Arabella Secret

Arabella Secret
Kebimbangan


__ADS_3

Sudah hampir satu jam Arabella dan Karen duduk disalah satu bangku yag ada di taman dipinggir kota, ia menatap  kolam  di depannya, menatap bebek-bebek berenang yang sedang diberi makan oleh sekumpula anak-anak di sana. Udara dingin di musim gugur mulai menusuk tulang Ara, pakaian tebal yang dipakainya tak cukup menghangatkan tubuhnya. Karen yang duduk di samping Ara ikut diam sesekali ia menatap wajah sedih Ara.


Ara tak tau bagaimana cara menggambarkan perasaannya saat ini, apakah ini berita baik atau berita buruk untuknya, itu hanya salah satu pertanyaan yang bergelayut di kepalanya dan masih banyak lagi pertanyaan lain yang sedang berkecamuk, apa yang harus dilakukannya sekarang. Ara menatap hasil USG yang ada di tangannya, perlahan ia mengusap perutnya lembut, dalam rahimnya sekarang ada sebuah kehidupan yang sedang tumbuh, kata Dokter usia kehamilannya sudah memasuki minggu kelima, perlahan air mata jatuh bergulir di pipi mulusnya.


“Nona…jangan menangis, ingat pesan Dokter Nona tidak boleh sedih dan stress karena itu tidak baik untuk kondisi janin anda Nona,” tegur Karen dengan lembut untuk mengingatkan Ara. Ia tau bagaimana perasaan yang  sekarang  sedang dirasakan Ara, ia tau Ara hanyalah istri pengganti oleh Tuan Neal, ia pasti kebingungan dengan keadaannya yang dilaluinya sekarang.


Ara semakin sesegukan menahan tangisnya dan menundukan kepalanya dalam, sungguh ini suatu dilema baginya, wanita mana yang tidak senang mengetahui dirinya hamil, setiap wanita pasti mengingkannya,  begitu pun dengan dirinya, tapi dengan statusnya sekarang sungguh membuatnya bingung, apa yang harus dilakukannya. Apakah Neal juga menginginkan bayi ini seperti dirinya menginginkannya.


Perlahan Ara menghapus air matanya dan menatap Karen yang duduk  disampingnya yang juga sedang menatapnya. ”Karen…maukah kau berjanji sesuatu padaku,” ucap Ara pelan sambil menatap wajah Karen senduh matanya sudah bengkak karena terlalu lama menangis. Karen menganggukan kepalanya pelan ia juga tidak dapat menahan air matanya lagi.


“Ada sesuatu hal yang harus aku ceritakan padamu, tapi  jangan sampai orang lain tau, berjanjilah padaku jangan pernah mengatakan pada siapapun .”Ara berkata dengan suara bergetar.


“Iya Nona… saya berjanji,” ucap Karen diselah isaknya. Ara mulai menceritakan semuanya kepada karen tentang alasan kenapa pernikahannya dengan Neal, tentang statusnya pernikahannya dengan Neal, tak satu pun disembunyikan Ara darinya, Karen menyimak dengan baik setiap perkataan Ara walaupun sebenarnya ia sudah tau keadaan sebenarnya.


Selesai dengan bicaranya Ara menarik napas panjang kemudian membuangnya pelan seakan ingin melepaskan beban berat yang sedang menghimpit  dadanya, kemudian ia melanjutkan bicaranya sambil menatap lurus ke depan.


"Karin…berjanjilah untuk tidak memberi tahu Neal tentang kehamilanku.”


“Tapi Nona…bukankah sebaiknya tuan Neal harus tau keadaan Nona kalau sekarang...


“Tidak…belum waktunya ia tau,"potong Ara cepat, ia berhentik sejenak lalu kembali meneruskan ucapannya," aku tidak ingin membebaninya, bagaimana kalau Neal menolak anak ini, aku belum siap untuk mendengarkannya,” ucap Ara pelan.


“Tapi Nona…


“Tolong Karen, bantulah aku untuk menyembunyikan ini sampai aku memiliki waktu yang tepat untuk memberitahu Neal semuanya,” potong Ara menatap mata Karen bergantian.


“Baiklah Nona, saya akan melakukannya, saya akan selalu mendukung Nona ” sahut Karen pelan sambil menggenggam erat tangan Ara yang dingin.

__ADS_1


“Terima kasih Karen.” Ucap Ara hampir tidak terdengar. Ia tidak tau apakah keputusannya yang ia buat sudah tepat, tapi untuk saat ini hanya itu yang terpikir olehnya, walaupun selamanya ia tidak akan bisa menyembunyikan dari suaminya, apalagi kalau perutnya sudah membesar, tapi ia akan mencoba mengikuti alur nasipnya apapun terjadi kedepannya ia akan bertanggung jawab dengan keputusannya.


****


Arabella melirik jam dinding di kamarnya sudah menujukkan pukul sepuluh malam, ia meletakan buku seputar kehamilan yang sempat dibelikan Karin tadi untuknya, bagaimana pun ini adalah kehamilan pertamanya tentu saja ia tidak punya pengalaman sedikitpun tentang hal itu. Ia beranjak ke kamar mandi  untuk menggosok gigi dan mencuci wajahnya.


Ara mendudukan tubuhnya di sisi ranjang ia melirik nakas disamping tempat tidurnya  segelas air putih, susu, dan vitamin untuk ibu hamil sudah terletak disana, siapa lagi kalau bukan Karin yang menyediakan semuanya, Ara sangat bersyukur memiliki Karen disaat sekarang ini, hanya ia satu-satunya tempat untuk berbagi cerita dengannya. Ara


segera mengambil vitamin dan gelas berisi air putih  dan segera meminumnya. Ia menghabiskan separuh isi gelas itu ia sengaja tidak menghabiskannya karena ia juga harus meminum susu ini selagi hangat. Begitu susu itu pindah ke dalam perutnya rasa mual kembali menyerangnya, tapi sekuat tenaga Ara menahanya agar  tidak memuntahkannya kembali, ia sungguh tdak menyukai rasanya, besok ia akan meminta Karen untuk menganti rasanya dengan rasa yang berbeda.


Ara membaringkan tubuhnya di kasur, menutupi tubuhnya dengan selimut sampai sebatas pinggang, kamar begitu terasa sunyi, ia melirik ke sisi ranjang yang kosong disampingnya yang membuatnya tak dapat menahan tangisnya, semenjak menikah ini pertama kali ia tidur tanpa di temani oleh Neal, Ara terisak pelan, walaupun sikap Neal sewaktu sarapan membuatnya sedih tapi ia tidak dapat membohongi hatinya, ia sangat merindukan suaminya, Ara memegang dadanya yang terasa perih, rasa rindu yang membuat semua marah dan kesalnya hilang begitu saja.


“Neal…aku merindukanmu, apakah kau merindukan ku juga,” bisik Ara lirih sambil mengusap perutnya yang masih datar.


“Sayang…apakah Daddy bisa menerimamu Nak.” Air mata Ara semakin menderas. Ia segera meraih tas kecil di atas nakas dan mengambil ponselnya dari dalam sana, satu hari ini ia tidak menyentuh poselnya. Ara mencoba menyalakan ponselnya  tapi tak bisa karena  baterai ponselnya low, Ara segera mengambil charger ponselnya dari laci nakas lalu mencolokkan pada stop kontak yang ada disamping nakas untuk mengisi daya baterainya.


Ara kenapa tidak mengangkat telponku? ~ Neal.


Ara…kau marah padaku? ~ Neal


Maafkan aku… aku tidak bemaksud menyakitimu, aku tidak mengajakkmu pergi  karena aku tidak ingin kau sakit, perjalanan ke Kanada cukup lama itu akan membuatmu lelah, lain kali aku pasti akan mengajakmu ikut ~ Neal


Aku berangkat ya…hati-hati di rumah, jangan terlalu capek mintahlah  bantuan Karen ~ Neal


Ara membaca satu-satu pesan masuk dari suaminya, air matanya semakin menderas,” Neal aku sangat mencintaimu, sebentar lagi kita akan punya bayi, apakah kau juga  menginginkannya sayang..anak kita,” bisik Ara lirih  diselah isaknya.


Ara mencoba menelpon Neal tapi ia harus menelan kekecewa karena ponselnya tidak aktif, ia pun mengirim satu pesan pada suaminya.

__ADS_1


Jaga dirimu baik-baik selama disana, cepatlah pulang…aku menunggumu ~ Arabella


****


Neal membaringkan tubuhnya di Kasur king size di hotel tempatnya menginap selama dua hari di Kanada, tubuhnya  terasa begitu lelah karena belum mengistrirahatkan tubuhnya  sejak ia  sampai. Begitu pesawatnya mendarat ia langsung mengadakan kunjungan ke cabang perusahaannya yang ada di Kanada karena kebetulah ia juga sedang berkunjung kesini, dan disana sungguh menyita banyak waktu karena ia ingin menyelesaikan dengan cepat, ia berharap setelah pertemuan besok kalau cepat selesai ia ingin cepat kembali ke Rusia. Ia sudah tidak sabar pulang ke rumahnya mengingat wajah istrinya membuat hatinya begitu rindu, dan rasa bersalah masih bergelayut di hatinya ia telah membuat istrinya menangis, hal yang sangat disesalinya.


Ia menjangkau ponselnya yang tergelak tak jauh disampingnya,  Neal menyalahkan kembali ponsel yang memang sengaja ia non aktifkan. Ia menatap layar ponselnya yang sudah menunjukan pukul satu dini hari, Neal menarik napas panjang, Moskow lebih cepat tujuh jam dari Ottawa, berarti sekarang istrinya sudah bangun tidur, mungkin saja sekarang  ia sedang  sarapan. Neal mencoba menerka-nerka dalam pikirannya.


Ting…! Satu pesan masuk ke ponsel Neal.


.


.


.


.


Bersambung


Kepala lagi cenat-cenut tapi diusahain tetap up demi Readers tercinta yang selalu setia menunggu lapak ku ini.🤕🤕


Jangan lupa tinggalkan jejak ya reader..🙏


Like dan komen yang membangun ya say


bukan yang bikin authornya kesel..

__ADS_1


kwkwkwkw...😂😂😂 bercanda


__ADS_2