
Ara baru saja ingin masuk kembali ke dalam mansion saat melihat mobil Natasya masuk melewati pekarangan Mansion yang luas, Ara pun menahan langkahnya untuk menunggu Natasya, mobil itu pun akhirnya berhenti di depannya, Natasya pun turun dengan tergesa dan Ara pun langsung menyapanya.
“Pagi Nat, mau kemana buruh-buruh sekali.”
“Pagi Kak, aku datang untuk menjemput kakak, gaun pengantinnya sudah selesai jadi aku kesini ingin mengajak Kakak untuk mencobanya,”jelas natasya beridiri di depan Ara.
“Benarkah, tapi kenapa harus sepagi ini,” tanya Ara heran sambil menarik tangan Natasya untuk melihat jam yang melingkar di lenagnnya yang masih menunjukan pukul sembilan pagi.
“Karena aku akan sibuk beberapa minggu ke depan, jadi sebelum aku sibuk Kakak harus mencobanya dulu, kalau masih ada yang kurang kakak sukai bisa langsung kita perbaiki” jelas Natasya sambil mengedipkan satu matanya sehingga membuat Ara tertawa.
“Baiklah, aku ambil tas dan ponsel ke kamar, ayo masuk dulu,” ajak Ara menaraik tangan Natasay untuk ikut bersamanya.
"Tidak, aku disini saja karena kita lagi buru-buru, jadi kakak tolong cepat kembali,” desak Natasya sambil melirik jam dipergelanagn tangannya. Ara pun pun mengiyakan sambil masuk seorang diri menuju kamarnya, tak lama Ara pun kembali sebelumnya ia sudah pamit pada Jessy, mereka berdua pun segera masuk kedalam mobil Natasya dan segera pergi dari Mansion.
Ara menatap Natasya yang sedang mengemudikan mobil,” bagaimana hubunganmu dengan Mark apakah sudah ada kemajuan kaliankan sudah tinggal bersama hampir satu minggu.”
Natasya menarik napas panjang sambil melirik Ara sekilas,” belum ada kemajuan sungguh sangat susah menaklukan si beruang kutup langkah itu, tapi kakak tenang saja aku tidak akan menyerah dengan mudah semua ilmu yang kakak berikan sudah aku praktekan dengan baik," cengir Natasya.
"Tapi memang kami selama satu minggu ini sangat sibuk, dia selalu pulang saat aku sudah tertidur kami hanya berbicara saat sarapan saja itu pun tak ada manis-manisnya sedikit pun sikapnya padaku," rengut Natasya.
"Tapi setidaknya dia selalu memakan sarapan yang aku buatkan dan terkadang aku juga memasangkan dasinya
walaupun terkadang dengan sedikit memaksa,” jelas Natasya lagi sambil terkekeh dan Ara pun ikut tertawa membayangkan wajah kesal Mark saat Natasya memaksanya.
“Baguslah terus berjuang kakak akan selalu mendukung dan mendoakanmu.”Ara berkata penuh semangat sambl mengangkat satu tangannya, Natsya pun melakuakn hal sama lalu keduanya kembali tertawa.
“Terima kasih Kakak sayang, ayo turun kita sudah sampai,” ucap Natasya selesai memarkir mobilnya di depan
butiknya.
Keduanya segera masuk kedalam butik semua karyawan Natasya sudah datang , Natasya pun menarik tangan
Ara untuk masuk ke ruangan sebelahnya tempat ia memajang baju pengantin Ara. Begitu sampai disana Ara begitu takjup saat melihat gaun pengantin yang begitu indah terpasang pada sebuah patung.
“Wah…ini indah sekali Nat,” ucap Ara sambil mendekat dan tangannya mencoba menyentuh gaun itu.
“Kau sungguh luar biasa Nat,” puji Ara sambil memeluk Natasya bahagia.
“Terima kasih Kak, aku akan melakukan yang paling terbaik untuk kakak tersayangku ini,” ucap Natasya sambil membalas pelukan Ara.
__ADS_1
“Terima kasih Nat,” ucap Ara terharu. Kedua pun saling melepaskan pelukannya.
“Sekarang saatnya kita coba,” ajak Natasya. Ara pun menganggukan sambil tersenyum senang. Beberapa
karyawan Natsya membantu melepas gaun itu dari patung lalu masuk kedalam ruang ganti dimana Ara sudah menunggu disana, Natasya dan seorang pekerjanya membantu Ara memasangkan gaun itu.
Natasya bersorak senang melihat gaun itu melekat dengan sempurna di tubuh ramping Ara, matanya tak bisa
lepas menatap Ara yang terlihat begitu cantik dalam balutan guan pengantinya.
“Anda cantik sekali Nona,” puji salah satu karyawan Natasya. Ara pun tersipu malu sambil mengucapkan
terima kasih padanya sambil memperhatikan pantulan bayangannya dari cermin didepannya.
“Bajunya sudah sangat sempurna, sekarang kita harus membuatnya lebih sempurna lagi, kita akan mendandani Kakak,”
“Apa? Kenapa harus pakai make up juga,” tanya Ara menatap Natasya heran.
