
Semakin tengah malam suasana dalam Bar semakin ramai, Mark masuk berdesakan dengan pengunjung yang bergantian hilir mudik keluar masuk, suara hentakan musik yang keras yang memekakkan telinga memecah ruangan itu. Beberapa wanita penghibur mencoba menggoda Mark tapi melihat tatapan dinginya membuat para wanita itu menjauh, Mark mengedarkan pandangannya mencari meja bar didekat bartender setelah menemukannya ia pun segera mengajak kakinya melangkah kesana.
Dari kejauhan ia dapat melihat seorang wanita yang duduk di meja Bar dan seorang bartender sedang memperlihatkan keahliannya dalam meracik minuman. Natasya menyandarkan sebagian tubuhnya ke meja ia menggunakan lengannya untuk menyandarkan pipinya, Tiba-tiba muncul dua orang pria yang menyapanya sehingga ia menegakkan wajahnya sebentar lalu kembali tiduran, salah seorang dari pria itu mulai menyentuh wajah Natasya tapi Natasya menepisnya dengan kasar.
Pria itu kembali ingin menyentuh Natsya tapi sebuah tangan dengan cepat menahannya sehingga pria itu menolehkan wajahnya. Ia menatap Mark dengan pandangan tidak suka ia menepiskan tangan Mark dengan kasar.
“Bro… jangan ikut campur urusanku,” tegurnya dengan nada tinggi menatap Mark tajam.
“Itu akan menjadi urusanku jika kau berani menyentuhnya,” jawab Mark dingin menatap pria itu dengan menyipitkan kedua matanya, sedikit pun ia tak merasa takut walaupun didepannya saat ini berdiri dua orang pria berbadan besar.
Kedua pria itu tertawa," kau melarang kami menyentuhnya. Apakah wanita ini kekasihmu,” tanyanya sambil menatap Natasya yang kembali mengangkat wajahnya saat medengar dua orang pria ribut dekatnya, ia pun menolehkan wajahnya kesumber suara yang tak asing baginya.
“Itu bukan urusanmu,” tegas Mark penuh penekanan. Natasya yang memang sudah mabuk tapi ia masih cukup sadar untuk mengenal pemilik suara itu. Ia pun menggeser sedikit tubuhnya mencoba meyakinkan dirinya dengan penglihatannya, ia langsung tertawa senang melihat Mark berdiri disebelahnya.
“Sayang,” sapa Natasya bangkit dari duduknya tapi baru saja ia menegakkan kakinya ia langsung terhuyung tapi dengan cepat Mark menahannya sebelum tubuhnya jatuh ke lantai.
Kedua pria itu segera pergi saat Natasya memanggil Mark dengan sebutan sayang, mereka pun tidak mau cari masalah dengan mengaggu wanita yang sudah memiliki kekasih.
Natasya memeluk tubuh Mark dan mencoba untuk menciumannya, Mark menahan wajah Natasya dengan tangannya, sehingga membuat Natsya tertawa geli, ia segera memopang tubuh Natasay dengan sebelah tangannya dan tanganya yang satu lagi meraih tas Natasya diatas meja. Bartender yang tadi sibuk meracik minuman itu menghampirinya dan menyapa Mark yang akan membawa Natasya pergi.
“Anda sudah datang Tuan, saya Viktor. Saya yang berbicara lewat telpon tadi." Mark hanya mengangguk saja. Memang tadi ponsel Natasya dijawab oleh seorang pria yang mengaku sebagai temannya dan dia juga yang memberi tahu Mark alamat bar ini.
"Saya ingin mengatarnya pulang tapi saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan saya karena pengunjung sedang ramai, untung sekali anda menelpon karena saya sedikit kesusahan menjaganya dari pria yang mencoba menggodannya. Sepertinya dia ada masalah karena saya belum pernah melihat dia minum sampai mabuk seperti ini."
__ADS_1
“Terima kasih,” ucap Mark singkat lalu segera memopong tubuh Natasya untuk keluar dari sana.
“Apa hubungan anda dengan Natasya, apakah anda kekasihnya ” seru pria itu membuat Mark sejenak menghentikan langkahnya namun ia kembali melanjutkannya tanpa menjawab pertanyaannya, Viktor hanya mengangkat bahunya sambul menatap kepergian Mark dan Natasya. Tiba-tiba Natasya melepaskan rangkulan tangan Mark pada bahunya, lalu menolehkan wajahnya ke belakang
“By Viktor, sampai jumpa lagi, “ oceh Natasya sambil melambaikan tangannya, Viktor pun balik melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar. Mark yang kesal hanya diam mengamati tingkah Natasya.
