Arabella Secret

Arabella Secret
Seperti mimpi


__ADS_3

Setelah Neal pergi Karen segera naik ke kamar Ara, ia membuka pintu kamar dengan hati-hati lalu ia menjulurkan kepalanya mengintip  di balik pintu karena  ingin melihat kondisi Ara. Ia melihat Ara masih menangis di tempat tidur dengan membenamkan wajahnya di bantal,Karen sangat sedih melihat Ara menangis terisak, ia merasa kesal dengan sikap Neal yang sangat keterlaluan pada Ara, Ia kembali menutup pintu kamar dengan hati-hati, ia tidak ingin mengagangu Ara dan memberikan waktu untuknya sendiri.


Karen turun dari tangga dan sudah ditunggu oleh Sarah dan beberapa pelayan lainnya, semuanya menungguh dengan wajah penuh kekwatiran, Ara dekat dengan semua pekerja di Mansion karena sikapnya yang ramah dan


perhatian kepada semua pelayan. Bahkan para eplayan yang sering menjaga jarak dengannya karena takut akan di marahi oleh Neal, walaupun selama bekerja di sini belum pernah sekalipun Neal memarahi mereka, tapi melihat Neal yang memang jarang bicara dan bersikap dingin membuat mereka ciut sendiri.


“Karen, bagaimana keadaan Nona,” tanya Sarah sambil mendekat pada Karen.


“Nona masih menangis, berikan beliau waktu untuk sendiri, sekarang ayo kita buatkan makanan kesukaan Nona,” ajak Karen sambil menatap bergantian para pelayan disana yang berjumlah sembilan orang. Mereka pun segera mengiyakan, Sarah langsung ke dapur menemui  Theo selaku juru masak di mansion sedangkan yang lain segera membubarkan diri dan kembali mengerjakan tugas mereka masing-masing.


***


Begitu selesai dengan urusan kantor Neal langsung menuju bandara karena ia harus segera berangkat ke Kanada, Neal melemparkan ponselnya di bangku kosong di sebelahnya, sudah beberap kali ia mencoba untuk menghubungi istrinya tapi ponsel Ara tidak aktif. Neal mengusap wajahnya kasar ia  merasa bersalah dengan sikap kasarnya yang sampai membentak  istrinya sehingga membuatnya menangis, pikirannya masih dibayangi oleh wajah sedih Ara yang berurai air mata berlari meninggalkannya, dan bodohnya ia bukannya menenangkan


Ara tapi malah pergi tanpa berbicara padanya.


“Mark apakah penerbangannya tidak bisa kita undur."


“Maaf Tuan, kita tidak bisa melakukannya karena akan membuat Tuan terlambat sampai di Kanada, karena kita punya agenda lain selain menghadiri pertemuan itu,” jelas Mark sambil menatap Neal dari kaca spion tengan


mobil. Neal hanya berdecak kesal dan tidak bicara lagi.


“Sebaiknya Tuan hubungi karen jika Nona tidak mengangkat ponselnya.” Neal pun segera mengambil ponselnya yang tergeletak begitu saja, pikirannya yang kacau sampai tidak terpikir untuk menghubungi karen  karena rasa kwatirnya pada istrinya..


Karen yang baru saja menaiki tangga mendengar dering ponselnya dari saku celananya, ia meletakkan makan untuk Ara di meja tak jauh dari tangga, kemudian segera merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya.. Karen terkesiap melihat nama yang terterah di layer ponselnya.


“Tuan Neal menelpon,” guman Karen pelan. Ia pun segera menjawab pangilan telpon itu.


“Hallo Tuan.”


“Dimana istriku.”Tanya Neal tanpa basa basi.


“Nona masih di kamar Tuan.”


“Apakah istriku sudah makan?”


“Ini saya mau mengantarkan sarapan untuk Nona Tuan.”


“Apa! Jam segini kau masih mengantarkan sarapan untuknya,” bentak Neal kesal sambil melirik jam tangannya yang hampir menujukan pukul sebelas.


“Maaf Tuan, tadi setelah Tuan pergi Nona terus menagis, aku tidak ingin mengganggu Nona dan memberi waktu untuk Nona sendiri, tapi satu jam aku kembali lagi namun Nona sudah tertidur sepertinya beliau kelelahan karena terus  menangis saya tidak tega membangunkannya Tuan,” jelas karen ketakutan.

__ADS_1


“Baiklah…cepat kabari jika  terjadi sesuatu pada istriku.”ucap Neal sudah tidak dengan nada keras lagi.


“Baik Tuan.”sahut Karean cepat.


Neal pun mengakhiri panggilannya, tak ada suara yang keluar dari mulut keduanya sampai mereka tiba di bandara.


**


 Karen membuka pintu kamar perlahan, matanya langsung tertuju pada tempat tidur Ara yang kosong,


Karen mendengar suara dari kamar mandi, dengan cepat Karen meletakan nampan  di tangannya diatas  nakas disamping ranjang, ia pun berlari ke kamar mandi, ia melihat Ara yang terduduk dengan lemas di depan closet, Karen segera menutup  tutup closet dan membantu Ara bangun dan mendudakan tubuhnya disana.


“Nona kenapa?” tanya Karen kwatir menatap wajah pucat Ara.


