
Ara meloncat turun dari tempat tidur ketika rasa mula yang menyerangnya tidak bisa ia tahan lagi, ia berjalan ke kamar mandi
dengan langkah lebar, karena ia tidak dapar menahan sesuatu yang ingin meloncat
dari mulutnya,
Hoekkk…
Hoekkk…
Ara memuntahkan semua isi perutnya yang membuat tubuhnya seketika melemas, Neal yang tiba-tiba terbangun meraba sisi ranjang
disampingnya dan tidak merasakan keberadaan istrinya disana, ia pun membuka kedua matanya pelan dan benar saja ia tidak
mendapati istrinya disampingnya, namun samar ia mendengar suara dari dalam kamar
mandi dengan langkah tergesah ia turun dan melangkah ke kamar mandi, ia masuk
kerena pintu yang terbuka dan melihat istrinya terduduk didepan closet.
“Sayang,” panggil Neal berlari menghampiri istrinya ia pun meraih tubuh Ara dan menyandarkan ke tubuhnya yang berjongkok disamping istrinya.
“Kau kenapa kenapa pucat sekali,” tanya Neal mengusap wajah istrinya yang dipenuhi oleh keringat. Wajahnya jelas menggambarkan kekwatiran melihat keadaan istrinya yang jauh dari kata baik.
“A-ku mual dan kepalaku pusing sekali Neal,” sahut Ara pelan merasakan tenggoraknnya yang terasa kering dan pahit.
Neal dengan cepat menggendong istrinya lalu membaringkan dengan hati-hati ke tempat tidur, ia meraih gelas di atas nakas dan membantu istrinya minum dengan menegakan punggungnya. Ia meletakkan kembali gelas diatas nakas lalu kembali membantu istrinya berbaring.
“Sayang aku akan memanggilakan dokter tunggulah sebentar.” Neal bergegas bangkit untuk mengambil ponselnya tapi Ara menahan tangan suaminya sehingga menghentikan niat Neal.
“Sayang…ini mungkin karena pengaruh hormon kehamilanku, karena dulu aku juga mengalaminya,” jelas Ara pelan sehingga Neal kembali mendudukan tubuhnya di sisi ranjang.
“Tapi kemarin-kemarin kau tidak seperti ini,” tanya Neal masih penuh dengan kekwatiran apalagi melihat istrinya yang lemas dan begitu pucat.
“Kau masih ingat kata dokter Eva apakah aku mengalami mual setelah satu atau dua minggu kemudian dan benar saja ini baru satu minggu aku sudah merasakan mual seperti kehamilanku yang pertama.”
Neal mengusap lembut rambut istrinya ia tidak sempat melihat Ara mengalami mual dan muntah di kehamilan pertamannya, ia merasa sedih betapa menderita istrinya begitu melihat kondisi istrinya sekarang dan
__ADS_1
saat itu ia tidak ada disampingnya.
“Tapi aku akan tetap memanggil dokter untuk memastikannya sayang, tunggulah disini aku juga akan membawahkan teh hangat untukmu,” ucap Neal lalu mengecup kening istrinya dengan lembut merapikan selimut istrinya hingga sebatas dada, sebelum beranjak pergi ia kembali membungkuk mencium istrinya yang membuat Ara tersenyum hangat selalu mendapat perlakuan yang manis dari suaminya dan selalu menatapnya dengan sorot mata penuh cinta.
Tak lama Neal kembali dengan secangkir teh hangat ditangannya, ia pun mendudukan tubuhnya disisi ranjang dan membantu istrinya bangun, Ara pun meminumnya dan teh hangat itu dapat mengurangi sedikit rasa mualnya yang sedari tadi ia tahan, tapi itu tidak bertahan lama Ara kembali ingin memuntahkan isi perutnya, Neal pun menggendong istrinya ke kamar mandi.
Tak lama kemudian dokter yang mereka tunggu tiba dan langsung masuk ke kamar di antar oleh kepala pelayan. Neal menghampiri dokter Robert yang merupakan dokter
keluarganya yang sudah mengabdi kurang lebih sepuluh tahun, namun jika ia berhalang ia memintah bantuan Daniel sepupunya seperti seminggu yang lalu karena dokter Robert ada seminar ke Jerman.
“Selamat pagi Tuan Neal,” sapa Dokter Robert ramah lalu keduanya pun berjabat tangan. Neal tak lupa membalas sapaan dokter Robert.
“Apakah bayi kecilnya membuat mamanya mual,” tanya Dokter Robert yang selalu memasang senyuman diwajahnya sambil berjalan mengahampiri Ara yang berbaring ditempat tidur.
“Tapi sebelumnya istriku tidak seperti ini Dokter.”timpal Neal ikut berdiri di sisi sebelahnya.
