ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 33. Menjadi Umpan


__ADS_3

Suara ketukan di pintu membuat Liam segera berdiri dan membukanya.


"Hai cantik." Ucap Liam pada seorang gadis yang sudah berdiri di balik pintu.


"Hai Kak." Gadis itu tidak terlalu menanggapi raut wajah Liam yang terlihat sekali sedang berusaha menggodanya. "Boleh aku masuk?"


"Tentu." Liam masih memasang senyum terbaiknya dan menepi saat gadis itu melangkah masuk.


"Ai." Gadis itu bergegas menghampiri Abigail yang sudah berdiri di samping meja.


"Runa."


Abigail bahagia bisa bertemu sahabatnya itu lagi setelah beberapa bulan tidak berjumpa. Keduanya lantas berpelukan untuk melepas rindu.


"Seorang pelayan memberitahu jika dirimu datang. Kenapa tidak langsung menemuiku tadi?" Tanya Runa setelah mengurai pelukan mereka.


"Aku tidak ingin mengganggumu." Jawab Abigail sambil tersenyum tipis.


Keduanya berbincang tentang banyak hal, mulai dari masalah bistro sampai peralatan elektronik baru yang sedang dikembangkan Runa.


Liam mulai bosan, ia berpindah posisi kesana kemari. Ingin rasanya ia keluar namun tidak mungkin. Perintah Mikha sangat jelas, Abigail harus selalu berada di dalam area jangkauan matanya.


"Aku ingin sekali menunjukkan mainan baruku." Runa terlihat sangat bersemangat. "Kapan kamu bisa mampir ke ruang kerjaku?"


Mainan adalah istilah yang Runa pakai untuk peralatan yang ia ciptakan. Mikha membebaskan gadis itu dan juga semua anggota unit teknologi untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam menciptakan peralatan baru. Dan hampir semua alat yang digunakan para agen adalah hasil ciptaan unit teknologi.


"Aku akan mencari waktu agar bisa berkunjung." Abigail sangat suka berada di ruangan Runa, karena ia akan menjadi orang pertama yang mencoba peralatan-peralatan yang gadis itu ciptakan.


"Mmmm….Runa."


"Hmmmm? Ada apa?" Runa yang masih sibuk mengunyah kentang goreng segera membersihkan jarinya.


"Apa yang kamu bicarakan dengan orang tadi?"


Abigail tidak dapat menahan lebih lama rasa ingin tahunya. Terlebih ada Darren juga disana meski tidak lama. Untuk sesaat ada rasa iri muncul. Ia pun ingin seperti Runa, bebas bertemu dengan Darren dan Trias.

__ADS_1


Jantungnya berdebar, ada rasa sakit yang tiba-tiba mendera saat mengingat Darren. Sudah dua bulan tidak bertemu, Abigail mengira seiring berjalannya waktu, ia tidak akan mengalami sesak setiap teringat akan pemuda itu. Ternyata ia salah, apalagi seperti tadi, saat hanya bisa melihat Darren dari jauh. Hal itu membuat hati Abigail seperti diremas.


"Oh, itu…."


Jawaban Runa yang menggantung pun ikut menarik perhatian Liam. Ia segera menatap gadis itu dengan wajah penasaran. Terlihat jelas semu merah di pipi Runa. Ia bahkan terlihat gugup.


Liam tersenyum kecut begitu melihat ekspresi Runa.


Sepertinya aku sudah terlambat. Gumam Liam dalam hatinya.


"Ada apa Runa?" Abigail bingung dengan perubahan wajah Runa.


"Sebenarnya….." Ucapan Runa terputus oleh dering ponsel di depannya.


Abigail segera mengambil ponsel miliknya dan menggeser ikon berwarna hijau.


"Iya kak." Jawab Abigail setelah melihat Mikha yang menghubunginya.


"Apakah masih lama?" Tanya Mikha di ujung sambungan.


Abigail tersenyum tipis, ia mengerti arah pembicaraan Sang kakak.


"Baiklah kalau begitu. Berhati-hatilah di jalan."  Pesan Mikha sebelum memutus sambungan teleponnya.


Abigail menghela nafas dan menatap Runa dengan senyum tipis.


"Lain kali kita akan berbincang lebih lama lagi." Kara Abigail seraya berdiri dan membereskan peralatannya.


Runa terlihat kecewa, padahal baru saja ia ingin berbagi cerita bahagia. "Mmm, baiklah. Aku mengerti." Ujar Runa sambil membalas pelukan Abigail sebelum mereka berpisah.


