Arabella Secret

Arabella Secret
Aku hanya butuh cintamu


__ADS_3

  Neal membolik - balik majalah  ditangannya terdengar dengusan kesal dari bibirnya saat matanya fokus membaca salah satu artikel dimajalah yang memuat pemberitaan tentang dirinya dan istrinya, masih dengan rasa kesal ia menutup majalahnya  lalu melemparkannya kembali ke mejanya, matanya berpindah pada tumpukan majalah dan tabloit yang belum sempat dilihatnya, tapi dari covernya ia sudah bisa menebak isinya tidak akan jauh berbeda dengan majalah yang barusan dilemparnya.


Neal menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya, tangannya kirinya mengetuk meja dengan pulpen ditangannya,


matanya kembali melirik cover majalah didepannya yang memuat fotonya bersama Ara saat menghadiri pesta pernikahan Denish dan Julia, perasaan kesalnya belum sepenuhnya hilang karena tulisan didalamnya, tulisan gila yang menganggap dirinya membayar sang wanita untuk melaukan face off agar mirip dengan Anara.


Ketukan pintu ruangannya dan diiringan terbukanya pintu memunculkan wajah Mark dengan menenteng beberapa berkas ditangannya, kakinya melangkah mendekati meja Neal lalu meletakkan tumpukan berkas itu disana sedangkan matanya fokus pada Neal yang juga sedang menatapnya dingin.


“Tuan berniat untuk melaporkan salah satu dari majalah itu.” Pertanyaan itu terlontar dari mulut Mark karena ia juga merasa kesal dengan tulisan artikel dimajalah itu.”


Neal menumpuhkan kedua sikunya diatas meja lalu melirik sekilas majalah didepannya,”nanti saja, sekarang singkirkan majalah ini dari meja kerjaku kau simpan saja ditempat biasa kalau sewaktu-waktu aku berubah pikiran,” tukas Neal dan segera disetujui Mark, ia pun segera mengambil tumpukan majalah dan tabloit itu dan


menyimpannya disalah satu rak buku yang ada diruangan Neal. Setelah itu ia pun pamit pada Neal untuk melanjutkan pekerjaannya, Neal pun mengiyakan dan mengambil tumpukan berkas didepannya dan mulai membacanya.


Sementara disalah satu kamar diapartemen, seorang wanita menyobek-nyobek majalah didepannya dengan


berteriak histeris karena kemarahan yang sedang membakarnya, lantai kamarnya sudah penuh dengan sobekan kertas dari majalah yang sudah tidak terbentuk lagi. Rambut pirang Nathalie begitu kusut karena beberapa kali kena jambakan sendiri melampiaskan rasa amarahnya.


“Kenapa selalu saja ada wanita yang menghalangiku untuk mendapatkanmu Neal, haruskan aku melenyapkan


wanita ini juga,” desis Nathalie dengan tatapan penuh amarah dan dendam.


Aaarrggggghhh…


Nathalie kembali menjerit sambil mangacak-ngacak rambutnya ia kembali menangis meringkuk dilantai memeluk kedua lututnya, ia merutuk dirinya yang tidak pernah beruntung mendapatkan cinta dari seorang pria. Neal adalah fantasi pria idamannya sosoknya yang dingin dan cuek tapi begitu lembut dan sayang pada pasanganya membuatnya begitu ingin memilikinya, rasa cinta dihatinya yang sudah tumbuh saat pertama kali ia bertemu dengannya, sikap Neal pada Anara membuatnya begitu menggilai dan mengidamkan  pria itu tapi tentu saja ia harus dapat menahan dirinya karena ia tahu Neal adalah kekasihAnara sahabatnya sendiri.


****


Neal yang sibuk dengan pekerjaanya tak menyadari seseorang tengah mengamatinya dengan senyuman manis


 mengukir bibirnya, Ara tak berniat untuk lebih mendekat ia ingin menikmati wajah serius suaminya yang terlihat semakin  tampan dimatanya, semenjak ia hamil ia merasa ketampanan suaminya bertambah berkali-kali lipat dimatanya sehingga membuatnya tidak bisa menahan rindu bila tak menatap wajah tampannya itu.


Seperti sekarang ia menyusul suaminya ke kantor agar dapat makan siang bersamanya karena jika sendiri ia tak memiliki selera makan sedikit pun, makan sambil menikmati wajah suaminya sungguh pemandangan yang membuat rasa kepuasan sendiri di hatinya, ia tak tau apakah ini bagian dari rasa mengidamnya yang tidak mau jauh-jauh dari suaminya itu.


Dengan senyuman manis yang membukus bibirnya ia melangkah perlahan mendekati meja kerja suaminya,  Ara sengaja melangkah dengan pelan untuk menimalisir suara gesekan sol sepatunya dengan lantai karena  ia ingin mengejutkan suaminya, tinggal beberap langkah lagi tiba-tiba suara barito suaminya mengejutkannya.


“Sayang…untuk apa kau mengendap-endap seperti pencuri di kantor suamimu sendiri, ehmm,” sapa Neal tanpa mengalihkan tatapan dari berkas ditangannya. Ara berdecak kesal sambil menghentakan kakinya karena kesal akibat rencananya untuk mengejutkan suaminya gagal.

__ADS_1


“Eemmhh…bagaimana kau bisa tau  keberadaanku sayang, matamu sedari tadi tak bergesar sedikit pun dari kertas ditanganmu,” sungut Ara mengerucutkan bibirnya. Ia melangkah lebih cepat masih dengan wajah kesal karena suaminya tak juga menatapnya, Ara memutar kursi suaminya dan mendudukan tubuhnya  dipangkuan Neal dan mengalungkan kedua lengannya dileher suaminya.


