
Sera bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Adam ketika pria itu sudah berdiri didepannya lalu mempersilakan kedua pria itu untuk duduk.
“Sera, lama sekali kita tidak bertemu ya, terakhir kali kita bertemu waktu itu kau masih koas kan.” Adam berkata menatap lekat wanita didepannya. “Lama tidak bertemu kau semakin cantik saja,” puji Adam tanpa
berbasa-basi memuji kecantikan Sera, sedangkan ia hanya tersenyum malu
mendengar pujian dari Adam sambil melirik Daniel yang sedari tadi belum membuka
mulutnya.
“Daniel, Sera adalah adik kelasku waktu kuliah,” tutur Adam sambil melirik Daniel disebelahnya dan diikuti anggukan kecil oleh Daniel. Tak lama pesanan mereka datang karena sudah mereka pesan sebelumnya dan mulai menyantapnya.
“Kapan kau jaga malam,” tanya Daniel untuk pertama kalinya buka suara.
“Basok malam,” jawab Sera singkat sambil melirik Daniel.
Adam menghentikan kunyahannya sambil menatap Daniel dan Sera bergantian,” aku sangat senag dapat bergabung dengan kalian disini,” ucapnya.
“Kakak mengambil spesialis apa?”
“Aku mengambil spesialis syaraf, aku bertemu dengan Daniel ketika kami sama-sama kuliah mengambil spesialis tapi
kami mengambil jurusan berbeda,” jelasnya lagi.
“Bagaimana denganmu,” tanyanya sambil menatap Sera serius.
“Aku mengambil spesialis anak.”
“Aku sudah menduganya karena sedari dulu aku lihat kau sangat menyukai anak-anak,” kekeh Adam.
Mereka kembali melanjutkan obrolannya diselah makan siangnya tapi Daniel yang suka bicara terlihat lebih banyak diam sehingga menimbulkan pertanyaan di hati Sera.
“Apa kau sakit,” tanya Sera ketika tinggal mereka berdua karena Adam baru saja pergi karena ada yang memanggilnya.
“Tidak,” jawab Daniel singkat tampak melirik Sera. Melihat mood Daniel yang kurang baik membuat Sera tak berminat lagi untuk bertanya.
****
Natasya menatap kosong kertas ditangannya kepalanya yang pusing membuat ia malas untuk melakukan apa pun, ia menyadarkan tubuhnya di kursi putarnya menatap kosong langit-langit ruangannya sambil menggigit pensil ditanganya. Ia mendesah pelan meningat waktunya bersama Mark tinggal satu bulan lagi, tiga puluh hari lagi waktu yang tersisa untuknya untuk mengejar cintanya.
Walaupun sikap Mark padanya tidak seketus dulu tapi ia belum mampu membuat Mark menyukainya, Natasya meraih tas didepannya lalu beranjak bangki dari kursinya lalu keluar
dari ruangannya, ia mencari pekerjanya untuk pulang lebih cepat karena merasa tidak enak badan.
__ADS_1
Setalah pamit Natasya pun melajukan mobilnya pelan menuju apartemen, dengan langkai gontai ia melangkah masuk berjalan menuju dapur mengambil segelas air dan meneguknya hingga tak bersisa lalu ia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar di lantai dua, ia melemparkan tasnya diatas sofa lalu beranjak ke kamar mandi
untuk mengahapus make upnya kemudian mengganti bajunya setelah itu ia pun
beranjak naik ke tempat tidur membaringkan tubuhnya yang semakin lemas.
Mark sampai ke apartemennya pukul sembilan malam, ia menyalahkan lampu ketika melihat apartemennya masih gelap gulita namun ternyata listrik mati sehingga Mark menyalahkan senter ponselnya sebagai
penerang, ia mengumpat kesal karena tak biasanya listrik mati seperti ini, ketika ia menaiki tangga ia mendengar isakan kecil dari kamarnya.
“Natasya, apakah dia sudah pulang.” Mark berlari menaiki tangga dengan kwatir karena ia tau gadis itu takut dengan gelap, Mark membuka pintu kamarnya yang tidak terkunci
dan suara isakan itu makin keras.
“Natasya?” panggil Mark mengarahkan cahaya dari ponselnya mengitari kamar dan ia menemukan Natasya duduk dilantai merangkul kedua lututnya dan menyembunyikan wajahnya
disana, Mark berlari mengejarnya dan meraih Natasya kedalam pelukannya, tubuhnya gemetaran karena menahan rasa
takut. Mark memperat pelukannya dan merasakan Natasya mulai membalas pelukannya dengan isakan yang masih keluar dari bibirnya.
