Arabella Secret

Arabella Secret
Begitu mengesalkan


__ADS_3

Keduanya berjalan beriringan menuju Halte, Neal menggenggam jari tangan Arabella dengan erat, sesekali ia mengecup tangannya. Sesekali keduanya saling pandang sambil mengukir senyum bahagia dibibir masing-masing, Ara menyandarkan kepalanya di lengan kekar suaminya,  tiada kata-kata yang dapat menggambarkan rasa bahagia di hati keduanya. Bagi Neal dapat membawa Ara kembali kesisinya sungguh karunia Tuhan yang paling terindah dalam hidupnya. Hidupnya yang gelap sekarang sudah penuh dengan kerlipan bintang-bintang, cahaya indah bulan menambah terang jiwanya yang kelam saat harus terpisah jauh dari istrinya.


Udara semakin dingin karena senja mulai beranjak akan berganti dengan malam, Neal menatap Ara yang berdiri disampingnya mereka sedang menunggu bus,” sayang apa kau tidak lapar, ” bisik Neal di telinga istrinya.


“Kau lapar?” Ara balik bertanya.Neal menganggukan kepalanya pelan.”Aku belum makan apa pun semenjak tadi siang,” sahut Neal menatap wajah istrinya yang kaget mendengar pengakuannya.


“Kau belum makan apa pun karena seharian menunggu aku di depan mini market?” tanya Ara sedikit kesal. Neal menganggukkan kepalanya lagi dengan wajah memelas.


“Neal kau tidak perlu seperti itu, bagaimana kalau kau sakit,” sungut Ara dengan suara dan wajah penuh kekwatiran.


Neal mengusap pipi Ara lembut menatap netra coklatnya, ia sangat bahagia melihat istrinya begitu mengawatirkannya," aku hanya takut bila aku pergi kau sudah tidak disana lagi saat aku kembali.”


Mata Ara berkaca-kaca, betapa mereka berdua sangat menderita karena perpisahan ini, Neal begitu ketakutan kehilangannya, hatinya diliputi kehangatan rasa cinta diantara mereka sama besarnya, ia memeluk Neal erat,” maafkan aku, tapi kau tidak boleh sampai tidak makan seperti itu, aku tidak ingin kau sakit.”


“Tidak masalah kalau aku sakit asal kau yamg merawatnya,” Neal tersenyum lebar. Ara mencubit pinggang suaminya dengan kesal ia sedang serius dan sangat mengawatirkannya tapi bisanya ia bercanda seperti itu.


“Aduh…! Mengapa kau mencubitku,” teriak Neal kesakitan sambil mengusap-usap bekas cubitan istrinya.


“Bisa-bisa kau bercanda disaat aku mengawatirkanmu, saat sakit ataupun tidak aku akan selalu merawatmu dengan baik, tapi aku tidak ingin kau sakit gara-gara aku," rajuk Ara sambil mengerucutkan bibirnya.


“Istriku manis sekali,” tukas Neal sambil mencubit hidung mancung istrinya pelan. Lalu keduanya tertawa. Bus yang mereka tunggu akhirnya datang, mereka segera masuk penumpang bus tidak terlalu ramai banyak sekali bangku kosong disana, Ara pun menarik tangan Neal mengajaknya duduk disalah satu bangku yang kosong, Neal terlihat sedikit canggung saat duduk disamping istrinya ia terlihat begitu kaku karena seumur hidupnya ini pertama


kali ia naik bus. Ara melirik suaminya dengan senyuman menghias bibirnya.


"Ini pertama kalinya kau naik bus?' tanya Ara, Neal pun menganggukan kepalanya balik menatap istrinya.


"Jangan kwatir aku akan menjagamu," bisik Ara mengerlingkan matanya, membuat Neal menautkan  kedua alisnya.


"Dimana-mana pria yang harus menjaga wanita bukan sebaliknya, itu terdengar memalukan, cuma naik bus  mana mungkin aku takut," sungut Neal kesal. Ara terkekeh mendengar ucapan suaminya.


"Tapi wajahmu terlihat begitu tegang."


