Arabella Secret

Arabella Secret
Menyerah


__ADS_3

Selesai sarapan Ara mengantarkan suaminya yang akan berangkat ke kantor begitu mereka sampai di depan pintu utama, Ara terkejut melihat kehadiran Karin disana ia pun segera memanggil wanita itu dan seketika menoleh padanya. Ia berjalan dengan langkah lebar mendekat pada Ara dengan senyum lebar menghias bibirnya.


“selamat pagi Nona,” sapa Karin sopan. Ara bukannya membalas sapaannya ia menarik Karin dan memelukanya  karena ia begitu merindukannya.


“Karin, aku sangat rindu sekali,” ucap Ara melepaskan pelukannya. Kedua tangannya memegang erat tangannya  senyum lebar masih menghias wajah cantiknya., ia melirik Neal disamping Ara merasa sungkan karena Ara selalu memperlakuknnya seperti seorang teman bukan seperti majikannya


“Aku juga sangat merindukan Nona,” balas Karin tak kalah manis karena ia juga sangat merindukan Ara.


“Tumben kuu datang, ada perlu apa,” Tanya Ara sangat antusia dengan kedatangan Karin ke mansionnya.


“Sayang,” panggil Neal lembut, kehadirannya seakan dilupakan oleh istrinya. Ara pun tersadar dan menyahut panggilan suaminya.


“Kenapa sayang.”


“Aku sudah memberikan ijin padamu untuk ikut pemotretan dengan Natasya, tapi selama kau pergi Karin akan menemanimu.”


“Apa! Benarkah, aku senang sekali. Terima kasih sayang,” sorak Ara begitu girang ia mencium suaminya karena begitu senang Karin akan bersamanya lagi.


“Karin jaga istriku baik-baik,” perintah Neal menatap tajam pada Karin sehingga membuat wanita itu kikuk.


“Iya Tuan. Saya pasti akan menjaga Nona dengan baik.”


“Baiklah sayang kalau begitu aku berangkat dulu.” Neal mencium kening istrinya lalu mengecup  bibirnya sekilas, setelah itu ia pun masuk kedalam mobil yang sudah menunggunya. Ara melambaikan tanganya sampai mobil itu menghilang di gerbang halaman mansion yang luas itu.


Karin tersenyum bahagia melihat kemesraan antara Neal dan Ara, dari semula ia sudah menduga ada ikatan


cinta yang kuat dari keduanya walaupun Neal mencoba untuk selalu menyangkalnya.


“Ayo kita masuk Karin,apakah kau sudah sarapan.”


“Sudah Nona.”


“Baiklah kalau begitu duduklah aku bersiap dulu.” Karin pun menganggukan kepalanya ia pun mendudukan


tubuhnya disalah satu sofa mahal di ruaang tamu yang begitu luas. Karin menatap punggung Ara yang pergi meninggalkannya.


****


Sekitar pukul setengah sepuluh mereka sampai di tempat Natasya, keduanya segera masuk dan melihat Natasya yang terlihat sibuk mengurus segala keperluan yang akan dibutuhkan selama pemotretan. Melihat kedatangan Ara dan Karin ia pun menghentikan aktifitasnya. Ara pun memperkenalkan Karin kepada Natasya.


Ara sudah selesai berganti pakain dan juga sudah didandani, ia terlihat sangat cantik dengan gaun model kembang diatas lutut dengan model kemben memperlihatkan bahu dan lengannya yang indah.


“Anda cantik sekali Nona, aku harus mengambil foto anda Nona dan kirimkan pada Tuan.”


“Boleh juga,” sahut Ara menganggukan kepalanya menyetujui ide Karin.


Ara memilin jari tangannya untuk mengurangi kegugupannya, ini adalah pengalaman pertamanya ia takut tidak bisa melakukan tugasnya dengan baik nantinya, Ara merasa mual apakah itu karena ia gugup atau karena factor kehamilannya tapi biasanya jam-jam seperti ini dia jarang merasakan mual.


