
Ruang rapat terlihat begitu hening semua mata fokus kepada kepala keunagan yang sedang membacakan laporan keuangan bulanan perusahaan, Neal yang sedang mengikuti rapat sedikit gelisah beberapa kali ia mengalihkan pandangannya pada ponsel yang terletak di depannya, Mark yang berada disamping Neal beberapa kali melirik pada bosnya itu, memang sejak berangkat kerja Neal telihat gelisah tapi Mark tak berani untuk bertanya.
Ting…! Terdengar satu pesan masuk dari ponsel Neal , senyum mengembang dibibir Neal saat membaca pesan dari istrinya itu.
“Selamat pagi suamiku….Aku sudah bangun dan baru saja
menghabiskan sarapanku ~ Arabella.
Dengan cepat Neal membalas pesan istrinya itu.
“Baguslah …jangan kemana-mana, tunggu aku pulang ~ Neal
“Cepatlah pulang, aku menunggumu~Arabella
“Istirahatlah…panggil Karin saja kalau kau butuh sesuatu ~ Neal.
“Iya…selamat bekerja ~ Arabella.
Tingkah Neal mengundang perhatian peserta rapat mereka menatap bosnya heran karena bos mereka yang dingin itu bisa tersenyum begitu manis, hal langkah yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Sedangkan Mark sudah bisa menebak siapa si pengirim pesan yang membuat mood bosnya itu langsung membaik. Neal Kembali
meletakkan ponselnya di atas meja, ia mengederkan pandangannya pada semua anggota rapat yang sedang menatapnya.
“Apa yang kalian lihat, “bentak Neal dengan suara tegas dan tatapan yang membuat yang ada disana bergidik ngeri. Seketika merekan langsung mengalihkan pandangannya dari wajah Neal, sedangkan kepala keuangan yang sedang membacakan laporannya kembali melanjutkannya karena sempat terhenti.
Sementara Ara yang sedang berselunjur disofa sambil dipijat kakinya oleh Karen sedang senyum-senyum membaca pesan dari Neal, hatinya sangat senang membaca pesan yang dikirimkan suaminya itu, namun tiba-tiba ia menrindukan wajah suaminya itu.
Deringan nyaring dari ponsel Neal Kembali mengalihkan kosentrasi dan pandangan semua orang yang ada dalam ruangan rapat, Neal menatap layar ponselnya terlihat sebuah panggilan video call dari istrinya.
“Lanjutkan saja… Mark aku keluar sebentar.” Setelah berkata Neal segera keluar dari ruangan kemudian segera menjawab panggilan telpon dari Ara.
“Ada ada? Aku sedang rapat, “ sahut Neal sambil menatap wajah istrinya yang masih terlihat pucat.
“Maaf kalau aku menganggumu…tapi aku sangat merindukan wajahnmu,” ucap Ara dengan wajah sedih.
“Tidak… kau tidak menggangguku,” tutur Neal cepat tak tegah melihat wajah sedih istrinya.
‘Kita baru berpisah beberapa jam ini, masa kau sudah rindu,” lanjut Neal heran akan sikap istrinya yang tak biasanya.
__ADS_1
“Aku juga tidak tau, tapi aku sangat merindukanmu,”Jelas Ara dengan suara manjanya dan ekspersi wajah yang begitu mengemaskan, ekspresi yang sangat disukai oelh Neal.
“Ya sudah lanjutkan saja rapatmu, aku tidak ingin menganggumu.” Ara langsung memutuskan panggilan telponnya yang membuat Neal melongoh menatap layer ponselnya.
"Ada apa dengannya, sungguh sangat mengherankan,”bathin Neal sambil memasukan ponselnya ke saku jasnya, lalu memutusakan kembali ke ruangan rapat yang sudah ia tinggalkannya begitu saja.
****
Ketika jam makan siang dengan langkah tergesa Mark masuk ke dalam ruangan Neal, Neal yang baru saja beranjak bangun dari kursinya menatap kedatangan Mark.
“Maaf Tuan, sektretaris Daddy anda menelpon, beliau memintah pertemuan ke Canada Tuan yang menggantikan beliau karena beliau kurang sehat,”jelas Mark begitu berdiri di depan meja Neal.
Neal terdiam mendengar lapaoran mendadak dari Mark dan Mark melanjutkan lagi bicaranya,”Tuan bisa menghubungi beliau untuk memastikan lagi. itu pesan dari beliau.”
“Kapan acara itu?”
“Lusa Tuan.”
“Baiklah,” sahut Neal pelan. Seberanya ia malas untuk bepergian jauh apalagi mendadak seperti ini, apalagi kondisi istrinya kurang sehat, tapi ia juga tidak tega pada Daddynya yang sudah tua tentu saja tidak boleh bepergian dengan kodisi yang kurang fit. Ia pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi Daddynya, ternyata Mark benar Daddynya sedang sakit, karena kesibukannya akhir-akhir ini Neal jarang berkunjung ke rumah orang
tuanya, bahkan untuk menelpon saja ia jarang melakukannnya kalau bukan mereka yang menelponnya. Neal merasa bersalah karena sudah mengabaikan orang tuanya Setelah berbicara beberapa saat dengan Daddynya Neal pun mengakhiri pangilannya.
