Arabella Secret

Arabella Secret
Pertemuan


__ADS_3

Ara menatap bayangnya didepan cermin sambil mengoleskan pelembab kewajahnya, lalu memoleskan tipis bedak ke wajah cantiknya terakhir  memoles bibirnya yang sudah berwarna merah jambu dengan lip balm. Ara menyisir rambut panjangnya dan mengucirnya dengan rapi, setelah itu ia beranjak dari sana  mengambil mantel yang tergeletak di atas tempat tidurnya lalu  membalutkan ketubuhnya, ia menjangkau tasnya kecilnya di atas nakas dan segera keluar dari kamarnya.


Ara mengunci pintu apartemennya sebelum berangkat, ia segera turun menggunakan tangga yang berjarak sekitar enam meter dari pintu aparetemennya, walaupun ada lift tapi Ara lebih suka menggunakan tangga karena ia tinggal dilantai tiga tidak akan membuatnya keletihan kalau menggunakan tangga, sekalian olah raga. Ara saling bertegur sapa dengan penghuni lain yang dikenalnya yang kebetulan berpapasan dengannya. Ara sangat menyukai tinggal disini karena penghuni apartemen sangat ramah dan bersahabat.


Udara dingin langsung menyapa tubuh Ara begitu sampai diluar, semua di depannya sudah memutih tertutup oleh salju, Ara menutup kepalanya dengan tudung mantelnya melindungi kepalanya dari butiran  salju yang masih turun, ia melangkah ke halte yang berjarak tak begitu jauh dari apartemennya menerobos hujan salju yang turun dengan lebat . Ia menggosok-gosokan kedua tangannya untuk menghangatkan tangannya yang terasa membeku, mobil pembersih salju tampak sibuk membersihkan jalanan, Ara sampai di halte bergabung dengan orang-orang yang juga sedang menunggu bus.


Tiba-tiba seorang pria menghampiri Ara dengan membawa dua gelas kopi ditangannya,” selamat siang Ara, aku membawakan kopi untukmu.”


“Oh Thom, kau tidak perlu melakukan ini, aku jadi tidak enak."


“Aku akan tidak enak kalau kau menolak pemberianku,” Thomas menyengir sambil menatap wajah Ara lalu menarik tangan Ara dan meletakkan kopi ditangannya.


Ara menarik napas panjang terpaksa menerimanya,” besok kau tidak usah melakukanya lagi Thom,” ancam Ara melototkan matanya pada Thomas, bukannya takut Thomas malah tertawa sambil mengusap puncak kepala Ara. Keduanya segera menyesap kopi yang ada ditangannya. Tak lama bus yang mereka tunggu datang semua penumpang segera  naik kedalam bus dengan tertip.


Tanpa disadari oleh Ara sepasang mata terus mengamatinya sejak ia keluar dari apartemennya, siapa lagi kalau bukan Neal,  ingin rasanya ia berlari memeluk tubuh Ara saat pertama melihatnya, ia mencoba menahan dirinya tak ingin Ara terkejut dan lari lagi darinya. ia sebenarnya ingin langsung mengetuk pintu apartemen Ara begitu sampai, tapi ia berubah pikiran ingin melihat apa yang dilakukan istrinya selama tinggal disini. Ia terus memandang tubuh itu dari kejauhan. Neal menyipitkan matanya saat melihat seorang pria menyapa Ara dan mereka terlihat akrab bahkan pria itu membawakan minuman untuk istrinya, Neal sekan ingin meloncat keluar dari mobil menghajar pria itu yang berani menyentuh kepala istrinya.


Mark menatap wajah Neal dari kaca tengan mobilnya, menarik satu sudut bibirnya saat melihat wajah Neal yang terbakar cemburu.


Kau harus bertindak cepat Tuan sebelum istrimu dipepet oleh pria itu, sepertinya dia menyukai Nona


“Ikuti bus itu,” perintah Neal saat melihat bus yang membawa Ara berangkat. Mark pun mengiyakan dan segera melajukan mobilnya membututi bus yang membawa Ara.


****


Ara turun dari bus tanpa pria itu, ia segera meningggalkan halte berjalan menyusuri jalanan yang diselimuti oleh salju yang cukup tebal, salju masih turun dengan awet, berjalan sekitar lima menit Ara masuk kesalah satu mini market. Neal memintah Mark untuk memakir mobilnya tidak jauh dari mini market yang dimasuki Ara tadi, cukup lama mereka menunggu tapi Ara belum keluar juga, tapi Neal masih tetap bersabar menunggu dalam mobilnya.


Satu jam kemudian…


“Apa yang ia lakukan disana sampai satu jam belum juga selesai belanja,” dengus Neal jengkel. Ia sudah mulai diserang bosan untuk menunggu selama itu.


“Tuan anda sudah menunggu Nona selama berbulan-bulan , ini baru saja satu jam tapi  kenapa anda sudah mengeluh.” Mark mencoba menenangkan Neal mengamatinya lewat kaca tengah mobil, menatap Neal yang duduk dengan gelisah tapi matanya tak lepas dari pintu masuk mini market itu sambil mengusap rahangnya yang ditumbuhi jambang.

__ADS_1


“Kau benar apa salahnya menunggu sebentar saja, tapi aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya.”


"Tapi bukannya Tuan sudah melihat Nona dari tadi.”


“Melihat dari jauh saja, bukan seprti itu yang aku mau, aku sudah….Neal menghentikan bicaranya sambil menatap Mark dari balik kaca dengan jengkel.


