
Corry memandangi wajah putrinya yang baru saja masuk ke rumah, melihat kedekatan putrinya dengan Neal sungguh menimbulkan kecurigaan di pikirannya, Corry pun manahan dirinya untuk bertanya langsung kespada Ara.
“Sayang, apakah malam ini kamu akan menginap disini?" Tanya Corry.
“Emmm... Tuan Neal sudah menyiapkan Hotel untuk kami menginap ibu," jawab Ara berhati-hati agar tidak ada kecurigaan ibunya tentang hubungannya dengan Neal.
“Baiklah kalau begitu," ucap Corry singkat.
“Besok aku akan mengunjungi ibu lagi," imbuh Ara untuk menutupi kekecewaan ibunya dan benar saja ucapan Ara membuat senyum diwajah ibunya.
“Maafkan Ara ibu, sungguh Ara tidak bermaksud membohongi dirimu," guman Ara dalam hati.
Ara membantu memberesakan piring bekas makan siang mereka, Ara mencuci semua peralatan itu, kemudian menyimpan kembali ke tempatnya. Corry tak henti mengamati putrinya, ”Sayang...apa yang sedang kau sembunyikan pada ibumu ini," guman Corry sedih, setelah selesai dengan pekerjaannya Ara kembali menghampiri ibunya yang sedang merajut sehelai sweter, menjelang sore Ara kembali ke hotel walaupun ia masih sangat kangen dengan ibunya.
*****
Ketika sore sudah disambut malam, Corry mendatangi Hotel tempat Ara menginap, tadi sebelum Ara pulang ia sempat bertanya nama Hotel tempatnya menginap. Ia pun melangkah ke meja repsisionis dan bertanya tentang tamu Hotel atas nama Ara dan Neal. Tapi sungguh ia harus menelan kecewa karena tidak mendapat jawaban dari repsisionis itu, karena itu adalah privasi tamu hotelnya, dengan langkah kecewa Corry menjauh dari sana. Tapi baru beberapa langkah ia berjalan sekilas ia melihat bayang putrinya yang baru turun ke loby Hotel, dengan cepat Corry bersembunyi pada sebuah tiang besar agar tidak terlihat oleh Ara.
Kecurigaan Corry pun terbukti , ia melihat Neal dan Ara berjalan bergandengan, dilihat dari sikap dan prilaku mereka berdua jelas terlihat dan itu bukanlah seperti hubungan antara bos dan karyawannya. Corry tak dapat menahan air matanya sambil memperhatikan Ara dan Neal yang masuk ke dalam mobil dan berlalu dari sana. Dadanya begitu sesak melihat pemandangan yang ada didepannya, kecemasannya akan Arabella akhirnya terbukti, dengan hati hancur ia pergi meninggalkan Hotel.
*****
Ara berdiri di balkon Hotel menatap keluar menikmati keindahan malam, ia bahkan tidak peduli dengan udara dingin yang mulai menusuk tulangnya. Udara dingin bisa saja membekukan tubuhnya yang hanya di balut gaun tidur tipis tanpa lengan, tapi ia masih enggan untuk beranjak walaupun hanya selangkah saja, rambut panjang Ara bergoyang seirama dengan tiupan angin malam.
__ADS_1
“Kenapa kau belum tidur selarut ini," sapa Neal yang sudah berdiri di belakangnya. Kehadiran Neal yang tiba-tiba tentu saja mengejutkan Ara.
“Neal kau sungguh membuatku terkejut," ucap Ara sambil memegang dadanya dan memalingkan wajahnya ke belakang.
“Kau saja yang melamun sehingga tidak menyadari kedatanganku," tukas Neal sambil memposiskan tubuhnya di samping Ara, kemudian menatap Ara seksama. Berdiri di remang cahaya membuat wajah cantik Ara seperti dewi malam yang mempesona bagi siapa saja yang melihatnya tidak terkecuali Neal.
“Aku tidak melamun," bantah Ara.
“Aku sudah berdiri lebih dari sepuluh menit disana dan kau tidak menyadarinya...apakah itu bukan melamun namanya," seru Neal kesal. Ara pun terkekeh mendengar perkataan Neal.
“Temanmu itu sudah pulang?" Tanya Ara. Karena waktu selesai menemani Neal menghadiri sebuah acara perusahaan salah satu rekan bisnisnya, Neal bertemu dengan temannya sewaktu kuliah, ia mengajak Neal untuk pergi minum, sedangkan Ara yang tidak berminat untuk ikut memutuskan untuk kembali pulang diantarkan oleh sopir Neal.
