
Neal melirik pada istrinya yang duduk disebelahnya sejak mereka berangkat dari rumah ia sedikit sekali bicara, sesekali ia mengalihkan tatapannya pada dua bayi mereka yang terlelap di bangku belakang mobil, Neal meraih tanganya sehingga Ara mengalihkan tatapannya ia memberikan senyuman penyemangat dan Ara pun membalasnya walaupun ketegangan tetap tak mampu tersingkir dari wajahnya.
Ara sepanjang malam memikirkan ucapan suaminya, memang ini sangat mengejutkannya tapi tak mungkin
selamanya ia tetap berpura-pura tak mengetahui di depan Ivander dan Helena, selama ini mereka juga menyayanginya seperti putrinya sendiri,. Jujur dalam hatinya Ara mengakui kalau ia sudah terlanjur sayang pada Ivander dan Heleena seperti orang tuanya sendiri, dan sekarang memang itulah kenyataannya.
Mobil mereka sampai di pekarangan mansion yang begitu sepi, Neal mengajak istrinya turun dan mengambil
si kembar yang asih tertidur dengan nyenyak dan meletakan di atas kereta bayi, ia melirik sekilas pada istrinya meraih tangannya istrinya lalu mendorong kereta bayi mengajaknya masuk.
****
Ivander dan Helena asyik bermain dengan kedua cucunya sementara Ara hanya menatap dari kejauhan, perlahan ia pun mendekat sehingga mengalihkan perhatian Ivander dan Helena, Ara yang hanya diam menatap keduanya bergantian.
“Ayo, Nak. Kemarilah,” panggil Ivander menepuk tempat duduk di sebelahnya.
“Apakah papa ingin mengatakan sesuatu padaku,” ucapanya menatap lekat wajah Ivander. Pertanyaan
yang dilontarkan Ara membuatnya dan Helena tersentak.
“Apa maksudmu ,Nak.” Ivander lalu meletakan Abigail diatas tempat tidur lalu kembali menatap Ara yang berdiri tak jauh darinya, sedangkan Helena memalingkan wajahnya mencoba menyembunykan perubahan wajahnya.
“Kita akhiri saja kepura-puraan ini,” ucap Ara pelan dengan suara bergetar.” Semakin kita menahannya membuat hati ini semakin terluka. Katakan padaku aku ingin mendengar langsung dari mulut papa kalau aku ini memang putri kandungmu.”
Tangis Helena meledak begitu Ara selesai berbicara, ia mendekap Noah erat menahan perasan sedih yang menggelayut di dalam hatinya. Perlahan Ivander bangkit dari duduknya menepisakan jarak antara dirinya dengan Ara, netra coklatnya sudah penuh dengan iar mata menatap lekat wajah Ara yang tak jauh berbeda dengannya dirinya saat ini, ia mencoba menjangkau tangan Ara lalu mmengganggukan kepalanya.
“Iya, Nak. Aku adalah papa kandungmu.” Air matanya terjatuh begitu ia selesai berbicara, dadanya begitu
nyeri menahan sesak yang begitu susah untuk ia tahan. Air mata Ara turun semakin deras mendengar pengakuan Ivander.
“Maafkan mama, Nak. Jika ada yang ingin kau salahkan, salahkan mama Nak, jika mama tidak memakasa mamamu saat itu mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi.” Helana meningkah diselah isaknya memegang dadanya yang berdenyut sakit.
“Hukum saja Mama,Nak karena telah membuat hidupmu dan mamamu menderita.”
Ara pun tidak sampai hati melihat Helana menangis terdengar begitu memilukan ditelingannya, ia ikut
merasakan perih saat melihat Helena seperti itu, lalu tatapannya beralih pada papanya yang tersimpuh dilantai, sosok yang biasanya begitu karismatik terlihat begitu lemah dan kuyuh.
“Papa sungguh tidak mengetahui kalau kamu terlahir kembar,Nak. Bertahun-tahun kami selalu mencari
keberadaan mamamu tapi ia menghilang seperti ditelan bumi. Kami juga tidak ingin Janie pergi walaupun ia telah memberikan seorang bayi kepada kami, karena kami juga ingin Janie ikut melihat kau tumbuh besar, bagaimana pun dia adalah ibu kandung kalian.”