"Wajahku tidak tegang, mungkin bagian tubuhku yang lain akan menegang," cengir Neal berbisik dengan suara sengaja menggoda istrinya. Wajah Ara langsung merah seperti kepiting rebus, tangannya kembali mencibit Neal yang membuatnya berteriak kesakitan, suaranya berhasil mengalihkan mata penumpang dalam bus kearah mereka berdua. Ara yang malu menjadi pusat perhatian menyembunyikan wajahnya di dada suaminya, Neal dengan senang hati menerimanya ia bahkan mengusapkan tangannya ke pipi istrinya yang dingin.


"Neal… kau kesini sendirian saja?” tanya Ara menegadahkan wajahnya satu pipinya masih menempel didada suaminya.


“Tidak... aku datang bersama Mark." Tiba-tiba ia teringat akan Mark yang ia tinggalakn begitu saja didepan mini market.


"Aduh, aku meninggalkan Mark di depan mini market, aku tidak sempat memberi tahunya kalau aku akan naik bus bersamamu.” sahut Neal meriah ponselnya dari saku mantelnya ia segera menghubungi Mark. Mark yang sedang dalam perjalanan kembali ke hotel mendengar ponselnya berdering ia pun segera meraihnya dalam saku mantelnya, ia berdecak kesal saat melihat nama yan terterah dilayar ponselnya.


Akhirnya kau mengingatku juga Tuan, kau melupakan aku begitu saja setelah memberikan tontonan menarik dipinggir jalan,untung saja aku orangnya pintar tidak menunggumu seperti orang bodoh disana sementara kau bersenag-senang dengan Nona, ahhh cinta bisa menguba siapa pun kecuali aku," desah Mark pelan lalu segera menjawab panggilan Neal.


"Hallo Mark kau tidak perlu menungguiku kembali saja ke hotel."


"Iya Tuan, ini aku sudah dalam perjalanan kembali ke hotel" jawab Mark singkat.

__ADS_1


"Baguslah," Neal pun segera menutup telponnya. Mark hanya menggelengkan kepalanya sambil meletakan ponselnya didepannya begitu saja.


“Jadi kita akan makan malam dimana?” tanya Neal sambil memasukan ponselnya kedalam saku mantelnya.


“Aku akan membawamu ke Restoran jepang langgananku, disana masakannya enak dan murah.”jelas  Ara sambil berbisik pada pada Neal.


“ Sayang...mana ada yang murah itu enak,” bantah Neal cepat.


“Kau ini suka sekali membantah, kau coba dulu baru nanti bisa memberikan penilaian.” Sungut Ara kesal.


“Tapi, kenapa kita tidak makan di restoran m…..


“Aku akan mentraktirmu, aku tidak punya banyak uang untuk mengajakmu makan direstoran mewah” potong Ara cepat saat Neal mencoba mengajaknya makan direstoran mahal.


“Tapi aku punya banyak uang untuk membayarnya,” tawar Neal lagi.


“Tidak…aku tidak mau,” tolak Ara tegas. Neal akhirnya mengalah tidak mau berdebat lagi dengan istrinya itu.


Mereka turun di halte terdekat dengan restoran itu, berjalan beriringan menembus salju sambil mengobrol sesekali terdengar tawa dari keduanya, tak lama berjalan mereka sampai di restoran yang dimaksud oleh Ara, pegawai disana langsung menyapa Ara ramah,karena ia sering kesan beberap pegawai disana sudah mengenalinya,


seorang pria yang gemulai menghampiri Ara kemudian menatap Neal yang berdiri disampingnya.


“Siapa lelaki tampan yang kau bawah ini,” bisiknya pada Ara tapi masih bisa didengar oleh Neal ia menatap Neal tidak berkedip. Ara melirik pada suaminya yang sudah memasang wajah datar saat berhadapan dengan orang lain.


“Dia suamiku,” ucap Ara juga berbisik


“Sayang ayo kita cari tempat duduk,” ajak Neal  wajahnya langsung lembut saat bicara dengan istrinya.


“Teddy kita permisi dulu, suamiku sudah sangat lapar, iyakan sayang,” tanya Ara sambil menggelayut dilengan kokoh suaminya.


“Seleramu sungguh sangat bagus,”puji Teddy sambil berbisik yang membuat Ara terkekeh. “ Selamat makan dan selamat bersenang-senang.”lanjutnya lagi, Ara yang masih tertawa menganggukkan kepalanya pelan, ia mengikuti langkah suaminya mencari meja yang kosong, seorang pelayan tampak  menghampiri mereka berdua membawanya ke meja yang masih belum terisi, setelah mendudukan tubuhnya  Neal dan Ara pun segera memesan beberapa menu untuk makan malam mereka.