“Anda baik-baik saja Nona,” Tanya Karin kwatir melihat Ara yang sedikit gelisah.


“Aku hanya mual. Tolong ambilkan permen dalam saku tasku.” Karin pun bergegas menjangkau tas Ara dan mengambilkan permen didalamnya lalu  memberikanya kepada Ara.

__ADS_1


“Itu mungkin karena anda gugup Nona, tarik napas pelan-pelan dan cobalah untuk rileks aku yakin anda pasti bisa melakuaknnya Nona.”


“Terima kasih Ka…


Belum sempat Ara menyelsaikan kalimatnya, ia bergegas menuju toilet dan dengan sigap Karin mengikutinya. Ara memuntahkan isi perutnya yang bergejolak untuk dikeluarkan, Karin membantu mengusap-usap punggung Ara dengan lembut.”


“Anda yakin akan melakukannya Nona,” Tanya Karin mulai kwatir melihat Ara. Ara mencuci mulutnya lalu melap bibirnya dengan tisu yang diulurkan Karin.


“Aku baik-baik saja Karin, jangan beri tahu suamiku.”


“Tapi…


“Aku mual karena gugup saja, bukan karena kehamilanku Karin,” potong Ara cepat. Karin pun tidak membatah lagi ia membantu Ara keluar dari sana.


Pemotretan pun dimulai, diawal-awal Ara memang terlihat sedikit gugup dan kaku saat di arahkan oleh fotografer,


tapi itu hanya beralngsung sebentar saja setelah itu Ara mampu melakukannya dengan sangat baik, geraknya yang luwes sudah seperti foto model professional, sepertinya Ara memang memilki bakat dibidang ini. Diam –diam Karin pun ikut memotret Ara yang terlihat begitu cantik dan memukau.


Setelah memakan waktu sekita dua jam akhirnya pemotretan pun selesai dan berjalan dengan sukses. Ara


terlihat begitu senang karena berhasil melakukannya bahkan sang fotografer memujinya karena ia begitu cepat menyesuaikan diri.Ia segera meraih ponselnya yang ada pada Karin dan memilih beberapa foto dan mengirimkannya pada suaminya.


Setelah ikut membantu Natasya berberas-beres, Ara mendudukan tubuhnya disofa, ia berdecak kesal karena


suaminya tidak kunjung membaca pesan yang ia kirim,,” kamu lagi apa sayang, aku sudah lapar  kita kan sudah berjanji untuk makan siang bersama,” guman Ara sambil meletakan kembali ponselnya diatas meja. Ia membaringkan tubuhnya disofa yang terasa letih.


“Anda capek Nona, mau saya pijit kakinya,” ucap Karin menawarkan diri.


Neal baru saja meyelesaikan meetingnya, ia segera meraih ponselnya dari saku jasnya, ia melihat ada beberapa pesan yang dikirimkan oleh istrinya, ia pun dengan cepat membacanya. Neal menautkan kedua alisnya melihat beberapa foto yang dikirimkan oleh istrinya, senyum tipis menghias bibirnya saat melihat istrinya begitu


cantik dalam balutan busana yang dipakaianya, busana yang dipakai istrinya masih dalam batas normal tidak terlalu terbuka jadi ia tidak mempermasalahknnya, tapi matanya membulat saat melihat foto terakhir melihat istrinya memaki sepatu hak tinggi.


****


Neal menjemput Ara ke butik Natasya, ia membuka pintu  dan masuk beberapa karyawan Natasya menyapa  dengan sopan. Neal terus melangkah masuk tanpa menyahut ia  menemukan istrinya disana tengah berbincang dengan Natasya dan Karin.


“Sayang,” panggil Neal melangkat mendekat sehingga menghentikan obrolan ketiganya dengan serentak


mereka pun menolehkan wajahnya. Neal menunduk mengecup puncak kepala istrinya lalu melirik tajam pada Natasya membuat gadis itu mengernyit heran.


