
Ini sudah hari kedua setelah kejadian mengerikankan yang menimpah Ara dan ia pun belum juga terbangun, Neal
selalu berada disamping istrinya karena ia ingin saat Ara terbangun dirinya yang pertama kali dilihatnya, ia hanya meninggalakn Ara sebentar untuk menjenguk bayi kembar mereka yang masih dalam perawatan intensif karena lahir prematur, dan ia sangat bersyukur sekarang bayi mereka tidak perlu bantuan alat untuk pernapasan lagi, tapi Neal tetap ingin kedua bayinya mendapatkan perawatan terbaik.
Neal sangat hati-hati mengambil bayinya saat suster menyerahkannya padanya, Neal menatap tak percaya putri kecilnya sekarang berada dalam pelukannya, ini pertama kali ia dapat mengendongnya dan ia tak dapat menahan
tangis harunya Neal langsung mencium pipi putrinya yang merah. “Hai, putri cantik Daddy,” sapa Neal sambil menyentuh jari-jari mungilnya. Manik kecilnya menatap Neal, bola matanya yang coklat sama
seperti milik Ara, mulutnya mengeluarkan suara khas bayi. Ia kembali mencium bayinya sebelum menyerahkan kembali kepada suster.
“My son,” bisik Neal lembut ketika suster menyerahkan bayi satunya lagi, ia mengecup hangat putranya. Ia
menarik sudut bibirnya melengkungkan senyum manis saat menatap putranya yang mewarisi iris hitam miliknya. Tak ada yang dapat menggambarkan rasa bahagian saat ini, Tuhan yang mempercayainya memiliki dua bayi sekaligus, sungguh nikmat Tuhan yang tak bisa ia dustakan.
Setelah mengunjungi bayi kembarnya ia kembali ke kamar tempat istrinya dirawat, ia mengusap wajahnya
dengan kedua telapak tanganya lalu menatap istrinya yang masih enggan untuk membuka kedua matanya, Neal mendekat mendudukan tubuhnya di bangku di samping tempat istrinya ia meraih tangan istrinya lalu menggengamnya erat sambil menatap lekat wajh istrinya.
Bebrapa kali Neal menguap karena rasa kanduk yang meyerangnya, sudah dua hari ini ia kurang tidur karena menjag Ara, tapi ia masih enggang untuk beranjak dari sana. Neak menyandarkan wajahnya di kasur Ara dan
menjadikan satu tangannya sebagai bantalan, ia menarik tangan istrinya lalu menempelkan telapak tangan istrinya ke pipinya sambil memejamkan matanya dan karena kelelahan akhirnya ia pun tertidur.
Ara mencoba membuka matanya ia sedikit kesusahan karena terasa begitu berat untuk dibuka. Ara mengerjapkan matanya berulang-ulang menyesuaikan dengan cahaya lampu yang membuat matanya silau dan pandangannya
buram sama seperti orang bangun tidur umumnya.
Ia mengedarkan pandangannya karena merasakan tempat itu begitu asing baginya, hatinya begitu trenyu menatap
suaminya yang tertidur dengan posisi duduk sambil menggenggam telapak tanganya, perlahan Ara menarik telapak tanganya karena tidak ingin membuat suaminya terbangun, ia menyisir rambut suaminya dengan lembut menggunakan jari tangannya.
Ara yang tersadar merasakan aneh pada tubuhnya tangannya dengan cepat menyentuh perutnya, wajah Ara seketika memucat merasakan perutnya yang sudah datar. Bayangan buruk saat ia mengalami
keguguran dan harus kehilangan bayinya membuat langit di atasnya terasa runtuh.
“Bayiku,” teriak Ara panik dan tangis yang mulai meledak membangunkan Neal yang tengah tertidur.
“Sayang,” panggil Neal menahan lengan istrinya mencoba untuk menenangkannya.
“Bayi kita, mana bayi kita Sayang,” tanyanya masih menangis mencoba melepaskan diri dalam kungkungan
suaminya.
“Tenanglah sayang bayi kita baik-baik saja,” bujuk Neal lembut. Ara langsung terdiam mendengar ucapan Neal
dan menatap matanya bergantian,” kau tidak membohongiku,” ucapnya dengan suara bergetar pelupuk matanya masih digenangi air, sungguh ia tidak sanggup membayangkan sesuatu yang buruk terjadi kembali pada bayinya.
Neal menangkup kedua pipi Ara dan menatap lekat manic coklatnya,” aku tidak berbohong sayang, bayi kita
baik-baik saja, percayalah padaku.” Setelah mendengar perkataan Neal Ara akhirnya kembali tenang dan lega, Neal menarik istrinya kedalam pelukannya, ia menarik napas lega melihat istrinya sudah sadar kembali. Walaupun sempat dilandah rasa panic melihat istrinya terbangun histeris bermacam pikiran buruk terlintas
dalam pikirannya.
“Aku takut, bayi kita meninggalkan aku lagi,” ucap Ara menenggelamakan kepalanya ke dada Neal
mengahapus sisa air matny dengan punggung tanganya. Neal mengusap lembut kepala
istrinya dan sesekali mengecupnya.
“Mereka baik-baik saja sayang, aku rasa mereka juga tidak sabar bertemu dengan ibunya.” Neal berkata
sambil melepaskan pelukannya, ia menatap istrinya dengan seulas senyum manis dibibirnya dan Ara pun membalas senyuman itu tak kalah manis rasa risau di hatinya pupus sudah.
“Aku akan memanggil Dokter.” Ara pun mengiyakan dan Neal pun segera menghubungi dokter mengabari kalau istrinya sudah sadar. Tak butuh waktu lama dokter pun datang, ia segera memeriksa keadaan
Ara.
“Kondisi anda sudah sangat baik Nona, tinggal pemulihan pasca operasi.” Neal bernapas lega saat mendengar penejlasa dokter tentang kondisi istrinya begitu pun dengan Ara dan ia sudah tak sabar ingin
melihat dan memeluk buah hatinya.
“Apakah saya bisa bertemu dengan bayi saya Dok,” Tanyanya penuh harap sambil meremas tangan suaminya yang
memegang pundaknya.
“Tentu saja, mereka harus segera mendapatkan asi dari ibunya, nanti suster akan mengantarkannya ke sini
Nona,” ucapnya ramah.
“Terima kasih Dok,” balas Ara bersemangat, ia menatap suaminya dengan senyum lebar diwajahnya, Neal
meremas pundak istrinya membalas senyum manis istrinya.
Tak lama menunggu seorang dokter anak dan suster datang mendorong tempat tidur bayi dan meletakannya
tepat disisi tempat tidur Ara. Ara melekatkan kedua tangannya ke mulutnya saat menatap dua malaikat kecilnya yang tengah tertidur, air mata bahagianya tak bisa ia bending ketika suster meletakan satu bayinya didalam gendongannya, ia langsung mencium wajah kecilnya yang merah.
“Sayang, ini bayi kita,” ucapanya menatap suaminya disampingnya, Neal menganggukkan kepalanya tersenyum
__ADS_1
manis pada istrinya. Tangannya mengelus lembut pipi bayinya tak pernah ia sebahagian ini merasakan menjadi orang tua untuk bayi kembarnya.
“Dia tampan sekali sayang, sama sepertimu,” ucap Ara terkekeh.
“Dan putri kita juga sangat cantik sekali sayang, secantik ibunya,” ucap Neal sambil memperlihatkan bayi
yang ada dalam gendongannya, mata Ara pun berpindah menatap bayinya yang tertidur dalam pelukan suaminya, ia memintah Neal untuk meletakan kedua bayinya dalam gendongannya. Ara menatap bergantian bayi kembar yang berada dalam pelukannya seeklai ia mengecupnya penuh kasih sayang, waahnya sangat ceria tak
pernah ia merasakn sebahagia ini. Neal menatap oarng-orang yang sanagt berarti dalam hidupnya, tidak bisa ia bayangkan jika kejadian malam itu merengkut mereka dalam hidup Neal.
