Arabella Secret

Arabella Secret
Bertemu kembali


__ADS_3

Neal dan Arabella tengah menuruni tangga turun ke lantai dasar, Neal menggandeng lengan istrinya dan turun dengan sangat hati-hati, ia tak mau mengambil resiko jika


istrinya menuruni tangga seorang diri membahayakan bayinya yang sedang bersemayam di rahim istrinya.


Semalam Neal meminta salah satu penjaganya untuk membelikan alat test kehamilan, dan dengan tak sabar paginya keduanya melakukan test dan tentu saja hasilnya membuat pasangan suami istri ini melonjak senang melihat dua garis merah muncul di testpack, mereka tak henti berucap syukur di percayakan kembali untuk memiliki bayi lagi. Ara tak dapat menahan tangis harunya menangis dalam pelukan suaminya, Neal memberikan banyak ciuman di wajah istrinya. Dan sesuai dengan saran Daniel kemarin mereka pagi ini pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Ara ke dokter kandungan.


Ketika mereka sampai di ruang tamu langkah Ara terhenti dengan wajah penuh keterkejutannya saat melihat Ivander dan Helena sedang duduk di sofa , ia mundur satu langkah sambil menundukan kepalanya dan bersembunyi dibalik punggung suaminya. Neal dapat merasakan kecemaasan dalam diri istrinya mempererat pegangan tangannya dan memberikan usapan lembut pada lengan istrinya agar istrinya lebih tenang.


Mungkin ini reaksi yang wajartunjukan Ara karena merasa bersalah pada kedua orang yang sudah menganggap dirinya seperti putrinya sendiri, begitu sebaliknya ia sangat menyayangi Ivander dan Helena seperti kedua orang tuanya tapi situasi sekarang tidak lagi sama, karena mereka baru saja kehilangan putri kandungnya dan itu karena ulahnya.


Ia sungguh tidak punya keberanian untuk menatap wajah mereka tapi ia tidak akan marah dan menerima semua makian yang akan mereka lontarkan karena ia memang pantas untuk menerimanya, mungkin makian yang ia terima nantinya tidak sebanding dengan luka yang tertanam dihati mereka.


Neal merasakan tangan istrinya berkeringat sehingga membuat dirinya memutar tubuhnya agar menghadap padanya,” sayang kau baik-baik saja,” Tanya Neal sambil mengangkat dagu istrinya karena Ara menundukan kepalanya dalam.


Helena yang sudah tidak dapat menahan dirinya saat melihat Ara yang berdiri beberapa langkah saja darinya, ia berjalan mendekat mencoba mengurangi jarak diantara merka, sulit membaca raut wajah yang ia tunjukan sekarang, Neal menatap wanita yang pernah


menjadi calon mertuanya itu lalu mengangkukan kepalanya pelan, ia memgang kedua bahu istrinya dan mendorongnya pelan memberikan sedikit jarak dengan tubuh


istrinya yang sedang merangkul pinggangnya dengan erat.


“Sayang…mama Helena ingin menemuimu dan ingin berbicara denganmu,” ucap Neal lembut menatap istrinya yang masih tertunduk.  Desiran panas dihatinya terasa begitu perih ia perlahan mengangkat kepalanya menatap suaminya dengan sorot mata begitu senduh. Neal mengagukan kepalanya pelan dan menggengam erat tangan istrinya seakan ingin menyalurkan kekuatannya, dan akhirnya Ara memberanikan dirinya memutar sedikit kepalanya menoleh pada Helenayang berdir hanya satu meter darinya.


Deg…


Detak jantung Ara berdetak lebih cepat saat mata mereka saling bertatap untuk sesaat, ingin rasanya Ara berlari memeluk tubuh wanita yang ia rindukan cukup lama, kasih


sayang yang ia dapat dari Helena memang tidak akan pernah hilang dari ingatannya, walaupun ia memberikan balasannya dengan membuat luka dihati wanita itu.


Helena tak tahan melihat sorot mata yang penuh dengan kepiluan saat menatapnya ia berlari meraih tubuh Ara dalam pelukannya. Tubuh Ara menegang sungguh ia tidak menyangkah Helena datang memeluknya bukan untuk menamparnya, ia bahkan masih terbengong tak mencoba membalas peluakan itu karena begitu terkejut.


“Ara putriku, kau kemana saja, kau tau betapa kami sangat merindukanmu.” Helena mengeluarkan jeritan hatinya ia sudah beberapa bulan ini ia tahan, hatinya memang sangat terluka saat harus melepaskan Anara purinya satu-satunya harus kembali


kepangkuannya, tapi ia tidak bisa menyalahkan Neal dan Ara apalagi mereka yang memulai semuanya ini, tidak seorang pun dapat membaca hati manusia, Neal yang dulunya begitu membenci Ara dan menantang keputusan mereka tapi justru berbalik ia jatuh cinta begitu dalam pada istri penggantinya dan mereka tidak bisa memaksa hati Neal kembali pada putrinya.