“Mark,aku takut,” lirih Natasya pelan dengan suara masih gemetar.
“Tenanglah…aku sudah disini kau akan baik-baik saja,” bujuk Mark mengusap lembut punggung Natasya dan mengecup puncak kepalanya memberikan kedamaian pada Natasya, ia menggenggam tangan Natasya yang dingin dan basah oleh keringat, tangannya masih gemetar karena menahan rasa takut.
“Aku akan menyalahkan lampu kamar, tunggulah sebentar.” Mark mencoba melepaskan pelukannya tapi
Mark menggendong tubuh Natsya dan berjalan ke saklar seketika ruangan menjadi
terang kembali karena lampu dikamar Mark akan otomatis menyalah apabila listrik
mati, ia pun membawa Natasya ke tempat tidur dan mendudukannya disana.
“Jika kau sendirian di
rumah jangan lupa untuk menyalakan lampu, walaupun listrik mati lampu ini akan otomatis menyala,” ucap Mark menghapus sisa air mata Natasya yang masih melekat
diwajahnya dengan jarinya.
“Tunggulah sebentar aku akan mengambilkanmu minum untukmu.” Setelah bicara Mark pun beranjak pergi dan tak lama
ia pun kembali dengan segelas air di tangannya.
“Minumlah,” perintah Mark sambil menyodorkan gelas itu pada Natasya, ia pun segera menyautnya dan meneguknya menyisahkan setengahnya saja, Mark kembali mengmbil gelas itu dan menyimpannya diatas nakas lalu mendudukan tubuhnya disisi ranjang.
__ADS_1
“Kau sudah lebih baik,” tanya Mark menatap lekat wajah Natsya yang kunyuh dan pucat, ia hanya menjawab pertanyan Mark dengan anggukan kecil saja.
“Kau sudah makan?” Natasya kembali mengelengkan kepalanya pelan, Mark menghela napas,” tunggulah sebentar aku akan membuatkan makanan untukmu tapi aku mandi dulu karena tubuhku terasa lengket.”
Setelah berkata Mark pun pergi ke kamar mandi dan Natsya hanya diam menatap kepergian Mark, rasa ketakutan yang menderanya berangsur hilang, Natsya memang pobia terhadap gelap karena sewaktu kecil ia pernah terkurung dalam lemari mamanya dan menemukannya
sudah dalam keadan pingsan dan semenjak itu ia sangat ketakutan terhadap gelap
untung saja Mark datang lebih cepat sehingga ia tidak sampai pingsan.
Ia melihat Mark keluar dari kamar dengan handuk melilit pingganggya sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk putih kecil memperlihatkan otot dan sixpacknya , ia melirik sekilas pada Natasya yang juga sedang menatapnya, ia meneruskan langkahnya ke walk in closet untuk berganti pakaian dengan pakaian santai.
“Kau tunggulah disini.” Natasya pun mengiyakan ia menatap tubuh Mark yang menghilang dibalik pintu kamar, ia memijit kepalanya yang masih pusing kemudian membaringkan tubuhnya.
Tak lama Mark kembali dengan membawa nampan ditangannya ia meletakkan nampan
itu diatas nakas, ia pun membangunkan Natasya.
“Makanlah,”perintah Mark ketika Natasya sudah mendudukan tubuhnya ia pun menganggukan kepalanya. Mark mendudukan tubuhnya di kursi yang sempat ia duduki tadi dan mengambil sup
panas yang ada diatas nakas.
“Bukalah mulutmu,” perintah Mark sambl menyodorkan sendok didepan mulut Natasya membuat wanita itu untuk sejenak terdiam namun akhirnya ia pun membuka mulutnya menerima suapan pertama dari Mark, kamar dihinggapi kesunyian hanya sesekali terdengar dentingan sendok. Terkadang keduanya saling tatap tapi tak ada yang berniat untuk memecahkan kesunyian itu.
Belum habis setengan sup itu Natasya
mendorong mangkuk itu menjauh darinya.
“Aku sudah kenyang.”
“Tapi kau belum menghabiskan setenganya,” timpal Mark menatap mangkuk di tangannya.
“Tapi aku beneran sudah kenyang Kak.” Natasya menjawab sambil menjangkau minumnya diatas nakas.
“Baiklah.” Mark segera mengemasi sisa makanan itu dan keluar dari kamar menuju dapur untuk mencuci semua peralatan makan itu, setelah itu ia pun pergi keruangan Tv untuk mengecek beberapa pekerjaannya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung