Arabella Secret

Arabella Secret
Teman Baru


__ADS_3

Sudah lebih satu minggu kepulangan Ara dari Tyumen mengunjungi ibunya, dan tak pernah sekalipun ibunya mencoba untuk mengangkat telpon dari Arabela , walaupun sudah berulang kali dilakukannya, seperti malam ini tak ada jawaban dari panggilan yang sudah berulang-ulang kali dicobanya. Dan menangis hanya itu yang mampu dilakukannya, kemarahan ibunya terlalu besar sampai untuk berbicara saja  dengannya pun ibunya tak mau.


Ara meringkuk di tempat tidurnya sambil terisak, menyembunyikan tubuhnya dari balik selimut, ia tak tau harus berbuat apa lagi agar  ibunya mau memaafkannya, ibunya telah membuangnya karena ia sudah dianggap sebagai wanita murahan  yang menggadaikan tubuhnya demi uang, dan bahkan ibunya yang memilih mati dari pada mendapatkan uang darinya, sungguh menambah rasa pedih di hatinya bila mengingat itu semua. Ia akan sebatang kara setelah waktunya bersama Neal berakhir, ia akan tinggal seorang diri di dunia ini, mengingat semua itu membuat isakannya semakin keras, air mata pun membanjiri pipinya.


Ara membalikan tubuhnya ketika ia merasakan usapan lembut di kepalanya, ia melihat suaminya duduk disisi ranjang, Ara langsung bangun dan  memeluk erat tubuh Neal, Ara menenggelamkan wajahnya di dada suaminya, menumpahkan air matanya disana, Neal membalas pelukan itu sambil mengusap lembut punggung istrinya.


“Kau kenapa.... Apa kau sakit?” tanya Neal lembut, dengan cepat Ara menggelengkan kepalanya yang masih bersandar didada Neal.


“Lalu kenapa menangis.... Apa aku menyakitimu?" Neal bertanya lagi sambil menangkup pipi Ara dan mengangkatnya, ia mengusap air mata istrinya yang masih berjatuhan di wajahnya dengan ibu jarinya, ia menatap mata yang sudah bengkak mungkin karna sudah terlalu lama menangis, puncak hidungnya pun sudah memerah.


“Tidak…." Hanya itu yang  kata keluar dari bibir Ara pelan sambil menggelengkan kepalanya, ia tidak tau bagaimana cara menjelaskan pada suaminya, karena ia tak mungkin menceritakan kemarahan ibunya karena perkawinan yang mereka lakukan, perkawinan sandiwara yang dirahasiakan dari ibunya  yang dia lakukan demi mengobati ibunya.


“Sudahlah jangan menangis lagi...” ucap Neal kembali mengapus air mata  Ara dengan telapak tangannya, hatinya begitu sedih melihat Ara menangis seperti itu, seketika pikirannya melayang, "apakah ia juga akan menangis seperti ini saat semuanya selesai, ketika Anara bangun dan hubungan mereka  berakhir, apakah ia juga akan sedih seperti


ini," guman Neal dalam hati.  Seketika  Neal merasakan hatinya diremas dan dadanya sesak saat membayangkannya, apakah rasa kasihannya pada Ara  yang membuat dirinya begini atau….


Seketika Neal menghapus ingatan itu, ia mengcup kening Ara lembut mengurangi sesaknya, ia melepaskan pelukannya, melangkah ke meja dan mengambil tissue dan kembali mendudukan tubuhnya disamping istrinya yang menghapus sisa air matanya menggunakan tangannya, ia juga mencoba menahan ingusnya yang hendak keluar dari hidung mancungnya,


“Kau seperti akan kecil saja... hapus ingusmu,” perintah Neal sambil menyerahkan beberapa lembar tissue ke tangan Ara, dengan cepat Ara mengambilnya dan membuang ingusnya disana.


“Terima kasih,” ucap Ara pelan masih sesegukkan . Neal menatap Ara sambil mengernyitkan keningnya heran,


“Terima kasih sudah meminjamkan dadamu,” ucap Ara sambil menyentuh kemeja Neal yang basah oleh air matanya.


