Arabella Secret

Arabella Secret
Seutas rahasia


__ADS_3

Natasya menatap rintik rinai yang mulai turun deras lewat kaca jendela ruangannya, Natatasya bangkit dan melangkah meninggalkan kursinya dan berjalan mendekati jendela, ia membuka jendela kaca itu lebar-lebar membiarkan tempias air hujan yang telah turun dengan deras menerpa wajahnya. Angin yang bertiup cukup kencang membuat percikan semakin deras menerobos jendela sehingga sampai membasahi wajah cantik Natasya. Ia membiarkan titik-titik air itu berkumpul dan akhirnya bergulir diwajahnya dan seiring dengan air hangat yang mengalir dari kelopak matanya yang lentik.


Melepaskan Mark adalah hal tersulit yang mungkin ia tempu dalam usianya saat ini, rasa sakit di hatinya semakin hari membuatnya semakin terluka sangat dalam. Harapan dalam dirinya saat ia meninggalkan apartemen Mark ia berharap pria itu akan menahanya tapi itu hanya dalam angannya saja mana mungkin ia akan melakukannya karena  Mark tak pernah menyukainya, mengingat semua hal itu membuat rasa sakit di hatinya semakin berdarah.


Tidak ada yang bisa memaksakan perasaan pada seseorang, ia telah berjuang untuk meraih hatinya menepiskan semua harga dirinya, membuang semua sikap pemalu dalam dirinya demi untuk menadapatkan pria yang ia cintai.


Natasya menyeka air matanya dengan ibu jarinya ketika mendengar ketukan pintu ruangannya,” Maaf Nona ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.”


“Siapa.”


“Aku.”


Natasya menolehkan wajahnya  ke pintu saat mendengar suara yang begitu hapal di gendang telingannya. Benar saja ia melihat Mark sedang berdiri di depan pintu ruanganya membuatnya memundurkan langkahnya karena


terkejut. Pegawai Natasya pun segera keluar dari ruangannya sehingga meninggalkan mereka berdua saja.


“Apakah kita bisa bicara sebentar.” Mark bertanya meneliti wajah Natasya. Ia melihat wajahnya terlihat lebih pucat dan tubuhnya pun sedikit kurus dibandingkan saat terakhir ia melihatnya.


“Iya, ada apa.” Natasya berusah bersikap biasa seolah mereka dua orang yang begitu asing.


“Bisa kita bicara diluar,” tawar Mark mencoab mendekat ke meja Natasya karena wanita itu berdiri tak jauh dari balik mejanya.


“Aku banyak pekerjaan, jadi jika ada yang ingin Tuan sampaikan katakan saja.”


Mark mengernyitkan keningnya saat mendengar panggilan Nataysa padanya mereka benar seperti orang asing yang tidak perna saling kenal.


“Berhentilah bersikap sepertiorang asing padaku Nat.” Mark mengertakkan rahangnya ia tidak suka melihat


sikap Natasya padanya.


“Kita sekarang memang orang asing Tuan.” Natasya mengepalkan tangannya menahan gejolak di hatinya


ketika ia harus bersikap dingin pada pria yang begitu ia cintai, semua sikap luarnya sungguh bertolak dengan isi hatinya.


Dengan langkah lebar Mark melangkah ke tempat Natasya, rahangya berkedut karena menahan amarah dalam dirinya, melihat Mark mendekat Nataysa memundurkan langkahnya, tapi saat tubuhnya sudah membentur dinding membuatnya panik tidak bisa bergerak lagi.


“Berhanti Tuan.”


Mark menghentikan langkahnya mendengar teriakan Natasya, ia melihat dadanya turun naik sedang mencoba mengendalikan dirinya, tangannya terkepal dengan kuat seakan ia menahan sesuatu dalam dirinya.


“Bukankah ini yang kau inginkan. Aku sudah menepatinya jadi aku mohon jangan temui aku lagi, karena saat melihatmu sungguh membuatku sangat sakit.” Suaranya tercekat sekan menahan tangis yang akan meledak.


 Mark merengku tubuh Natasya dalam pelukannya, menyentuh telapak tangannya yang begitu dingin, "kenapa kau bisa begitu besar mencintaiku Nat, apa yang yang membuatmu menyukaiku.  Tolong jangan bersikap seperti orang asing seperti ini, karena sikapmu itu sangat menyakiti hatiku,” bisik Mark. Nataysa melepaskan tangis yang sedari tadi ditahannya, ia terus menumpahkan air matanya di dada Mark sehingga membuat kemeja itu basah.


Ia merengku wajah Natasya membuatnya mendongak saat menatap wajah Mark,” ikutlah denganku besok


apakah kau masih mencintaiku setelah itu.”


****


Mereka menempuh perjalan yang cukup jauh sekitar empat jam perjalanan akhirnya mereka sampai disebuah pedesaan yang begitu asri. Natasya meurunkan kaca jendela mobilnya menikmati segarnya udara pedesaan yang begitu menenangkan, Natasya tersenyum saat berpapasan dengan beberapa bocah dijalanan.


Selama  dalam perjalanan  keduanya lebih banyak diam, Natasya yang tidak banyak bertanya ia hanya mengikuti kemana Mark membawanya pergi. Mobil mereka berhenti didepan bangunan yang cukup luas bergaya eropa klasik dengan halaman yang cukup luas.


“Turunlah ,” perintah Mark. Natasya mengiyakan dan ia pun mengikuti Mark membuka pintu mobilnya. Begitu turun mata Natasya mengitari sekelilinganya lalu matanya kembali terfokus pada rumah di depannya.  Sementara Mark

__ADS_1


menurunkan tas bawaan mereka. Ia bingung rumah siapa yang tenga ia kunjungi bersama Mark tapi ia malas untuk bertanya karena ia tau Mark akan diam jika ditanyai.


Natasya melihat pekarangan itu banyak ditumbuhi oleh bunga yang tersusun sangat indah di dalam potnya, pasti sang pemilik rumah sangat menyukai bunga, ia berjalan mendekati pot bunga mawar yang begitu mencuri perhatiannya. Bunganya mekar sangat banyak dan juga dengan warna yang berbeda-beda tiap potnya sehingga terlihat begitu  cantik, ia pun menyentuh kelipak bunga-bunga itu hati-hati agar tidak merusaknya, Natasya pun mendekatkan hidungnya menikmati harumnya


“Ayo masuklah,” ajak Mark. Nataysa pun mengangkukan kepalanya tanpa bersuara.


Mark mengetuk pintu rumah yang berawarna coklat tua, tak lama menunggu daun pintu pun terbuka seorang wanita paruh baya tampak berdiri disana. Ia langsung memeluk tubuh Mark dengan hangat  ia tak henti menyebut nama Mark dengan nada suara yang terdengar begitu girang, ia mencium wajah Mark terlihat ia begitu menyayanginya tak lama seorang pria  pun muncul wanita itu pun melepaskan pelukannya memberikan kesempatan kepada pria itu untuk memeluk Mark.


Natasya yang berdiri beberapa meter dari sana hanya memperhatikan sambil tersenyum, "apakah kedua pasangan paru bayah itu orangnya Mark," guman natasya dalam hati. Tiba-tiba jantungnya menjadi berdebar  dan telapak tangannyamenjadi dingin karena gugup. Wajahnya memerah menahan rasa malu yang datang tiba-tiba.


“Nat,” panggil Mark sehingga membuat Natasya menjadi kikuk, ia meremas kedua tanganya untuk mengurangi kegugupannya saat Mark memintanya untuk mendekat. Nataysa memasang senyum ramah saat menatap sang pemilik rumah.


“Selamat siang paman, bibi,” sapa Natasya sopan.


