Arabella Secret

Arabella Secret
Pilihan yang sulit


__ADS_3

Neal baru saja sampai di Mansion Anara dan melihat Ivander dan seorang Dokter Samuel yang selama ini menangani Anara baru saja turun dari lantai dua, keduanya mengalihkan pandangan saat melihat di ujung tangga, mereka langsung menyapa Neal begitu melihat sambil melangkah menuruni tangga tanpa ada yang bersuara, Ivander menagajak Neal untuk masuk ke ruang kerja Ivander, Neal pun mengiyakan sambil mengikuti langkah mereka dari belakang.


Mereka bertiga telah duduk  di sofa yang ada di ruang kerja Ivander dengan posisi saling berhadap-hadapan yang dipisahkan oleh meja kecil yang ada di depan mereka, Dokter Samuel langsung membuka suara sebelumnya menatap Ivander dan Neal bergantian.


“Saya telah memeriksa semua kondisi putri anda Tuan Ivander dan menurut pemeriksaan saya semuanya sabgat bagus, semua organ berfungsi dengan baik walaupun ada sedikit masalah pada organ jantungnya selama tidak ada yang memicu gangguan pada jantungnya semuanya akan baik-baik saja. Sudah  beberap bulan ini Anara hanya di tempat tidur mungkin akan ada sedikit gangguan pada otot dan syarafnya apalagi itu anggota gerak, Anara mungkin diawal-awal akan sedikit kesulitan untuk berjalan, tapi kalau ia rajin untuk berlati untuk melancarkan aliran darahnya semua akan kembali normal seperti dulu."


Dokter Samuel memberikan banyak penjelasan tentang keadaan Anara, Ivander dan Neal hanya terdiam  sambil sesekali menganggukan kepalanya, mulut Neal rasanya sudah tak sabar  ingin bertanya pada Dokter Samuel kalau ia ingin berbicara tentang hubungannya dengan Anara, karena semuanya sudah tidak seperti dulu lagi. Belum sempat Neal membuka suara Dokter Samuel melanjutkan kembali bicaranya.


“ Seperti yang saya jelaskan dari awal kalau Anara ada sedikit masalah pada jantungnya, jangan sampai ia mendengar kabar yang mengejutkannya  itu akan berakibat fatal pada kondis Anara, hal itu dapat merenggut nyawanya, jadi menurut saya jangan diberitahu dulu pada Anara kalau kau sudah menikah dengan wanita lain walaupun itu hanya sebagai pengganti Anara untuk sementara, saat ini Anara belum bisa mendengarkan kabar yang dapat menggangu pikirannya karena itu bisa menghentikan denyut jantungnnya secara mendadaka, jadi untuk sementara rahasiakan ini dari dirinya dulu sampai kondisi mentalnya siap untuk mendengarkannya.” Dokter Samuel menghentikan sejenak bicaranya sambil menatap wajah Neal yang seketika memucat begitu mendengar penjelasannya. Neal terlihat gelisah karena ia ingin menjelaskan semuanya kepada Anara tentang semua hal yang telah terjadi selama ia koma, ia tidak ingin membohongi Anara dengan berpura-pura mencintainya.


Dokter Samuel menarik napas panjang kemudian kembali melanjutkan ucapannya sambl memelirik pada Ivander yang sedari tadi tak bersuara,” Tuan Neal keberadaan anda disisi Anara sekarang akan membuat keadaannya cepat kembali pulih, sedari tadi ia terus menyakan anda Tuan, jadi untuk saat ini sebaiknya ada selalu berada disisi Anara.” Dokter Samuel dengan jelas dapat melihat wajah tidak setuju Neal dengan cepat ia menyelah ucapan Dokter Samuel.


“Tapi Dokter istri saya juga sedang sakit ia juga butuh diriku, kami baru saja kehilangan bayi kami aku tidak bisa meninggalkannya sendirian dalam keadaan seperti ini," protes Neal dengan tegas. Ivander hanya menundukkan kepalanya sambil menautkan kedua jari tangannya.


“Tuan, saya tau perasaan anda, ini sangat sulit bagi anda, tapi jika anda tidak ada disisi Anara ini  akan menimbulkan pertanyaan pada dirinya karena ia tau anda adalah tunangannya ia sangat membutuhkan cinta dan perhatian dari anda kar…


“Dokter saya hanya mencintai istri saya, aku ingin mengakhiri hubunganku dengan Anara secepatnya,” potong Neal cepat yang membuat Dokter Samuel terkesiap mendengar pengakuan Neal.

__ADS_1


“Tuan,  jika Anara tau berita ini jantungnya akan berhenti berdetak dan anda akan tau apa yang selanjutknya yang akan terjadi bukan? Anara akan meninggal, tolong pikirkan kembali Tuan Neal. " Dokter Samuel berkata dengan nada sedikit memohon.


“Neal… Ivander yang sedari tadi diam mulai bersuara.” Aku tau posisimu sekarang begitu sulit mengingat kondisi Arabella saat ini juga sangat membutuhkan dirimu." Tapi aku mohon padamu Neal... kami  tidak siap untuk kehilangan Anara, tolonglah Neal beri kami sedikit waktu untuk menjelaskan semuanya kepada Anara pelan-pelan kondisi sebenarnya, kasihanilah Anara bagaimana pun ia juga masih tunanganmu walaupun sekarang kau tak menginginkannya lagi." Ivander berkata dengan suara berkata sambil menatap Neal dengan wajah penuh permohonan.