Ara terus bergantian menatap kedua bayi dalam pelukannya, Neal duduk disebelah Ara merangkul pundak
istrinya.Hatinya meresa sangat bahagia Tuhan telah melengkapi kelaurga kecil mereka dengan kehadiran dua orang bayi yang tampan dan cantik.
****
Ruangan Ara ramai dengan anggota keluarga yang datang menjenguknya dan menjenguk anggota baru keluarga
mereka yang sekarang menjadi pusat perhatian mereka. Melihat wajah rupawan sikembar membuat gemas yang melihatnya, Maria dan Helena memeluk cucu-cucu mereka dengan penuh kebahagian, kondisi Ara yang sudah membaik membuat rasa risau mereka seakan terbayarkan. Dianugerahkan cucu pertama sepasang bayi kembar sungguh limpahan kebagaian tak berhingga yang dikirimkan Tuhan pada mereka . Kelahirannya yang diwarnai insiden yang membuat detak jantung mereka seakan berhenti.
Ara duduk di tempat tidurnya sambil menyandar manja pada ibunya, ia sangat senang sekali begitu mendengar
kabar dari suaminya kalau ibunya sekarang ada di Moskow. Ivander terus menatapwajah putrinya, jauh dalam hatinya ia merasa sedih masih harus menyembunyikan kebenaran ini untuk sementara waktu pada Ara, ia harus bersabar menunggu kondisi Ara benar-benar pulih seperti sedia, mengingat kondisi Ara yang baru
saja mengalami kejadian yang begitu mengeriakn dalam hidupnya yang hampir saja merenggut nyawanya dan nyawa bayinya. Ia takut kalau mental Ara belum siap untuk mendengarkannya dan bagaiamana kalau Ara tidak menerima kehadirannya.Jikamengingat itu hati Ivander terasa perih, tapi jika nanti Ara membencinya ia
tidak bisa marah Ia juga harus memepersiapkan diri untuk itu.
****
Ivander menggenggam amplot yang sudah berwarna kekuningan karena dimakan oleh waktu, setiap mengingat
cerita Cory membuat perih di hatinya, ia tidak menyalahkan sikap Janie yang membawa pergi putrinya karena ia punya alasan untuk itu, dan dalam surat ini ia akan mengetahuinya, karena pengorbanan Janie ia dan Helena mendaptakan seorang anak yang tidak bisa Helena berikan karena sakit yang dideritanya.
Ivander menatap surat ditangannya,Ia menarik napas panjang sebelum tangannya bergerak untuk membuka amplot. Tiba-tiba jantung Ivander berpacu dengan cepat saat membuka lipatan kertas dan menatap tulisan tangan
Janie yan sangat rapi.
Dear
Ivander,
Jika kau membaca suratku ini berarti aku tidak ada di dunia ini lagi, lewat surat
ini aku ingin memintah maaf padamu dan juga Helena dan aku tidak tau apakah aku ini masih pantas untuk menerima permintaan itu setelah semua yang aku lakukan. Tapi walaupun demikain aku
tetapkan ingin mengucapkan kata itu, maafkan aku….
kebenaran yang aku bawah aku takutkan akan aku bawah mati, karena itu aku
menuliskan sepucuk surat ini untukmu dan Helena.
Saat mendengar pertama kali permintaan Helena padaku, aku pikir itu permintaan
terkonyol yang perna aku dengar, mana mungkin aku bisa melakukan hal itu, hamil
anak suami sahabatku sendiri, itu sama saja aku menghianatinya sungguh hampir
membuatku gila mengingatnya.
Tapi saat melihat dia putus asa dan berniat mengakhiri hidupnya aku mencoba berdamai
dengan diriku dan akhirnya bersedia menuruti permintaannya. Dan aku rasa kau
juga tidak jauh berbeda kau juga keberatan dengan permintaan Helena karena kau
sangat mencintainya.Kau terpaksa melakukan karena tidak ingin menyakiti wanita
yang kau cintai, dan aku melakukan ini setidaknya aku bisa sedikit membalas
segala kebaikannya padaku.
