang terjalin antara Jessy dan David, apalagi Ara sudah sangat mengenal David.
“Kak, nanti aku akan mengajak David ke pernikahan Kak Denish, apakah boleh,” Tanya Jessy menatap Ara
sumringah.
“Aku pikir tidak masalah.”
“Apakah nanti kakak tidak marah,” tanyanya hati-hati karena Jessy memang sedikit kwatir dengan kakaknya
tak mengijinkannya untuk berpacaran.
Ara beberapa saat terdiam menatap mata Jessy bergantian,” tidakkah sebaiknya kamu berbicara dengan kakakmu?”
“Nanti kakak marah,” rengek Jessy bergelayut manja dilengan Ara. Ara pun kembali terdiam karena ia tau bagiamana suaminya menjaga adik perempuannya itu dari pergaulan yang dapat merusak dirinya, tapi Ara juga kenal siapa David ia juga pria baik-baik.
__ADS_1
“Ya sudah nanti akan kakak bantu juga bicara dengan kakakmu, sepertinya tidak masalah karena Neal juga mengenal David,” papar Ara menggenggam kedua tangan Jessy menampilakn senyum terbaiknya. Jessy bersorak senagn lalu memeluk tubuh Ara sangat erta melupakan rasa bahagianya.
****
Ara kembali ke kamarnya dan melihat suaminya sudah berganti pakaian untuk tidur dan terlihat sibuk dengan ipad ditangannya, Ara pun segera ke kamar mandi untu mengososk gigi dan mencuci wajahnya, setelah selesai ia pun segera keluar menuju tempat berganti pakaian, ia memilih beberapa gaun tidur yang tergantung dalam lemari , setelah menemukan yang cocok dengan keinginannya ia pun segera berganti pakain.
Ia keluar dari walk in closet dan melihat suaminya masih fokus dengan benda pipih di tangannya itu, Ara pun beranjak naik ke tempat tidut memposisikan dirinya disebelah suaminya dan memeluk tubuh suaminya membenamkan wajahnya didada suaminya sambil menghirup wangi tubuh Neal yang membuatnya begitu nyaman.
Neal memindahkan posiis tangannya sehingga tubuh istrinya berada penuh dalam kungkunganya membuat Ara
semakin bebas bermanja-manja, Ara mengecup bibir suaminya lembut lalu berpindah ke pipinya dan turun ke lehernya ia menggendus-endus leher Neal seprti anakkucing sehingga membuat Neal geli, Ara tersenyum lebar usahanya untuk mengganggu suaminya berhasil.
“Sayang kau nakal sekali,” ucap Neal menaruh ipadnya dan membalikan tubuh istrinya sehingga Ara berada di bawahnya ia mengelitik Ara sehingga membuat wanita itu tertawa menahan geli. Neal yang gemas melihat istrinya bertambah cantik semenjak hamil.
“Apa yang kau bicarakan dengan Jessy kenapa lama sekali,” tanyannya sambil menyusuri wajah istrinya
dengan jarinya.
“Tidak, kami tidak membiacarakan apa pun, aku mengantuk ayo kita pengen tidur.”
Neal pun mengiyakan dan segera mematikan lampu kamar dan menganti dengan lampu tidur, ia kembali naik ke tempat tidur lalu menarik tubuh istrinya yang sudah mengulurkan tangannya untuk dipeluk. Ia mengusap lengan istrinya dan menatap wajahnya yang sudah terlihat kuyuh karena mengantuk
“Sayang, apakah kau sudah mengijinkan kalau Jessy mempunyai seoarng kekasih,” tanya Ara diselah kantuknya.
“Kenapa bertanya seprti itu,” Neal balik bertanya sambil menautkan kedua alisnya.
“Tidak aku hanya pengen tau saja.”
“Sudahlah, kau sudah mengantuk. Mari kiat tidur,” ajak Neal tidak menjawab pertanyaan istrinya dan Ara pun tidak memaksa karena ia memang sudah sangat mengantuk dan tak butuh lama ia pun akhirnya tertidur, Neal memandangi wajah istrinya tak lupa meninggalakn satu kecupan di kening istrinya lalu ia pun memejamkan matanya karena sudah lelah ia [n akhirnya tertidur.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung