
Paginya di apartemen Mark…
Mark menjangkau jam yang ada di atas nakas, ia segera bangun dan duduk disisi tempat tidur ia melirik jam yang ada dalam genggamannya sudah menunjukan pukul setengan enam pagi, walaupun ia tidur sudah larut malam Mark akan tetap bangun awal, karena ia memang sudah terbiasa tidur hanya beberapa jam saja, dengan cepat ia masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya di bawah shower dengan air hangat.
Setelah selasai mandi ia pun berganti pakaian memakai setelan jas berwaran abu-abu gelap dan kemeja hitam yang pas membalut tubuhnya yang kekar, ia segera turun dari kamarnya yang berada dilantai dua, saat melewati ruang tamu ia pun tersadar saat melihat seseorang yang sedang meringkuk tidur di sofo, Mark menarik napas panjang dan cepat melangkah ke dapur untuk membuat kopi dan roti bakar untuk sarapannya.
Setelah selesai sarapan ia pun segera menuju ruang tamu dan melihat Natasya ia masih terlelap dengan begitu pulas, selimut yang diberikan Mark sudah terjatuh di lantai, Mark mendengus kesal melihat Natasya dengan rok pendeknya sudah terangkat sehingga memperlihatkan kakinya yang jenjang dan putih mulus. Sebagai lelaki normal tentu saja pemandangan didepan matanya begitu menggoda, Mark cepat ia mengalihkan pandangannya. Natasya memang memiliki wajah yang cantik dengan tubuh tinggi langsing karena ia memang berprofesi sebagia model, wajah cantiknya kerap menghiasi beberapa cover majalah terkenal, pria diluar sana pasti banyak yang menginginkan Natasya untuk menjadi kekasihnya.Ia juga tergolong wanita cerdas itu terbukti ia dapat menyelasaikan kuliahnya tepat waktu dengan nilai yang sangat memuaskan.
Natasya terpekik kaget dan langsung terduduk saat air mengguyur wajahnya, matanya yang telah terbuka langsung menangkap sosok Mark dengan wajah dinginnya sambil memegang gelas ditangan kirinya.
“Pemalas cepat bangun, saya akan segera pergi,” usir Mark sambil menatap Natasya tajam.
“Kakak, aku masih mengantuk, jahat sekali kau membuat tubuhku basah,” rengek Natasya manja sambil mengusap wajahnya yang basah.” Kau kan bisa membangunkan aku dengan cara lain,” lanjut Natasya dengan malu-malu,”misalnya dengan morning kiss,” lanjutnya sambil tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang putih dan rapi. Matanya terpaku menatap Mark yang sudah rapi, wajahnya yang tampan semakin mempesona di mata Natasya, ingin rasanya ia memeluk Mark dan menciumnya.
“Apa yang kau lihat, cepat bangun atau aku akan menyeretmu keluar dari sini,” ancam Mark lalu berlalu dari depan Natasya tanpa menanggapi ucapannya, ia melangkah kembali ke kamarnya untuk mengambil kunci mobilnya. Natasya menatap punggung Mark dengan senyuman masih menghias bibirnya. saat Mark kembali ia melihat Natasya kembali membaringkan tubuhnya disofa. Dengan kesal Mark mendekati Natasya Dan menariknya dengan kuat sehingga membuat Natasay langsung terduduk, Mark kembali menariknya dengan kuat membuatnya terhuyung-huyung mengikuti langkah besar Mark. Ia berusaha berontak tapi sedikitpun tidak berpengaruh pada Mark yang tetap memegang tangannya dengan kuat.
“Kakak lepaskan tanganku sakit,” teriak Natasya sambil meringis dan mengikuti langkah Mark yang menyeretnya kelur dari apartemennya, Tanpa melepaskan pegangannya ia menarik Natasya menuju lift tanpa memperdulikan teriakan Natasya padanya. Saat dalam lift barulah Mark melepaskan pegangan tanganya. Natasya langsung mengusap tangannya yang memerah karena pegangan Mark yang terlalu kuat pada tangannya, Mark melirik sebentar pada tangan Natasay yang masih terus mengelus-elus tangannya dengan pelan sambil mengerucutkan bibirnya.
Mark keluar duluan dari lift membiarkn Natasya yang kesulitan mengejarnya, beberapa pasang mata yang ada di lobi memperhatikan mereka apalagi melihat Natasya berjalan hanya bertelanjang kaki ia tidak sempat memakai sepatunya karena tadi diseret keluar secara paksa oleh Mark, tiba- tiba muncul ide jahil di kepala Natasya dengan cepat ia mengejar Mark dan memeluknya dari belakang.
“Sayang…maafkan aku, jangan marah seperti ini padaku,” rengek Natasya sambil mengeratkan pelukannya. Mark yang mendapat serangan mendadak sangat terkejut dengan cepat ia berusaha melepaskan rangkulan tangan Natasya di perutnya, tapi wanita itu semakin mengeratkan pelukanya dan menyandarkan wajahnya di punggung Mark. Orang-orang yang lewat di loby memperhatikan mereka, terdengar bisik-bisikan sambil tersenyum dari beberapa wanita yang lewat disana.
“Nat, lepaskan tanganmu,” perintah Mark dengan mengertakan giginya wajahnya yang dingin terlihat semakin sangar. Ia mencoba untuk mengendalikan amarahnya.
“Jika kakak masih marah aku tidak akan melepaskannya.”
“Tidak, aku tidak marah lagi…sekarang cepat lepaskan, tanganmu” perintah Mark lagi dengan merendahkan suarannya.