Ara tercekat saat mendengar ucapan Helena yang jauh dari jangkauan pikirannya, ia mengirah Helena membencinya tapi ternyata wanita itu juga merindukan dirinya sama seperti dirinya.


“Mama…maafkan Ara.” Hanya itu kata yang keluar dari bibir Ara ketika ia merasakn tenggorokannya tercekat tertelan oleh isak yang mulai pecah, ia menangis terisak meraung seperti anak kecil dalam pelukan Helena sehingga membuatnya semakin memperta pelukannya dan kedua pun saling bertangisan sambil melepaskan rasa rindu yang membuncah dihati mereka.


“Sayang, mengapa kau pergi meninggalkan mama Nak, kau tau betapa tersiksanya mama saat mendengar kau pergi dan tak memberi kabar sedikitpun pada kami,” ucap Helena diselah tangisanya sambil membelai lembut rambut panjang Ara, ia menarik tubuh Ara


mengakup kedua pipinya dan memberikan banyak ciuuman diwajahnya menumpahkan


segala rindu yang sudah lama ia tahan.


Ia kembali memeluk Ara dengan erat seakan tidak rela untuk melepaskannya sedikit pun ia telah kehilangan satu putrinya dan tidak ingin kehilangan satu orang lagi, betapa ia susah payah menahan dirinya untuk datang berkunjung saat Neal memberi kabar kalau ia sudah menemukan Ara dan membawanya pulang,  dan ia harus kembali meratap saat melihat pernikahan Neal dan Ara lewat Video yang dikirimkan Neal padanya.


Beban berat yang menghimpit dada Ara sekan terlepas saat mendengar tak ada sedikit pun kemarahn dan kebencian dari Helena tapi sebaliknya ia merasakan betapa Helena begitu sangat menyayanginya dengan setulus hatinya.


Keduanya mengobrol dalam tangis dan tawa yang pecah dalam waktu bersamaan, Ivander yang sedari tadi hanya menyaksikan keduanya perlahanmendekat, focus mata Ara pun beralih manatap Ivander mata yang berkaca-kaca tidak dapat ia sembunyikan, Ara berlari memeluk Ivander saat melihat kedua

__ADS_1


tangan itu terbuka lebar memanggilnya untuk menyusup kedalam rangkulannya, Ara


kembali menagis dalam pelukan ivander dekapan hangat seorang ayah yang begitu


ia dambahkan akhirnya dapat ia rasakan lagi, walaupun ia selalu mendapatkan


dekapan kasih sayang itu dari daddy dan mommy  Neal tapi tetap ada rasa berbeda saat ia memeluk Ivander ada rasa hubungan batin yang mengikatnya.


“Papa…Ara merindukan papa,” lirih Ara diselah isaknya.


“Putriku, papa juga sangat merindukanmu, Nak.” Ivander mengecup puncak kepala Ara sambil memejamkanmatanya cukup lama ia melakukannya baru ia lepaskan.


“Kau putri kami, selamanya akan seperti itu, tidak ada yang bisa merubahnya, " Bisik Ivander semakin mempererat pelukannya. Sementara Neal dan Helena menatap keduanya dengan penuh keharuan, Helena merangkul dan mencium menantunya itu dengan penuh kasih sayang seperti seorang ibu pada putranya.


“Jaga istrimu baik-baik Nak.” Neal tersenyum pada Helena sambil menganggukan kepalanya.


"Tentu Ma… aku akan menjaga Ara dengan baik karena aku sangat mencintainya.”


“Terima kasih Neal sudah membawa putri kami kembali,” selah Ivander sambil melepaskan pelukannya pada Ara, terlihat sekali sorot kebahagian terpancar dari wajah kedua paru bayah itu.


Neal berjalan mendekat pada istrinya dan merangkulkan lengannya ke pinggang ramping istrinya dengan mesra lalu menatap Ivander dan Helena sambil senyum-senyum sehingga kedua saling pandang penuh keheranan saat melihat menantunya itu.


“Ada kabar bahagia untuk Papa dan Mama.” Neal menghentikan perkataannya menatap dua orang itu menatapnya dengan menautkan kedua alisnya sedangkan Ara mencubit pelan lengan Neal sambil tersenyum malu-malu.


“Sebenatar lagi papa dan Mama akan memiliki cucu, Ara hamil. "


Keduanya tidak dapat menyembunyikan keterkejutan dan kebahagian yang datang bersamaan mereka kembali memeluk Ara bergantian dan mengucapkan selamat, air mata Helena kembali jatuh, mendapat kabar yang paling membahagiakan ini.


“Sekarang kalian tunggu apa lagi, ayo pergi ke rumah sakit aku ingin memastikan cucu kami


sehat, ” papar Ivander begitu semangat sehingga membuat Neal dan Ara tersenyum


geli melihatnya.


****


Neal mengenggam erattangan istrinya dalam telapak tanga besarnya mengikuti langkah Daniel didepannya menuju ruangan dokter kandungan, saat mereka menyusuri lorong rumah sakit itu dokter Sera muncul dari sebuah lorong yang di simpang tiga yang


membuat ketiganya menghentikan langkahnya saat melihat Sera menatap ke arah mereka, ia melirik sejenak pada Daniel lalu berpindah pad Neal dan Ara.


