
Mereka turun di halte di depan apartemen Ara, udara dingin terasa menusuk tulang, salju yang turun dengan awet semenjak siang, ditambah tiupan angin yang bertiup cukup kencang membuat keduanya menggigil kedinginan, Neal merangkul pinggang istrinya saat menyebrang jalan, jalanan yang licin membuat mereka harus berhati-hati. Jalanan sangat sepi karena suhu yang dingin membuat orang enggan untuk keluar rumah.
“Neal, apakah kau akan kembali ke hotel,” tanya Ara begitu mereka sampai di loby apartemennya melirik Neal disampingnya.
Neal menatap balik Ara yang masih belum melapaskan tatapanya pada dirinya, ia merengku tubuh Ara agar berhadapan dengannya, meraih tangan Ara dalam genggamannya dan menempelkan ke wajahnya, keduanya saling bertatapan mesra.
“Apa kau akan mengharapkan aku kembali kesana?” Neal balik bertanya.
“A-aku…
Melihat istrinya yang gugup Neal terkekeh,” bolehkah aku menumpang tidur disini, sepertinya akan datang badai, kasihan Mark harus menjemputku, “jelas Neal sambil melepaskan tangannya di pipi Ara.
“Dan aku juga sudah rindu tidur dengan istriku,”bisik Neal pelan mengerling nakal pada istrinya, Ara mencubit pinggang Neal dengan wajah memerah.
“Kau sekarang genit,” ucapnya malu-malu.
“Tidak apa-apa genit pada istri sendiri, ayo kita masuk,”ajak Neal menarik tangan istrinya.
****
Neal masih diam terpaku didepan pintu, menyapukan pandangannya disetiap sudut apartemen istrinya, ukurannya tidak terlalu luas, ada satu kamar tidur, ruang tamunya kecil yang terhubung langsung dengan dapur dan ruang makan, semua ruangan dicat dengan nuansa putih, perabotnya juga tidak banyak hanya ada buffet, rak letak buku dan televisi yang tergantung di dinding ruang tamu.
“Kenapa diam, ayo masuk.” Ara menarik tanagn Neal masuk ke dalam rumah, Neal hanya menurut mengikuti langkah istrinya, Ara pun segera mengunci pintu apartemennya.
"Kau bisa kembali ke hotel kalau tidak nyaman disini apartemen ini sangat kecil bahkan tidak sampai ukuran kamarmu di Mansion."
"Kamar kita sayang," protes Neal menatap istrinya tajam tidak setuju dengan pernyataan istrinya barusan.
"Iya kamar kita," ulang Ara.
Neal merengku tubuh Ara melingkarkan tangannya di pinggang istrinya,"aku tidak suka kau berbicara seperti itu, mulai sekarang dimana kau berada aku akan berada disana dan juga sebaliknya, aku tidak mempermasalahkan tempat ini sempit atau luas yang penting kau ada disampingku."
Ara membalas pelukan suaminya," dimana pun aku tinggal asalkan itu bersamamu aku sangat bahagia, hanya dirimu yang aku inginkan didunia ini," sahut Ara pelan. Neal tersenyum bahagia saat mendengarnya ia mengecup kening istrinya lembut.
“Duduklah, aku akan membuatkan kopi untukmu.” ucap Ara melepaskan pelukannya, Neal pun mengiyakan, ia memandangi Ara yang melangkah kedapur sambil melepaskan mantelnya menggantungnya disamping rak buku, ia memandangi Ara yang sedang memanaskan air, perlahan ia mendekat menyusul Ara di dapur.
“Ara… aku ingin ke kamar mandi,” Ara seketika menolehkan wajahnya pada suaminya,” kamar mandinya berada di kamarku Neal, ambil kunci kamarnya di dalam tasku di dekat rak,” sahut Ara.
“Baiklah.”
Neal pun beranjak mengambil kunci dalam tas Ara, lalu beranjak ke pintu kamar Ara, menyorong kuncinya dan memutarnya perlahan, ia menarik hendel dan mendorongnya daun pintunya, pertama yang ia lihat adalah tempat tidur istrinya yang dialas sangat rapi disampingnya ada sebuah nakas, ada satu lemari disudut kamar dan meja kecil yang diatasnya tersusun dengan rapi kosmetik istrinya yang tidak terlalu banyak, kamar ini juga dicat dengan warna serba putih begitu dengan perabot didalamnya.
Setelah melihat pintu kamar mandi ia pun segera masuk kesana, mencuci wajahnya di wastafel lalu segera keluar lagi dengan wajah yang masih basah. Neal mengalihkan pandangannya pada tempat tidur istrinya ia pun melangkahkan kakinya mendekat kemudian mendudukan tubuhnya disisi tempat tidur, sekali lagi mengedarkan pandangannya kesekelilingnya, perlahan merebahkan tubuhnya menatap kosong langit-langit kamar," berapa banyak kau tumpahkan air matamu dikamar ini sayang, aku bersumpah tidak akan pernah membuatmu menangis lagi," bathin Neal sambil memejamkan kedua matanya.
