
“Kenapa kau sangat membenciku…apakah aku terlihat begitu jahan dimatamu,” seru Daniel sambil menatap tajam mata Ara. Ara menatap balik Daniel tanpa ada kata yang keluar dari bibirnya.
“Kau bisa bersikap baik terhadap Neal…kenapa tidak denganku, aku tidak pernah menyakitimu, jadi sungguh tak adil jika kau bersikap seperti ini padaku,”lanjut Daniel dengan suara penuh penekanan. Ia kembali menarik tangan Ara menuju lantai dansa, Ara yang tak ingin ribut dengan Daniel, hanya diam mengikuti langkah Daniel.
“Kau tentu punya alasan kenapa kau begitu mmembenciku, aku sungguh ingin mendengar alasanmu,” tanya Daniel
Ketika tubuh mereka mulai mengikuti alunan music. Ara hanya menundukan. Melihat tak ada jawaban dari Ara, Daniel pun melanjutkan bicaranya.
“Aku hanya ingin melindungimu dirimu, perkawinan antara kau dan Neal aku tau kau orang yang paling dirugikan,” imbuh Danile menatap wajah Ara lekat. “ Dan itulah alasan kenapa aku paling tidak setuju dan menolak pernikahan kau dan Neal, karena aku tau kau pasti akan terluka akhirnya.”
“Terima kasih Tuan Daniel karena sudah mengawatirkan aku, tapi aku baik-baik saja, mulai sekarang simpan kekwatiranmu terhadapku, aku tau dengan apa yang telah aku lakukan dan telah memikirkan semua resiko yang akan aku tanggung,” tegas Ara sambil menatap tajam wajah Daniel.
“Aku senang mendengar kau baik-baik saja… tapi kau masih bicara seperti ini ketika Anara sudah bangun, saat Neal mencampakanmu,” dengus Daniel.
“Itu akan menjadi urusanku, kau bukan siapa-siapaku…jadi kau jangan terlalu mencampuri urusanku,” dengus Ara tak
kalah ketus, ia berusaha menyembunyikan nyeri di hatinya saat mendengar ucapan Daniel.
“Aku akan selalu ada untukmu, ijinkan aku untuk jadi temanmu.” Daniel berkata sambil menatap wajah Ara penuh harap agar dapat mengabulkan keinginannya.
“Maaf aku tidak bisa, sekarang ijinkan aku pergi,” ucap Ara sambil menjauhkan tubuhnya dari Daniel. Daniel yang tidak dapat menahannya lagi membiarkan Ara pergi, ia masih terpaku di tempatnya berdiri sambil menatap punggung Ara.” Ara… kenapa aku sungguh tak tega melihatmu terluka, wanita sebaikmu kenapa harus dihadapkan
pada pilihan hidup yang akan membuatmu terluka akhirnya, kau tau kenapa aku seperti ini karena aku tau kau sudah jatuh dalam pesona Neal, itu adalah hal yang tak seharusnya kau lakukan,” bathin Daniel terus memandangi Ara sampai tak telihat dari jangkaun matanya.
****
Mark meletakan gelasnya yang kosong pada nampan pelayan yang kebetulan lewat didepannya, ia pun segera berlalu mencari tempat yang nyaman untuknya, langkahnya tertahan oleh sebuah suara yang menyapanya, ia pun menolehkan wajahnya menatap wanita yang sudah berdiri di depannya dengan senyuman menghias dibibirnya.
“Kak Mark… kau datang juga,” sapa Natasya lembut.
“Iya, permisi,” sahut Mark dingin. Sudah biasa melihat sikap dingin Mark sehingga sedikit pun tidak menyurutkan niatnya untuk menyapa Mark.
__ADS_1
“Kak Mark mau kemana?, temani aku berdansa ya,” ajak Natasya sambil bergelayut dilengan Mark.
“Lepaskan tanganmu, aku tidak bisa berdansa, silahkan kau cari pria lain yang bisa menemanimu,” ucap Mark dengan tatapan tak senang melihat Natasya yang bergelayut padanya.
Natasya adalah adik bungsu Daniel dan Danish, ia satu-satunya anak wanita dalam keluarga itu sehingga wajar jika sikapnya sedikit manja. Natasya adalah wanita yang paling dihindari oleh Mark karena sudah sejak lama ia selalu senang mengganggunya, bahkan ia terang-terangan mengatakan kalau ia menyukainya, dan tentu saja sikap itu tak mendapat respon dari Mark yang menganggap Natasay masih kecil dan Natasya juga bukan tipenya.
“Aku tidak mau,”rengek Natasya manja yang membuat Mark kesal dan berusaha melepaskan tangan Natasya
dilengannya.
“Kenapa Kak Mark selalu jahat padaku,aku kan sangat menyukai Kak Mark ”rengek Natasya melihat tatapan marah Mark padanya.
“Kau masih kecil, tau apa tentang cinta, sebaiknya setelah ini kau segera pulang cuci kaki dan pergi tidur,” dengus Mark kesal mendengar pernyataan cinta Natasya padanya untuk yang kesekian kalinya.
“Aku bukan anak kecil lagi, usiaku sudah 22 tahun dan aku juga baru saja menyelesaikan kuliahku, aku sudah siap untuk menjadi istrimu.” tegas Natasya tak mau kalah. selama ini ia tinggal di Inggris karena ia kuliah di sana, tentu tidak leluasa untuk bertemu dengan Mark, tapi sekarang ia akan menetap di tanah kelahirannya. ia pun sudah bertekat untuk membuat Mark menyukai dirinya.
"Tapi dimataku kau tetap anak kecil,” sahut Mark sambil menyentil kening Natasya, bukannya marah ia malah menyengir senang saat Mark melakukannya.
