ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 16. Bos Terbaik


__ADS_3

Abigail menatap kotak beludru berwarna biru tua yang disodorkan Darren dengan wajah bingung. Tanpa membukanya pun Abigail sudah tahu, isinya pasti barang branded lainnya. Namun ia tak mengerti dengan maksud Darren.


"Maaf, aku membuat lukamu kembali berdarah." Darren terlihat sangat menyesal. "Ini sebagai tanda permintaan maaf."


Setelah lebih dari sepuluh menit diam, akhirnya Darren dapat mengutarakan tujuannya. Pada kenyataannya, tak semua orang dapat dengan mudah mengucapkan kata maaf.


Abigail menghela nafas dan menatap Darren. "Aku tidak memerlukan ini Ren. Lagipula, aku rasa kamu tidak sengaja, bukan?"


"Ya, tapi Abi…"


"Ada yang harus aku kerjakan. Permisi."


Tanpa menunggu Darren kembali berbicara, Abigail segera meninggalkan ruangan. Sabar saja tidak cukup untuk menghadapi seorang Darren. Abigail harus lebih cermat melihat situasi. Agar saat berbicara, kalimat yang ia lontarkan tak membuat mood Darren berubah 180°.


Sementara itu, di dalam sebuah kamar hotel mewah di pusat kota. Rosalin membenamkan wajahnya di dada bidang pria yang bertahun-tahun menjadi kekasihnya di belakang Darren.


"Aku tak dapat mengendalikannya lagi. Singkirkan dia sekarang juga." ucap Rosalin dipenuhi kemarahan.


"Tenanglah sayang, kita tidak bisa bertindak gegabah."


"Berapa lama lagi?" Rosalin mendongak menatap wajah pria yang baru saja berstatus duda itu.


"Tidak lama lagi. Aku akan membalas setiap penghinaan yang pernah kamu terima dari dia dan keluarganya."


Rosalin menghembuskan nafas dengan kasar, ia pun tak berani membantah perkataan kekasihnya.


☘️☘️☘️


Abigail hendak kembali ke ruangan Darren ketika seorang wanita dengan pakaian glamor berdiri di tengah jalan yang akan Abigail lalui. Meski sudah melihat gelagat tak menyenangkan yang ditampilkan wanita di hadapannya, Abigail terus melangkah tanpa gentar.


"Hei kamu!" wanita bernama Dona itu mendorong bahu kiri Abigail. "Cepat buka pintu ruangan Darren dan buatkan aku minuman."


Abigail menunduk. "Maaf nyonya, tapi Tuan Darren melarang orang di luar tim berada di ruangannya saat beliau tidak ada."


"Apa?! Nyonya?! Usiaku baru 18 tahun!!!" Dona meradang.


Abigail dengan cepat mengangkat wajah dan menatap wajah Dona lekat-lekat. Dilihat dari sisi manapun, wajah dan penampilan Dona memang terlihat jauh lebih dewasa dari usianya. Tak heran jika Abigail memanggilnya Nyonya.


"Oh, maaf Nona." Abigail kembali menundukkan pandangan.


Dona menipiskan bibirnya. "Terserah, cepat turuti perintahku!"


"Tidak bisa Nona. Perintah Tuan Darren dan Tuan Trias sudah cukup jelas. Kami semua yang bekerja di lantai ini pun mengetahuinya."


Ucapan Abigail disetujui dengan anggukan oleh beberapa staf yang berada disana.


"Oleh sebab itu, Nona, karena anda bukan atasan saya, maka saya tidak akan mengikuti perintah anda." tolak Abigail dengan tegas.


Dona membelalakkan matanya, ia menatap Abigail dengan nyalang. " Sombong sekali! Hei wanita buruk rupa! Besar juga nyalimu!"


"Saya hanya menyampaikan kebenaran, maaf jika membuat Nona tersinggung." Abigail menatap Dona dengan tenang.


Kedua tangan Dona mengepal, ia menatap ke sekeliling. Beberapa orang yang melihat kejadian itu mulai berbisik-bisik bahkan menatapnya dengan tatapan mengejek.

__ADS_1


"Aku tak suka jika ada orang yang tidak mau menuruti perintahku! Perempuan jelek sepertimu wajib melayaniku!" geramnya seraya mengangkat tangan hendak menampar Abigail.


Namun sebelum tangan itu menyentuh pipi Abigail, dengan cepat Abigail menangkap tangan Dona dan menahannya di udara.


"Hanya karena anda cantik dan menarik, anda bebas memukuli orang?!" seru Abigail seraya menghempaskan tangan Dona.


"Asisten sialan!!!" Dona mengangkat kedua tangannya, lagi-lagi Abigail berhasil menahan sebelum tangan Dona menyentuh rambutnya.


"Jika ingin mencari perhatian bos saya, cobalah untuk memiliki karya, miliki prestasi, bukan skandal!" Abigail kembali menghempaskan tangan Dona. "Pakailah cara yang elegan, jangan murahan."


"Gadis buruk rupa sepertimu tidak pantas mengajariku!"


"Saya memang jelek, tapi setidaknya saya memakai otak saya untuk mencari nafkah. Bukan dengan menjual aib mempermalukan diri sendiri dan keluarga!" Abigail kembali melontarkan ucapan yang pedas.


Dona tersenyum sinis. "Bukankah Darren membencimu karena kamu jelek?"


"Ya, pada awalnya. Tapi saya membuktikan, bahwa penampilan bukan segalanya. Penampilan juga bisa menipu. Yang membuat saya dipertahankan adalah kinerja saya. Ini adalah berkat buat saya, jelek tapi bisa bekerja bersama Tuan Darren."


"Anda cantik Nona, tapi sayang, kelakuan anda busuk."


