
Gelak dan tawa Ara memenuhi ruangan dapur yang kecil, ia dan Cory sedang memasak makan siang untuk
mereka bertiga.Tiap sebentar ia memeluk dan mencium ibunya sekana rasa rindu itu belum juga berkurang. Cory yang terlihat sangat bahagia menimpali ocehan putrinya yang terkadang membuatnya tak tahan menahan tawanya ketika Ara menggodanya dengan cerita-cerita lucu. Neal berdiri tak jauh dari sana ia terus menatap
wajah cantik istrinya yang begitu riang dan terlihat sangat bahagia.
Dari rumah kecil mungil yang dimiliki oleh istrinya bahkan ukuran kamarnya jauh lebih luas, betapa sederhana hidup yang dijalani Ara selama ini. Ia mengerjapkan matanya yang tiba-tiba berkaca-kaca mengingat semua itu.
Sayang, setelah ini tak aka nada penderitaan itu, aku bersumpah akan selalu memberikan kebahagian kepadamu, aku akan mengganti seperempat abad hidupmu yang kau lewati dengan menderita. Tak akan aku biarkan air mata kesedihan membasahi wajah cantikmu. Jika aku punya kuasa ingin aku menghapus setiap luka yang pernah tertoreh di hatimu.
“Sayang…”
Lamunan Neal terhenti ketika terdengar suara istrinya memanggilnya sambil melambaikn tangannya mengajaknya untuk mendekat bergabung bersamanya,ia pun menghampiri istrinya yang sedang berdiri di sampan meja makan.
“Ayo kita makan siang,” ajak Ara menarik tangan suaminya begitu mendekat dan menarik sebuah kursi
untuknya, Neal pun menurut dan mendudkan tubuhnya disana dan Ara pun mendudukan tubuhnya disebelahnya.
Ara mengisih piring suaminya dengan menu makan siang mereka dan mengisi gelas dengan air putih lalu meletakan di depan suaminya, kemudia ia mengambilkan makanan untuk ibunya dan dirinya sendiri. Mereka pun memulai makan siang dengan suasana penuh kebahagiaan dan kehangatan, Cory mengulum senyum bahagia melihat Neal menyuapi Ara tanpa canggung seakan ia sudah terbiasa melakukannya, tiada kebahagian melebihi ini melihat anaknya begitu dicintai oleh suaminya.
****
Ara duduk diatas sofa sambil mengemas beberapa helai pakaiannya dan juga pakaian untuk Neal karena ia
ingin malam ini menginap ditempat ibunya Ara, tentu saja ia sangat senang dapat menginap di rumahnya. Ara hanya meragukan suaminya karena takut rumahnya tidak nyaman untuk ditepati Neal. Suaminya lahir dari keluarga kaya raya dari kecil selalu merasakan hidup mewah tinggal di rumah yang besar, kamar yang luas dan kasur yang nyaman tentu saja itu semua kebalikan dari rumahnya.
Ara menatap suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk berwarna putih melilit
dipinggangnya, rambutnya yang basah membuat ait menetes membasahi tubuh atletisnya, walaupun hampir setiap hari melihat pemandangan seperti itu masih saja membuat Ara terpesona, benda kenyal yang menempel dibibirnya dan mulai ******* bibirnya dengan lembut membuatnya tersadar.
“Berhentilah menatapku seperti itu sayang, itu seolah panggilan untukku membuatmu menjeritkan namaku sayang,” bisik Neal dengan suara menggoda setelah melepaskan tautan bibir mereka, hal itu berhasil membuat sembrutan merah diwajah cantik istrinya.
“Berhentilah malu-malu seperti itu kalau tak ingin aku menjadikanmu santapan pembuka soreku sayang.”
“Sayang, kau yakin kita menginap ditempat ibu,” Ara kembali bertanya menatap suaminya berjalan menggambil pakaian yang sudah ia siapkan ditempat tidur.
“Berapa kali harus aku ulangi sayang,ehm. Berhentilah meragukan suamimu ini sayang semua akan
baik-baik saja,” sahut Neal sambil menyorongkan baju kaosnya berwarna biru tua.