“Kenapa sayang,eehhmm,” ucap Neal mengusap lembut pipi istrinya yang tengah menatapnya dengan guratan


kekesalan yang masih terlihat dibola mata indah berwarna coklat muda itu.  Ara tak menyahut matanya terpaku pada bola mata suaminya yang segelap malam itu. Perlahan tangan Ara menyusuri rahang tegas suaminya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, focus matanya pun berpindah pada bibirnya.


Cup


Bola mata Ara mengerjap ketika merasakan kecupan singkat dibibirnya lalu di ikuti kekehan suaminya, sehingga membuat Ara kembali berdecak kesal. “Kenapa diam saja,” tanyanya sambil mengusap lembut rambut panjang istrinya yang dibiarkan tergerai.


“Kenapa kau bisa tau itu aku,” ucap Ara mengulang pertanyaannya lagi.


“Aku ini suamimu sayang tentu saja aku tau.”


“Tapi kau tidak melihatku tadi.”


“Aku tidak perlu melihatmu untuk mengetahui keberadaanmu sayang,”tegas Neal lau mengecup pipi istrinya dengan senyuman manis menghias bibirnya.


“Kau pandai sekali bermulut manis sayang.” Ara mencubit gemas hidung mancung suaminya sehingga


kembali memancing tawa Neal. Hidup bersama Ara sungguh memberikan warna yang berbeda setiap harinya dalam hidupnya,  rasa syukur yang tak henti ia ucapkan pada Tuhan karena dapat memiliki wanita luar biasa seperti Ara. Wanita yang mampu membuatnya seperti merasakan  jatuh cinta setiap hari.


“Tinggal satu berkas lagi sayang, apakah kau masih sanggp menunggu kalau tidak kita pergi sekarang,”


ucap Neal menatap lembut istrinya ia paham kode yang diberikan istrinya itu.


“Baiklah…kalau tinggal satu berkas lagi sebaiknya kau selesaikan saja dulu, aku masih bisa menunggu,”


setelah Ara bangkir dari pangkuan Neal.


“Kau yakin sayang,” tanyannya lagi.


“Eehhmmm,” guman Ara diiringi oleh anggukan kepalanya. Neal pun membiarkan istrinya turun dari


pangkuannya dan segera mengambil berkas itu agar dapat dengan cepat menyelesaikannya. Sementara Ara berjalan mengitari ruangan kerja suaminya itu, ia berdiri di depan kaca sebagai pembatas ruangan suaminya sehingga ia dapat dengan jelas menatap bebas keluar melihat pemandangan yang sangat indah dari sini. Setelah puas menatap kelaur gedung mata indahnya mengitari ruangan itu, matanya tertarik pada rak yang dipenuhi buku yang tersusun rapi kaki Ara pun megiringi tubuhnya kesana.


Ara sibuk mencari buku yang sekiranya ada yang menarik baginya, tiba-tiba  mata Ara beralih pada sebuah majalah yang sampulnya terdapat fotonya bersama Neal, dari pakaian yang ia pakai sepertinya gambar itu diambil saat ia menghadiri pernikahan Denisah dan Julia. Ara mengernyitkan keningnya lalu menjangkau majalah itu, ia menautkan kedua alis matanya saat membaca tulisan didepan sampulnya dan ia pun membalik majalah itu karena rasa penasaran akan isi artikelnya.

__ADS_1


Ara tersentak ketika merasakan lengan yang kokoh tengah merangkul tubuhnya dari belakang, Ara pun


menoleh wajahnya sambil tersenyum. Neal menyadarkan dagunya di bahu Ara lalu tangannya menjangkau tangan Ara membantu untuk menutup majalah yang masih terbuka ditangannya.


“Maafkan aku. Aku berharap kau tidak membaca tulisan itu karena aku tidak ingin membuatmu sedih


karenanya.” Neal berkata dengan suara pelan dan sedikit berat. Ara mengusap lembut lengan kokohnya masih memeluk pinggangnya dengan erat.


“Untuk apa meminta maaf. Aku baik-baik saja sayang biarkan saja mereka aku tidak peduli dengan semua itu, aku hanya membutuhkan dirimu dan hatimu saja itu sudah cukup bagiku, selama kau masih mencintaiku aku tidak akan peduli tentang omongan orang lain, banyak hal lain yang harus aku urus dan aku pikirkan


Neal membalikanya tubuh Ara lalu kembali merangkulanya dengan erat,” terima kasih sayang, aku hanya tak suka


saja mereka menyudutkan kau seperti itu.”


“Tidak semua menulisakn seperti itu, ada juga yang masih berpikir positif, bahkan mereka mengatakn aku


adalah saudara kembar Anara,” ucap Ara tersenyum lebar.


"Mana mungkin kami kembar." Ara pun terkekeh


“Tapi aku tetap mengawatirkanmu dan bayi kita,” ucap Neal menatap wajah cantik istrinya lekat lalu berpindah pada perut istrinya dan mengusapanya dengan lembut.


“Aku dan bayi kita baik-baik saja sayang,” tegas Ara mengusap wajah suaminya lembut. Ia sedikit berjinjit karena tingginya hanya sebatas dagu suaminya dan menghadiahi kecupan singkat dibibir suaminya.


“Kau sudah selesai sayang." Neal pun mengangguk. "Ayo kita berangkat,” ajak Neal  meraih tangan istrinya mengaitkan jemarinya dengan jemari istrinya erat.


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


Selamat membaca 🙏


__ADS_2