“Setelah lima tahun kami terus mencarinya da akhirnya kami menyerah, mungkin saja Janie telah memiliki
keluarga dan telah berbahagia dengan kelurga barunya, dan aku tidak ingin
mengusiknya lagi karena aku tidak ingin membuatnya terluka.”
“Papa dan mamamu sangat bahagia saat mendengar kabar kalau kau itu dalah putrid kandungku, tapi
bersamaan dengan perasaan takut dan cemas. Takut kau membanci kami berdua
setelah penderitaan dan luka yang dialami mamamu.”
“Maafkan kami, Nak. Papa mohon jangan membenci kami, jangan jauhi kami jika pun kau tidak ingin mengakui
aku sebagai ayahmu setidaknya bersikaplah seperti dulu karena kami benar-benar sangat menyayangimu,Nak.”
Permohonan yang begitu tulus dari wajah Ivander seketika menepisakn sedikit keraguan pada dirinya, ia tidak
__ADS_1
pernah membenci Ivander dan Helena, tapi ia tidak siap saja jika mereka memang
membiarkan saja ibunya hidup menderita tanpa berniat untuk mencarinya setelah
pengorbanan yang telah dilakukan oleh ibunya, Ivander dan Helena tak pernah mengabaikan ibunya.
Ara menglurkan tangannya menyentuh tangan Ivander membuat pria baruh baya itu mngangkat wajahnya menatap
lekat wajah Ara dengan sorot mata penuh luka dan tekaan dalam dirinya,
menggambarkan betapa berat beban yang sedang ia pikul beban perasaan jika kehadirannya tidak bisa ia terima.
“Papa tidak perlu memohon seperti itu, walaupun aku mencoba untuk menolak tapi itu adalah kenyataannya.
Dan sungguh sulit bagiku untuk tidak menerimanya. Aku menyayangin kalian dari
awal dan tidak pernah berubah, aku masih terlalu kecil kehilangan ibu dan setiap malam aku sering melihatnya menangis, aku ingin bertanya kenapa ia selalu memangis tapi aku masih terlalu kecil untuk
memahaminya saat itu.”
Buliran air mata terus berjatuhan di pipnya, jelas sekali kepedihan disorot matanya saat ia
mengucapkan setiap kalimat, ia sejenak menghentikan ucapannya mencoba mengumpulkan
kalimat yang tercekat dalam kerongkongannya, ia menarik napas panjang seakan ingin melepaskan beban berat yang tengah menghimpitnya, sebelum ia kembali melanjutkan ucapannya.
“Mama yang selalu menunjukan wajah ceria didepanku menelan air matanya saat kami bersama, tapi sorot luka
dan kepedihan masih teringat jelas dalam ingatanku, mungkin kita bisa memulai dari awal lagi, sebagai Arabella anak kandungmu papa.”
“Putriku.” Suaranya bergetar menahan haru dan bahagia yang berkumpul didadanya saat mendengar kalimat terakhir Ara, kalimat penerimaan dan pengakuan kalau ia memang ayah kandungnya.Ivander menarik tubuh Ara kedalam pelukanya mendekap tubuhnya sangat erat seakan takut akan terlepas, Ara pun memebalanya
Helena menghampiri Ara dan ivander yang masih berpelukan , ia merengkuh tubuh keduanya. Neal dari kejauhan
menatap dari kejauhan menyaksikan ayah, ibu , dan anak saling bertangisan, ia pun tidak dapat menahan rasa harunya, memang ini yang dinginkan oleh Ivander dan Helena saat ia tau kalau Ara adalah putri kandungnya.
****
Langit senja mulai mepisakn warna kemerahan, sinar matahari yang mulai meredup membayangi tempat yang
begitu tenang dan sunyi, rumput yang hijau tampak seperti bentangan permadani tampak empat orang sedang berdiri diantara ratusan makam yang ada disana. Ara dan Helena meletakan seikat bunga di depan nisan yang bertuliskan Janie Serena. Ara mengusap nisan ibunya bibirnya bergetar membacakan doa, sesekali air matanya menetes.
Mam, ini Ara datang. Ara datang tidak sendiri tapi bersama orang-oarang yang sanagt
berharga dalam hidup mama, Ara membawa papa menemui mama, pria yang mama cintai.
Dan mama Helena juga disini sahabat sejati mama. Dan Ara juga ingin
memperkenalkan pria yang Ara cintai, namanya Neal disuami Ara ,sekarang mama
sudah menjadi grandma dari dua cucu yang begitu tampan dan cantik.