Natasya kembali melanjutkan langkahnya dengan terseok-seok hampir saja ia terjatuh pada salah satu salah meja di depannya untung saja Mark dengan sigap menahannya sehingga tubuhnya tak jadi terjatuh menimpah gelas dan botol yang ada di atas meja, tentu saja hal itu hampir membuatnya celaka. Mark pun memintah maaf lalu kembali memopong tubuh Natsya menjauh keluar dari Bar.
“Mark, kau ingin mengajakku pulang, ayo temani aku minum sebentar saja,” mohon Natasya mencoba melepaskan diri lagi, tapi Mark memegangnya dengan kuat sehingga Natasya yang terus merontah tidak terlepas dari pegangannya.
“Kenapa, kau tidak mau menemaniku, kau jahat, sekali,” racau Natasya sambil menarik baju Mark dengan kuat ia menatap lekat wajah Mark namun Mark malah membuang mukanya sehingga Natasya menarik dagu Mark agar menghadapkan wajahnya kepadanya.
“Aku tidak ingin berdebat denganmu, ikut pulang denganku sekarang atau kau memilih untuk tetap disini,” ucap Mark sambil menautkan kedua alisnya tajam.
“Seandainya kau berada di posisiku sebentar saja, merasakan betapa sakitnya aku.” Natasya menatap Mark dengan mata berkaca-kaca, Mark hanya bungkam mencoba membuang wajahnya, Perlahan Natasya menjauhkan tubuhnya lalu melangkah pergi dengan tubuh terhuyung-huyung.
Hoekkk..
Hoekkk..
Tiba-tiba Natasya muntah, ia berpegangan dengan satu tangnnya pada tiang agar tidak terjatuh, tapi kakinya yang sudah lemas tak mampu lagi menahan berat tubuhnya dan akhirnya ia pun terjatuh. Mark berlari mengejar Natasya menarik kepalanya bersandar dipangkuannya. Ia menepuk pipi Natasya pelan mencoba membangunkannya tapi tak ada jawaban darinya.
Mark mengangkat tubuh Natasya lalu membawanya ke dalam mobil, ia menidurkan tubuh Natasya di bangku belakang mobil dengan hati-hati, lalu ia pun dengan cepat berjalan menuju belakang kemudi lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
****
Mark membaringkan tubuh Natasya dengan hati-hati ditempat tidur, lalu mendudukan tubuhnya disampingnya. Mark menatap lekat wajah Natasya yang tengah tertidur. Ia heran mengapa Natasya begitu menginginkan dirinya, apakah ini hanya sekedar obsesinya saja.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya dariku Nat, " guman Mark sambil mengusap wajahnya kasar lalu menyugar rambutnya kebelakang sambil menghela napas panjang. Pandangannya beralih pada mantel Natasya yang kotor karena bekas muntahnya. Tak mungkin ia membiarkannya tidur dengan pakaian kotor seperti itu, perlahan ia melepaskan mantelnya kemudian bangkit dari
duduknya sambil membalutkan mantel itu ke salah satu tanganya dan ia melirik pada kaki Natasya yang masih dibalut oleh sepatu ia pun menunduk dan perlahan melepaskannya, setelah itu ia pun beranjak pergi.
Mark kembali dengan membawa ember kecil yang berisih air hangat, lalu meletakannya di atas nakas, ia mengambil handuk kecil putih didalamya lalu memerasnya dengan kuat, lalu kembali mendudukkan tubuhnya di sisi tempat tidur. Ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Natasya, Dengan hati-hati ia mulai mengusapkan handuk kecil itu ke wajah Natasya, lalu berpindah ke kedua tangannya, dan terakhir Mark mengusapkan kedua kaki Natasya. Natasya tetap tertidur dengan pulas sedikit pun tidak merasa terusik.
Setelah selesai ia pun membalutkan selimut sebatas dada Natasya, ia pun kembali pergi meletakan embernya lalu kembali lagi ke kamar, ia mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu tidur, kemudian naik ke tempat tidur tak lupa membalutkan selimut ke tubuhnya. Ia kembali menolehkan wajahnya melirik Natasya. Mark melipat kedua tangannya di bawah ke perutnya perlahan memejamkan matanya.
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1