Dona kehilangan kata-kata, namun saat ia hendak kembali menyerang Abigail, ia melihat Darren dan Triasaka berdiri tak jauh di belakang Abigail. Entah sejak kapan keduanya ada di sana. Dona tersenyum samar kemudian dia mulai menangis.


"Apa salahku kepadamu Abigail. Bukankah aku tak pernah menyakitimu? Hanya karena kamu asisten kesayangan Kak Trias dan Kak Darren kamu tega berbicara begitu padaku?" Dona terisak-isak.


Abigail menatapnya heran. Namun sesaat kemudian suara di belakangnya membuat gadis itu sadar, ia menjadi pemeran antagonis dalam drama yang dimainkan Dona.


"Ada apa ini?" Trias lebih dulu memasuki arena.


"Kak Trias." Dona berlari mendekati Manager Darren itu. Namun sebelum ia berhasil memeluk Trias, pemuda itu segera berkelit.


Tak ingin kehilangan muka, Dona kembali menangis.


"Kak, dia bilang aku artis tak punya prestasi dan kelakuanku busuk. Padahal aku hanya ingin bertemu Kak Trias dan Kak Darren."


Abigail membalikkan tubuhnya, dan saat itu matanya beradu pandang dengan Darren. Yang entah sudah berapa lama memandangi Abigail dari belakang.


Abigail menunduk, tatapan Darren membuatnya tak nyaman. Pemuda itu terang-terangan menatap Abigail layaknya orang yang sedang terpesona.


"Kami sudah sejak lama berada di belakang. Sebelum kau memulai dramamu, Dona." Trias menatap gadis muda itu dengan tajam. "Berhenti menangis dan pergilah."


"Selain itu, jangan pernah memerintah Abigail. Kami yang membayar kerja kerasnya, bukan kalian. Jika ada yang berani mengusiknya lagi, aku tak akan segan." Darren menambahkan.


Wajah Dona memerah, ia mengusap air matanya dengan kasar.


"Perbaiki make up anda yang luntur, Nona." Abigail mengatakannya dengan sangat tenang bahkan pergi meninggalkan tempat itu.


Dona terkejut, ia segera membuka kaca kecil yang selalu ia bawa. Matanya membola saat melihat riasannya luntur di beberapa tempat, membuat Dona tanpa sadar mengucapkan sumpah serapah mengutuk make up artis yang bekerja dengannya.


"Benar kata Abigail, kelakuanmu tak secantik wajahmu." ucap Darren seraya melewati Dona yang sibuk menutupi wajahnya.


"Kak Darren." Dona masih berusaha menggapai tangan Darren, namun pemuda itu menepisnya.


Akhirnya Dona meninggalkan area itu dengan perasaan malu yang luar biasa. Juga dendam pada Abigail yang dianggap sudah mempermalukan dirinya.

__ADS_1


Abigail menenggak satu gelas besar air mineral sampai habis. Ia hampir terbawa emosi dengan ucapan Dona.


"Beauty privilege terkutuk." gerutu Abigail.


Darren meletakkan sekotak snack bar favorit Abigail dan dengan cepat mengambil kacamata yang sengaja Abigail lepas. "Jangan marah-marah, nanti kamu semakin jelek seperti Dona."


Abigail melirik Darren dengan tajam. "Cukup penampilanku saja yang jelek."


Darren tersenyum geli, kemudian mendorong snack bar yang belum dilihat Abigail. "Semoga bisa mengembalikan mood mu."


Wajah Abigail berubah cerah saat melihat snack favorit di depan mata. "Wahh, terima kasih."


Dengan mata berbinar-binar dan senyuman bahagia yang tulus Abigail menatap Darren.


"Kamu bos terbaik." puji Abigail lagi.


"Hmmm." Darren hanya menanggapi dengan dingin, walau sebenarnya jantungnya berdebar dengan kencang mendengar ucapan terima kasih Abigail.


Ia berbalik dan akan pergi sebelum Abigail tersadar soal kacamatanya. Sayangnya Darren kurang beruntung.


"Kembalikan kacamataku."


Darren berbalik dan menyeringai. "Tidak akan." dan ia segera berlari menuju ruang pribadinya.


Tanpa Darren duga, Abigail berhasil meraih tangan kanannya dan menahan pemuda itu.


"Kembalikan!"


Darren mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi.


"Tidak." Darren tertawa berhasil mengerjai Abigail.


Tinggi Abigail 5 cm lebih pendek dari Darren, membuat gadis itu merasa percaya diri dapat menggapainya.


Oleh sebab itu ia menekan pundak kanan Darren dengan tangan kiri. Kemudian menggunakan tangan kanannya untuk menggapai kacamata.


Darren tak kehilangan akal, ia memutar-mutar lengannya dan membuat Abigail sedikit kesulitan.


"Darren, kembalikan."


"Pokoknya tidak." Darren semakin terkekeh.


Tanpa keduanya sadari, posisi tubuh mereka jadi saling menempel.


Tiba-tiba Trias mengambil kacamata Abigail dari belakang Darren. Membuat gerakan keduanya terhenti.


"Jangan bermesraan di depanku."


Ucapan Trias membuat keduanya saling pandang dan tersadar dengan posisi tubuh mereka. Keduanya refleks bergerak mundur.


Abigail berdehem kemudian mencari tasnya untuk mengambil tab. Sedangkan Darren cepat-cepat masuk ke dalam ruang pribadinya.


Mereka meninggalkan Trias yang tersenyum geli dengan kacamata Abigail di tangannya.

__ADS_1


......................


Maaf baru up lagi🙏🙏🙏 Othor sakit dan sekarang sementara pemulihan


__ADS_2