
Abigail berangkat kerja dengan langkah yang ringan. Wajahnya terlihat berbinar-binar. Meski kembali memakai perlengkapan yang aneh, namun tak membuatnya kehilangan sukacita.
Sehari bersama keluarga sudah menghempaskan kepenatan dan beban di hatinya. Ia sudah benar-benar siap untuk kembali menghadapi Darren dengan segala keanehannya.
Abigail tersenyum mengingat tingkah Liam kemarin. Dan senyuman itu seketika hilang saat melihat Darren sudah berdiri di tengah koridor yang menuju ke unit apartemennya.
Abigail mengernyit, ia heran dengan raut wajah Darren yang terlihat marah. Namun ia tak ciut, kakinya tetap maju dengan mata yang balas menatap Darren.
"Selamat pagi Tuan."
Darren tak menjawab, ia memindai Abigail dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bahkan Darren berjalan mengitari Abigail membuat gadis itu risih.
"Masih utuh." gumam Darren kemudian masuk ke dalam apartemennya.
"Utuh?" Abigail tak mengerti. Ia bergegas masuk sebelum Darren akan semakin marah kepadanya.
"Duduk!"
Abigail segera duduk di seberang meja yang berhadapan dengan Darren.
"Kenapa ponselmu tidak aktif?" Darren memulai interogasi.
Abigail mengangkat sebelah alisnya, terkejut mendengar pertanyaan Darren.
"Saya ingin menikmati waktu bersama keluarga tanpa diganggu Tuan." jawab Abigail jujur.
"Jadi menurutmu aku adalah pengganggu?!" Darren tak terima.
"Bukan anda Tuan. Tapi pekerjaannya."
"Sama saja." sahut Darren dengan ketus. "Jadi kau bersenang-senang kemarin. Kemana saja?"
"Ke makam orang tua saya, dan selebihnya hanya bersama kakak di rumah."
"Bukankah bisa lain waktu? Kenapa harus kemarin pergi ke makam?" Darren terus mencecar Abigail dengan pertanyaan yang sudah bercokol di benaknya dari kemarin.
Abigail menarik nafas agar tetap tenang menjawab pertanyaan Darren.
"Karena kemarin adalah ulang tahun saya Tuan. Dan yang saya lakukan bersama Kakak sudah menjadi tradisi saat saya ulang tahun."
Wajah Darren berubah, kemarahannya menghilang, berganti dengan rasa bersalah.
"Jadi kemarin kamu ulang tahun." Darren mulai melunak.
"Iya Tuan."
Darren segera beranjak, bahkan ia berlari masuk ke dalam kamarnya.
"Jangan kemana-mana!" serunya sebelum membuka pintu kamar.
"Ada apa dengannya?" Abigail bergumam, namun ia tetap duduk mengikuti perintah Darren.
Tak lama kemudian Darren muncul.
"Maaf, aku tak tahu kamu ulang tahun. Pergi dan belilah tas ataupun barang branded lainnya yang kamu suka. Itu adalah hadiah dariku." ucap Darren sambil memberikan sebuah kartu berwarna hitam.
Abigail berdiri, ia sangat terkejut dengan pemberian Darren. Namun bukannya senang, Abigail malah menolak.
"Terima kasih atas kebaikan hati Tuan. Tapi maaf, saya tidak bisa menerimanya."
Darren mengernyit. "Kenapa?"
"Saya hanya tidak bisa menerima, tidak ada alasan lain." Abigail berkata jujur.
"Aku tak peduli, pokoknya kamu harus membeli sesuatu."
"Tapi Tuan…."
"Tidak ada tapi-tapi!" Darren tidak ingin dibantah.
Ia memaksa Abigail memegang kartunya. Kemudian Darren segera menarik tangan Abigail menuju pintu keluar hingga mereka hampir bertabrakan dengan Trias.
"Wohoho. Ada apa ini? Darren, kau tahu kan aku tidak menyukai jika ada kekerasan pada perempuan." ujar Trias sambil menatap cemas pada Abigail.
__ADS_1
"Ckk! Aku tahu. Jangan salah paham dulu." Darren kesal. "Aku hanya ingin dia pergi membeli hadiah menggunakan kartuku. Ternyata kemarin Abigail meminta cuti untuk merayakan ulang tahunnya."
"Wah, begitu rupanya." Trias segera maju dan menggeser Darren. "Selamat ulang tahun Abigail." Trias menjabat tangan gadis itu.
"Te..terima kasih Kak."
Trias melirik Darren sejenak sebelum ia membawa Abigail menjauh.
"Apa yang Darren katakan?"
"Dia menyuruhku membeli barang-barang branded."
"Lalu?"
"Aku tak mau."
"Kenapa?"
Abigail tersenyum canggung, bagaimana ia harus mengatakannya. Di rumah pribadinya, ia memiliki semua itu. Meski hanya dipakai saat akan menghadiri acara resmi. Karena dia memang tidak begitu menyukai memakai barang mewah.
"Ak…aku tidak membutuhkannya Kak." jawab Abigail.
"Kalau begitu, belilah sesuatu yang kamu suka. Jangan tolak itikad baik seseorang." bujuk Trias setelah melihat reaksi Abigail yang ingin menolak.
"Baiklah. Saya pergi dulu."
☘️☘️☘️
Satu jam kemudian, Abigail datang dengan membawa wadah kertas berwarna coklat. Di dalamnya terdapat snack bar dalam berbagai varian rasa, dan juga coklat hitam.
"Terima kasih untuk hadiahnya, Tuan." Abigail menyerahkan kartu dengan wajah berseri.
"Hanya itu?" Darren mengambil kartu dan melongokkan kepala untuk melihat isi kantong kertas tersebut.
