Arabella Secret

Arabella Secret
Dia sudah kembali


__ADS_3

“Terima kasih Mark, aku baik-baik saja, aku akan menunggui istriku sampai ia terbangun, aku ingin orang yang pertama yang ia lihat saat ia membuka matanya.


Mark tak lagi bersuara sambil menatap Neal yang sepertinya masih enggan untuk berjauhan dari istrinya bahkan ia melihat Neal tak melepaskan genggaman tangannya dari tangan istrinya.


Ternyata cinta bisa melunakkan batu karang juga, kau tidak seperti Tuan Neal yang aku kenal. Jatuh cinta membuat pusing saja.


“Baiklah, aku sudah membawakan baju ganti untuk anda,” ucap Mark sambil menaruh kantong yang masih tergantung ditangannya di atas meja sofa yang ada di ruangan itu. Kamar perawatan Ara adalah kamar terbaik yang dimilki oleh rumah sakit, kamarnya luas dengan fasilitas yang lengkap ini terlihat bukan seperti kamar rumah sakit tapi seperti kamar hotel hanya peralatan medis yang ada disana yang membedakan dengan kamar hotel.


“Aku mandi dulu jagalah istriku sebentar,” ucap Neal lalu beranjak dari sisi  istrinya, Mark pun mengiyakan  menatap Neal mengambil kantong yang tadi ditaruhnya di atas meja lalu masuk ke kamar mandi. Mark


menaruk napas panjang, ia menagajak kakinya untuk mendekat ke kursi yang ada disamping Ara bekas tempat duduk Neal tadi, dan sekarang ia yang menggantikan posisinya. Mark menatap wajah Ara dengan mata terpejam seperti orang yang tidur begitu nyenyak. Tak berani menatap Ara lama Ia pun meraih ponselnya dari saku jasnya lalu menenggelamkan dirinya disana.


Neal kelur dari kamar mandi sudah berganti pakaian dengan kaos lengan panjang berwarna hitam dan celana jeans, sehabis  mandi membuat wajah tampannya terlihat lebih segar, satu tangannya menggosok rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil berwarna putih dan tangan satunya lagi membawa kantong bekas baju kotornya lalu kembali meletakan di tempat yang sama saat ia mengambilnya tadi.


Mark bangun dengan cepat begitu mendengar ketukan pintu kamar, pengantar makanan yang dipesan Mark sudah berdiri di depan pintu dengan dua tanganya tergantung dua kantong plastik dengan cepat Mark mengambilnya dan tak lupa mengucapkan terima kasih setelah membayar dan memberi tips kepadanya dan kembali menutup pintunya. Mark dengan sikap menyusun semua makanan  yang dipesannya di atas meja.


“Ayo Tuan, anda belum makan apa pun, nanti anda sakit siapa yang akan menjaga Nona,” bujuk Mark agar Neal mau memakan makannya, terakhir Neal makan saat mereka sarapan di hotel. Tanpa bicara Neal pun mendudukan tubuhnya di sofa tepat di depan Mark.


“Ayo temani aku,” ajak Neal lalu mulai menyupi makananya, Mark pun mengiyakan karean ia juga sudah lapar. Keduanya pun makan tanpa ada yang bicara.


****


Neal dan Mark baru saja menyelesaikan makannya Ketika Dokter datang berkunjung untuk memeriksa keadaan Ara, perawat yang datang bersama Dokter itu menyuntikkan obat pada infus Ara.


“Dokter , bagaimana keadaan istri saya, kenapa ia belum juga bangun,” Neal tak tahan untuk bertanya saat Dokter sudah selesao mengcek kondisi istrinya, melihat  istrinya belum sadar  membuatnya begitu kwatir.


“Tuan, kami sengaja membuat istri anda untuk tetap tertidur untuk mengurangi rasa sakitnya, kondisnya masih terlalu lemah karena begitu banyak kehilangan darah karena luka di kepala dan juga pendarahan karena keguguran.”


“Anda tidak perlu kwatir istri anda mendapatkan perawat terbaik dari rumah sakit ini, setelah istri anda bangun berikan ia semangat karena ia akan terpukul begitu tau kalau sudah kehilangan bayinya, dukungan Anda akan membuatnya untuk cepat pulih dan membaik. Neal pun menganggukan kepalanya pelan, Dokter itu segera pamit begitu ia selesai.


Setelah Dokter itu pergi Mark pun segera pamit pada Neal, ini sudah larut malam Neal dan Ara butuh istrirahat begitu pun dengan tubuhnya yang juga sudah sangat lelah, Mark pun segera meluncurkan mobilnya menuju


apartemennya, sekitar dua puluh menit ia sampai, ia pun segera memarkirkan mobilnya.


Mark meregakan tubuhnya sambil berjalan menuju lift, ia segera menekan angka 10 pada tombol lift, beberapa menit berada di dalamnya akhirnya lift berhenti dan pintunya segera terbuka Mark segera melangkahkan kakinya keluar menuju pintu apartemennya, Mark mengernyit heran melihat seseorang sedang bersandar di pintu apartemennya, ia tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya karena ia menundukan wajahnya rambut panjangnya terjuntai menutupi kakinya, Mark melangkah dengan waspada.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan di depan apartemenku!” seru Mark.


Ia dengan cepat mengangkat wajahnya begitu mendengar suara Mark, bukannya takut ia malah  tersenyum lebar membuat  wajah cantiknya semakin bertambah cantik ,” Kau sudah datang, aku hampir bosan menunggumu." Natasya berkata sambil bangkit dari duduknya, tapi berulang kali ia mencoba untuk bangun tapi tidak berhasil tentu saja ia tidak bisa melakukannya karena ia sedang mabuk.


