ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 21. Hari Yang Baik


__ADS_3

Darren kembali pindah ke apartemen baru setelah serangan yang mereka alami. Kali ini tanpa sungutan sebab ia sadar benar, semua tidak akan terjadi jika ia bisa lebih tenang dalam menghadapi tekanan.


Abigail meminta Mikha untuk menyelidiki Rosalin, karena setiap ada gadis itu di sekitar mereka, selalu saja ada hal buruk yang terjadi.


Abigail memeriksa setiap sudut apartemen yang baru dengan seksama. Kali ini Mikha yang memilih apartemen dan menyarankannya pada Triasaka.


"Abi."


"Hmmm?"


"Trias mencarimu." kata Darren sambil menatap Abigail dengan heran. Posisi Abigail yang pada awalnya membelakangi membuat Darren teringat mimpinya sebelum berubah menjadi menakutkan.


Abigail berjalan melewati Darren seperti biasa dan langkahnya terhenti saat Darren memegang lengannya.


"Ada apa?" Abigail keheranan melihat tangan Darren yang memegang lengannya.


Darren tidak menjawab, ia hanya menatap gadis itu dengan seksama. Dan sesaat kemudian ia melepas tangan Abigail.


Abigail tidak terlalu memikirkan tindakan Darren, ia kemudian menuju ke depan untuk menemui Trias yang ternyata sedang berbicara dengan Mikha.


"Kak Trias memanggilku?"


Trias dan Mikha menghentikan pembicaraan dan menatap Abigail. Kemudian pemuda itu memberikan sebuah map pada Abigail yang berisi beberapa foto Rosalin dengan seseorang.


"Rosalin beberapa kali bertemu dengan pimpinan gangster Son of ***** yang lambangnya pisau dan tengkorak." jelas Trias.


Abigail menutup map setelah melihat semua foto yang ada di dalam.


"Kenapa Kak Trias menunjukkan ini kepadaku?" kedua alis Abigail bertaut.


"Kurasa kamu perlu tahu semua yang berkaitan dengan masalah Darren." Trias menatap Abigail dengan lembut. "Setelah yang kita lewati semalam, kurasa kamu berhak tahu semua resiko bekerja bersama kami."


"Agar kamu juga tahu, siapa yang harus kamu waspadai." imbuh Mikha berlagak tidak mengenal Abigail.


Gadis itu tersenyum tipis menatap Mikha. "Terima kasih sudah mengingatkan."


"Apakah penjaga khusus yang kami minta tidak akan tinggal disini? Maksudku pemuda yang semalam menolong kami." Trias bertanya pada Mikha.


Abigail mengangkat kedua alisnya dan tersenyum samar, Trias mengira Morgan adalah penjaga yang diutus dari agensi. Mikha memperbaiki sedikit masker yang ia gunakan.


"Ia ada di sekitar kalian, jangan risau. Aku memberikan jaminan keamanan penuh. Dengan syarat Tuan Darren tidak gegabah lagi." Mikha menatap Darren yang sudah berdiri di belakang Abigail membuat lainnya ikut menoleh ke arah pandangan Mikha.


"Aku tidak akan melakukan itu lagi." Darren mengangguk tegas dan melirik Abigail untuk sesaat.


Namun hal itu tidak luput dari pengamatan Mikha. Ekspresi sekecil apapun dapat ia lihat dengan sangat baik. Mikha menatap Abigail dan tersenyum lebar tanpa diketahui siapapun karena masker yang ia gunakan.

__ADS_1


Mikha berpamitan untuk pulang dan Abigail menawarkan diri mengantar. Selama di dalam lift tak sedikitpun Abigail melepas tangan Mikha.


"Jadi? Apakah Kakak akan memiliki adik ipar?" Mikha membuka maskernya dan tersenyum menggoda Abigail.


"Adik ipar apa?" Abigail mencebik.


Mikha mengusap kepala Abigail dengan pelan. "Dia belum mengatakannya?"


Abigail mengernyit. "Dia siapa? Mengatakan apa?"


"Darren."


"Darren? Memangnya dia kenapa?"


Mikha menatap Abigail, dari ekspresi adiknya itu sudah jelas Darren belum mengatakan apa-apa padanya.


"Tidak ada." Mikha tersenyum tipis.


Abigail terdiam, ia nampak menimbang-nimbang sesuatu.


"Kak, kalau kita menggunakan Darren sebagai umpan, bagaimana?"


"Mau menangkap penjahat sesungguhnya?"


Abigail mengangguk. "Aku menduga, Rosalin pun ada hubungannya dengan kasus pembunuhan yang dilihat Darren."


Abigail berbinar, ia memutar tubuhnya agar menghadap langsung ke arah Mikha.