Abigail hanya mengangguk dengan tetap tersenyum.
Melihat betapa Abigail bahagia dengan belanjaannya, Trias menyenggol Darren dengan lengannya. Ia memberi kode agar Darren berhenti memaksa atau menanyakan hal-hal yang aneh.
"Baiklah. Ehmmm!! Selamat ulang tahun." sahut Darren kemudian masuk ke kamarnya.
Trias menggeleng sambil tertawa kecil. " Tidak perlu. Terima kasih." Trias menolak dengan halus.
Sedangkan di dalam kamar, Darren sedang menatap ponselnya dengan senyum yang tak dapat diartikan. Ia membaca laporan masuk atas penggunaan kartu kreditnya.
"Hanya segini sudah membuatmu sangat bahagia." gumam Darren. "Benar-benar gadis aneh."
Abigail benar-benar hanya membeli apa yang ia sukai. Bukan karena menjaga image di depan Darren dan Trias, tapi karena pada dasarnya ia pun terbiasa hanya membeli apa yang ia perlukan. Ia tak akan membeli barang-barang branded kalau cuma karena keinginan mata ataupun demi gengsi.
"Kenapa membeli sebanyak ini?" Trias menatap paper bag Abigail.
"Kebetulan stok ku sedang habis kak." Abigail tersenyum malu-malu sambil menggaruk tengkuknya.
"Begitu rupanya." Trias melirik jam tangannya. "Abigail, kamu ingatkan besok jadwal Darren mengisi pensi?"
"Iya Kak, saya ingat."
"Periksa semua kelengkapannya, jangan ada yang terlewat. Aku harus pergi sebentar."
"Baik Kak."
"Aku mengandalkanmu." Trias menepuk pelan lengan Abigail kemudian pergi.
Abigail segera memeriksa daftar yang sudah ia buat jauh hari sebelumnya untuk kembali melihat persiapan Darren.
Setengah jam kemudian Darren keluar dan mengernyit karena tak melihat Trias. Abigail yang melihat itu segera menjelaskan tanpa diminta.
"Tuan, Kak Trias sedang pergi. Dia bilang hanya sebentar."
Darren menatap Abigail, membuat Abigail bingung. Karena pemuda itu hanya menatap tanpa berbicara.
"Tuan?"
"Jangan panggil aku dengan kata itu lagi. Panggil saja namaku." ucap Darren sambil melangkah dan berdiri di depan Abigail.
__ADS_1
Abigail segera berdiri agar tak perlu menengadahkan wajah saat menatap Darren.
"Itu tidak sopan, usia kita…"
"Aku tak peduli. Sebut namaku."
Abigail mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Abi, sebut namaku." pinta Darren sekali lagi.
"Ekhem!" Abigail merasa tenggorokannya mendadak kering. "Da…Darren." ucapnya dengan mata yang bergerak liar kesana kemari.
Darren tersenyum tipis. "Sekali lagi dan tatap mataku."
Abigail menelan salivanya dengan kasar. Ya ampun, hanya disuruh menyebut nama saja kenapa aku segugup ini?
Abigail menarik nafas dalam-dalam untuk mengumpulkan keberanian.
"Darren." lirihnya sambil menatap mata Darren.
Keduanya bertatapan, perlahan tangan Darren terulur dan melepas kacamata Abigail. Meski Abigail sadar ia harus menolak dan mengambil kembali kacamatanya, namun ia seakan tak mampu menggerakkan tangannya. Abigail merasa tenggelam dalam tatapan mata Darren.
"Aku suka melihat mata indah ini secara langsung."
"Ren…saya…" Abigail merasa lidahnya kelu untuk mengucapkan sesuatu. Seakan ada yang memerintahkan tubuhnya untuk tetap diam tak berbicara.
Darren mengerjap, ia tersenyum. "Katakan sekali lagi."
Abigail terlihat bingung. " Mengatakan apa?"
"Sebut namaku seperti tadi."
Abigail seperti tersadar, ia menunduk. "Ren." lirihnya lagi.
"Aku suka mendengar itu dari bibirmu." Darren tersenyum. "Mulai sekarang kau harus memanggilku seperti itu."
Abigail menggeleng dengan tegas. "Tidak! Saya tidak ingin semakin dibully."
"Berhenti berbicara formal denganku Abi."
"Baiklah. Tapi aku tidak akan memanggilmu seperti itu di depan orang."
Darren mengangkat kedua bahunya. "Terserah, yang penting aku menyukai panggilan itu dan berharap akan mendengarnya lagi."
Abigail menghela nafas dengan kasar. "Bisakah aku kembali bekerja?"
"Hmmm, ya." Darren segera berbalik, moodnya berubah karena Abigail tidak mau menuruti keinginannya.
"Eh tunggu!"
"Ada apa?"
"Kacamata…."
Darren berbalik dan menatap Abigail. "Aku tahu kamu tidak perlu ini."
"Apa maksud Tuan?"
"Karena aku melihatmu mencuci kemeja tanpa kacamata. Bahkan setelah itu tanpa sengaja aku pernah melihatmu melepasnya."
"Tapi bukan berarti saya tidak membutuhkannya."
Sejenak Darren menatap kacamata besar di tangannya.
"Baiklah." ia menyerahkan kacamata itu pada Abigail.
"Terima kasih."
"Aku tak sabar melihat wajah aslimu." ucap Darren setelah Abigail kembali memakai kacamatanya.
Abigail menahan nafas mendengar ucapan Darren. Ia ingin mengatakan sesuatu tapi tak bisa.
"Bernafaslah, nanti kau pingsan!" ujar Darren sebelum meninggalkan Abigail.
__ADS_1
Kenapa aku bisa ceroboh begini? Abigail bergumam seraya menepuk dahinya.