
Pagi ini ruangan Darren ramai dengan suara-suara sopran yang kadang berubah menjadi bariton jika pemiliknya lupa karena lepas kendali. Roki Sang Desainer sekaligus penata busana dan Rui Sang Penata Rias, keduanya terlibat adu mulut di dalam ruangan Darren. Perbedaan pendapat tentang tema talkshow yang akan dihadiri Darren yang menjadi penyebabnya.
Abigail memijat pangkal hidungnya. Suara kedua orang itu benar-benar membuatnya pening. Darren dan Trias yang sudah terbiasa hanya berdiri sambil bersedekap menikmati tontonan kedua pria kurang satu senti itu.
"Apa kita sudah bisa pergi?" pertanyaan yang dilontarkan Trias membuat keduanya diam seketika.
"Sudah dong tampan." jawab Roki sambil mengerling.
"Siapkan dan kita bertemu di mobil." ucap Trias lagi yang mulai jengah dengan cara Roki menatapnya.
Abigail hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Muse, tolong ambilkan setelan yang berwarna navy. Aku meletakkannya di dekat manekin tanpa kepala." pinta Roki pada Abigail.
"Muse?" Rui menatap heran.
"Yes, dia adalah Muse dari seorang Miss Rosi."
Rui mencibir pilihan Roki. "Tidak ada yang lain?"
"Big NO! Kamu tahu gaun malam yang sudah 80% itu?"
Rui mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Dia yang menjadi inspirasi Miss Rosi. Kakinya…uuuhhhh seksi. Apalagi pinggangnya. Uuuuuuhhhh, rampingnya sehat, bukan karena diet obat. Otot perutnya kencang,hmmmm." bisik Roki pada Rui namun masih bisa terdengar jelas oleh Trias dan Darren.
Abigail menelan salivanya dengan kasar saat mendapat tatapan mencekam dari Darren. Ia bergegas keluar untuk mengambil setelan yang dimaksud Roki.
"Jangan tertipu dengan penampilannya yang culun. Abigail itu berlian." ucapan Roki masih dapat Abigail dengar, wajahnya semakin panas.
Dalam hatinya ia merutuki keputusannya untuk menerima tawaran Roki untuk menjadi inspirasi pria itu. Maksud hati membantu Roki yang sedang kehabisan ide, namun sekarang ia merasa ditelanjangi oleh pria itu.
Abigail masuk ke ruangan Roki dan segera mengambil setelan milik Darren. Saat berbalik ia terkejut melihat Zai yang berdiri di ambang pintu. Sepertinya wanita itu akan masuk namun ragu setelah melihat Abigail.
Tanpa ingin menyapa atau sekedar berbasa basi, Abigail melangkah begitu saja melewati Zai yang menatapnya dengan pancaran kebencian.
"Aku tidak akan memaafkanmu." ucap Zai saat Abigail sudah melewatinya.
Abigail berhenti dan berbalik menatap Zai dengan kedua alis yang bertaut.
"Aku yang terluka, tapi kamu yang membenci?"
"Kamu pantas mendapatkannya. Namun hukuman yang aku terima, tidak pantas aku dapatkan." Zai bergetar menahan marah.
Abigail tersenyum sinis mendengar itu. "Jangan terlalu tinggi dalam menilai diri sendiri."
Abigail segera meninggalkan Zai. Namun saat akan masuk ke dalam lift, tiba-tiba ia tidak bisa menahan lagi urusan di toilet.
Zai yang melihat Abigail menuju toilet tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera memanggil salah satu temannya dan membawa wadah yang sudah lama ia siapkan.
Di dalam toilet, Abigail merasa lega setelah menyelesaikan urusannya. Namun beberapa saat kemudian telinganya menangkap suara-suara aneh.
Abigail segera merapikan bajunya saat mendengar kasak kusuk di bilik sebelah semakin jelas. Bagian bawah sekat antar bilik menempel hingga ke lantai, membuat gadis itu tak bisa mengintip lewat bawah. Abigail menutup closet kemudian menggunakannya sebagai pijakan.
Ia tersenyum melihat dua orang wanita sedang membawa sebuah wadah agak besar berisi cairan berwarna coklat dan terlihat kotor. Bahkan kedua wanita tadi sampai menutup hidung.
Zai...Zai…masih belum menyerah juga rupanya, gumam Abigail.