“Sejak kapan kau berteman dengan pria gemulai seperti itu,”tanya  Neal pelan saat pelayan itu sudah pergi.


“Namanya Teddy ia pemilik restoran ini, dia sepertinya sangat tertarik padamu,” celah Ara tersenyum lebar.


“Apa yang kau bicarakan, iiihh… kau membuatku geli  sayang,” sahut Neal bergidik ngeri menaikan kedua bahunya, Ara tertawa lepas saat melihat ekspresi lucu suaminya.


“Apa yang kau tertawakan  tidak lucu,” ucap Neal mengusap kasar wajah istrinya.


“Aku hanya bercanda sayang, aku akan menendang bokongnya kalau ia berani mengganggu suamiku,”kekeh Ara.


“Istriku sekarang sudah berani,” goda Neal sambil mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya yang membuat Ara tersipu malu. Ia menarik tubuh Ara dalam satu sentakan tubuh itu menempel sempurna didadanya, memutuskan jarak diantara mereka, Neal menyusuri wajah istrinya yang mulus dengan punggung tangannya, mengusap bibir Ara dengan jarinya, Ara memejamkan matanya menikmati sentuhan tangan Neal yang membuat gelanyar aneh dalam tubuhnya seperti  tersengat aliran listrik mengalir disetiap pembulu darahnya,  perlahan ia membuka matanya saat tidak merasakan tangan hangat suaminya di  diwajahnya.


“Bersabarlah sayang,  terlalu banyak mata yang akan menyaksikan kita,” bisik Neal dengan suara serak, wajah Ara kembali merona untuk kesekian kalinya, wajah malu-malu yang sangat disukai oleh Neal.

__ADS_1


Pelayan datang mengantarkan pesanan mereka, menatanya dengan rapi di atas meja. Keduanya segera menyantap makanan didepannya yang membuat lapar mata, Neal menyantapnya dengan lahap karena perutnya sangat lapar, sesekali keduanya saling menyuapi makanan didepan mereka.


“Bagaimana makananya sayang, enakkan?” tanya Ara menghentikan kunyahannya. Menatap suaminya yang masih sibuk dengan sumpitnya.


“Lumayan,”sahut Neal singkat.


“Kau memakan makanannya seperti orang kelaparan masih belum mau juga mengakuinya,” sungut Ara sambil melanjutkan makannya.


“Aku memang lagi kelaparan sayang,” bantah Neal lagi.


“Dasar…kau menyebalkan.” Ara bersungut-sungut kesal.


“Tapi bikin kangenkan?” ucap Neal mengangkat kedua alisnya.


“Kau pintar bicara sekarang ya,” lagi-lagi Ara dibuat kesal dengan sikap suaminya yang sekarang begitu memengesalkannya.


“Sayang aku ini memang sudah pintar sejak lahir kalau tidak bagaimana bisa aku memimpin perusaahanku,” bantah Neal asal.


“Sayaaang…” seru Ara kesal yang membuat Neal terkekeh melihat wajah cemberut istrinya.


“Sayang, aku banyak bicara hanya denganmu saja,” Neal mengusap puncak kepala isrinya dan mentapnya dengan lembut.


Ara tersenyum senang saat mendengar ucapan suaminya ia meletakan sumpitnya dan memeluk suaminya dengan erat,” terima kasih sayang.”


Keduanya menghabisakan makanannya diselingi obrolan penuh kemesraan, saling bergantian menyuapi makannannya. Tak ada lagi kesedihan sekarang yang  tersisa kebahagian dihati mereka setelah melewati ujian cinta yang penuh luka dan air mata. Semua seakan terbayarkan saat keduanya mengungkapkan perasaan hati mereka masing-masing.


.


.


.


.


.


Bersambung


Aduh Babang Neal sekarang genit😁😁


efek lama tak bertemu 😆😆😆


Selamat membaca semoga Readers menyukainya 🤗🤗🤗


Dukung terus novel ini ya biar makin semangat up nya 😅😅😅

__ADS_1


Terima kasih atas votenya 🙏🙏


__ADS_2