☘️☘️☘️


Abigail duduk di depan Mikha yang sedang membaca beberapa lembar kertas di meja kerjanya.


"Kakak tahu kamu mendengar semua pembicaraan Kakak dan Morgan semalam." Ucap Mikha memecah keheningan.

__ADS_1


"Mmmm." Abigail bergumam. "Maafkan ketidak sopananku. Tapi aku tidak melakukannya dengan sengaja. Aku mendengar pembicaraan kalian saat akan mengembalikan flashdisk milik Kakak. Saat mendengar namaku disebut, aku lantas mengurungkan niat untuk kembali ke kamarku."


Mikha menarik nafas dalam-dalam. Sedangkan Abigail, ia tidak terlihat berniat ingin mengucapkan sesuatu atau bertanya. Ia tahu posisinya saat ini membuat Mikha tidak tenang. Oleh sebab itu Abigail memilih untuk menuruti semua perkataan dan rencana Mikha. Karena ia yakin, yang Kakaknya buat pasti untuk keselamatannya.


"Apa kamu keberatan menjadi umpan?" Mikha bertanya dengan sangat hati-hati.


Abigail menatap Mikha dengan tenang. Sebelum Sang kakak mengucapkan hal itu, ia sudah berpikir untuk menawarkan diri sebagai umpan. Lebih baik segera menyelesaikan masalah ini agar ia bisa hidup dengan tenang. Namun Abigail tidak mengungkapkannya karena sudah memutuskan untuk mengikuti keputusan Mikha.


Dan karena Mikha sudah mengungkapkan niatnya yang ternyata sejalan dengan pemikiran Abigail, maka tidak ada alasan bagi Abigail untuk menolak.


"Aku tidak keberatan. Aku yakin Kakak akan melindungiku." Mata Abigail terlihat tenang dan penuh keyakinan. Karena ia memang sudah menyerahkan semua sepenuhnya pada Sang kakak.


"Kapan aku akan mulai bergerak?" Tanya Abigail lagi.


Mikha tersenyum sendu. "Tunggu sampai kabin yang akan kamu tempati itu siap. Kita akan memindahkan lokasimu ke desa R yang berada di kaki gunung R."


Abigail memegang pelipis dengan sebuah jarinya, ia sedang mengingat-ingat lokasi yang disebutkan Mikha.


"Apakah itu sebuah kabin yang dibangun untuk orang yang berburu? Sepertinya lokasi itu tidak asing bagiku."


Ucapan Abigail sukses membuat Mikha terkejut. Selama ini Mikha tidak pernah menyinggung soal kabin atau menggunakan lokasi yang ada di tengah hutan itu pada Abigail. Namun karena terpaksa, kali ini mereka akan menggunakan properti tersebut.


"Ya, kira-kira seperti itu." Jawabnya setelah berhasil menyembunyikan rasa terkejut.


Abigail tertawa kecil. "Jadi seolah-olah aku akan bersembunyi di tempat terpencil ya."


"Kita harus membuat seolah-olah kau takut dan melarikan diri. Seperti orang bayaran yang mandiri pada umumnya."


Abigail mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Ia merasa cukup siap menghadapi ini. Jika biasanya ia yang akan melindungi orang, kali ini ia yang akan dilindungi. Jika ingin tetap hidup, ia harus bisa bekerja sama dengan Sang kakak. Sama seperti yang ia harapkan dari para kliennya selama ini, kerja sama.


Abigail mengemas baju-bajunya dan memasukan semua ke dalam koper. Ia harus bersiap, kapanpun Mikha memberi perintah untuk berangkat, ia tidak akan terburu-buru lagi.


Liam berdiri di ambang pintu dan menatap gadis yang dulu datang ke rumahnya dengan sorot mata kosong. Gadis kecil yang selalu menangis tersedu-sedu merindukan orang tuanya. Gadis kecil yang sering terbangun tengah malam sambil menjerit histeris memanggil mamanya.


Liam berbalik dan bersandar di tembok samping pintu. Ia memegang dadanya yang terasa sesak.

__ADS_1


"Sebentar lagi Abigail. Kamu akan mendapat keadilan. Kakak harap, saat waktu itu tiba, ingatanmu sudah kembali sepenuhnya." Lirih Liam sambil melangkah dengan gontai menjauhi kamar Abigail.


...****************...


__ADS_2