“Aku sudah menjelaskan kalau aku baik-baik saja dok, tapi ia tetap bersikeras untuk menelpon anda,”sahut Ara pelan.
“Ini pengalaman pertamanya Tuan Neal, jadi wajar ia sangat kwatir Nyonya,” papar Dokter Robert masih menyebarkan senyum. “Baiklah aku akan memeriksamu.” Dokter Robert pun mulai memeriksa keadaan Ara dimulai dari mengukur tekanan darah Ara.
“Tekanan darah Nyonya agak rendah jadi perhatikan asupan makanannya,” tambah Dokter Robert lagi.
"Baiklah saya permisi dulu, selamat ya untuk kalian berdua jika ada keluhan hubungi saya lagi.”
" Terima kasih Dokter, " ucap Ara sesaat sebelum dokter itu keluar bersama suaminya, dokter Robert pun mengiyakan.
“Sayang, kau tidak ke kantor,” tanya Ara begitu Neal kembali ke kamar setelah mengantar dokter Robert.
“Tidak, aku kwatir dengan keadaanmu sayang jadi hari ini aku bekerja di rumah saja,” sahut Neal sambil menarik sebuah bangku tepat didepan istrinya.
“Sayang, aku baik-baik saja pergilah bekerja.”
Ara membujuk suaminya agar tetap pergi bekerja seperri biasa karena ia tau suaminya sibuk dan meninggalkan kantor sehari saja bisa membuat pekerjaaanya menumpuk, dan ia juga baik-baik saja walaupun tubuhnya lemas dan kepalanya pusing tapi di rumah
banyak maid yang akan membantunya dan akhirnya Neal pun menyerah. Ia pun segera
bersiap untuk pergi ke kantor.
__ADS_1
Neal sudah memakai jas lengkap berjalan menghampiri istrinya dan mendudukan kembali tubuhnya disisi ranjang dan mengusap pipi istrinya lembut ia sedikit ragu untuk meninggalkannya, Ara hanya tersenyum melihat keraguan itu dimata suaminya ia mengusap dengan lembut tangan suaminya yang masih menempel di pipinya.
“Pergilah…aku baik-baik saja nanti aku kan sering mengabarimu, aku bukan sedang sakit parah sayang aku hanya sedang hamil anak kita dan hampir semua wanita hamil mengalami hal seperti ini, jadi berhentilah kwatir berlebihan seperti itu,”bujuk Ara lagi tanpa melepaskan tatapannya dari suaminya yang juga sedang menatapnya.
“Aku hanya kwatir kau akan muntah seperti tadi sepanjang hari.” Ara terkekeh mendnegar ucapan suaminya itu. “ Aku tidak pernah gugup menghadapi tender ratusan miliyar tapi melihat keadaan mu tadi membuat tubuhku seperti tidak menginjak bumi sayang.”
“Aku akan memintah Karen untuk menemanimu.”
“Tidak perlu sayang biarkan ia tetap bekerja di kantormu, aku masih punya Sarah untuk aku minta tolong,” tolak Ara halus.
“Baiklah kalau begitu aku pergi dulu,” pamit Neal tak lupa mencium kening istrinya lalu mengecup singkat bibir istrinya, setelah itu ia pun pergi meninggalkan kamar diiringan
tatapan Ara sampai suaminya menghilang dibalik pintu.
****
Sera baru saja kembali mengunjungi pasienya ketika ia mendengar obrolan beberpa perawat tentang dokter baru yang masuk hari ini , perawat itu bercerita penuh semangat terkadang diiringin gelak tawa ketika mengatakan dokter itu sangat tampan dan masih lajang, Sera hanya diam tanpa ikut menimpali dan sampai seorang perawat menyapanya.
“Dokter Sera apakah kau sudah bertemu dengan dokter Adam, aku rasa kau harus melihatnya ia begitu tampan dan juga pintar.”
“Belum,” jawab Sera singkat, ia tidak berminat untuk tahu lebih lanjut. Setalah itu ia pamit kepada para perawat untuk pergi ke kantin untuk makan siang.
Setelah mengambil makannya Sera mengambil bangku dipojok belakang kantin ikut bergabung dengan beberapa perawat dan dokter disana setelah mereka bertegur sapa untuk berbasa basi.Baru berapa suap makan itu masuk kedalam mulut Sera tiba-tiba seseorang memanggil namanya membuatnya mengedarkan pandangannya ke arah sumber suara.
“Kak Adam,” gumam Sera pelan saat menatap Adam yang sedang berjalan kearahnya dengan senyum manis diwajahnya, ia melirik Daniel yang berjalan disampingnya yang juga sedang menatapnya dengan muka datar.
.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1