“Dimimpimu,” sahut Mark lalu menarik paksa tangannya dari cengkaramn Natasya tidak peduli dengan wanita itu kesakitan dengan sikap kasarnya.
Natasya hanya menatap kepergian Mark dengan mata berkaca-kaca,” kita lihat saja nanti, aku pasti akan membuatmu jatuh cinta padaku, aku akan melakukan apa pun untuk mendapatkanmu.”
****
Ara berdiri di balkon yang tak jauh dari ballroom, tempatnya sepi cocok sekali untuknya yang ingin menghindari keramaian pesta yang membuatnya pusing. Suara Neal yang memanggilnya membuatnya menolehkan wajahnya ke belakang.
‘Kenapa kau berdiri diluar, udara disini sangat dingin,” tegur Neal begitu berdiri didepan istrinya, ia pun melepaskan jasnya dan memasangkan ke tubuh istrinya.
“Ayo kita pulang,” ajak Neal sambil menarik tangan istrinya menjauh dari balkon.
“Apakah acaranya sudah selesai?”
__ADS_1
“Sudah, ayo kita pamit pada mereka,” sahut Neal. Ara pun mengiyakan dan mengikuti langkah suaminya. Mereka bertiga pun pamit kepada Denis dan Julia, ia juga pamit kepada paman dan bibinya.
Mereka sudah dalam mobil menuju mansion, sepanjang perjalan tak ada suara yang terdengar diantara mereka, begitu pun saat mereka turun dari mobil, Neal dan Ara melangkah masuk sedangkan Mark langsung kembali ke apartemennya. Neal mengikuti langkah Ara yang berjalan didepannya.
“Ara…kau masuklah dulu ke kamar,” ucap Neal begitu mereka sampai di depan pintu kamar, Ara yang belum sempat menjawab menatap kepergian Neal menjauh darinya. Ia terus menatap laki-laki itu masuk kedalam mini bar yang ada di lorong paling ujung lantai dua. Ara pun melankah masuk ke kamar ia segera menganti pakaiannya dan mengapus make upnya, setelahnya ia pun beranjak untuk menggosok giginya, setelah ia melakukan kegiatan rutinya setiap malam, ia pun beranjak naik ke temapt tidur, membaringkan tubuhnya yang terasa begitu lelah.
Ara menatap kososng langit-langit kamarnya, perkataan Daniel kembali terngiang di telingannya, ia masih mencoba mencerna untuk apa Daniel ingin membantunya, ia memang tidak menyukai sikap Daniel tapi Daniel bukanlah pria yang jahat. Ia tidak menyesal telah menolak mentah-mentah keinginan Daniel yang ingin menolongnya begitu semua ini berakhir, begitu Neal mencampakannya ketika Anara sudah kembali bangun. Tiba-tiba rasa sesak itu kembali, tapi dengan cepat Ara menepisnya bukankah ia sudah menyiapkan dirinya untuk hal terburuk yang akan mungkin saja bisa terjadi kedepannya, tapi yang diinginkannya hanya menikmati waktu bersama Neal, lelaki yang sangat dicintainya, walaupun tak mendapat balasan darinya, ia tidak mempersoalkan tak selamanya setiap kisah cinta berakhir manis seperti cerita dongeng, mungkin itu akan terjadi pada dirinya yang akhirnya akan melepaskan Neal pada wanita yang dicintainya.
****
Neal Kembali meneguk minuman yang ada dalam gelasnya, walaupun ia sudah menghabiskan satu botol bir tapi belum mampu membuatnya mabuk, menghilangkan ingatan saat Ara berdansa dengan Daniel, ingin rasanya ia memukul wajah Daniel kalau tak ingta tindakannya itu bisa mengacaukan acara pertunangan Denish, pria yang akhir-akhir ini selalu membuatnya kesal karena tindakan terang-terangannya yang ingin mengambil Ara darinya.
Neal mengusap wajahnya kasar, ia kembali mengambil satu botol bir dan menuangkan kembali ke gelasnya sampai cairan itu tumpah kemana -mana karena gelasnya sudah terisis penuh. Dulu hubungannya dengan Daniel sangat dekat sama seperti hubungannya dengan Danish,tapi Daniel menentang keras rencana keluarga Neal dan Anara yang berniat mengorbankan seorang gadis demi menyelamatkan nama baik keluarga besar mereka, walaupun Daniel tahu Arabela mau melakukannya tanpa paksaan tapi ia tau gadis itu mau melakuaknnya karena ia membutuhkan uang untuk mengobati ibunya. Sejak itu hubungan mereka mulai merenggang. Tapi sebenranya Neal juga tidak setujuh dengan keputusan kedua orang tuanya, tapi tak ada cara lain lagi, sehingga ia juga terpaksa menyetujuinya.
Melihat Ara dalam pelukan Daniel berbisik di telingannya membuat ia seperti kebakaran jenggot, ia tidak tau kenapa perasaannya demikian, bukankah ia mencintai Anara dengan sepenuh hatinya, tapi mengapa ia malah merasakan sakit saat melihat Ara bersama lelaki lain. Apakah sekarang perasaannya mulai berubah, apakah sekarang hatinya mulai berpindah.
Prang!
Neal melemparkan botol bir yang ada di depannya ke dinding sehingga membuatnya hancur berkeping-keping, Ara yang baru saja membuka pintu ruangan itu terpekik kaget, membuat Neal menolehkan wajahnya menatap gadis yang saat ini mengusai pikirannya itu, sedang berdiri didepan pintu, dengan cepat ia kembali menolehkan wajahnya.
“Pergilah Ara!
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung