
Helena sangat riang menyambut kedatangan Ara ke rumahnya sudah lama Ara tidak menginap ditempatanya
dan malam ini ia ingin menginap bersama suaminya ke rumah Helena.Mereka mengobrol di taman belakang Mansion keduanya begitu riang sesekali obrolan mereka ditingkah oleh gelak tawa keduanya.
Helena merasakn putrinya hidup kembali bila Ara mengunjunginya ke Mansion, suasana rumah terasa sangat hidup, setelah puas mengobrol mereka pergi memasak makan malam untuk papa Ivander walaupun ada maid yang menyiapakan itu semua tapi Ara ingin sekali memasak untuk lelaki yang sudah dianggapnya seperti papanya sendiri.
Ivander mendengar gelak tawa dari dapur sehingga ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar, wajahnya seketika berubah sangat cerah saat melihat siapa yang sedang berada di dapur.
“Oh putriku, apa yang sedang kau lakukan,Nak.” Ivander berkata sambil menghampiri Ara yang sedang memotong
sayuran, ia pun meletakan pisaunya dan menyusul Ivander yang sudah membuka
tangannya mintah dipeluk.
“Papa, apa kabar,” ucap Ara manja dalam pelukan Ivander. Wajah tua itu terlihat begitu bahagia tangannya
mengusap-usap punggung Ara dengan lembut, ia mencium puncak kepala Ara sambil memejamkan matanya cukup lama ia melakukannya, sampai akhirnya ia lepaskan.
“Papa sangat baik sayang, bagaiamana kabarnya cucu-cucu papa,” Tanya Ivander menyentuh perut besar Ara
dengan senyum lebar yang terus menghias wajahnya.
“Juga sangat baik grandpa.” Ara berkata meniru suara anak lalu tertawa kecil membuat Ivander dan Helena
ikutan tertawa.
“Sayang, pergilah mandi setelah itu kita makan malam bersama,” tingkan Helena mendekat pada suaminya.
“Neal mana, ia tidak ikut menginap disini.”
“Neal ikut juga papa, tapi mungkin ia datang terlambat.”
“Baiklah kalau begitu papa mandi dulu.” Sebelum pergi ke kamar ia mencium istrinya dan putrinya.
****
Ara terbangun ketika merasak tempat tidur disebelahnya bergerak, ia membuka matanya yang masih sedikit
buram, tapi Ara sudah tau siapa yang tengah memeluknya dari aroma wangi tubuh suaminya.” Aku
membuatmu terbangun sayang,” sapa Neal mengecup lembut pipi istrinya.
“Kau lama sekali pulangnya,” ucap Ara denagn mata masih terpejam.
“Begitu banyak pekerjaan yang tidak bisa ditundah sayang , kenapa kau sudah rindu, emhh.” Neal berkata
sambil mengusap perut besar istrinya.” Anak Daddy juga rindu.” Neal mengecup lembut perut istrinya lalu menempelkan pipinya disana. Ucapan Neal direspon oleh gerakan bayinya dari dalam sana sehingga mmebuat Neal tertawa girang, Ara yang masih memejamkan matanya membuka matanya kembali ketika merasakan gerakan
aktif bayinya.
“Sepertinya mereka benar-benar merindukan suaramu sayang,” ucap Ara mengusap lembut rambut
suaminya.
“Bagiamana dengan mommynya,” ucap Neal mengangkat wajahnya menatap istrinya yang sudah bersemu merah. Neal menggesar kembali tubuhnya dan meraih tubuh istrinya kedalam pelukannya.
“Tidurlah, ini sudah larut, tubuhku sangat lelah sayang.” Neal memejamkan matanya dan Ara pun mengiyakan ikut memejamkan matanya kembali karena matanya memang masih sangat berat.
****
__ADS_1
Rasa haus membuat Ara terbangun ia melepaskan dirinya dari pelukan suaminya dan mendudukan tubuhnya
disisi ranjang, Ara menjangkau gelasnya diatas nakas tapi ternyata gelasnya itu sudah kosong. Ara pun bangun untuk mengambil minum ke dapur, ia menatap suaminya yang tidur begitu lelap sehingga Ara tidak tega untuk membangunkannya , ia pun pergi sendirian saja.
Ara mengisih gelasnya dengan air putih lalu meminumnya hingga tidak bersisa, ia kembali mengisi gelas itu
kembali untuk dibawah ke kamarnya, Ara kembali mematikan lampu dapur, tapi baru beberapa langkah ia berjalan, seseorang membekap mulutnya dengan kuat dari belakang karena terkejut gelas yang dipegang Ara pun terjatuh sehingga menimpulkan suara yang cukup keras ketika gelas itu hancur berkeping-keping menyentuh
lantai, Ara merasakan perih di kakinya karena pecahan beling itu melukai kakinya.
Ara merontah mencoba melepasakan dirinya, ia menggigit tangan penyekap itu sehingga cekalan tangannya di mulut Ara terlepas, Ara langsung menjerit berlari menjauh tapi gerakannya kurang gesit karena perut besarnya, tarikan yang kuat pada rambutnya membuat Ara terjatuh terduduk dilantai, Ara menjerit menahan sakit yang mendenra perutnya..
‘Wanita ******, kau mau lari kemana kau harus mati ditanganku karena kau sudah mengambil apa yang seharusnya
menjadi milikku.”
Ara tersentak mendengar suara yang sudah tidak asing ditelinganya,” Na-nathalie…
Ara berkata dengan tubuh dan bibir gemetar, apalagi saat melihat Nathalie menodongkan pistol tepat didepan
wajahnya.
Nathalie menyeringai puas menatap wajah Ara yang pucat karena ketakutan,” iya, itu aku. Aku merasa
tersanjung karena aku masih mengingatku.” Selesai bicara Nathalie tertawa keras sambil menempelakan pistol di tangannya ke pelipis Ara.
“Nathalie….!
Teriakan Neal terdengar menggema dalam ruangan tangannya terkepal menahan amarahnya, ia menatap istrinya yang tersimpuh dilantai menatapnya dengan tubuh gemetaran karena ketakutan. Neal terbangun saat mendengar suara gaduh melihat istrinya tidak ada disampingnya ia berlari keluar kamar dan langsung disungguhkan pemandangan yang membuat darahnya mendidih.
“Lepaskan istriku wanita brengsek, sedikit saja kau melukai istrinya, aku akan membuatmu menyesal seumur
“Aduh, perutku,” teriak Ara memegang perutnnya, ia merasakan perutnya sangat sakit seperti diremas, matanya
membulat saat melihat darah yang keluar lewat selangkangannya.
“Sayang,” pekik Neal melihat bagian bawah tubuh istrinya sudah dipenuhi darah.
“Berhenti Neal atau aku ledakakn kepala ****** ini,” teriak Nathalie penuh kemarahan, ia berjongkok disamping Ara yang sedang meringis menahan sakit.
“Aku mohon Nathalie jauhkan senjata itu dari istriku, apakah yang kau inginkan.” Neal mencoba melunak, Nathalie tersenyum lebar saat mendengar penawaran dari Neal.
“Kau ingin tau keinginanku, ha…! Aku ingin kau menikahiku, aku ingin kau menikah denganku!”
“Kau gila Nathalie,” desis Neal.
“Gila…! Aku memang sudah gila. Aku gila karena terlalu mencintaimu, seharusnya kau sudah menjadi miliki
kalau perempuan ular ini tidak datang mengusikku, karena itu aku harus menyingkirkan penghalangku sekali lagi.” Seringai jahat menghiasi wajah Nathalie tatapan membunuhnya membuatnya terlihat semakin mengerikan.
“Menyingkirkan sekali lagi, apa maksudmu.”
Ivander yang sedari tadi ikut terbangun karena mendengar suara keributan, apalagi saat mendengar jeritan
Ara membutnya panic, Helena yang juga terbangun ikut mengikuti suaminya, matanya melotot dan tubuhnya menegang melihat Ara sedang ditodongi senjata oleh Nathalie
sahabat putrinya Anara. Tubuh Helena seketika melemas jika tidak cepat ditangkap oleh Ivander mungkin ia sudah tersimpuh di lantai.
“Paman,” sapa Nathalie tersenyum sinis pada Ivander. “Putrimu tidak pantas untuk Neal karena itu aku menyingkirkannya, aku pikir dia kan mati karena narkoba yang aku suntikan, tapi Tuhan masih menyelamatkan
__ADS_1
nyawanya karena itu aku membunuhnya sekali lagi.” Wajah Nathalie datar tanpa rasa bersalah sedikit pun saat mengatakannya.
Semua yang ada disana begitu terkejut mendengar pengakuan Natahlei apalagi Ivander dan Helena karena ia juga
sudah menganggap Nathalie seperti anaknya karena sudah cukup lama bersahabat
dengan Anara, bagaiman bisa ia melakukan hal keji itu pada sahabatnya sendiri.
“Kau, tidak aku sangkah kau tega melakukan hal keji itu pada putriku,” desis Ivander mengepalkan tangannya.
“Itu balasan bagi yang berani mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku.”
Nathalie menarik rambut Ara memaksanya untuk berdiri tangan kananya menodongkan pistol tepat dibawah dagu
Ara, satu tanganya memegang perutnya dan tangan yang satunya lagi menahan rambutnya yang ditarik oleh Nathalie, kedua kaki Ara gemetaran berkali-kali ia tersimpuh menahan rasa sakit yang mendera seluruh tubuhnya. Ara hanya menjerit ketika ia tidak mampu menahan rasa sakit itu.
“Berhenti Neal,” teriak Nathalie saat melihat Neal bergerak .
“Jangan sakiti istriku, aku mohon Nathalie dia tidak bersalah . Bunuh saja aku.”ucap Neal berlutut di depan
Nathalie ia tidak tau harus berbuat apalagi.
Nathalie menatap Neal yangsedang berlutut didepannya dengan wajah putus asa, tiba-tiba wajahnya berubah
sedih dan matanya mulai berkaca-kaca saat menatap Neal “kau rela berlutut padaku demi wanita ini,” ucapnya dengan bibir bergetar.
“Jika aku tidak bisa memilikimu dan kau juga tidak bisa memilikinya Neal.”
Neal menggelengkan kepalanya dengan wajah tegang dan pucat saat melihat Nathalie hendak menarik pelatuk pistol ditanganya,
Bughh…
Nathalie terjatuh ketika kepalanya di pukul oleh benda tumpul sehingga pistol ditanganya terlepas,
Dengan cepat polisi melumpuhkannya memborgol kedua tangannya, Nathalie berteriak berusaha melepaskan tubuhnya.
Neal meraih tubuh istrinya. “Sayang, kau masih bisa mendengarkan ku,” ucap Neal menepuk-nepuk pipi istrinya. Wajahnya Ara begitu pucat seakan tidak ada pembuluh darah disana.
“Neal ini sakit sekali,” desis Ara pelan hampir tidak terdengar.
“Bertahanlah sayang, kita ke rumah sakit sekarang.” Neal berkata sambil menggendong tubuh istrinya, ia
berteriak menyuruh orang-orang menyiapkan mobil untuknya.
Penjaga rumah Ivander yang tertidur betapa kagetnya ia saat melihat cctv di dapur, dengan cepat ia
menghubungi polisi dan beruntungnya polisi datang tepat waktu terlambat sedikit saja dapat merenggut nyawa Arabella putri Ivander.
.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1