“Cepat pulang, aku ingin istirahat,” usir Mark kesal sambil melipat kedua tanganya ke dadanya matanya tak lepas mengawasi Natasya dengan tajam.


Natasya mencoba bangkit dengan menggantungkan kedua tanganya di pintu Apartemen Mark sambil tertawa, dan akhirnya ia pun berhasil bangun sambil menyandarkan tubuhnya di depan pintu.


“Minggir aku ingin masuk!”


“Natasya menggeser sedikit tubuhnya memberikan ruang pada Mark untuk mengakses sandi masuk ke Apartemennya, kesempatan itu digunakan Natasya untuk mengintipnya, begitu pintu terbuka ia menyelonong masuk duluan dan tidak memperdulikan  teriakan keras Mark padanya.


‘Keluar dari Apartemenku!”


“Aku malam ini menginap ditempatmu saja ya,” ucap Natasya melangkah dengan tubuh sempoyongan.


“Tidak! Dengan cepat Mark menarik tangan Natasya keluar dari apartemennya, ia tidak memperdulikan teriakan Natasay yang tidak ingin pergi, begitu sampai di pintu ia bergantung dengan kuat disana.


“Aku tidak mau pulang, apa kau tidak kasihan padaku aku tidak membawa mobil kesini, bagimana kalau ada penjahat yang menggangguku dan memperkosaku,” rengek Natasya dengan nada memaksa.


“Kakak…kau jahat sekali, aku tidak akan pulang aku akan tidur di depan pintu apartemenmu,” ancam Natasay sambil menangis kedua tangannya memukul-mukul pintu apartemen, Mark yang tidak peduli terus melangkah ke


kamarnya lalu masuk ke kamar mandi,  ia segera melepaskan semua pakaiannya dan segera mendinginkan kepalanya di bawah shower, kedatangan Natasay ke apartemenya sungguh membuatnya pusing dan juga sangat jengkel.


“Dari mana ia tau alamat Apartemenku, jangan-jangan dia sudah memata-mataiku, “ bathin Mark sambil mendinginkan tubuhnya di bawah shower.


Mark segera membaringkan tubuhnya di kasurnya yang empuk, setelah berganti dengan pakaian santai celana pendek katun dan kaos oblong putih, tubuhnya yang kaku merasa begitu nyaman, ia segera memejamkan kedua matanya, baru saja akan pindah ke alam mimpinya ia teringat akan ancaman Natasya,” bagaimana kalau gadis gila itu benar-benar tidur di depan pintu apartemenku,” bathin Mark. “ Terserah apa peduliku,” maki Mark kesal lalu kembali memejamkan kedua matanya, tapi ancaman Natasya dan juga teringat kata-katanya bagaimana kalau


gadis itu pulang dan ia diganggu penjahat, walaupun ia begitu  mengesalakan tapi ia tetap adik dari temannya.


Mark memukul kesal kasurnya lalu beranjak bangun dari sana, dengan langkah tergesa ia keluar dari kamar menuju pintu keluar apartemennya.


Clek..!


Begitu pintu terbuka tubuh seseorang yang sudah tertidur ikut terdorong masuk kesana, Mark berdecak kesal melihat Natasya yang begitu keras kepala dan tidak main-main dengan ancamannya.

__ADS_1


“Bagiaman bisa gadis bodoh ini tidur ditempat seperti ini, bagaiman kalau ada yang menariknya masuk kesalah satu apartemen disini,” dengus Mark kesal. Ia pun segera mengangkat tubuh Natasya dan membawanya masuk karena ia tidak punya pilihan lain, dengan hati-hati Mark menurunkan tubuh Natasya di sofa ruang tamunya, ia melepaskan sepatu yang masih melekat di kaki jenjangnya dan meletakkan tasnya di meja di samping sofa, ia beranjak ke kamar untuk mengambilkan selimut lalu segera kembali dan menyelimutinyake tubuh Natasaya yang sudah tertidur seperti orang mati saja. Setelah itu ia pun segera kembali ke kamarnya.


****


Dering nada ponsel Neal terdengan begitu nyaring sehinga membuatnya terbangun, Neal membuka matanya dengan malas karena rasa kantuk masih menyerangnya, Neal menyipitkan kedua matanya karena silau oleh cahaya dari layar ponselnya, Neal segera menjawabnya begitu melihat panggilan dari papa Anara.


“Hallo,selamat pagi papa, “ sapa Neal sambil menguap. Secepat kilat Neal bangun  dari tidurnya dengan wajah menegang.


“Apa Anara sudah bangun!” ulang Neal kencang.


Dengan cepat Neal bangun dari duduknya ia melirik sekilas pada tempat tidur Ara ia melihat Ara masih tertidur dengan langkah cepat ia keluar dari kamar.


 Bagitu Neal keluar dari kamar, Arabella segera membuka matanya bersamaman dengan jatuhnya bulir


air mata di pipinya, ia  terbangun saat mendengar deringan ponsel yang sangat mengannagu telinganya, ia tersenyum melihat Neal duudk di sofa sambil berbicara lewat ponselnya, tapi begitu ia mendnegar ucapan Neal dengan cepat ia kembali menutup matanya.  Ara menangkupkan kedua telapak tangannya menutupi wajahnya, isakannya semakin keras,” Anara sudah bangun Neal, wanita yang kau cintai sudah bangun,” lirih Ara diselah tangisnya.


.


.


.


.


Bersambung


Jangan lupa likenya readers


komen manisnya juga, 😂😂


selamat membaca semoga semua menyukainya🙏🙏


Masih suasana lebaran ya


mohon maaf lahir & batin 🙏🙏❤

__ADS_1


__ADS_2