Wajah Neal yang tadi tegang kembali melunak, melihat Papa Anara yang memohon seperti itu padanya sungguh membuatnya tidak sampai hati, ucapan Ivander membuatnya seperti lelaki paling jahat yang membuang tunangannya yang sedang sakit karena ia sudah mencintai wanita lain. Tapi bagaiman dengan istrinya yang juga sedang sakit, ia juga sangat butuh dirinya. Bukankah ia akan terlihat seperti suami yang kejam.


Neal menyisir rambutnya  kasar kebelakang sungguh ia terlihat begitu frustasi sepertinya takdir senang sekali mempermainkannya, dulu saat ia akan menikah  dengan Anara tiba-tiba ia ditemukan pingsan dan akhirnya koma sampai ia harus dipaksa menikah dengan wanita lain, tapi saat ia mulia mencintai istrinya dan ingin memulai semuanya dari awal lagi dengan  Arabella, waniat yang telah mencuri hatinya dan  sekarang ia sedang membutuhkan dirinya tiba-tiba ia dikejutkan kabar  Anara sudah  bangun dari komanya, sungguh hal ini membuat kepala Neal begitu pusing mengingatnya.


“Aku mohon Neal, sampai kondisi Anara kembali stabil, tidak bisakan kau menunggu sebentar lagi, ini mungkin terdengar egois, aku memohon demi kepentingan putriku dan mengabaikan Arabella, itu bukan berarti aku tidak menyayangi Arabella, tapi aku tidak siap kalau harus kehilangan putriku Neal.” Ivander kembali memohon saat melihat Neal hanya terdiam.


Dan Neal akhirnya tidak punya pilihan lain, setidaknya ini hal terakhir yang dapat ia lakukan untuk Anara, ini mungkin bisa mengurangi rasa bersalah dirinya karena telah menghianatinnya, sungguh terlalu egosi jika ia harus menggorbankan nyawa seseorang untuk dapat bersama dengan wanita yang dicintainya. Bagaimana pun Anara dulu adalah tunangannya, ia hanya berharap semoga Ara mengerti tentang kondisinya sekarang, ini mungkin balasan akan sikap buruk dirinya dulu pada Arabella, setelah ini ia akan menjelaskan semuanya kepadanya kalau hanya dirinya wanita yang dicintainya, dengan dirinya ia akan menghabiskan sisa hidupnya.


Karen memeluk erat tubuh Ara yang tak henti menangis saat dokter memberi tahu kalau ia kehilangan bayinya, mulut Karen tak henti membujuk Ara untuk berhenti menangis bahkan bola matanya sudah mengecil karena matanya yang bengkak terus-terusan menangis. Sekarang Ara merasa sendiri di dunia ini, Neal akan segera pergi darinya  karena Anara sudah bangun, ia sangat berharap pada bayinya sebagai kenangan terakhir dari suaminya, ia tidak keberatan walaupun harus sendirian membesarkan anaknya tapi sekarang harapannya itu sudah sirna karena ia sudah kehilangan calon bayinya.


“Karen, kenapa aku tidak mati saja, aku tidak mau hidup lagi,” ucap Ara diselah isaknya.


“Apa yang Nona bicarakan, jangan berkata bodoh seperti ini, aku tidak suka melihat Nona ku seperti ini, mana Nona Ara yang ceria yang sangat kami sukai,” ucap Karen ikut menagis. Ia sungguh tidak tega melihat kondisi Ara yang begitu kacau.

__ADS_1


“Nona tidak boleh bicara sepertii itu, kami sangat menyukai Nona, kami semua sangat menyayangi anda Nona.” Karen berkata sambil melepaskan peluaknnya dan menghapus air mata Ara dengan kedua telapak tangannya.


“Semua sudah berakhir Karen, Anara sudah bangun, aku bukan Nonamu lagi,” papar Ara dengan air mata yang terus membanjiri pipinya, wajahnya yang pucat terlihat begitu terpukul.


“Itu tidak akan mengubah apapun Nona.vkau tetap Nona yang kami sayangi” Arabella hanya menggelengkan kepalanya, Karen kembali memeluk tubuh Ara dan mengusap punggunnya lembut, perlahan isaknya mulai mereda, Karen mengusap lembut rambut panjang Ara yang terlihat  kusut, perlahan Karen membaringkan tubuh Ara di kasurnya saat mendengar dengkuran lembut Ara. Mungkin karena lelah habis menangis atau mungkin saja pengaruh obat akhirnya Ara tertidur. Karen menghapus sisa air mata yang mulai mengering dari pipi Ara dengan tisu yang ada di atas nakas.


“Kasiha sekali anda Nona, sudah kehilangan bayimu dan sekarang juga harus bersiap kehilangan suamimu,” bisik Karen sambil menatap wajah Ara yang terlelap. Perlahan ia bangkit dari sisi ranjang dan menarik selimut yang tergantung di bawah kaki Ara lalu membalutkannya sampai sebatas pinggangnya. Ia pun segera melakukan


panggilan intercom untuk menyuruh petugas kebersihan untuk membersihkan kamar yang begitu berantakan karena ulah Ara, ia meleparkan sarapan yang ada di antarkan perawat untuknya, bukan hanya itu ia juga melemparkan benda apapun yang ada di dekatnya, beberapa perawat dan Dokter berusaha untuk memegangi Ara melihat slang infusnya mulai berdarah karena ia terus berontak.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


Semoga readers menyukainya 🙏🙏


__ADS_2