Natasya yang usil bukannya melepaskan tangannya ia mengitari tubuh Mark dengan tangan yang masih memeluk tubuhnya sampai tubuh mereka saling berhadapan. Natasay tersenyum manis sambil tengadah menatap wajah Mark yang menjulang tinggi di depannya, Mark sangat terkejut saat wajahnya begitu dekat dengan wajah Natasya dan belum hilang keterkejutannya sebuah kecupan singkat mendarat di bibirnya.
Mark baru saja membuka mulut untuk memarahi tindakan nekat Natasya ponselnya berdering ia merogoh saku jasnya, dengan cepat ia menjawab panggilan dari Neal, Natasya yang masih memeluk Mark memperhatikan perubahan pada wajah Mark saat berbicara, Mark mendorong tubuh Natasay agar menjauh dari tubuhnya, Natasya pun tidak berontak ia pun segera menjauhkan tubuhnya.
__ADS_1
“Ada apa Kak.” Natasya bertanya sambil mengejar Mark yang berjalan dengan langkah cepat. Mark pun mengentikan langkahnya dan memutar tubuhnya cepat.
“Pulanglah.” perintah Mark, matanya tak sengaja menangkap kaki Natasya yang tanpa alas kaki, Mark menarik napas dan membuangnya dengan kasar. Sungguh tidak mungkin ia membiarkan Natasya pulang dengan taksi dengan keadaan seperti itu
“Aku tidak bisa mengantarmu pulang, karena aku ada urusan penting, tunggulah disini seseorang akan mengantarkanmu pulang,” lanjut Mark dengan nada terdengar lembut.
Natasya hanya menganggung sambil tersenyum senang saat mendengar suara Mark yang sudah tidak marah lagi padanya. Ia hanya menatap punggung Mark yang melangkah pergi menjauh darinya, ia melihat Mark sedang menelpon mungkin ia sedang menelpon orang yang akan mengantarkannya pulang.
****
Neal melangkah masuk ke kamar Anara karena pintunya tidak tertutup, ia melihat Anara duduk menyandar di kepala sofa sedang makan disuapi oleh mamanya, mata Anara langsung menangkap kehadiran Neal disana, ia menghentikan kunyahannya, ia menatap Neal dengan wajah sendu dan matanya berkaca-kaca, wajah yang begitu sangat dirindukannya. Helena yang sedang menyuapi Anara menolehkan wajahnya ke belakang mengikuti arah pandangan Anara, ia tersenyum melihat Neal berdiri di depan pintu lalu menganggukan kepalanya pelan saat Neal menatapnya.
“Neal….Anara menyapa Neal dengan bibir bergetar. Air mata jatuh berderai dipipi Anara yang terlihat lebih kurus, Neal terus melangkah sambil tersenyum walaupun terlihat sedikit dipaksakan balas menatap Anara.
“Hai…bagaimana keadaanmu,” sapa Neal begitu berdiri disamping tempat tidur Anara. Rasa kikuk menyelimuti dirinya.
“Kau tidak ingin memelukku," protes Anara sambil membuka keduan tangannya.
Kau benar-benar mengikis habis rasa cintamu untuk Anara, apakah dulu kau benar-benar mencintai Anara Neal.
“Sayang…aku sangat merindukanmu,” bisik Anara lirih, ia menumpahkan air matanya di dada Neal.
Neal yang hanya diam tanpa membalas pelukan Anara, melihat Anara yang terus menangis ia pun mengusap kepala Anara dengan lembut.
“Sudahlah berhentilah menangis.”
Maafkan aku Anara hatiku telah dimiliki oleh wanita lain.
Perlahan Neal melepaskan pelukan Anara ia menatap wajah Anara yang masih basah oleh air mata,” lanjutkan kembali makanmu, biar kau cepat pulih kembali.” Neal pun beranjak pergi tapi suara Anara menghentikan langkah kakinya.
“Kau mau kemana Neal, temani aku disisni, aku mohon…aku ingin kau yang menyuapiku," pintah Anara menatap lekat wajah Neal.
__ADS_1
“Tapi….
“Kalau begitu lebih baik aku kembali sakit saja kalau kau masih tetap ingin pergi,” potong Anara dengan wajah cemberut.
Neal menarik napas panjang lalu mengambil makanan yang ada di tangan Helena.” Mama biar aku saja,”ucap Neal pelan. Helena pun mengiyakan lalu melangkah keluar kamar memberikan Neal dan Anara waktu untuk berdua.
Anara mulai membuka mulutnya Ketika Neal menyodorkan makanan di depan mulutnya, badan Neal berada di depan di depan Anara tapi tidak dengan pikirannya, wajah istrinya bermain di ruang matanya,” apakah kau sudah makan sayang, aku sangat merindukamu” guman Neal dalam hati. Anara memperhatikan wajah Neal yang tengah menyuapinya, tatapannya kosong bahkan ia sedikitpun tidak menatap wajahnya saat ia menyuapinya.
“Kau kenapa?” tanya Anara menatap wajah Neal dengan mengernyitkan keningnnya. Tak ada sahutan dari Neal ia pun kembali memanggilnya dengan suara lebih keras.
“Neal..! Kau kenapa?”
Neal pun tersentak dari lamunannnya,“tidak…aku baik-baik saja,” jawab Neal mencoba tersenyum.
“Kau melamun, kau bahkan tidak mendengarkan aku saat aku bertanya, apakah ada yang mengganggu pikiranmu?”
“Cepatlah habiskan makanmu,” elak Neal sambil kembali menyuapi Anara.
.
.
.
Bersambung
Biar Author gak terlihat terlalu kejam 😁😁 kita selingih dengan kisah si centil Natasya untuk mendapatkan cinta si dingin Mark 😅😅
jangan lupa like dan komen ya💪💪💪
terima kasih🙏🙏
__ADS_1