“Kepalaku pusing sekali dan perutku mual,” sahut Ara pelan.


“Itu karena NOna belum makan apapun dari pagi, ayo kita kembali ke kamar Nona,” ajak Karen dan membantu memapah tubuh Ara yang lemas, Ara tak menyahut ia hanya mengikuti langkah Karen, begitu mereka sampai di tempapt tidur Ara mendudukan tubuhnya dan menyandarkan  kepalanya di sisi belakang ranjang, wajahnya yang pucat masih dipenuhi  oleh sisa-sisa air mata yang sudah mengering, mata dan hidungnya masih memerah.


Karen datang dengan handuk kecil yang sudah dibasahkan terlebih dahulu, dengan hati-hati ia mengusap wajah Ara, tapi dengan cepat Ara mengambilnya dari tangan Karen. "Biar aku saja." Ara berkata sambil mengusapkan handuk itu ke wajanhnya, setelah selesai ia mengamblikannya pada karen tak lupa mengucapkan terima kasih.


“Ayo Nona, makanlah.” Karen berkata sambil menyodorkan sendok ke mulut Ara, ia sangat sedih melihat Nonanya yang selalu riang begitu kuyuh dan Lelah.


“Nona jangan menangis, aku ikut sedih melihat Nona seperti ini,” ucap Karen berusaha mengahapus air mata Ara yang belum sempat jatuh.


“Tuan Neal mungkin lagi banyak kerjaan yang membebaninya, aku yakin tuan pasti tidak sadar ketika berkata seperti itu pada Nona,” hibur Karen sambil menatap lekat wajah cantik Ara.


Ara hanya diam sepertinya ia sangat terluka dengan  sikap Neal, bahkan ia tidak memberi taunya kemana ia pergi , ia merasa sangat sedih dan merasa diabaikan. Rasa mual kembali menyerang Ara, ia menyerahkan piringnya ke tangan Karen dan segera melangkah menuju kamar mandi, dan menumpahkan semua makanan yang sempat masuk ke perutnya, Karen yang segera menyusul Ara memijat tengkuk Ara pelan.


“Nona sebaiknya kita ke rumah sakit nanti sakit Nona bertambah parah,” ajak Karen  lembut. Ara hanya mengangukan kepalanya pelan.


****


Arabella dan Karen  sedang duduk di ruang tunggu menunggu gilirannya bersama pasien lain yang juga ikut berobat sepertinya, Karen menatap wajah lesu Ara yang sejak berangkat dari rumah tidak membuka mulutnya.


Seorang perawat memanggil nama Ara, Karen segera mengiyakan dan membimbing Ara masuk ke dalam ruangan, Ara dan Karen duduk di bangku kosong di depan meja dokter. Dokter wanita baru payah itu segera menyapa Ara dan Karen dengan ramah.


“Selamat siang Nona,” sapa Dokter itu lembut lalu ia membaca rekam medis Ara yang ada dimejanya.


“Selamat siang Dok,” balas Ara pelan.


“ Apa keluhan Anda Nona.”Lanjut sang Dokter sambil menatap Ara yang duduk didepannya.

__ADS_1


“Sudah dua hari ini kepalaku pusing dan badanku terasa lemas, dan tadi pagi aku juga  muntah-muntah Dok karena perutku sangat mual,” jelas Ara pelan dan dianggukan oleh Karen.


“Baikalah, coba saya periksa sebentar,” sahut sang dokter lalu menyuruh Ara berbaring dan mulai memeriksanya, setelah selesai ia pun menyuruh Ara untuk duduk kembali ke bangkunya.


“Apakah Nona sudah menikah?” tanya sang Dokter sambil menatap Ara. Ara pun menganggukan kepalanya pelan menatap dokter itu sedikit heran.


“Hal yang Nona rasakan itu wajar dialami oleh  wanita diawal kehamilannya,” ucap Dokter itu sambil tersenyum.


Ara menutup mulutnya dengan kedua tanganya, ia seperti bermimpi saja mendengar perkataan Dokter, ia menatap mata Dokter di depannya bergantian seakan ingin memastikan kembali perkataannya ,apakah ia tidak salah bicara  tapi mana mungkin seorang dokter akan bercanda dengan hal seperti itu. Karen yang tak kalah terkejut menatap Ara dengan melongoh.


“Ha-hamil,” ulang Ara pelan. Ia merasakan kepalanya semakin pusing dan perutnya kembali mual.


“Iya … selamat Nona anda sedang hamil, untuk itu saya akan menyuruh anda untuk memeriksanya ke dokter kandungan untuk mengecek kondisi  kandungan anda,” jelas Dokter itu sambil menuliskan sesuatu pada kertas di depannya dan menyerahkannya pada Ara, dengan sigap Karen segera meraih kertas itu di tangan sang Dokter.


.


.


.


.


.


.


Bersambung


jangan lupa jempolnya👍👍


Terima kasih 🙏🙏


Terima kasih juga untuk semua komennya..


lucu juga saat Readers punya alur sendiri saat mencoba menebak kemana alur novel ini, boleh punya khayalan sendiri


tapi...


Author dah punya alur sendiri 😄😄😄😄


pokoknya ikuti terus Anara Secret...

__ADS_1


__ADS_2