Ia segera menunduk saat melihat Zai menatap ke atas. Kemudian Abigail mendengar suara closet ditutup dengan perlahan, Abigail menyeringai. Ia yakin saat ini Zai sedang berusaha naik.
"Berikan padaku." ucap Zai berbisik.
"Berat." sahut temannya.
Abigail kembali mengangkat tubuh dan melihat kedua wanita itu sedang bersusah payah mengangkat wadah berwarna hitam yang mereka bawa.
__ADS_1
Saat posisi wadah sudah berada sepenuhnya di tangan Zai, wanita itu kemudian mencoba berdiri tegak.
Abigail menyeringai. "Perlu bantuan?" ucap Abigail secara tiba-tiba.
"Aakkhhh!!!" Zai yang terkejut kehilangan keseimbangan. Kakinya terkilir akibat salah berpijak. Ia jatuh menimpa temannya dan cairan bau di dalam ember membasahi tubuh keduanya.
"Aaaaakkkkhhhhhh!!!" pekik keduanya.
Abigail menutup mulut menahan tawa, kemudian bergegas turun dan keluar dari toilet. Dengan setengah berlari ia masuk ke dalam lift yang terbuka. Abigail tertawa terbahak-bahak begitu pintu lift tertutup.
"Senjata makan tuan." gumam Abigail sambil menyeka air matanya. "Untung mereka tidak merusak outfit ini." imbuhnya sambil melihat tangan kanannya.
Tak lama kemudian pintu lift terbuka, Abigail terkejut melihat Trias sudah berdiri di depan pintu.
"Kamu baik-baik saja?" Trias tampak khawatir.
"Iya, tadi aku ke toilet dulu kak."
Trias hanya mengangguk kemudian berjalan lebih dulu menuju mobil mereka.
...☘️☘️☘️...
Abigail duduk bersama Roki sedang Rui masih sibuk memoleskan make up tipis di wajah Darren di dalam ruang khusus bintang tamu.
"Abi." Darren memanggil.
"Ya Tuan, ada yang harus kukerjakan?" Abigail mendekati Darren.
"Bagaimana keadaanmu di agensi? Apa kamu baik-baik saja?"
Seketika itu juga Rui menghentikan aktivitasnya. Trias mengangkat wajah dari rundown acara yang ia terima. Bahkan Roki terbatuk-batuk karena tersedak air mineral.
"It..itu." Abigail bingung mau menjawab apa.
Darren segera sadar setelah mendapat tatapan aneh dari timnya yang ada di ruangan. Terutama Abigail, gadis itu berulang kali mengerjapkan matanya.
"Beautiful and the beast." gumam Rui saat mulai bekerja.
Kenapa aku tidak bisa mengendalikan diri begini? rutuk Darren di dalam hati.
Tak lama kemudian Darren sudah siap, ia tinggal menunggu kru dari Tim Kreatif memberi kode.
"Mau ikut melihat ke studio?" tawar Trias.
"Apakah boleh?" Abigail terlihat ragu.
"Tentu saja bisa."
Setelah Darren keluar mereka mengikuti untuk melihat penampilan Darren secara langsung.
Di depan sorot kamera, Darren tampak luwes berinteraksi dengan host dan bintang tamu lain. Ekspresi, bahasa tubuh, bahkan sorot mata Darren berhasil menutupi tekanan yang pemuda itu alami.
Abigail berdecak kagum melihat Darren begitu profesional. Darren terlihat ramah, ceria, juga cool di waktu yang sama.
Seandainya dia begini juga kalau di belakang kamera. Abigail menjadi kesal saat kembali mengingat aksi jahil Darren.
Abigail melirik Trias, ternyata pemuda itu sedang merekam penampilan Darren. Kemudian mengirim rekaman itu kepada seseorang.
"Jika suatu saat aku lupa. Tolong rekam saat Darren tampil dalam event apapun. Kemudian kirim kepadaku dan akan ku teruskan kepada keluarganya." ucap Trias setelah selesai mengirim rekaman video tadi.
Abigail mengangguk-anggukkan kepala. "Jadi rekaman itu untuk keluarga Darren?"
"Iya." Trias tersenyum tipis.
Satu jam berlalu, mereka pun kembali ke ruang khusus bintang tamu karena acara sudah selesai.
__ADS_1
"Bagaimana penampilanku?" terlihat Darren sangat antusias meminta pendapat Trias.
"Bagus, seperti biasa. Dan ada beberapa bagian yang akan kita perbaiki."