Dan semua itu akhirnya terjadi dan aku pun hamil anakmu Ivander, aku dapat merasakn
betapa antusia Helena saat mendengar kabar itu pertama kali, wajah bahagianya
bahkan melebihi saat pertama kali dia mengatakan padaku dia jatuh cinta padamu
.
Tapi aku melakukan kesalahan yang seharusnya tidak boleh aku lakukan, setiap hari
aku patahkan ranting-ranting yang mulai tumbuh dalam hatiku tapi setiap aku
patahkan ia tumbuh lebih cepat. Aku menyalah artikan semua kebaikan dan
perhatian yang kau berikan Ivander, hatiku tertaut padamu, aku jatuh cinta
__ADS_1
padamu, aku mencintaimu Ivander. Karena itulah aku memutuskan untuk keluar dari
rumah, ingin memutuskan perasaanku walaupun sedikit pun tak pernah terputus
walaupun aku tak lagi tinggal bersamamu. Ia tumbuh menjadi pohon besar dengan
akar tunggangnya tumbuh ke dasa hatiku, dan hanya kau satu-satunya pria yang
bisa membuatku jatuh cinta.
Rasa keegoisanku ingin memiliki bagian dari darimu membuat aku memisahkanmu dari
anak kandungmu karena sebenarnya aku melahirkan bayi kembar, sungguh
kesalahanku sangat sulit untuk kau maafkan begitu pun dengan Helena, aku tidak
akan memaksa jiika kalian memang tidak berkenan untuk memberikannya, aku pikir
aku pantas mendapatkannya karena telah menghianati sahabatku sendiri.
Terima kasih telah singgah dalam hidupku yang singkat ini, sampaikan salam dan
permohonan maafku pada Helena sampai kapan pun aku tetap mencintai dan
menyayanginya dan tidak akan perna berkurang, tapi apakah aku masih pantas
dipanggil sahabat setelah semua yang aku lakukan.
Yang
selalu mencintaimu
Janie
*****
Helena berjalan menghampiri suaminya yang duduk di balkon kamar Anara, begitu berdir dibelakangnay ia meletakan kedua tangannya di di pundak suaminya dan meremas lembut, Ivander pun mengangkat wajahnya menatap istrinya yang juga tengah menatapnya. Tatapn Helena pun berpindah pada kertas
ditangan suaminya.
“Apakah itu surat Janie sayang.”
“Iya.” Jawabnya singkat lalu memegang tangan istrinya yang masih menempel di pundaknya.
“Kau ingin membacanya, aku pikir kau juga berhak.”
“Tidak, aku yakin Janie punya alasan untuk semua yang dilakukannya.”
“Dia ingin memintah maaf padamu.”
“Memintah maaf.” Helena mengulang perkataan Ivander ia menggeser tubuhnya dan mendudukan tubuhnya di
kursi disebelah suaminya, lalu menatap manic coklat suaminya bergantian.
“Untuk apa dia meminta maaf padaku, seharusnya aku yang meminta maaf padanya karena telah memaksanya untuk melakukannya, jika saja saat itu aku bisa menahan diriku mungkin semua ini tidak terjadi dan Janie….
Helena tidak sanggup lagi meneruskan ucapannya ia menutu wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan mulia terisak melepaskan rasa perihyang dari kemarin coba ia tahan, saat mendengar kabar kalau Janie meninggal
perasaannya sangat hancur karena ia berharap masih dapat bertemu dengan sahabatnya itu.
Ivander memeluk istrinya mmebiarkan Helena menangis dalam pelukannya, mereka semua terluka,” jangan menyalahakn dirimu seperti Janie selalu menyalaakn dirinya, semua sudah terjadi dan kita tidak bisa
mengubahnya. Sekarang mari kita perbaiki semua kesalahan dimasa lalu, Tuhan masih memberikan kesempatan itu oada kita lewet Arabella.”
Hanya kesunyian disekitar mereka kedua suami istri itu masih berpelukan menatap lurus kedepannya dengan
pikiranya masing-masing.
.
.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung