Arabella Secret

Arabella Secret
Masih di kelilingi oleh orang yang mencintainya


__ADS_3

Malam semakin larut dan udara yang semakin dingin Ara memutuskan untuk meninggalkan balkon ia segera masuk ke dalam kamar, ia ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci wajahnya, saat ia keluar dari kamar mandi bersamaan dengan terbukanya pintu kamarnya, Ara menghentikan sejenak langkahnya melihat suaminya masuk ke kamar, ia meneguk ludahnya karena merasa gugup, Neal dengan santai membuka jasnya dan melemparkan ke sofa, sambil berjalan kearah kamar mandi  ia membuka dasinya dan melemparkan asal, Ara segera bergerak menjauh dari kamar mandi , ketika mereka berselisih Neal menghentikan langkahnya,


“Tidak perlu berbasa-basi melayaniku , kau hanya wanita pengganti , setelah peranmu selesai kau akan segera aku tendang keluar dari rumah ini, jadi jangan bersikap sok manis di depanku, kamu hanya ****** yang


dibayar jangan pernah berharap lebih!" seru Neal lalu masuk ke kamar mandi.


Ara meremas kuat  jari tangannya mendengar perkataan Neal, ia sudah terbiasa di hina tapi ia sungguh tidak terima di katakan ******, itu sangat melukai dirinya, Ara melangkah pelan


dengan air mata yang bergulir di pipinya, ia naik ke tempat tidur, ia menutup seluruh tubuhnya sehingga hanya meninggalkan kepalanya saja.


******


Neal mengguyur tubuhnya di bawah shower, ia ingin air itu mengikis semua pikiran yang bergelayut di kepalanya, ia mengusap kasar


wajahnya, kemudian ia memukul dinding kamar mandi dengan tangannya, “ kenapa


masalah ini bisa serumit ini, sungguh aku tidak ingin kasar kepada wanita itu,


tapi kenapa aku tidak bisa mengendalikan amarahku setiap melihatnya," bathin


Neal menahan amarahnya.


Neal tidak tahu sudah berapa lama ia menghabiskan waktu di kamar mandi, ia segera keluar menuju walk in closet untuk memakai piyamanya, setelahnya ia pun segera membaringkan tubuhnya di ranjang dengan posisi memunggungi Ara, karena kelelahan tak berapa lama ia pun tertidur.


****


Neal turun dengan pakaian rapi, ia sedikit kaget melihat mommynya  ada di meja makan, Maria memperhatikan Neal yang turun hanya sendirian


“Mana Ara Neal?" tanya Maria. Tapi tak ada jawaban dari Neal.


“Sarah! teriak Maria, dengan tergesa - gesa Sarah menghadap majikannya itu.


“Ada apa Nyonya?"


“ Panggil Ara turun untuk sarapan," ucap Maria, Sarah pun mengiyakan dan dengan langkah cepat ia segera menuju lantai dua menuju kamar Ara.


Maria menatap tajam Neal yang sedang sarapan, tapi Neal cuek seakan tak terjadi apa-apa.


“Apakah begini caramu memperlakukan orang yang telah membantu kita Neal," ucap Maria penuh penekanan. Tak ada tanggapan dari Neal ia tetap melanjutkan makannya.

__ADS_1


“Mommy memanggilnya kesini karena mommy yang memaksanya, apakah kamu ingin memberi tahu dunia keadaan sebenarnya Neal," Imbuh Maria kesal, tapi tetap tak ada jawaban dari Neal, melihat Neal yang diam Maria bertambah kesal.


“ Perlakukan Ara dengan baik selama ia masih menjadi istrimu, kalau tidak...


“Kalau tidak apa Mom, Mommy ingin mengancamku," potong Neal menatap Mommynya tajam.


“Mommy akan membawa Ara kembali ke Tyumen, silahkan kamu umumkan pada dunia keadaan sebenarnya, silahkan permalukan keluarga besar kita dan keluarga Anara," ucap Maria penuh penekanan.