“Sudahlah percuma bicara denganmu, kau mana tau apa yang sedang aku rasakan, karena kau belum pernah punya seorang kekasih, semoga saja kisah cintamu lebih rumit dariku,” dengus Neal kesal kembali mengalihkan tatapannya.


Doamu kejam sekali Tuan setelah apa yang aku lakukan padamu, kalau sudah rindu kenapa tadi tidak menyusul Nona saja,  wanita hanya membuat kepalaku pusing saja…


Setelah menungguh lebih dari dua jam akhirnya Neal memutuskan untuk keluar dari dari mobilnya, ia mengeratkan mantelnya menutupi tubuhnya dari  udara dingin diluar, menutup kepalanya dengan tudung mantelnya dan menambahkan kaca mata hitam di wajahnya yang tampan, Neal menarik napas panjang dan membuangnya dengan kasar lalu melangkah menuju mini market, jantungnya bergemuruh begitu posisinya semakin dekat dengan mini market, deberan jantungnya semakin kuat saat ia berdiri di pintu masuk, ia merasa seperti remaja yang mencoba mengajak wanita yang disukainya untuk pergi berkencan.


Sebelum masuk Neal memegang dadanya seolah mengajak jantungnya untuk lebih tenang didalam sana, Neal mendorong pintu mini market perpelahan, begitu masuk  ia berdiri didepan pintu sambil menyapukan pandangannya kesekelilingnya.


Deg…


Jantung Neal seakan meloncat dari rongga dadanya saat melihat Arabella berdiri di belakang meja kasir sambil melayani pengunjung yang sedang membayar belanjaannya, ia terus menatapi Ara yang berjarak sekitar tiga meter saja darinya. Ia bisa melihat lebih jelas wajahnya istrinya dengan jarak sedekat itu, ingin rasanya Neal membelai pipinya  yang terlihat lebih kurus.


Neal melangkah mengambil keranjang lalu  menuju rak minuman dan mengambil asal minuman disana, kemudian berpindah pada rak roti dan juga memilihnya asal karena matanya sibuk memperhatikan Ara seolah takut wanita itu akan kabur dari sana. Setelah merasa cukup ia berjalan menuju meja kasir, tapi ia menahan langkahnya saat


melihat Ara sedang melanyani  pembeli, disaat tak ada lagi pelangan membayar belanjaannya Neal melangkah  dengan cepat.


Arabella berdiri sambil menundukan kepalanya, Ketika melihat sebuah keranjang didepannya Ara langsung mendekatkan pada scanner satu persatu barang dalam keranjang itu, semetara Neal terus menatap lekat Ara didepannya, melepaskan kaca mata hitamnya dan menyimpannya dalam saku mantelnya, ingin rasanya ia meloncat kebalik meja itu dan menariknya dalam pelukannya.


“Semuanya 2000,00 rubel  Tuan,” ucap Ara pelah menyebutkan total belanjaan Neal.


Neal menyerahkan debit card ditanganya tanpa bersuara, Ara mengambilnya tanpa menatap orang didepannya, setelah selesai melakuakan transaksi ia menyerahkan kartunya kembali pada pemiliknya kemudian menyerahkan kantong belanjaan.


“Ter…..


Ara tak dapat melanjutkan kata-katanya saat menatap sosok yang sedang berdiri didepannya yang juga sedang menatapnya, netra hitam itu seakan menembus netra coklat terang Ara, menguncinya dalam dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan, kantong belanjaan itu terlepas begitu saja dari tangannya yang gemetar,  dengan cepat Neal menahannya, badannya menegang, bibirnya juga terlihat bergetar. Menatap pria yang sangat dicintai dan dirindukannya sedang berdiri didepannya ingin rasanya ia berlari menghambur dalam pelukannya, menumpahkan semua rindu yang membelenggu hatinya beberapa bulan ini.Tapi lelaki itu sekarang milik wanita lain. Mengingat itu membuat rasa perih dihatinya.

__ADS_1


“Sayang…bibir Neal bergetar saat memanggil Ara, menatap wajah Ara dengan tatapan penuh kerinduan,  mencoba meraih tangan Ara dalam genggamnya.


Kata sayang yang keluar dari bibir Neal  terasa begitu asing ditelingannya, mencoba mencerna maksud kata-kata itu, Ara mengira itu hanya ilusinya karena ia terlalu rindu dengan suaminya, ia mengerjapkan matanya mungkin saat ia membuka matanya lagi bayangan itu menghilang tapi  wajah itu masih tetap berdiri didepannya, ia merasakan tangannya yang hangat dalam genggaman tangan besar itu, seakan tersadar akan statusnya sekarang Ara  perlahan menarik tangannya dalam genggaman tangan Neal, tapi Neal menahannya dengan kuat.


Beberap orang yang mulai mengantri dibelakang Neal  menatap bengong dan saling pandang dengan pembeli yang lain saat melihat  pemandangn didepan  mereka, tapi tak seorang pun yang  berniat untuk mengusiknya.


“Sayang, ayo kita kembali pulang.”


.


.


.


.


.


Bersambung


Kok lama upnya Thor?


Akhir-akhir ini gampang banget down nya, karena terlalu asyik menulis sering tidur malam😆


Sudah dua hari tepar diserang flu 😷 tapi tetap diusahain up hari ini karena sudah banyak yang menunggu.


Semoga readers menyukai bab ini yang ditulis dalam keadaan setengah teler😁😁😁


Aduhh kok jadi curhat 🙈🙈


Selamat membaca aja.... ❤❤

__ADS_1


__ADS_2