“Paman, bibi perkenalkan ini temanku Natasya.”  Natasya mengulurkan tanganya dengan cepat untuk bersalam dan segera disambut bergantian oleh keduanya.


Mereka bukan orang tua Mark, lalu mereka ini siapa dan mereka terlihat sangat menyayangi Mark


“Nat, ini Paman Hans dan ini Bibi Elis” Mark pun memperkenalkan keduanya kepada Natasya.


“Anda cantik sekali Nona Nataysa,” puji bibi Elis sambil menyentuh pipi Nataysa  sehingga membuatnya malu. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih dengan wajah yang masih malu-malu.


“Ayo masuk, Nak ,” ajak bibi Elis menarik tangan Nataysa masuk kedalam rumah. Paman Hans membantu membawakan barang bawaan Mark ke dalam rumah.


Bibi Elis mengantar Natasya ke kaamar yang memang sudah mereka siapkan karena Mark telah memberitahukan kedatangannya sehari sebelumnya.”Istirahatlah kau pasti lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh,” ucap Mark di depan pintu kamar saat mereka tinggal berdua karena paman dan bibi Elis sudah pergi.


“Iya, kau juga harus istirahat juga Kak,” balas Natasyya mengulum senyum di bibirnya, Mark pun mengaiyakan lalu pergi meninggalkan Natasya menuju ke kamarnya yang berada di sebelah kamar yang ditepati oleh nataysa.


****


rambutnya di depan cermin terdengar ketukan pintu kamarnya, ia pun menghentikan aktifitasnya dan segera membuka pintu.


“Selamat Sore,” sapa Mark memperhatikan penampilan Natasya yang sudah segar karena sepertinya ia baru saja selesai mandi. Ia terlihat sangat cantik dengan gaun  selututnya dengan motif kembang-kembang kecil, rambut panjangnya yang berwarna coklat dibirakan tergerai membuatnya terlihat seperti seorang dewi kecantikan,


walupun pernah tinggal bersamanya beberap bulan tapi mark memang jarang sekali memperhatikan penampilannya.


“Selamat sore juga Kak, “ balas Nataysa dengan raut wajah malu-malu karena diperhatikan seintens itu oleh Mark untuk pertama kalinya.


“Ikutlah sebentar denganku,” ajak Mark tanpa mengalihkan tatapannya.


“I-iya tunggulah sebentar.” Natasya masuk kembali kedalam kamar ia melanjutkan menyisir rambutnya. Ia pun kembali menemui Mark setelah menyimpan sisirnya kembali di atas nakas.


Nataysa mengikuti langkah Mark menaiki sebuah tangga kayu yang terlihat sangat kokoh yang terletak  di samping ruang keluarga, ia bertanya –tanya kemana Mark akan membawanya, ia memperhatikan sekelilingnya ketika mereka sudah sampai di lantai dua rumah, ruangannya luas, dinding ruangan itu lebih didominasi oleh kaca sehingga kita dapat dengan jelas melihat pemandangan diluar yang begitu asri dan memanjakan mata, ruanganya itu terlihat terang walaupun tidak dinyalakan lampu sebagai penerang.


“Kemarilah.” Mark menarik tangan Natasya dan menggenggamnya dengan erat, ia mengikuti langkah Mark


yang berjalan cukup lambat, saat melewati sebuah sekat pemisah ia melihat ada sebuah ranjang besar disana, mata Natsya memperhatiakn dengan teliti saat melewatinya, dinakas samping tempat tidur ia melihat satu pot bunga mawar segar sepertinya baru habis dipetik, ia juga menagkap sebuah foto di dinding disamping ranjang


foto yang cukup besar tapi ia tidak bisa melihat dengan jelas karena terhalang oleh  tirai yang menjadi pembatas antara kamar itu dengan ruangan besar yang sedang dilewatinya sekarang.