“Tapi Tuan setelah makan siang kita ada kunjungan untuk pembahasan proyek yang di Tyumen,” jelas Mark menatap Neal yang berdecak kesal.
“Selain itu apa lagi agenndaku untuk hari ini,”ucap Neal dengan nada masih kesal.
“Nanti malam Tuan harus menghadiri acara pameran,”jelas Mark cepat. Tak ada lagi protes dari Neal, mereka sampai di lantai dasar dan segera menuju mobil yang sudah menunggu di loby.
*****
Neal baru turun dari mobil ia melihat Ara menunggunya di depan pintu dengan senyum mengembang dibibirnya. Ara memang sengaja menunggu kepulangan suaminya karena ia begitu merindukannnya dan tak sabar untuk memeluknya, ia sedang berdiri di balkon kamar saat melihat mobil suaminya datang, dengan cepat ia turun menyusulnya. Neal menatap heran pada istrinya karena sebelumnya Ara tak pernah melakukan hal ini, Ara berjalan menghampiri Neal dan segera memeluknya. Neal pun membalas peluakn istrinya itu, walaupun Neal masih merasa heran dan penuh tanda tanya dengan semua perubahan mendadak pada istrinya.
"Kau lama sekali,” sungut Ara kesal sambil melepaskan pelukannya dan menatap Neal kesal.
“Lama?...biasanya aku pulang lebih lambat dari ini tak ada protes darimu,” ucap Neal sambil mengiring Ara masuk.
“Aku merindukanmu,” sahut Ara manja sambil bergelayut di lengan Neal, Neal yang gemas melihat tingkah istrinya mencubit hidung mancung istrinya pelan.
__ADS_1
“Kau ini sudah berapa kali bicara seperti itu, kau ini kenapa?”
Tidak Ada sahutan dari Ara, ia hanya menghentikan langkahnnya dan melepaskan tangannya yang bergelayut di lengan Neal, melihat istrinya yang diam Neal pun menghentikan langkahnya dan menatap wajah istrinya itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
“Dia ini kenapa?” bathin Neal sambil melangkah mendekati istrinya, ia meraih tangan istrinya dan mengenggamnya erat.
“Aku juga merindukanmu, sudah jangan menangis,” ucap Neal sambil menghapus air mata yang sudah meluncur di wajah cantik istrinya.
“Sekarang ayo ke kamar aku mau bersiap karena aku harus dan aku tidak ingin terlambat,” ucap Neal sambil menarik tangan Ara menaiki tangga.
“Kau mau kemana…aku ikut,” rengak Ara manja menatap Neal dengan mata berbinar.
“Kau itu sakit, istirahat di rumah saja,” tolak Neal lembut.
“Aku tidak sakit…Neal aku ingin ikut, ayolah aku mohon...” Ara berkata sambil berjalan mendahului langkah Neal dan mengatupkan kedua tangannya ke dadanya dengan wajah penuh permohonan
“Tidak…!
Neal tetap menolak permohonan Ara dan mengabaikan rengekan Ara yang terus berusaha merayunya, ia terus melangkah masuk ke kamar dan ikuti oleh Ara dibelakangnya, merasa diacuhkan Ara mulai menangis apalagi melihat Neal yang masuk ke kamar mandi tanpa bicar lagi padanya. Ara menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur dan
menumpahkan air matanya disana.
Neal keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit sebatas pinggangnya, tangannya sibuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil putih, matanya langsung tertujuh ke tempat tidur mendengar isakan
tangis Ara yang cukup membuat bising kamar. Sambil mengeleng-gelengkan kepalanya karena keheranan Neal menghampiri istrinya, ia mendudukan tubuhnya di sisi tempat tidur,kemudian mengusap lembut rambut istrinya, menyadari kehadiran suaminya seketika Ara membalikkan tubuhnya.
“Aku ikut…boleh ya Neal,” rengek Ara lagi sambil membenamkan wajahnya di dada telanjang Neal. Berkali-kali ia menyuarakan permohonan itu berharap Neal mengabulkan permintaannya. Neal menarik wajah Ara menjauh dari tubuhnya lalu menagngkup kedu pipi Ara dengan tangannya yang besar, ia menatap wajah istrinya yang basah oleh air mata. Ia sangat heran melihat sikap Ara yang begitu manja dan merengak kepadanya seperti anak kecil, tak biasanya ia bersikap seperti itu membuat Neal bertanya-tanya dengan perubahan sikap istrinya itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.Bersambung
jangan lupa tinggalkan jejak dengan ngasih like dan komen ya readers 😄😄