“Baiklah,” ucap Ara mengedikan bahunya. Ia beranjak dari sofa mengambil baju gantinya dan berjalan
ke kamar mandi karena ia juga ingin membersihkan tubuhnya.
Ara keluar dari kamar mandi dan sudah berganti baju, ia menatap suaminya yang sudah tampan maksimal
dengan kaos berkra berwarna biru tua di padu celana Jeans dengan warna senada, sepatu kets warna putih menyempurnakan penampilannya. Ara membiarkan suaminya yang sibuk dengan ipad ditangannya, ia merias wajahnya memoleskan make up tipis di wajahnya, ia membiarkan rambut panjangnya tergerai indah. Ketiak ia akan
memberskan perlengkapan make upnya ia merasakan tangan besar suaminya memeluknya dari belakang , ia menyampirkan rambuh Ara kesamping lalu mengecup pundak Ara yang terbuka karena hanya di tutupi tali kecil gaunya.
“Istriku cantik sekali,” bisik Neal mesra sambil menatap bayangan istrinya dari balik cermin.
Ara memang sengaja memakai gaun dengan warna senada dengan suaminya, membuat
__ADS_1
kulit putihnya bersinar dibalik gaunnya. Telapak tangan Neal mengusap lembut
perut istrinya membuat senyum lebar dibibir istrinya, Ara mengangkat wajahnya
mengecup ppi Neal mesra.
****
Mobil yang dikemudikan Neal membelah jalanan yang lumayan ramai, Neal mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang, sekitar dua puluh menit Neal menghentikan mobilnya dihalaman parkir semua taman yang sangat ingin dikunjungi Ara. Setelah memarkirkan mobil keduanya pun turun, dan berjalan sambil bergantengan tangan menikmati sore ditaman kota yang selalu ramai di waktu pagi dan sore hari.
“Kau sering datang kesini.” Neal bertanya sambil mengedarkan pandangannya sekeliling taman yang tampak indah tak kalah indah dengan taman di kota Moskow.
“Iya, Tempat ini sangat nyaman untuk menghilangkah rasa jemu setelah seharian bekerja.”
“Sayang ayo kita duduk disana,” ajak Ara menarik tangan suaminya saat melihat sebuah bangku taman
dibawah pohon yang rindang tepat di depannya ada air mancur.
“Kau datang bersama siapa.” Tanya Neal begitu mendudkan tubuhnya disana.
"Terkadang sendirian saja tapi aku lebih sering pergi bersama temanku,” Ara berkata sambil menatap
anak kecil yang terlihat asik beramin dengan air dalam kolam.
“Teman pria atau wanita.”
Ara mengalihkan tatapannya pada suaminya yang ternyata juga sedang menatapnya, Ara tersenyum
lebar melihat tatapan mata suaminya yang terlihat aneh baginya, entah apa yang sedang terpikir dikepala suaminya itu.
raut wajah suaminya dan benar saja, ia menatap Ara dengan wajah datarnya menunjukan ia terganggu dengan jawaban yang barusan ia berikan. Ara tausuaminya sedang kesal semakin berminat untuk mengodanya ingin melihat apakah suaminya bisa cemburu juga.
“Berapakah kali kau datang dengan teman priamu..” terdengar suara Neal begitu dingin dengan sorot
mata setajam samurai, bukannya takut justru membuat Ara geli karena baru pertama kali ia melihat sikap Neal
yang telihat berlebihan, antara marah, cemburu dan kesal.
“Aku tidak menghitungnya sayang,” jawab Ara mengusap lembut dada suaminya dan menatap
mesra pada Neal sambil menggigit bibir bawahnya.
“Berapa kekasih yang kau miliki sampai kau tidak bisa menghitungnya.” Rahang Neal mengeras menahan
tekana ucapannya dengan sorot mata yang masih tetap sama saat menatap istrinya. Ara masih ingin menggoda suaminya walaupun ia tau suaminya sudah mulai mau meledak.