Beristirahatlah dengan tenang kami disini sangat mencintai dan menyayangimu.
Mata Helena terus menatap tulisan yang tertera dinisan, berharap ini hanya mimpi melihat makam Janie
dengan matanya langsung membuatnya seakan tak percaya sahabatnya itu telah lama pergi, setiap kenangan yang mereka lalui berputar didalam memorynya. Air matanya terus bercucuran mewakilkan sakit dan kepedihan dalam dirinya, setelah tidak bertemu selama puluhan tahun ia tidak menyangkah bertemu dengan keadaan
seperti ini.
__ADS_1
Janie,kau kuanggap bukanlah sebagai seorang sahabat tapi sudah seperti saudaraku sendiri, apakah kau tidak memikirkan aku saat kau memilih pergi, aku selalu mengosongkan tempat untukmu dihatiku dan sampai kapan pun tidak akan pernah diisi oleh siapa pun. Terima kasih atas semua pengorbananmu yang tidak akan
perna bisa aku balas. Kau tidak pernah seumur hidupmu bertemu dengna Anara
saudara kembar Arabella, tapi aku yakin sekarang kalian sudah berkumpul
ditempat yang indah. Maaf aku tidak bisa menjaganya dengan baik, tapi kali ini
aku berjanji akan menjaga Ara dengan nyawaku, terima kasih untuk semuanya,
istirahatlah dengan damai sahabatku, aku mencintaimu.
Neal ikut berjongkok disamping istrinya meletak setangkai mawar yang masih ia pegang, ini pertama
kali ia berkunjung kesini ke makam ibu kandung istrinya, tangannya meraih jemari Ara dan menggenggamnya dengan erat.
Mama,maafkan baru sempat mengunjungimu. Aku Neal menantumu, terima kasih telah melahirkan putri yang luar biasa menjadi teman hidupnya memilikinya sungguh anugerah Tuhan yang tak terkira untukku. Aku sangat mencintai putrimu melebihi apa pun, aku akan menjaganya dengan segenap jiwaku. Aku tidak tau telah berapa banyak luka yang ia lalui tapi aku berjanji didepanmu tak akan membiarkan air
mata kesedihan jatuh di pipinya. Restu kami mama doakan kami dari sana, tenanglah disorgaNya.
Ara dan Neal bangkit memberikan kesempatan kepada Ivander meletakan setangkai mawar merah didepan
nisan Janie, tangannya mengusap lembut ukiran nama yang terterah di nisan, hatinya berdenyut goresan lukanya kembali berdarah, wajahnya bermain dipelupuk matanya senyuman tulus yang ia turunkan kepada Ara.
Aku telah menerima suratmu, terima kasih telah mencintaiku begitu besar, aku merasa
tidak pantas mendapatkan cinta darimu setelah semua luka dan derita yang
menghiasi hidupmu yang harus berakhir begitu cepat, aku berharap masih bisa
bertemu denganmu bukan dengan keadaan seperti ini. Kenapa kau pergi apa pun
alasanmu, sungguh aku tidak bisa menerima, aku tidak akan sekejam itu
memisahakanmu dari darah dagingmu. Terima kasih telah memberiku dua putri yang
sangat cantik, aku akan menukar setiap kepedihan yang ia lalui, jika harus bertukar nyawa aku ikhlas.
Janie, kau dan Helena adalah wanita yang mendapat tempat khusus di hatiku, aku pun
tidak akan menapik perasaanku, kau juga memberikan warna dalam hidupku meskipun
singkat, aku mencintai Helena, tapi jauh dalam dasar hatiku aku menyisahkan untukmu.
Ketika matahari semakin codong ke barat mereka pun meninggalakn Areal pemakaman, Neal menggandeng tangan istrinya begitu pun dengan Ivander yang berjalan didepan mereka. Sungguh jalan kehidupan yang sangat rumit menuju satu titik pertemuan. Setiap masa lalu menjadi titik perjalan, walapun terkadang perjalan penuh liku dan berputar pada titik yang membuat rasa putus asa, jangan perna menyerah mungkin saja Tuhan sedang mempersiapkan sesuatu yang indah dan tak terduga.
.
.
.
.
End
Alhamdulillah akhirnya bisa menyelesaikan novel ini🙏
sampai jumpa di ekstra part ya😄
__ADS_1
selamat membaca semoga readers menyukainya 🙏