Mark membuka pintu balkon lalu berdiri diambang pintu, Natasya pun ikut menghentikan langkahnya,ia mengikuti arah pandangan Mark, ia terkejut saat melihat seorang wanita duduk seorang diri di kursi balkon, Nataysa tidak dapat melihat wajahnya karena ia membelakanginya.


Setelah terdiam sejenak Mark melirik Natasya disebelahnya yang juga sedang menatanya, “Kenapa mengajaku kesini,” tanyannya.


“Aku akan memperkenalkan kau dengan seseorang, wanita yang sedang duduk dibangku itu dia adalah….Mark menghentikan ucapannya ia menatap manik  Nataysa yang tak berkedip saat menatapnya seakan menunggu lanjutan perkataannya.

__ADS_1


“Dia ibuku.”


Natasya tersentak mendengar ucapan Mark,” ibumu,” ulangnya sambil menarik tangannya dari genggaman Mark, Mark pun mengangguk pelan.


“Kau membawaku kesini karena ingin memperkenalkan aku pada ibumu,” Tanya Natasya menatapnya dengan sorot


mata sendu karena begitu terharu dan sekaligus bahagia karena tidak menyangkah Mark akan mengenalkannya kepada ibunya.


“Aku hanya ingin tau apakah setelah kau bertemu dengan ibuku apakah kau masih mencintaiku.”


“Apa maksudmu,” Tanya Nataysa menatap bola mata itu bergantian ia merasa bingung dengan ucapan yang


baru saja di katakan oleh Mark.


“kau akan menemukan jawabannya sendiri,” Mark menarik tangan Natsya untuk lebih mendekat. Setelah


berdiri disamping kursi yang diduduki oleh wanita itu Mark melepaskan pegangan tangannya, ia berjalan lebih mendekat lalu berjongkok didepan wanita  yang tetap menatap lurus ke depannya, tentu saja Natasya merasa heran melihat pemandangn didepannya.


Mark menyentuh tangan tua yang terasa dingin  lalu megcupnya lembut, wanita itu tetap tak bergeming


sampai Mark memanggilanya.


“Ibu…”


Ia menundukan kepalanya menatap Mark yang berlutut didepannya, ia hanya diam dan terus menatap wajah


Mark tanpa berkedip. “ ibu tidak mengingatku lagi, aku Mark putramu ibu,” ucapnya. Tangan wanita itu mulai bergerak mengusap wajah Mark dengan telapak tangannya.


“Anakku Mark kau kah itu sayang, oh maafkan ibu tidak mengingatmu lagi Nak,” ucapnya terus meengusap


wajah putra dengan wajah penuh kesedihan, Mark tidak dapat menyembunyiakn rasa sedihnya ia memeluk sang ibu ia mencium wajah ibunya yang juga dibalas oleh wanita itu dengan air mata yang mulai membasahi wajah tuanya yang masih terlihat cantik. Nataysa yang sedari tadi diam tak dapat menahan rasa harus yang


menyelimuti hatinya ia ikut menangis melihat pemandangan yang begitu mengharukan didepannya, ia tidak menyangkah seorang Mark menyembunyikan hal yang begitu besar dalam hidupnya.


“Kau semakin tampan sayang, sama seperti ayahmu,” ucapnya terus membelai wajah tampan Mark. Hatinya


begitu sakit mendengar ibunya yang tak pernah lupa dengan pria yang begitu sangat ia benci.


“Bagiamana kabar ibu.”


“Ibu baik-baik saja sayang, ibu hanya menunggu kedatangan ayahmu saja,” ucapnya menatap lurus jalanan didepannya. Lagi-lagi Mark merasakan benda besar menghantam dadanya saat ibunya kembali mengulang ucapan itu setiap kali ia datang mengunjunginya.


“Untuk apa ibu menunggu Daddy.”


“Karena ibu sangat mencintainya, Nak.”


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


Selamat membaca 🙏🙏


__ADS_2