
Abigail tersenyum senang seraya menggeliat merasakan kenyamanan tempat tidurnya. Kemudian tangannya terulur dan menepuk pelan wajahnya yang telah diolesi krim malam. Setelah beberapa saat memejamkan mata, ia meraih headset yang terletak tak jauh dari tempatnya berbaring dan menelepon Mikha.
"Selamat malam kak." Sapa Abigail dengan senyum yang tak pernah luntur meski Mikha tak dapat melihatnya.
"Selamat malam Ai, aku sudah menyiapkan permintaanmu."
Abigail mengerucutkan bibirnya. "Tak bisakah kita basa basi dulu?" Ujarnya kesal.
Di ujung sambungan Mikha menutup mulutnya agar Abigail tak mendengar ia tertawa kecil, Mikha dapat membayangkan wajah kesal Abigail.
"Maaf sayang, tapi hari ini aku sedang ingin tidur lebih awal. Tolong mengerti." Sahut Mikha setelah ia berhenti tertawa.
"Hmmm…baiklah, aku mengerti." Abigail tersenyum tipis. "Terima kasih sudah memenuhi permintaanku. Mulai besok dan seterusnya aku akan mengaktifkan pelacak selama 24 jam."
"Ya, Morgan sudah aku perintahkan untuk siaga setiap saat." Mikha menarik nafas dengan berat. "Jaga dirimu baik-baik."
"Pasti kak."
"Aku menyayangimu."
"Aku juga."
Abigail melepas headset dan meletakkan benda itu serta ponsel di nakas. Ia memejamkan mata dengan masih tetap mengulas senyum.
"Tak lama lagi misi selesai. Tidak ada lagi Asisten Culun." Gumam Abigail sebelum akhirnya terlelap.
☘️☘️☘️
Abigail sedang memisahkan berkas penawaran kerjasama saat Trias mendatanginya dengan sebuah map di tangannya. Gadis itu segera menghentikan aktivitasnya, matanya memicing pada map yang sudah pernah ia lihat sebelumnya.
"Aku tidak mengerti Darren sedang terlibat apa." Ucap Trias dengan wajah sedih sambil memberikan map pada Abigail. "Apakah kebetulan lokasi pembunuhan tepat di sebelah apartemen Darren atau ada yang sengaja meminta lokasi eksekusi dilakukan disana?"
Trias terlihat frustasi, ia mengusap wajah dengan kedua tangannya. Sedangkan Abigail tampak tercenung memikirkan pertanyaan Trias. Sesaat kemudian ia tersadar dan membuka map yang disodorkan Trias. Dan sudah pasti Abigail mengetahui apa isi map tersebut. Namun ia tetap membukanya agar tidak menimbulkan kecurigaan pada Trias.
"Lalu, kita harus bagaimana?"
"Jujur saja, aku tak tahu."
Abigail terdiam, ia menatap Trias dengan penuh iba.
"Aku belum tahu bagaimana caranya memberitahu Darren." Sambung Trias seraya menyandarkan punggung dan mulai memejamkan mata.
__ADS_1
Abigail berdiri dan membereskan semua map kemudian menumpuknya di ujung meja.
"Kita harus tetap memberitahunya, apapun yang terjadi."
"Memberitahu apa?"
"Ehh!!!" Abigail menjengit, dan tangannya refleks menyenggol semua map hingga jatuh berserakan di lantai.
Trias segera membuka mata dan berdiri begitu mendengar suara Darren. Sedangkan Abigail bergegas membereskan map yang berjatuhan di lantai. Melihat itu, Darren pun ikut berjongkok untuk membantunya.
"Kenapa terkejut sekali? Apa yang…" pertanyaan Darren terhenti ketika ia melihat setengah bagian dari sebuah foto mencuat dari dalam salah satu map.
Setengah bagian itu menampakkan wajah Rosalin yang sedang tersenyum dan bergelayut manja pada seseorang dengan latar tempat parkir.
Darren segera mengambil map dan membukanya. Abigail menatap cemas kemudian berbalik menatap Trias. Gadis itu menggerakkan bibir mengucapkan kata maaf tanpa terdengar suara sedikit pun. Trias mengangguk seraya menggerakkan tangan untuk menenangkan Abigail.
Tanpa Trias ketahui, Abigail merasa senang dalam hatinya karena tak perlu repot memikirkan cara untuk menunjukkan foto Rosalin dan Brody pada Darren.
"Pria ini adalah anak kandidat calon presiden, Tuan Robert de Lima." Gumam Darren dengan nada datar. "Dan wanita korban pembunuhan itu adalah istrinya." Darren duduk di lantai, ia merasakan tubuhnya seakan tak bertenaga.
"Rosalin!!!" Darren menggeram, cengkraman tangannya meremas foto dengan kuat.
"Jangan terlalu cepat menarik kesimpulan, kita tidak memiliki bukti jika Rosalin terlibat." Trias mengingatkan.
Trias dan Abigail terperanjat saat mendengar suara pintu ditutup dengan sangat kuat.
"Kak…."
"Biarkan saja dulu, yang penting tetap diawasi. Jangan sampai Darren menyelinap keluar seperti waktu itu." Trias menepuk bahu Abigail kemudian pergi menuju pintu keluar dan mengganti password keamanan serta mengunci pintu.
Setelah membereskan map dan meletakkannya dengan baik, Abigail menuju pantry dan membuat makanan ringan serta jus. Ia dan Trias akan duduk di ruang tengah tepat di depan pintu kamar Darren. Mereka tak perlu khawatir soal balkon, sebab kali ini mereka berhasil memaksa Darren untuk tidur di kamar yang lebih kecil tanpa balkon.
☘️☘️☘️
Menjelang sore, mobil yang dikendarai Trias memasuki basement Sky City. Selama beberapa jam mengurung diri di dalam rupanya Darren mengambil keputusan untuk mundur dari dunia hiburan yang sudah membesarkan namanya. Ia pun menyesal sudah menentang keluarganya yang dari awal tidak setuju dengan keinginan Darren untuk menjadi penyanyi.
Saat tiba di tempat parkir, Darren bergegas keluar dari mobil, sebab ia melihat Rosalin. Pemuda itu berlari menghampiri wanita tersebut kemudian menamparnya. Abigail tidak menyangka dengan tindakan pemuda itu. Ia dan Trias segera berlari menyusul Darren.
"Itu kau!!! Pasti!!! Pelakunya adalah dirimu!!!" Teriak Darren.
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan!!!" Balas Rosalin tak kalah sengit sambil memegang pipinya yang sakit akibat tamparan Darren.
__ADS_1
"Kau yang menyuruh orang untuk menerorku. Karena kau adalah kekasih Brody de Lima! Suami dari wanita yang terbunuh itu!"
Wajah Rosalin pias, ia mundur perlahan.
"Ba…bagaimana kau… Bagaimana kau tahu?" Rosalin menelan salivanya dengan susah payah.
"Ternyata benar dugaanku." Darren tersenyum sinis. Namun saat ia akan melangkah mendekati Rosalin, Trias menahannya.
Di belakang Trias, Abigail mengirim sinyal tanda bahaya kepada Mikha. Matanya liar memindai tempat parkir tersebut. Hanya ada beberapa mobil yang terlihat mencurigakan. Karena semua jenisnya sama, SUV berwarna hitam.
Benar firasat Abigail, sesaat kemudian penumpang di mobil-mobil tersebut keluar sambil membawa pistol dan tongkat bisbol. Darren dan Trias menoleh ke segala arah, terkejut dengan munculnya pria-pria berbaju serba hitam dengan wajah garang.
"Aku tak percaya, kita cepat sekali ketahuan." Suara berat seorang pria terdengar diiringi kemunculan sesosok tubuh tinggi besar dari dalam mobil yang tadinya hendak dinaiki Rosalin sebelum Darren menyerangnya.
"Brody de Lima." Gumam Darren dengan tangan mengepal.
Brody tersenyum angkuh. "Ya, itulah aku." Jawabnya sambil menatap mangsanya satu per satu. "Tangkap mereka semua!"
Dengan segera tiga orang pria menghampiri Abigail, Trias dan Darren. Saat Darren meronta, beberapa orang segera mengacungkan pistol untuk mengancam, membuat Darren menghentikan pergerakannya.
"Kau cukup merepotkan, Darren. Seharusnya dari awal aku melenyapkanmu." Brody tersenyum melihat Darren berhenti melawan.
"Bukankah sejak awal sudah kukatakan, bunuh saja dia." Ucap Rosalin seraya mengecup bibir Brody tanpa malu-malu.
"Kau benar sayang, pengecut ini membuat kita menghabiskan uang dengan sia-sia hanya untuk menerornya." Sahut Brody dan kembali ******* bibir Rosalin.
"Menjijikkan!" Desis Darren.
"Kau pun sama, begitu gegabah hingga membuat orang-orang terdekatmu turut serta menjemput ajal." Jawab Brody seraya mengedikkan dagu untuk menunjuk Abigail dan Trias yang telah dipegang dan ditodong dengan pistol.
Darren seakan tersadar, ia terkesiap kemudian menoleh dengan cepat dan melihat Trias juga Abigail berada dalam ancaman anak buah Brody.
Seketika itu juga penyesalan menyergap dirinya. Darren merutuki kebodohan yang kembali ia lakukan.
...****************...
Hai good readers.
Maaf baru up lagi setelah menghilang lebih dari satu bulan🙏🙏🙏
Karena satu dan lain hal yang tidak bisa diutarakan disini, novel ini jadi terbengkalai.
__ADS_1
Terima kasih untuk semua dukungan yang diberikan bagi novel ini🙏