"Aku tidak pernah memiliki seorang kekasih sayang,” Ara mengelus lembut rahang suaminya lalu
jarinya berhenti dibibir Neal, jelas sekali ia ingin mengoda suaminya yang sedang terbakar api cemburu.
“Jangan coba merayuku Honey.” Neal memegang tangan istrinya yang mengusap bibirnya dengan lembut
membuat sesuatu sesuatu dalam dirinya merasa terpancing apalgi istrinya sedang menatapnya dengan tatapan yang sangat menggoda, padahal hatinya begitu panas saat mendengar istrinya pernah jalan dengan lelaki lain.
__ADS_1
“Kau tidak sedang berbohong, benar kau tidak pernah memiliki seorang kekasih sebelumnya.” Neal masih meragukan ucapan istrinya, ia heran kenapa harus sekesal ini pada hal itu hanya bagian dari masa lalu istrinya, tapi hatinya tidak rela saja jika Ara pernah membagi bibirnya yang manis itu dengan pria lain ataupun menyantuh tubuh
istrinya walaupun ia tau dia adalah orang pertama bagi Ara.
Ara mengecup bibir neal singkat lalu menyentuh bibir itu dan menatap intens manic gelap suaminya,” bibir ini yang pertama kali menciumku, dan tangan ini yang pertama kali menyentuh tubuhku.” Ucap Ara sambil menyentuh lembut jemari suaminya lalu mengaitkan jemarinya disana.
Neal terus menatap manic coklat muda didepannya tangannya merapikan berapa helai rambut yang
menutupi wajah istrinya,” dan selamanya hanya aku yang boleh menyentuhmu sayang, aku akan memotong tangan pria yang mencoba menyentuh wanitaku.” Ara membalas ucapan Neal dengan memeluk tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di dadanya, Neal mengusap rambut istrinya lembut dan seselai mengciumnya
menyalurkan rasa cinta yang besar dalam dirinya.
“Sayang, aku ingin es cream.” Ara menjauhak kepalanya sambil menunjuk seorang pedagang es cream tyang
jauh dari tempat mereka duduk.
“Tunggulah sebentar, aku akan membelikan untukmu sayang.” Ara menatap punggung suaminya yang
berjalan menghampiri pedagang es cream, Ara menatapnya dengan mata memuja
karena wajah tampan suaminya yang sungguh menyenagkan mata, dan tatapn memuja
itu seprtinya tidak dari Ara saja, beberapa wanita yang berada disana juga
memperhatikan suaminya terpesona dengan ketampanan yang dimiliki Neal.
Beberapa wanita terlihat mengikuti Neal ikut membeli es cream, mencoba memancing Neal dengan
menatapnya dengan sorot mata jelas sekali mengoda, Ara hanya tertawa kecil jangankan tergoda melirik saja pun ia tidak.
“Arabella…”
Ara menolehkan wajahnya ketika mendengar seseorang memanggil namanya, Ara terkesiap melihat sosok yang
berdiri di depannya walaupun sudah lama tidak bertemu tapi ia tidak mungkin melupakan wajah didepannya saat ini, mereka bersahabat sejak senior high school.
“Edward.” Sapa Ara tersenyum senang begitu pun dengan Edward binar gembira jelas terlihat di matanya. Sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan Ara semenjak mereka tamat sekolah dan Edward melanjutkan studinya ke luar negeri.
“Apa kabarmu Ara,”Edwar bertanya sambil mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Ara dengan
senang hati.”Baik. baik sekali bagaimana denganmu.”
“Seperti yang kau lihat,” balas Edwar tertawa kecil dan Ara pun ikut tertawa.
Sementara Neal yang baru saja selesai membayar es cream segera berbalik, ia menghentikan langkahnya saat melihat istrinya berbicara dengan seorang pria, mereka terlihat sangat akrab bahkan istrinya tertawa sangat lepas saat mengobrol dengannya. Neal kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertahan tanpa melepaskan tatapannya sedikit pun.
.
.
.
..
__ADS_1
Bersambung