Darren mengangguk paham. Namun sedetik kemudian ia terkejut saat melihat Roki yang lebih dulu masuk sudah mengangkat buket bunga.
"Ada orang yang mengirim bunga." Roki menyerahkan bunga itu pada Darren.
Dengan wajah masam Darren mengambil bunga yang diserahkan Roki dan menarik kartu kecil yang ada di sana. Wajahnya semakin masam saat mengetahui ternyata Rosalin yang mengirim itu kepadanya.
"Siapa pengirimnya?" Trias jadi penasaran.
"Rosalin." jawaban terdengar Darren ketus.
Abigail yang membantu Roki dan Rui menyimpan peralatan mereka tersenyum tipis. Saat mendengar nama Rosalin, Abigail jadi ingat dengan bekal yang ia makan atas perintah Darren.
"Buang saja ke tempat sampah." terdengar Darren memberi perintah entah kepada siapa.
"Eh, jangan dong. Jika kamu tak mau, biar aku saja yang menyimpannya." ucap Rui mengambil buket bunga mawar itu.
Darren hanya mengangkat bahu tanda tak peduli.
...☘️☘️☘️...
Sepanjang perjalanan pulang, Abigail terus menerus melirik spion. Ia duduk di depan dengan Trias, sedangkan Darren bersama Roki dan Rui duduk di belakang.
Abigail menoleh untuk melihat kondisi mereka yang duduk di belakang. Setelah memastikan semuanya tidur, ia sedikit mencondongkan tubuhnya.
"Kak, apakah ada yang mengawal kita?" Abigail memberi clue.
Sebab tidak mungkin ia akan berterus terang jika mereka diikuti. Hal itu akan menimbulkan kecurigaan di hati Trias.
Trias melihat melalui spion. Dan benar saja, mereka diikuti oleh sebuah mobil SUV. Dengan cepat Trias segera menekan pedal gas untuk memperlebar jarak. Namun mobil tersebut segera mengejar.
Beruntung bagi mereka, tak jauh dari sana ada beberapa petugas kepolisian sedang berdiri memantau arus lalu lintas.
Trias mendapat ide, ia segera menghentikan kendaraan mereka di dekat kendaraan polisi yang berada sedikit jauh dari pemiliknya.
Saat mereka berhenti, mobil yang mengikuti sejak keluar dari tempat syuting pun melintas. Terlihat seorang pria bertubuh kekar mengangkat tangan yang memegang pistol dan mengarahkannya ke mobil yang ditumpangi Abigail dan yang lainnya.
Trias tercekat, mereka semakin nekat. Gumam Trias kemudian menarik nafas lega.
Ketika mobil penguntit sudah jauh, mereka pun kembali bergerak. Trias melirik spion untuk melihat ke belakang. Darren masih memejamkan mata, entah dia tahu dengan kejadian barusan atau tidak.
Abigail mengamati sekitar untuk mengingat lokasi mereka. Ia berencana meminta Mikha untuk memeriksa CCTV jalan.
"Abigail, jangan katakan apapun pada Darren tentang hal ini." pinta Trias.
"Iya Kak." Abigail pun tidak ingin Darren kembali membuat emosinya naik turun karena menjadikannya tempat pelampiasan.
Dan jika diingat kembali, beberapa hari ini Abigail bisa sedikit santai karena Darren tidak menjahilinya.
Setelah mengantar Roki dan Rui, mereka pun pulang ke apartemen Darren yang baru. Abigail meletakkan semua perlengkapan Darren di dalam ruang kerja. Kemudian ia menghampiri Trias dan Darren yang sedang duduk bersandar di sofa ruang tengah.
"Ada apa?" Trias lebih dulu tanggap dengan sikap Abigail yang menurutnya aneh.
"Tuan, Kak, saya ingin meminta izin cuti selama sehari. Saya ingin bertemu kakak saya. Apakah boleh?"
"Ya pergilah" Darren menjawab tanpa berpikir.
"Kau sudah dengar kan. Darren mengijinkan." Trias pun berdiri. " Sekarang pulanglah, kau pasti membutuhkan waktu untuk mengemasi barang-barangmu. Lagipula sudah tidak ada kegiatan lagi untuk hari ini."
"Terima kasih kak. Terima kasih Tuan."
"Hmmm." Darren menjawab dengan deheman.
__ADS_1
Abigail meninggalkan apartemen Darren dengan sumringah.
......................