
Tubuh Neal yang lelah seperti mendapat siraman kekuatan saat melihat sebuah pesan masuk dari istrinya, dengan segera Neal membacanya, rasa bahagia menggelayut hantinya, senyum senang menghiasi bibir tipisnya, dengan cepat ia menghubungi istrinya ia sudah tak sabar mendengarkan suaranya, satu hari tak mendengar suaranya membuat gunung kerinduan dihatinya.
Satu panggilan yang dilakukannya tapi tidak ada jawaban dari Ara walaupun nada sambung terdengar sebrang sana, Neal mencoba menghubunginya lagi dan kembali tak ada jawaban dari istrinya,”mungkin saja ia masih tertidur, mungkin ia sedang mandi, atau sedang sarapan.” Bathin Neal menduga-duga apa yang sedang
dilakukan istrinya. Neal menunggu beberapa saat untuk mencoba mengulangi menelponnya, tapi mungkin karena tubuhnya yang lelah perlahan rasa kantuk menyerangnya sekuat tenaga Neal mencoba melawannya tapi akhirnya ia harus menyerah dengan kantuknya dan akhir tertidur dengan pulas, berkelana dalam mimpi, ponsel yang dipegang Neal pun terjatuh dari tangannya dan tepat mendarat di lantai.
***
Setelah sarapan Ara kembali ke kamarnya, ia mengambil buku seputar kehamilan yang terletak di meja sofa kamarnya setelahnya ia beranjak ke balkon kamarnya, ia segera duduk di ayunan besar yang terbuat dari kayu, Ara menyandarkan kepalanya pada bantal mencari posisi yang membuatnya nyaman setelahnya ia mengambil sebuah bantal dan mendekapkan ke dadanya. Menatap lurus ke depan mengamati pohon-pohon yang hampir menyisahkan ranting-rantingnya saja, musim gugur telah meluruhkan semua daunnya, walaupun masih ada beberapa pohon yang tak ikut terpengaruh oleh musim ini.
Ara mengusap lembut perutnya,”sayang musim gugur tahun depan mommy telah memelukmu sayang, walaupun mungkin kita tidak berada disini lagi sayang,”bisik Ara pelan. Air mata kembali bergulir dipipi putih mulusnya. Walaupun tak tahu apa yang akan dihadapinya kedepan tapi ia akan memperjuangkan bayinya walaupun nanti mungkin tak satupun yang dapat menerima kehadirannya ia akan berjuang sendiri walaupun luka dan rasa sakit akan membalut dirinya seumur hidupnya.
Ara menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan mencoba membuang ketakutan yang menyelimuti hatinya, sudah banyak hal pahit yang dialaminya jadi kali ini untuk apa ia takut, dulu ia berjuang demi ibunya sekarang ia akan berjuang untuk anaknya. Perlahan ia mulai membuka buku yang ada di tangnnya dan mulai membacanya, membenamkan dirinya disana agar sedkit bisa melupakan masalah yang ada didepan matanya. Begitu asyik Ara membaca sampai ia tidak menyadari kedatangan Karen yang sudah brdiri disamping ayunan,
“Permisi Nona,” sapa Karen hati-hati agar tidak mengejutkan Ara. Perlahan Ara mengangkat kepalanya dari
buku yang dibacanya dan beralih pada Karen yang sedang berdiri mentapnya.
“Ada apa Karen,” tanya Ara lembut.
“Teman Nona yang tempo hari datang ke sini sekarang ada di depan,” jelas karen cepat.
“Nathalie…baiklah aku akan menemuinya.” Ara berkata sambil turun dari ayunan kemudian berjalan mendahului Karen.
Nathalie sedang duduk di sofa di ruang tamu ketka Ara datang menghampirinya, ia terlihat sedang sibuk dengan ponselnya.
“Nathalie,” sapa Ara lembut sambil tersenyum ramah.
Nathalie segera mengangkat wajahnya dan menyimpan ponselnya dalam tasnya ia beranjak bangun keduanya berpelukan sambil cipika cipiki. Ara mengajak Nathalie mengobrol di taman bunga disamping Mansion, begitu sampai Nathalie takjup melihat taman yang masih penuh dengan bunga yang bermekaran seakan tidak terpengaruh oleh musim gugur di negaranya. Ara mengajak Nathalie duduk disalah satu bangku di depan kolam air mancur yang ada di sebelah timur taman.
__ADS_1
“Cinta Neal sungguh besar padamu Ara, bahkan ia menyiapkan hunian yang begitu indah untuk kalian tepati.” Nathalie berkata sambil mengedarkan pandangan sekelilingnya. Ara hanya tersenyum mendengar ucapan Nathalie.