Ara melihat Neal yang belum kunjung keluar dari kamar segera menyusulnya sambil membawa satu cangkir kopi, karena ia sudah menghabiskan kopinya saat menunggu Neal. Seulas senyuman menghias bibir Ara saat mendapati suaminya yang sedang berbaring ditempat tidurnya dengan kedua kaki masih menjuntai di lantai.
__ADS_1
Ia pun meletakan kopi diatas nakas, kemudian mendudukan tubuhnya disamping suaminya, ia menatap lekat wajah suaminya, perlahan tangannya menyentuh wajah suaminya yang sekarang ditumbuhi jambang.
Neal melihatmu ada didepanku ini rasanya seperti mimpi saja bagiku.
“Sudah puas memandangi wajahku," seru Neal tiba-tiba yang mengejukan Ara, belum hilang rasa keterkejutannya Neal menarik tangannya hingga ia terjatuh menimpa tubuh suaminya, wajah mereka begitu dekat berjarak beberapa inchi saja kedua matanya saling mengunci, Neal melingkarkan satu tangannya di punggung istrinya, satu tangannya mengusap lembut pipi tirus istrinya.
“Kau terlihat lebih kurus,” ucap Neal lembut tapi terdengar nada kesedihan dari suaranya.
“Benarkah, kau juga terlihat sedikit kurus,” jawab Ara sambil mengusap-usap wajah Neal.” Sejak kapan kau memelihara jambang?”
“Aku tidak memeliharanya, tapi lagi malas bercukur saja.”Neal menyelipkan rambut istrinya yang terjuntai menutupi wajah istrinya ke telingannya.
“Maafkan aku.”
“Maaf untuk apa,” tanya Ara mengernyitkan keningnya menghentikan belaian tangannya diwajah Neal.
“Untuk semuanya.”
Ara menjatuhkan tubuhnya dari atas tubuh Neal dan berbaring disampingnya, lalu menghadapkan tubuhnya pada Neal begitu pun Neal juga memiringkan tubuhnya sehingga wajah mereka saling berhadapan.
“Maafkan aku yang begitu bodoh yang selalu mendustai hatiku akan perasaanku sendiri, kau tak akan pernah menderita seperti ini, dan mungkin saja,” Neal menghentikan ucapanya tatapannya beralih pada perut datar istrinya perlahan ia menarik tangannya dan meletaknya disana mengusap lembut perut istrinya,” Mungkin bayi kita masih ada disini," bisik Neal dengan suara bergetar menahan kesedihannya.
Wajah Ara sudah basah dengan air matanya ia menangkup kedua pipi suaminya menatap mata yang terlihat begitu terluka,” sayang…jangan pernah menyesali setiap yang telah terjadi itu hanya akan menambah luka dihati, disetiap kejadian yang kita lalui ada pelajaran yang dapat kita ambil, mungkin beginilah cara takdir menemukan kita, ditempa dengan ujian untuk menguji kekuatan cinta kita berdua.”
“Kau tidak pernah menyesal bertemu denganku?”
“Aku sangat bahagia saat tau aku hamil, setidaknya aku punya kenangan darimu yang bisa aku sentuh dan pandangi setiap saat, tapi… tapi saat Tuhan mengambilnya kembali aku merasakan hidupku hancur, bahkan aku ingin mati saja karena begitu putus asa.” Neal menghapus air mata Ara yang semakin deras turun.
“Maafkan aku sayang, karena saat itu aku tidak berada disampingmu, aku juga sangat sedih harus kehilangan bayi kita.”
“Aku tau ada yang lebih penting yang harus kau temui saat itu.”
“Tidak ada yang lebih penting darimu tapi aku saat itu tidak bisa menolak keinginan papa Anara untuk menemaninya sampai kondisinya stabil dan memberitahukan kebenarannya kalau aku tidak bisa bersama dengannya lagi karena aku sudah mencintai wanita lain yaitu dirimu.”
“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Ara penasaran. Melihat Neal yang diam Ara kembali bertanya.
“Apakah ia bersedia melepaskanmu, aku takut dia akan membenciku.”
“Ia tidak membencimu, bahkan ia sangat ingin bertemu denganmu, aku berjanji nanti akan mengajakmu untuk mengunjunginya,” ucap Neal sambil mengusap pipi Ara lembut.
“Benarkah, aku bisa bertemu dengannya,” tanya Ara dengan mata berbinar, Neal pun menganggukan kepalanya pelan.
