Arabella Secret

Arabella Secret
Gundah


__ADS_3

Natasya duduk melamun sambil bertopang dagu di meja kerjanya, matanya nanar menatap keluar jendela ruang kerjanya. Sudah lebih satu bulan ia tinggal bersama Mark tapi tidak ada kemajuan dalam hubungannya apalagi Mark memang sepertinya tak berniat sedikit pun membuka hatinya untuk dirinya.


Natasya menarik napas panjang sambil mengubah posisi duduknya lalu menyandarkan tubuhnya pada kursi,


tatapannya berpindah pada bingkai foto di depannya, Natsya menjangkau fotonya tanpa melepaskan tatapannya.


“Kenapa sulit sekali aku mendapatkan hatimu, kau tau betapa tersiksanya diriku karena cinta tak terbalas ini, aku langsung jatuh cinta saat pertama kali bertemu denganmu dua tahun lalu, coba kau bayangkan betapa itu sangat menyakitkan bagiku menahan perasanku dalam waktu yang tidak sebentar. Coba kau berada di posisiku sebentar saja.”


Natasya membelai bingkai foto itu dengan lembut lalu kembali meletakannya di tempat semula, ia menarik beberpa lembar tissue di depannya untuk menghapus air matanya. Walaupun ini sangat berat tapi ia akan terus berjuang, ia memiliki waktu beberapa minggu lagi jika Mark memang tak bisa mencintaiya ia akan mundur dan tak akan menganggunya


lagi, jika memang perasaan tidak bisa di paksa ia akan menyerah.


****


Dengan langkah besar Mark bergegas menuju ruangan Neal  setelah mengetuk pintu ia pun masuk, ia terus melangkah ke meja Neal yang terlihat sibuk dengan setumpuk berkas di mejanya. Melihat kedatangan Mark ia pun menangguhkan kerjanya.


“Tuan maaf menggangumu sebentar, anda harus melihat ini Tuan.” Ucap Mark sambil menyerahkan ipad  ditangannya. Kening Neal langsung berkerut saat melihat foto dilayar telpon pintar itu, ia pun segera mengambil Ipad itu dengan cepat. Kerutan di kening Neal semakin terlihat saat membaca berita didalamnya. Umpatan kesal keluar dari mulut Neal sambil meletakan ipad itu asal.


“Kau sudah tau apa yang akan kau lakukan Mark, aku tidak ingin berita ini di hapus sekarang juga jangan sampai istriku membacanya.” Neal berkata dengan nada gusar.


“Iya Tuan, saya permisi.” Mark pun pergi meninggalkan ruangan Neal dengan tergesa. Sementara Neal terlihat begitu gusar dan gelisah, ia telah berusaha menyimpan dengan apik tentang keberadaan istrinya tapi ternyata masih saja ada wartawan yang dapat


mengambil fotonya, mereka bahkan mengambil beberapa gambarnya dengan Ara di tempat yang berbeda.


Tentu saja ini akan mejadi berita besar kalau ia tidak bertindak cepat, semua orang tau kalau istrinya sudah meninggal, melihat foto dirinya bersama Ara muncul tiba-tiba tentu akan sangat mengejutkan publik dan akan menjadi sasaran empuk pemburu berita. Neal tidak berniat untuk menyembunyikan


pernikahannya tapi ia sedang mencari waktu yang tepat untuk membawa istrinya ke


publik.


Neal mengusap wajahnyakasar bagiamana kalau nanti Ara terlanjur membacanya, tentu saja ini akan menjadi masalah besar baginya, tentu saja ia tidak akan pernah sanggup


kehilangan istrinya untuk kedua kalinya, itu sama saja dengan membunuhnya. Sering


gan suara ponselnya membuat Neal


tersentak wajahnya pun menegang dengan cepat ia meraih ponselnya di atas meja kerjanya, ia menarik napas lega saat melihat


nama yang tertera di layer ponselnya.


“Iya Daniel,” sapa Neal dengan suara terdengar sedikit lemas.

__ADS_1


“Aku baru saja  membaca pemberitaan tentangmu dan Ara disalah satu berita online, aku hanya ingin bertanya, apakah kau sudah menceritakan kebenarannya kepadanya,”


“Belum, aku belum memberitahunya, karena aku harus sedang menunggu saat yang tepat untuk membicarakanini padanya, kau tau aku tidak ingin ia menyalahhkan dirinya atas kematian Anara, karena aku lebih memilih dirinya.”


Untuk sesaat eduanya pun terdiam, Daniel juga tau bagaimana posisi Neal, ia baru saja memperbaiki hubungannya dengan istrinya dan tentu saja kabar ini akan membuatnya tertekan, hati Ara yang rapuh akan mempersulit keadaan.


“Kau tak bisa terlalu lama menunggu dan menyembunyikan ini dari istrimu, kau mungkin saja bisa menghentikan semua pemberitaan ini atau apa pun bisa kau lakukan, tapi akan ada pemburu berita lain yang terus penasarandengan kebenarannya, aku yakin mereka tak akan pernah berhenti. Lebih baik Ara tau dari mulutmu sendiri dari pada ia mendengarnya dari orang lain karena itu akan lebih menyakitinya."


“Iya aku tau, pasti aku akan


menjelaskan semuanya pada Ara,” sahut Neal pelan. Ia tidak menyangkal apa yang dikatakan oleh Daniel karena apa yang dikatakan itu benar.


“Lebih cepat lebih baik.” Lanjut Daniel lagi sebelum mereka mengakhiri panggilannya.


 


Neal menumpuhkan kedua sikunya diatas meja lalu menangkupkan wajahnya kedalam telapak tanganya sambil mengusapnya pelan kewajahnya. Ia harus menyususun alasan yang tepat agar istrinya dapat menerima alasan yang tidak menyudutkan dirinya.


****


Mata Neal langsung tertuju pada istrinya yang sedang berbaring di tempat tidur, ia pun melangkah mendekati istrinya lalu duduk di sisi ranjang, memandangi wajah istrinya yang tengah tertidur, menikmati wajahnya yang tetap cantik meskipun tengan tertidur, selalu ada ketenangan setiap ia menatap istrinya, kedua sudut bibir Neal terangkat membentuk  sebuah senyuman, perlahan Neal menyentuh


wajah itu lalu membelaianya  pipinya dengan penuh kasih sayang.


“Sayang,” sapa Ara dengan suara masih lemas.


“Maaf aku membangunkanmu sayang,,’ ucap Neal lembut lalu mengecup kening istrinya.


“Tidak apa-apa, sebenarnya tadi aku berniat membaca buku, tapi tidak tau kenapa aku malah tertidur,” ucap Ara terkekeh dengan manja sambil memainkan jari - jari tangan suaminya. Neal pun melirik sebuah buku yang terjatuh  disamping istrinya.


“Lanjutkan saja tidurmu, aku  mandi dulu.” Neal berucap sambil bangkit dari duduknya.


“Aku sudah tidak mengantuk lagi,”balas Ara manja sambil bangun dari tidurnya.


"Pergilahlah mandi aku akan mengambilkan baju ganti untukmu.”


Neal pun menyahut sambil terus melangkah ke kamar mandi, Ara pun bergegas menuju walk in closet mengambilkan baju santai untuk suaminya.


****


Mark  masuk ke dalam apartemennya melihat ruangan yang gelap ia pun menyalahkan lampunya, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamarnya, ia membuka pintu kamar dan kamar terlihat sangat gelap tak satu pun

__ADS_1


ada penerang.


“Tumben sekali ia tidur dalam gelap gulita seperti ini, padahal ia takut kegelapan,” decih Mark sambil menyalahkan lampu kamarnya. Tapi begitu ia melirik ke tempat tidur ia tidak


menemuhkan Natsya disana.


“Kemana  perginya tikus kecil itu jam segini belum pulang. Tapi baguslah aku bisa tidur bebas di ranjangku.”


Mark pun menerusakan langkahnya ke kamar mandi untuk membersikan tubuhnya, selesai mandi ia pun berganti dengan pakaian santainya celana catton selutut dengan kaos putih polos, ia keluar dari walk in closet sambil menggosok rambutnya yang masih basah lalu berajak mengambil botol air mineral di atas nakas, ia membuka segelnya lalu meneguk minuman itu hingga menyisahkan setengahnya, ia meletakan kembali botolnya sambil melirik jam dinding dikamarnya yang sudah menunjukan pukul duabelas malam. Ia kembali ke kamar mandi untuk meletakakn handuknya kembali.


****


Mark naik ke tempat tidur sambil membawa sebuah buku di tangannya, ia duduk berselunjur dan menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidurnya dan mulai membaca bukunya. Cukup lama ia


membaca hingga ia pun mulai terserang kantuk, ia pun menutup buku ditangannya


sambil melirik jam, sudah lewat pukul satu dini hari. Ia melirik sisi ranjang disebelahnya yang biasa di tempati oleh Natasya.


"Kemana dia, kenapa jam segini belum pulang.”


Walaupun semula ia senang tak menemukan Natsya saat ia pulang dan berharap wanita itu tidak usah kembali ke tempatnya tapi ia tidak dapat memungkiri kalau di hatinya terselip sedikit kekwatiran, apalagi selama satu bulan tinggal bersamanya ia tidak pernah melihat Natasya pulang selarut ini.


Mark beranjak turun dari tempat tidurnya lalu keluar dari kamarnya, ia pun turun kembali ke ruang tamu, apakah Natasya sudah pulang dan tertidur disana, tapi ia juga tidak


menemukannya disana ia pun kembali ke kamar.


Mark mengambil ponselnya di atas nakas, ia pun mencari nomor Natsya di ponselnya, ada sedikit keraguan di wajahnya saat ia akan menekan icon hijau itu. Mark mengumpat kesal saat ia memutusakan untuk menghubungi Natasya, terdengar sambungan dari sebrang tapi tidak ada yang mengangkatnya , Mark mencobanya sekali lagi dan akhirnya ia pun terhubung.


“Hallo.”


Mendengar suara seorang pria mengangkat ponsel Natsya membuat Neal terkejut.


“ Anda siapa?”


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


Selamat membaca 🙏🙏


__ADS_2