“Nat, aku tidak suka kau menyuruh Ara memakai sepatu hak tinggi,” protes Neal. Ara terkejut mendengar tudingan suaminya pada Natasya, karena ia tidak dipaksa Natasya untuk melakukannya karena itu kemauannya sendiri sebab ia hanya memakainya saat mengambil gambar saja dan itu pun hanya sebentar saja.


“Sayang,” panggil Ara bangkit dari duduknya dan meletakannya tangannya di dada suaminya sehingga


membuat Neal mengalihkan pandangannya. “Aku tidak dipaksa Nat, dan aku hanya memakainya sebentar saja sayang, kau jangan memarahi Natsaya.”


“Tapi memakai sepatu hak tinggi tidak baik untukmu dan kandungamu sayang.”


“Iya aku tau, tidak mungkin aku bertindak bodoh untuk mencelakakan bayi kita sendiri sayang, aku


bersumpah aku mungkin tidak sampai sepuluh menit memakainya sayang.” Ara membujuk suaminya. Natasya pun mencoba meyakiankan Neal dan akhirnya Neal pun melunak tapi mereka bedua berjanji tidak mengulanginya lagi walaupun hanya sebentar saja.Ara pun menurut pada suaminya.

__ADS_1


****


Natasya berjalan menghampiri Mark yang duduk disofa ia terlihat sibuk dengan laptop di pangkuannya, ia pun mendudukan tubuhnya disofa disebelah Mark, ia hanya melirik Natasya sebentar dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


“Kak, bisakah kita bicara sebentar.”


“Ada apa,” jawabnya tanpa mengalihkan tatapannya dari layar laptopnya.


“Tidak bisakah kita bicara tanpa diganggu oleh laptopmu itu.” Mark menatap Natasya tajam seakan tidak


senang dengan ucapan Natasya barusan.


“Aku banyak pekerjaan, katakan ada apa.”


Natasya menarik napas panjang, ia malas untuk berdebat lagi,” waktu yang aku punya untuk tinggal di


sini  tinggal sembilan hari lagi. Aku mengaku kalah, aku akan kembali ke apartemenku, terima kasih karena sudah memberiku tumpangan.”


Mark menghentikan kegiatannya ia menatap Natasya yang juga sedang menatapnya,” kau tidak ingin menghabiskan waktu tersisa yang masih kau muliki,” tanyannya. Natasya pun menggelengkan kepalanya.


“Tidak. Waktu yang lama saja aku tidak bisa melakukannya apalagi hanya dengan Sembilan hari saja, itu


terdengar mustahil.”


“Aku minta maaf jika selama ini aku tidak membuat kakak tidak nyaman dengan kehadiranku disini,


mulai besok aku tidak akan mengusik hidup kakak lagi, aku akan menepati janjiku.”


Sebenarnya hati Natasya sangat sakit saat mengucapkan setiap kalimat itu dengan susah payah ia menahan


agar air matanya agar tidak terjatuh, ia mengakui kekalahannya dan ia tidak akan memaksa Mark lagi.


“Semoga suatu saat kakak menemukan wanita yang tepat untuk mengisi dan menemani hidup kakak, aku


belum membawa semua barang-barangku besok aku akan meminta salah seorang karyawanku untuk mengambilnya."


Natasya bangkit dari duduknya ia menatap Mark yang hanya diam mematung di tempat duduknya, ia


melangkah mendekati Mark dan mengecup pipinya,” aku pamit. Selamat tinggal Kak.”


Nataysa pun segera pergi melangkah dengan cepat kelaur dari sana, ia tidak dapat menahan tangisnya begitu sampai di  pintu apartement Mark, ia terus menangis sepanjang lorong mencoba menyeret langkahnya yang mulai lemas. Seakan sebilah samurai tengah menghunus dadanya.


 .


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


Selamat membaca 🙏🙏


__ADS_2