Maafkan aku sayang harus menyembunyikan ini darimu, aku tidak ingin kau menyalahkan dirimu atas kematian Anara, aku takut jika memberi tahumu sekarang kau akan lari lagi dariku.
“Sayang... semua kita mulai dari awal lagi, berjanjilah padaku apapun yang akan terjadi kedepannya jangan pernah lagi lari dariku, semua kita bicarakan baik-baik, pasti akan ada sebuah alasan untuk sesuatu hal, terkadang kita membutuhkan waktu yang tepat untuk menjelaskan agar tidak terjadi kesalah pahaman, jangan pernah menyalahkan dirimu tentang sesuatu hal yang belum kau tau kebenaranya.”
__ADS_1
Ara mencoba memahami maksud kata – kata Neal, ucapannya terdengar begitu dalam ia tetap menganggukan kepalanya walaupun dalam hatinya ia masih ingin bertanya apa maksud ucapanya.
“Baiklah ini sudah malam sebaiknya kita tidur,”Ajak Neal sambil memeluk tubuh Ara dengan erat.
“Tapi kau belum meminum kopi yang aku buatkan.” Ara mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Neal.
“Kopinya diganti dengan dirimu saja,” bisik Neal menatap Ara dengan menarik kedua sudut bibirnya , mengukir senyuman yang menggoda.
“A-apa maksudmu,” ucap Ara gugup wajahnya terasa panas mendengar ucapan Neal yang terdengar ambigu di telinganya.
“Apa aku perlu menjelaskan apa yang sedangkan aku inginkan,” ucap Neal sambil menindih tubuh istrinya, Ara yang kelabakan tidak dapat menghindar ia tidak berdaya dalam kungkungan tubuh kekar suaminya.
Tubuh Ara panas dingin saat merasakan tangan Neal mulai menyenth titik-titik sensitif di tubuhnya, walaupun ia pernah melakuknnya dengan Neal sebelumnya tapi itu sudah lama sekali, itu pun hanya sekali saja.
Bibirnya juga tidak mau kalah, mulai ******* bibir Ara dengan lembut, menyalurkan semua kerinduan yang begitu lama ia tahan, ia perlahan melepaskan ciumannya saat Ara mulai kehabisan napas, ia menatap wajah istrinya yang memerah dengan napas tersengal-sengal ia mengusap bibirnya yang semakin memerah karena ulahnya.
“Aku sudah lama menahannya, malam ini aku tidak bisa lagi menahannya, apakah kau bersedia melakukannya lagi denganku,” Tanya Neal dengan suara yang serak menahan gairahnya. Ara menatap wajah suaminya mengusap bibirnya lembut lalu menganggukan kepalanya karena ia tidak memungkiri kalau ia juga sangat merindukan sentuhan suaminya.
Neal kembali mencium bibir Ara, bibir yang begitu manis yang membuatnya selalu ketagihan untuk terus mengulangnya, bibir itu bergeser mulai menggelayuti leher istrinya meninggalkan beberapa tanda dikulit putih istrinya, tangannya yang sibuk dibalik kaos Ara mulai menariknya dan membuangnya asal, tak puas sampai disituia melucuti setiap kain yang ada ditubuh Ara sehingga membuatnya polos, begitu pun dengan dirinya Neal melepaskan semua pakaiannya sehingga mereka tak ditutupi apa pun.
Neal kembali mencumbui istrinya, menyalurkan semua hasratnya, menikmati permaian yang mereka ciptakan sendiri, udara diluar begitu dingin berbanding terbalik dengan suasan dalam kamar yang begitu panas, suara erengan dan desahan memenuhi setiap sudut kamar. Mereka terus berpacu sampai keduanya terkulai lemas tak bertenaga.
Neal menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka, ia tersenyum saat memandangi wajah istrinya yang sudah tertidur, ia menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya, Ara yang merasa terusik membuka sedikit matanya lalu kembali memejamkannya, ia melingkarkan tanganya didada Neal memeluknya dengan erat menjadikan lengan suaminya sebagai bantalan kepalanya. Neal memandangi wajah istrinya yang terlelap dengan seringai kepuasaan, ia menghujani wajah istrinya dengan ciuman, tapi Ara sedikitpun tidak terusik karenanya.
“Kau pasti sangat kelelahan,” ucap Neal sambil mengusap kepala istrinya, ia pun segera memejamkan matanya karena juga sudah sangat leleh.
.
.
.
.
.
Bersambung
Takut- takut gimana pas nulis part ini ☺☺
takut kebablasan
kwkwkw 🤣🤣🤣🤣
Kasihan para jomblo mania pas baca part ini😁😁😁
__ADS_1
Selamat membaca 💪
jangan lupa like dan komen. 👍👍👍