“Jangan menangis jika aku tak ada disampingmu,” Neal berkata sambil menatap mata Ara bergantian, seketika Ara tersenyum mendengar perkataan Neal,


“Kau ini aneh – aneh saja... mana bisa menangis seperti itu, ia datang begitu saja tanpa dimintah, bagaimana kalau aku ingin menangis saat kau jauh apakah  aku harus menelponmu dulu dan menyuruhmu pulang baru  aku boleh menangis.”


“Menangislah selagi aku bersamamu, dan belajarlah saat aku tak ada kau jangan menangis, karena tak ada yang akan meminjamkan dadanya padamu,” Neal berkata sambil merapikan rambut  yang menutupi wajah istrinya.


Mata Ara kembali berkaca-kaca, ucapan itu seperti isyarat baginya karena dirinya dan Neal tak akan pernah bersama selamanya, ia memegang tangan Neal dan menempelkan ke wajahnya sambil memejamkan matanya dan bulir air mata itu kembali jatuh.


“Neal saat kita berpisah, apakah bisa aku hidup tanpa air mata... mungkin aku akan menangis sepanjang hidupku," guman Ara dalam hati.


Ara membuka matanya menatap lekat wajah Neal yang juga sedang menatapnya,” saat waktu itu tiba... apakah kau  masih mau  mengingatku?... apakah kau mau menatap bulan disetiap purnama datang, karena saat itu aku juga akan menatapnya, aku akan sangat senang karena kita sedang menatap bulan yang sama  dan…

__ADS_1


Neal membungkam bibir Ara dengan bibirnya ia tidak ingin mendengar kelanjutnya, “Tidurlah ini sudah larut," bisik Neal pelan setelah melepaskan tautan bibirnya. Ara pun mengiyakan dan segera membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya, Neal pun membalutkan selimut menutup separuh tubuh istrinya, memberikan kecupan di kening istrinya  setelah itu ia pun melangkahkan kakinya ke kamar mandi, setelah langkah kaki Neal terasa jauh Ara pun membuka kembali matanya menatap punggung Neal sampai menghilang.


“Aku mencintaimu Neal, sangat mencintaimu, walaupun aku tak akan bisa memilikimu,” bisik Ara pelan sambil mengusap bibirnya.


****


Neal melangkah keluar dari walk in closet dengan baju santainya, dia pun mengambil botol yang berisi air putih  dari lemari pendingin yang ada dikamarnya, setelah meneguk  minuman itu ia kembali menyimpan botol yang tinggal separuh saja dan menutup kembali pintunya, perlahan ia melangkah ke tempat tidur dan merangkak naik dengan hati-hati karena takut membangunkan istrinya, tapi baru saja ia membaringkan tubuhnya, Ara pun memutar tubuhnya mengahap Neal dan menatapinya dengan mata sayunya,


“Kenapa masih belum tidur,” Neal berucap sambil melingkarkan tangannya di pinggang istrinya, Ara pun mendekatkan wajahnya depat di bawah lengan Neal.


“Neal... terima kasih kau sudah baik kepadaku," ucapnya pelan sambil mengusap pelan dada Neal.


Sejenak Neal menarik napas panjang, dulu ia memang memperlakukan Ara sangat buruk, ia sungguh menyesal bila mengingat semua perlakuannya itu, sungguh egois rasanya saat itu ia memarahi Ara karena bersedia


untuk menikah dengannya, ia merasa jijik  karena mengirah Ara wanita bayaran yang bersedia menikah dengannya  demi uang, karena memang mereka membayar Ara mahal saat ia bersedia menerima tawaran menikah sebagia pengantin pengantinya, Neal memang sangat tidak menyukai wanita mata duitan dan rela menjual tubuh  demi kesenangan dirinya, demi tas dan sepetu mahal dan beragam barang lainnya, tapi ternyata Ara bukanlah seorang ******, dirinyalah orang yang pertama bagi Ara, dan bahkan ia tidak sedikit pun menikmati uang itu.


“Maafkan aku dengan semua perlakuan burukku  padamu,” ucap Neal sambil mengusap lembut puncak kepala Ara.


“Dan juga perkataanku waktu itu,  maafkan aku... seharusnya aku tidak melakukannya, aku  tak tau harus bagaimana lagi menutupi rasa bersalahku padamu,  kau seharusnya memberikan yang pertama bagimu pada orang yang kau cintai... dan  maafkan aku karena telah mengambilnya darimu.”


“Kau orang yang aku cintai Neal,  aku telah memberikan pada orang yang tepat, “ bisik hati Ara sambil menundukkan kepalanya  menyembunyiakn wajahnya yang memerah jika teringat kejadian malam itu, melihat Ara yang terdiam Neal mengangkat dagunya,


“Besok belilah baju baru untuk pergi ke pesta kau sangat jarang sekali berbelanja.”


“Tidak … itu tidak perlu Neal, aku sudah memiliki banyak gaun, dan aku juga tak suka pergi belanja sendirian... sungguh membosankan.”


“Oh iya... hampir saja aku terlupa, mulai besok kau tak perlu lagi diantar oleh Peter karena aku sudah mencari penggantinya," imbuh Neal yang seketika membuat mata Ara membulat sempurna,


“Neal... kau memecat Peter...kau memecatnya gara-gara masalah kemarin? dia tidak bersalah aku yang memaksa untuk pergi,” jelas Ara sambil bergelayut di lengan  suaminya  wajahnya penuh rasa bersalah teringat akan Peter.


“Siapa yang memecatnya!" seru Neal. “Peter mulai besok kembali bekerja di perusahaan karena aku sangat membutuhkan tenaganya.” Menatap wajah Ara yang langsung berubah cerah kembali  setelah mendengar perkataannya.


“Peter akan menjadi sopir di perusahaanmu?”


Neal terkekeh mendengar perkataan istrinya, "jadi kau mengirah Peter itu seorang sopir... apakah kau melihatnya sangat cocok sebagai seorang sopir?”

__ADS_1


“Dulu aku juga heran karena dari penampilannya tidak seperti seorang sopir, tapi karena dia yang selalu mengantarku kemana – mana, jadi aku pikir dia itu sopir special,” imbuh Ara terkekeh.


"Sopir special?" tanya Neal mengernyitkan keningnya.


“Iya...karena ia terlalu keren untuk jadi seorang sopir," sahut Ara cepat.


“Jadi Peter itu keren, “ujar Neal memperlihatkan wajah tidak senangnya, Ara yang melihat perubahan wajah suaminya tersenyum manja sambil mendekap pipi Neal dengan kedua tanganya,


“Tapi kau lebih keren dari siapa pun!” seru Ara tersenyum lebar yang berhasil membuat senyum lebar di bibir suaminya.


“Aku lihat kau tidak memiliki seorang teman wanita, karena itu aku mencarikan seorang teman untukmu, dia yang akan mengantarmu kalau berpergian, jadi ajaklah ia besok untuk menemanimu berbelanja."


“Jadi pengganti Peter seorang wanita?”. Neal pun menganggukan kepalanya sehingga Ara bersorak senang,  namun tiba-tiba air mukanya berubah dan menatap suaminya serius, “kenapa menatapku seperti itu..!"


“Neal…dia tidak seperti Mark dan Peter bukan, yang hanya membuka mulut kalau aku ajak bicara, kalau tidak dia akan diam saja seperti patung, aku tak mau nanti ia juga seperti itu."


“Sekarang tidurlah..!" Perintah Neal mengusap wajah Ara dan menariknya selimut untuk menutupi tubuh mereka, “jangan pikirkan sekarang, tunggu saja besok kau akan bertemu dengannya," imbuh Neal sambil memejamkan matanya, Ara pun tak lagi bersuara ia hanya menatap wajah suaminya lalu ikut memejamkan matanya.


.


.


.


.


.


Bersambung.


Jangan lupa jempolnya ya👍


Dukungan Readers membuat Thor semangat untuk Up, jangan lupa jadiin favoritnya dengan pencet tanda❤


Maaf terkadang Up-nya terlambat, karena terkadang puasa bawaannya sedikit malas hehehe...😂

__ADS_1


tapi kalau dapat like dan komen banyak semoga malasnya hilang... (ngarep)


kwakwakkk😂😂


__ADS_2