“Hai Ara, aku sungguhtidak menyangkah ketika Daniel bercerita padaku,” sapa Sera keduanya pun saling berpelukan.


“Aku sangat senang melihat kau kembali, kehadiranmu sepertinya mengembalikan nyawa seorang pria.” Sera berkata sambil berbisik tapi masih dapat didengar oleh dua orang pria di depannya.


“Apakah dia terlihat seburuk itu,” tanya Ara sambil melepaskan pelukannya membalas godaan Sera yang sudah jelas ia tujukan pada siapa.


“Aku pasti akan sedikit kesulitan untuk mencari kata-kata yang tepat saat melihat kondisinya datang ke rumah sakit ini,” kekeh Sera sehingga membuat gelak Ara dan Daniel sedangkan Neal hanya menyumbangkan senyum tipis di wajahnya.


“Jika kau masih ingin mengobrol dengan Ara, kau harus menunggu sebentar Dokter karena Dokter Eva sudah menunggu mereka,” potong Daniel. Ucapan Daniel barusan mmebuat mata Sera membulat sempurna.

__ADS_1


“Kau… kau hamil Ara,” tanya Sera menatap Ara tak percaya, ia langsung bisa menebaknya karena dokter Eva dalah dokter kandungan terbaik di rumah sakit ini, entah mengapa ia begitu sangat bahagian mendengarnya karena ia tau Ara dan Neal pernah kehilangan bayi mereka.


Ara pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum malu-malu.


“Cepatlah pasti dokter Eva sudah menunggumu.”


“Aku akan menemuimu setelah selesai karena aku masih ingin mengobrol denganmu.”


“Tentu saja, aku menunggumu di ruangku.” Sera melambaikan tangannya pada Ara saat ia kembali melanjutkan langkahnya, begitu pun dengan mereka.


Mereka disambut sangat ramah oleh dokter Eva, Daniel pun mohon pamit setelah mengantarkan keduanya karena ia harus kembali bekerja, setelah berbincang –bincang sebentar ia memintah Ara untuk berbaring ditempat tidur,mengolesi perut datar Ara dengan gel bening lalu mulai mengarahkan alat itu ke perut Ara, Neal yang menemani istrinya menatap layar monitar disamping tempat tidur dan menggenggam erar tangan istrinya dan sesekali


mengecupnya, rasa bahagia dan haru berkecamuk dihati keduanya saat dokter


menunjukan titik hitam dilayar itu adalah calon bayi mereka yang baru berusia


lima minggu.


Dokter membersihkan sisa-sia gel di perut Ara baru setelah itu ia bangun dibantu oleh suaminya, dokter Eva pun mencetak hasil usg itu dan memberikannya pada Ara, mereka pun


kembali duduk didepan meja dokter Eva.


“Sekali lagi selamat ya Tuan dan Nyonya, awal kehamilan sangat rentan kalian benar-benar harus menjaganya dengan baik, perhatikan pola makan asupan gizi harus lebih banyak


dibandingkan Nyonya sebelum hamil, jika merasa mula dan muntah itu wajar diawal


kehamilan karena itu pengaruh hormon.”


“Tapi sekarang saya belum mengalami mual dan muntah Dok, tidak seperti dikehamilan pertama saya”


“Mungkin belum Nyonya karena ini masih lima minggu kita lihat apakah satu atau dua minggu ini jika Nyonya tidak mengalami hal itu juga tidak masalah karena sebagian wanita juga tidak mengalami mual dan muntah, bahkan terkadang ada suaminya yang mengalami mual dan muntah.”


“Benarkah ada hal seperti itu.” Ucap Ara terkekeh sambil melirik pada suaminya yang mengernyitkan keningnya heran, dan tentu saja Neal berharap ia bukan salah satu dari para suami itu.


“Apakah kita boleh melakukan hubungan suami istri selama kehamilan ini.” Pertanyaan Neal membuat Ara merona menahan malu bagaimana suaminya bisa lancarmenanyakan pertanyaan itu, ia mencubit kecil pinggang suaminya sambil melototkan matanya tapi Neal hanya mengangkat bahu sambil menyipitkan matanya karena ia merasa tidak ada yang salah dengan pertanyannya.


Dokter Eva tersenyum melihat pasangan suami istri di depannya itu,” tentu saja boleh Tuan tapi harus lembut agar tidak mengganggu bayinya, tapi jika istrinya mengalami kram di perutnya itu harus dihentikan karena bisa berdampak pada kehamilannya, tapi selama Nyonya baik-baik saja silahkan saja,” jelas dokter Eva sambil


tersenyum lebar.


Setelah memberikan beberapa penjelasan kepada pasangan muda itu dan memberikan resep vitamin yang akan dibutuhkan oleh Ara untuk kehamilannya. Mereka pun segera pamit pad dokter Eva.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2