“Polesan make up akan membaut wajah cantik kakakku ini semakin mempesona, setelah ini kita akan menemui Kak Neal aku sudah tak sabar ingin melihat reaksinya,” ucap Natasay terkekeh sedangkan wajah Ara merona
karena merasa malu di goda oleh Natasya.
Ara, tapi wanita itu tersenyum dan menyapanya dengan ramah Ara pun menyahut sambil membalas senyumnya.
Mereka pun mendudukan Ara pada sebuah kursi, mengatur gaun Ara agar tidak kusut, dan wanita itu pun mulai
mendandaninya. Ara teringat kembali saat ia melangsungkan pernikahan dengan Neal, betapa ia gugupnya saat itu karena ia tidak mengenal pria yang akan menikahinya sungguh begitu menyedihkan nasipnya saat itu, terpaksa menikah dengan orang yang tidak dikenalnya sama sekali.
Tapi semuanya telah berubah pria yang tidak dikenalnya itu sekarang adalah pria yang akan menjadi teman
hidupnya seumur hidupnya, pria asing itu sekarang begitu sangat dicintainya, memang Neal telah membuatnya terpesona saat pertama kali ia bertatap mata dengannya, mata hitamnya menatapnya begitu tajam sekan menembus jantungnya, dan tatapan itu juga yang telah mencuri hatinya.
*****
Ara hanya merasa kebingungan didalam mobil sambil melirik Karen yang ada disampingnya, walaupun sudah dijelaskan bahwa ia akan membarikan kejutan pada suaminya, tapi ia merasa heran kenapa harus dijemput oleh mobil mewah yang dihiasi oleh bunga-bunga seperti mobil yang menjemput pengantin yang akan menikah saja. Tapi saat Ara mencoba bertanya lagi yang ia dapatkan hanya jawaban yang sama dan akhirnya ia memilih diam saja. Karena yang sesekali melirik pada Ara mencoba menahan senyumnya saat melihat wajah bingung Ara.
Mereka menempuh perjalanan sekitar satu jam dan akhirnya mobil berhenti di sebuah pekarangan yang sangat luas, tempat itu terlihat sepi tapi ada beberapa mobil yang terparkir disana, Karen pun mengajak Ara turun. Rasa heran dikepala Ara semakin bertambah saat melihat mobil mereka berhenti didepan sebuah gereja. Gerejanya tidak sebesar geraja di pusat kota tapi bangunnya begitu klasik dan unik, Ara pun melirik pada sambil mengngkat bahunya memintah penjelasan Karen tapi gadis itu hanya diam lalu mengajaknya masuk.
“Jelaskan padaku Karen ada apa ini, aku datang ke gereja dengan balutan baju pengantin ini, apa
__ADS_1
maksudnya jangan membuat aku bingung,” papar Ara sambil menahan tangan Karen.
“Nona saya tidak bisa menjelaskan sekarang, sebaiknya kita masuk agar pertanyaan dalam kepala Nona itu semuanya terjawab.”
Ara pun malas untuk berdebat lagi ia pun berjalan mengikuti langkah Karen disampingnya yang juga
sedang memegang baju pengantin Ara yang menyapu jalan, Ara melangkah dengan sedikit tergesa walaupun ia sedikit kesusahan karena sepatu tinggi yang dipakainya, rasa penasarannya membuatnya tak sabar ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi disana.
Mereka baru tiba di depan pintu gereja dan tiba-tiba saja pintu itu terbuka tanpa mereka sentuh sedikit pun, Ara menghentikan langkahnya sambil melirik Karen disampingnya,melihatnya menganggukan kepalanya Ara pun
melangkahkan kakinya masuk, begitu kakinya terjejak semua lampu digereja menyalah dan diiringi suara musik memenuhi ruangan itu.
Ara tak dapat menahan tangisnya melihat semua keluarga besar suaminya berkumpul disana, dengan semuanya berdiri sambil menghadap padanya dengan wajah yang dipenuhi oleh kebahagian, tangis Ara semakin keras
saat Maria berjalan kearahnya dengan wajah penuh keharuan.
“Jangan menangis sayang, ini hari pernikahanmu,nanti riasanmu rusak, Mommy tak ingin menatu Mommy
terlihat jelek di hari pernikahnnya.
“Mommy.” Ara pun memeluk haru mertuanya yang begitu menyayanginya.
“Ayo sayang lihat priamu sudah menunggu disana,” ucap Ivander telah berdiri disamping istrinya. Keduanya
pun melepaskan pelukannya. Jessy dan Natasay berlari-lari kecil menghampiri Ara sambil memeluknya bergantian.
“Kalian jahat sekali padaku,” seru Ara kesal. Tapi keduanya malah tertawa segagn melihat kakak iparnya itu kesal.
“Nanti saja marahnya Kak, lihat Kakak sudah tak sabar menunggumu disana” ucap Natasya mencoba menghapus sisa-sisa air mata di wajah Ara. Ara pun mengarahkan pandangannya ke depan altar.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1