“Aku sangat iri padamu, kau memiliki suami yang sangat sempurna, sedangkan aku sampai sekarang tak ada pria yang mau denganku,” lanjut Nathalie mencoba tertawa walaupun tak dapat menyembunyikan kesedihan di matanya.
“Kau sangat cantik, hanya lelaki bodoh yang tidak tertarik padamu,” ucap Ara sambil tersenyum dan mengusap lembut punggung sahabatnya.
“Kau jangan terlalu pemilih dan jangan terlalu jutek dengan pria,” lanjut Ara sambil terkekeh. Nathalie ikut tertawa mendengar ucapan Ara.
“Semua pria yang mendekatiku hanya untuk bersenang-senang saja, tentu saja aku ingin menendang mereka.” Keduanya kembali tertawa keras.
“Sudahlah jangan meratapi nasip malangku ini, sekarang temani kau shoping ya, sudah lama sekali kita tidak melakukannya,” ajak Nathalie menatap wajah Ara lekat sambil tersenyum dengan wajah cerianya Kembali.
“Ayolah, kau telpon Neal dia pasti mengijinkannya,” lanjut Nathalie melihat Ara yang hanya terdiam.
“Anara…Nathalie terdiam sambil menyentuh pipi Ara,” Kau melalukan operasi pada matamu, lihat…matamu sangat indah seperti mata boneka saja,” lanjut Nathalie tanpa mengalihkan pandangannya dari mata Ara yang membuatnya terpukau.
“Ayo kita pergi aku akan menemanimu, “Ucap Ara sambil bangun dari duduknya. Nathalie berteriak kegirangan mendengar ucapan Ara yang menerima tawarannya, keduanya pun masuk kembali ke Mansion sambil bergandengan tangan.
****
Keduanya sudah berada disalah satu Mall yang sangat terkenal di Moskow karena disana terkenal dengan surga belanja bagi penggila brand-brand ternama di dunia. Tempat yang tidak perna sepi didatangi oleh pengunjung.
“Kapan Neal berangkat ke Kanada?” tanya Nathalie melirik Ara sekilas .
“Kemaren,” sahut Ara cepat.
“Pantas saja aku lihat kau sedikit murung, pasti kau merindukan Neal,” ucap Nathalie terkekeh sambil mencubit hidung Ara pelan.
“Ahh… kau bisa saja,” elak Ara dengan wajah merona.
__ADS_1
“Sejak kapan kau malu-malu seperti ini padaku,” kekeh Nathalie.
“Siapa yang malu,” bantah Ara cepat.
“Terserah.”
Nathalie segera menarik tangan Ara untuk masuk ke salah satu toko, ia terlihat sedang sibuk memilih barang-barang yang ada disana, beberapa kali ia mencoba memintah pendapat Ara dengan pilihannya, Ara hanya menemani Nathalie tanpa berminat untuk berbelanja juga, cukup lama ia menunggui Nathalie sampai membuat kakinya pegal, ia pun mendudukan tubuhnya di sofa kecil yang ada didepannya. Setelah menemukan apa yang sesuai dengan yang diinginkannya Nathalie segera menghampiri Ara yang sedang duduk manis tanpa ada rasa tertarik pada barang-barnag mahal yang ada di sekelilingnya.
“Kau tidak ikut berbelanja?” Tanya Nathalie menatap Ara heran, ia tahu Anara adalah wanita yang hoby belanja sama seperti dirinya tapi melihatnya hanya diam membuat tanya di hati Nathalie.
“Tidak…lemariku sudah penuh tak ada tempat lagi,” kilah Ara santai. Tapi pernyataannya membuat Nathalie semakin penasaran ia pun menghampiri sahabtnya itu lebih dekat.
“Anara…sejak menikah kau banyak berubah, kau bukan seperti Ara yang aku kenal lima tahun lalu,” tutur Nathalie menatap lekat wajah Ara.
“Tidak…aku masih Anara sahabatmu,” elak Ara sambil tertawa kecil. Ara berusaha menutupi kegugupannya melihat Nathalie yang meragukannya membuatnya sedikit cemas.
“Apakah kau sudah selesai?” tanya Ara mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
“Iya tunggulah sebentar aku menbayar belanjaanku dulu.” Nathalie berkata sambil beranjak menjauh dari Ara, Saat di depan kasir ia mengamati Ara yang masih duduk ditempatnya tadi.
.
.
.
Bersambung
Selamat membaca Readers semoga kalian menyukainya...🙏🙏
__ADS_1