Neal terdiam mendengar berkataan Mommynya, saat bersamaan


Ara tiba di meja makan, ia menatap Neal yang juga sedang menatapnya tajam seakan menembus tubuhnya, melihat kedatangan Ara dengan penuh kasih sayang Maria menyapanya,


“Sayang ayo kita sarapan," ajak Maria lembut.


“Iya Nyonya," ucap Ara sambil mendekat ke meja makan lalu mendudukan tubuhnya tepat di depan Neal.


“Sayang... panggil Mommy, sahut Maria tak suka dengan panggilan Ara barusan, Ara pun menganggukan kepala sambil tersenyum kikuk, sambil melirik Neal sekilas, dan ternyata ia masih menatapnya dengan pandangan setajam tadi kemudian segera bangun dari duduknya, ia pun pamit pada Mommynya tanpa sedikit pun menyapa Ara.


“Maafkan sikap Neal  Ara, jangan masukan ke hati," ucap Maria setelah Neal pergi.


“Iya mom," sahut Ara pelan.


kenalnya,  sabar ya sayang," tambah Maria,


Ara pun mengiyakan dengan menganggukan kepalanya pelan.


Mereka pun melanjukan sarapannya tanpa berbicara lagi.


*****


Maria mengajak Ara untuk mengobrol di ruang keluarga, Ara juga tidak tahu kenapa Maria mengajaknya kesana.


“Sayang kamu tidak mungkin akan berdiam diri di rumah sepanjang hari, lakukanlah kegiatan yang dapat mengusir kebosananmu," ucap Maria begitu mereka duduk di sofa.


“Apakah aku boleh melakukan itu Mom?" tanya Ara dengan mata berbinar. Maria tersenyum melihat Ara yang terlihat begitu senang, ia pun menganggukan kepalanya.


“Banyak hal dari dulu yang ingin aku lakukan, aku ingin belajar music karena aku sangat menyukai music," sahut Ara antusias


“Tapi..

__ADS_1


“Kenapa sayang? " tanya Maria memandang lekat wajah cantik menantunya itu.


“Apakah aku boleh mengikutinya jadi diriku sendiri , karena kalau aku jadi Anara orang-orang akan merasa aneh," sahut Ara pelan sambil menatap balik mertuanya.


“Apa maksudnya sayang?" Tanya Maria heran.


“Aku tidak ingin ada pengawalan, aku yakin tidak akan ada orang yang akan mengenaliku Mommy.


“Baiklah tapi kamu harus bisa menjaga diri," ujar Maria menyerah.


“Terima kasih Mom," ucap Ara memeluk Maria tanpa sadar, tapi begitu tersadar ia berniat melepaskan pelukannya tapi di tahan oleh Maria, ia semakin mempererat pelukannya pada Ara.


“Jangan lepaskan sayang, jangan sungkan kau putriku juga, karena kau sekarang adalah menantuku," papar Maria.


“Terima kasih Mom," ucap Ara terharu.


“ Kamu sudah mengunjungi Anara?" Tanya Maria.


“sudah Mom...aku sungguh tidak menyangkah akan bertemu dengan


seseorang yang memiliki wajah yang sangat mirip denganku," sahut Ara menatap kosong.


“Bukan hanya kamu, kami semua juga tidak menyangkah, ini semua sudah kehendak Tuhan," ucap Maria lembut sambil mengusap rambut menantunya itu lembut.


“Sekarang lakukanlah semua hal yang ingin kamu lakukan, saatnya kamu menikmati hidupmu nak," tambah Maria.


Dari kecil ia selalu hidup dalam kesusahan, kini Tuhan memberinya kehidupannya yang tidak pernah di bayangkah sebelumnya, walaupun ini sejenak sampai tugasnya berakhir. Mungkin ia tidak mendapatkan perlakuan baik dari suaminya, tetapi ia bersyukur karena banyak mendapat cinta  dari orang disekitarnya


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2