"Aku akan mengikuti aktivitas Rosalin dan akan menyelesaikan ini dengan cepat. Sudah tidak sabar untuk kembali beraktifitas bersama Morgan."


Mikha menatap Abigail dengan dahi berkernyit. "Benarkah yang ada disini adalah Morgan?" Mikha menunjuk dada kiri Abigail dengan telunjuknya.


Abigail hendak menjawab pertanyaan Mikha, namun bunyi dentingan lift membuat keduanya tersadar dan Abigail kembali bersikap biasa.


☘️☘️☘️


Abigail meminta izin pada Triasaka dan Darren untuk pulang lebih awal. Begitu tiba di apartemen, ia segera mengganti baju dan membuka penyamarannya. Abigail memakai celana high waist jeans dan kaos tanpa lengan yang pas dengan tubuh. Kaos berwarna biru muda itu memamerkan lekuk tubuhnya dengan sangat indah.


Abigail bahkan sengaja memakai make up dan merias matanya dengan tampilan smokey eye dan lipstik berwarna merah. Rambutnya yang mulai panjang dibiarkan tergerai dengan ujung rambut dibuat ikal.


Abigail mendatangi sebuah restoran ternama. Sejak penyerangan di apartemen, Mikha memasang mata-mata untuk mengikuti dan mencatat semua aktifitas Rosalin. Bahkan mata-mata tersebut diperintah untuk melaporkan semua yang ia lihat dan dengar langsung ke ponsel aman milik Abigail.


Abigail beruntung, petugas yang melayani untuk reservasi memilih tempat duduk bagi Abigail yang berada tepat di dekat Rosalin dan seorang pria.


Kedatangan Abigail membuat pria tersebut mengangkat kedua alisnya. Ia menyeringai dan terang-terangan menunjukkan ekspresi tertarik pada gadis muda itu.

__ADS_1


Rosalin yang belum menyadari keberadaan Abigail berdiri. Dari tempat duduknya Abigail mendengar wanita itu pamit untuk pergi ke toilet.


Setelah Rosalin tak terlihat, pria tersebut segera duduk di depan Abigail dan mengulurkan tangannya.


"Brody de Lima." ujarnya memperkenalkan diri.


Abigail hanya tersenyum manis tanpa menyambut uluran tangan pria itu. Brody menarik tangannya, namun ia tidak terlihat kecewa sedikit pun.


"Menunggu seseorang?"


"Tidak." jawab Abigail dengan ringan.


"Ah…suaramu benar-benar indah. Berikan kartu namamu." Brody terlihat menatap Abigail dengan penuh puja.


"Aku tak ingin mencari keributan dan aku tidak ingin menjadi sasaran amukan wanita cantik tadi." Abigail memasang wajah sedih.


"Siapa? Rosalin?" Brody melambaikan tangannya. "Dia tidak akan berani menyakitimu. Lagi pula dia bukan siapa-siapa."


"Bukan siapa-siapa? Tapi kamu memakai cincin nikah." Abigail menunjuk jari manis Brody dengan dagunya.


Brody tersenyum kecut. "Istriku meninggal karena dibunuh orang beberapa waktu lalu, aku hanya belum sempat melepaskan cincin ini."


Abigail menatap Brody dengan mata berkilat menggoda. "Tuan Brody, pergilah. Wanitamu akan segera kembali."


Kemudian dengan gaya yang anggun Abigail menyesap minumannya, membuat Brody semakin gerah.


"Kita akan bertemu lagi." Brody mengerling nakal sebelum kembali ke tempat duduknya.


Sesuai perkataan Abigail, tak lama kemudian setelah Brody kembali, Rosalin datang dengan senyuman yang tak pernah luntur. Selama makan, Brody sesekali mencuri pandang menatap Abigail. Dan hal itu membuat senyuman Abigail merekah, targetnya sudah memakan umpan yang ia lempar.


Benar-benar hari yang baik. Gumam Abigail dalam hatinya.


Tak lama kemudian Brody dan Rosalin meninggalkan restoran tersebut. Dengan gerakan cepat, Brody melempar kartu namanya ke meja Abigail dan mengerling.


Abigail hanya tersenyum tipis menanggapi Brody. Setelah pasangan itu berlalu, ia segera mengambil ponsel khususnya yang terhubung dengan kamera tersembunyi yang dipasang di kontak lens. Kemudian melihat rekaman video pembicaraannya dengan Brody.


Abigail mengirim video tersebut ke Mikha dan meminta mengirim seseorang untuk mengawasi pria tersebut.


......................


Sambil menunggu up bab selanjutnya, mampir ke novel teman saya yuk.


Complicated Mission by AdindaRa


Jalan ceritanya keren, dijamin kamu tidak akan menyesal bacanya.

__ADS_1



__ADS_2