“Iya... besok ia pagi-pagi sekali harus pulang," sahut Neal sambil menatap lekat wajah Ara, cukup lama Neal menatap Ara sehingga membuatnya salah tingkah.
“Terima kasih untuk apa?" Tanya Neal tanpa mengalihkan sedikit pun pandangannya.
“Terima kasih karena sudah mengajakku ke sini, aku sangat bahagia dapat bertemu dengan ibu," sahut Ara sambil balik menatap Neal. Perlahan Neal mengangkat tangannya dan menarik kedua telapak tangan Ara dalam genggamannya.
“Tidak perlu berterima kasih, jika kau rindu pada ibumu, kau bisa cerita padaku dan aku akan membawamu kesini untuk menemui ibumu lagi. Neal berkata sambil menatap mata Ara bergantian, perkataan Neal membuat Ara begitu tersentuh hingga air mata lolos jatuh di pipinya. "Sikapmu semakin membuat aku jatuh cinta makin dalam padamu Neal," bisik hati Ara.
Dengan lembut Neal menghapus air mata Ara, pandangan mereka bertemu dan saling mengunci, ditatap sedekat itu oleh Neal membuat wajah Ara memerah menahan malu. Perlahan ia pun menjauhkan tubuhnya, tapi gerakannya tertahan saat Neal menarik pingganggya dan menarik tubuhnya sehingga tubuh keduanya menempel dengan sempurna, bahkan Ara dapat merasakan bagian tubuh Neal yang mulai bereaksi. Seketika Ara menundukan wajahnya jenggah, lagi-lagi Neal menahan dagu Ara, perlahan ia menyatuh bibirnya dengan bibir Ara, mencium dan memberikan lumatan dibibir Ara yang terasa begitu manis baginya, Ara pun mulai terbuai dalam ciuman Neal. Tangan Neal mulai tak terkendali mememgang apa yang saja yang ingin ia pegang, tubuh Ara yang wangi menambah gairah Neal sebagi seorang lelaki normal. Suasana malam yang dingin seakan memberi kesempatan kepada keduanya.
Perlahan Neal membawa tubuh Ara ke ranjang tanpa melepaskan ciuman mereka. Bukan hanya bibir Neal mulai mencumbu tubuh Ara yang lain, Neal yang sudah diselimuti oleh kabut gairah yang membuat otaknya seolah lumpuh, sekarang pikirannya hanya dipenuhi keinginan untuk memiliki Ara seutuhnya. Neal mulai melepaskan semua pakaianya setelah itu ia menarik gaun tidur Ara, dalam satu kali sentakan gaun itu terlepas dari tubuh Ara, Neal kembali mencumbui Ara.
__ADS_1
Ketika Neal mulai menyatuhkan tubuhnya ia mengusap lembut wajah Ara yang terlihat menahan sakit, ia kembali mencium bibir Ara untuk mengalihkan rasa sakit yang sedang menyerang bagian bawah tubuhnya. Neal
memperlakukan Ara dengan begitu lembut sampai akhirnya ia dapat menerobos pertahanan Ara yang di iringi teriakan kesakitan Ara. Malam itu keduanya menghabiskan malam yang panjang, tanpa ada sesuatu yang membebani mereka, keduanya hanyut dalam kenikmatan yang baru pertama kali mereka rasakan. Entah berapa kali mereka lakukan sampai keduanya tak bertenaga lagi, dan akhirnya terlelap.
****
Ara terbangun ketika cahaya mentari pagi mulai menerobos masuk ke kamarnya. Perlahan Ara bangun, ia meringis kesakitan saat merasak nyeri pada bagian bawah tubuhnya. Perlahan ia mengalihkan pandangannya pada tubuhnya yang hanya ditutupi selimut, Ara pun mengingat kembali potongan kejadian yang terjadi antara dirinya dan Neal semalam, dengan cepat ia mengalihkan pandangan ke sampingnya , tapi ia sudah tidak melihat Neal ada disana.
Ara menekuk lututnya dan menenggelamkan wajahnya disana, ia mulai terisak karena ia tahu apa yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan. ia tahu posisinya di sisi Neal , pasti sekarang Neal sedang menyesal atas apa yang dilakukan mereka semalam. Tapi tidak untuk Ara sedikit pun tidak ada penyesalan karena ia memang mencintai Neal, sangat mencintai Neal, walau ia tahu hati Neal dimiliki sepenuhnya oleh Anara.
Setelah puas menangis perlahan Ara bangkit dari tempat tidur, sambil meringis menahan rasa sakit Ara melangkah ke kamar mandi dengan langkah perlahan, ia membalutkan selimut ke tubuhnya yang polos.
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1