ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 6. Walk in Closet


__ADS_3

Abigail membereskan kertas-kertas yang ada di mejanya. Ia baru saja selesai menyesuaikan undangan yang mereka terima dan pasti dihadiri, dengan jadwal Darren yang sudah ada sebelumnya.


Hari sudah sore, Darren dan Trias masih belum kembali dari studio tari untuk berlatih koreografi. Meski sempat down akibat paket mengerikan yang ia terima, Darren tetap melanjutkan aktivitasnya sesuai jadwal.


Setelah menimang-nimang, Abigail memutuskan untuk menyusul mereka ke lantai lima. Saat sedang menunggu pintu lift terbuka, beberapa staf wanita berjalan sambil berbisik-bisik dan menatap ke arahnya.


Ketika melewati Abigail, tiba-tiba salah satu diantara mereka hilang keseimbangan dan menabrak Abigail dari belakang. Abigail yang tidak siap terhuyung ke depan dan membentur dinding dengan kencang.


Abigail meringis, ia merasakan nyeri pada wajah bagian kiri terutama di area mulut. Ia yakin kawat gigi yang ia gunakan pasti sudah melukai langit-langit mulutnya. Dan dugaan Abigail benar, ia mulai dapat merasakan rasa asin saat menelan liur.


Para wanita tadi tertawa melihat Abigail kesakitan. Tak satupun yang merasa iba.


Abigail segera berbalik dan menatap mereka dengan tajam  "Siapa yang melakukannya?"


"Aku." jawab wanita yang sengaja menabrak Abigail.


"Oh, ternyata dirimu, Zai." Abigail mengenali asisten Roki tersebut setelah kejadian di apartemen Darren.


"Kenapa? Mau melukaiku? Dasar buruk rupa! Culun! Kampungan!" Zai meluncurkan kata demi kata yang menghina Abigail.


"Apakah mulutmu yang mengeluarkan kalimat buruk itu lebih baik dari diriku?" pertanyaan Abigail membuat Zai tercekat. Ia segera maju dan mengangkat tangannya hendak memukul Abigail.


Disaat yang sama pintu lift terbuka. Zai terkejut saat melihat Trias tengah menatapnya tajam. Ia tersadar akan posisi tangannya dan segera menurunkannya.


"Ada apa ini?" Trias melangkah dan berdiri di samping Abigail.


"Ti…tidak ada apa-apa. Kami hanya sedang bercanda dengan asisten baru ini." ucap Zai berbohong.


Trias tak serta merta percaya pada ucapan Zai. Ia menatap Abigail untuk mengkonfirmasi jawaban Zai. Namun sesuatu pada wajah Abigail sudah menjawab pertanyaan yang belum sempat Trias ucapkan.


"Abigail, sepertinya bibirmu bengkak."


Ucapan Trias membuat Abigail segera menutup bibirnya.


"Ayo, kuantar kau pulang." Trias mengajak Abigail kembali ke ruangan Darren untuk mengambil tasnya.


Baru beberapa langkah berjalan, Trias berhenti dan berbalik menatap Zai. Tanpa sadar Zai mundur selangkah, ia merasa takut dengan tatapan Trias yang ditujukan padanya saat ini.


"Saat Roki menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan Darren, kau tak perlu ikut. Karena aku tak ingin melihat wajahmu di sekitar tim kami."


"Ak..aku…" Zai tak dapat melanjutkan kalimatnya karena Trias sudah berbalik dan berjalan cepat menyusul Abigail.


......................


"Kita ke dokter." ucap Trias saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Tid..tidak perlu Kak." Abigail berperan seolah-olah dia masih ketakutan.


"Nanti akan infeksi."


"Saya bisa mengatasinya sen..sendiri."


Trias menghela napas, ia tak ingin memaksa Abigail. Dan setelah itu Trias diam, ia tak lagi berusaha mengajak Abigail bercerita seperti biasanya. Trias takut akan membuat langit-langit mulut Abigail semakin terluka.


"Terima kasih Kak." ucap Abigail sebelum turun dari mobil Trias.


"Kau yakin akan baik-baik saja?"


Abigail mengangguk dan mengulum senyum meski tampak aneh. Trias hanya tersenyum tipis dan segera melajukan mobil meninggalkan gedung apartemen Abigail.


Begitu mobil Trias tak lagi tampak, Abigail melangkah dengan cepat menuju sebuah minivan yang terparkir tak jauh dari mereka.


"Abigail, bagaimana kau bisa lengah?" Mikha segera bertanya setelah Abigail masuk dan menutup pintu mobil.


"Entahlah." jawab Abigail yang terlihat enggan.


"Biar aku periksa." Louisa meminta Abigail berpindah dan duduk di dekatnya.


Minivan yang Abigail naiki sudah dimodifikasi. Pada bagian dalamnya terdapat beberapa layar monitor dan juga peralatan medis.


Dengan perlahan Louisa memeriksa mulut Abigail. Sesekali Abigail meringis menahan sakit.


"Aku harus melepas lapisan gigi ini." ujar Louisa sambil menatap Mikha.


"Lakukan saja." Mikha terlihat merasa bersalah.

__ADS_1


Louisa mengambil beberapa peralatan dan meminta Abigail untuk tetap membuka mulutnya.


"Bukankah sudah kuperingatkan, berbahaya memakai lapisan agar terlihat seperti memakai kawat gigi." ucap Louisa sambil tetap bekerja.


"Iya, aku salah tak mendengarkan perkataanmu." sahut Mikha lagi.


Abigail memutar bola matanya mendengar jawaban Sang Kakak. Sebenarnya saat mendengar detail penyamarannya pun Abigail sudah memprotes penggunaan kawat gigi palsu ini.


"Maafkan Kakak ya Abigail." ucap Mikha lagi.


"Minta maafnya nanti saja." Louisa masih kesal pada Mikha. Beberapa saat kemudian ia berhasil melepas lapisan pada gigi Abigail.


"Aku akan memberi obat yang reaksinya sangat cepat. Malam ini kau tidak boleh kemana-mana."


Abigail hanya mengangguk, namun wajahnya terlihat lega sudah terbebas dari benda itu.


......................


Keesokan harinya, Abigail mengikuti Darren dan Trias yang mengadakan pertemuan dengan seorang produser di sebuah restoran. Sejak kedatangannya, Darren sudah melempar tatapan aneh pada Abigail sebab gadis itu memakai masker.


"Apa kau baik-baik saja?" Trias sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Darren.


"Iya kak, saya hanya sedikit flu." rupanya efek samping dari obat yang diberikan Louisa membuat Abigail terserang flu ringan.


"Jangan lepas maskermu, aku tak ingin tertular." sahut Darren ketus kemudian berjalan menuju tempat duduk yang sudah mereka pesan.


"Baik Tuan."


Ternyata orang yang akan mereka temui terjebak kemacetan. Sehingga ketiganya harus bersabar menunggu.


Darren terlihat beberapa kali mengubah posisi duduknya dengan jeda waktu yang singkat. Dan pemuda itu pun terlihat berkeringat. Beberapa kali ia melihat ke arah luar restoran seperti mencari-cari sesuatu 


Abigail yang duduk berhadapan dengannya tersenyum tipis. Ia mengerti Darren sedang gelisah. Sebab Abigail pun melihat apa yang dicari Darren.


Dinding yang terbuat dari kaca dan posisi duduknya yang strategis, membuat Abigail leluasa mengamati keadaan di luar restoran tanpa dicurigai orang lain.


"Ada apa Darren?" Trias yang baru menyadari perilaku Darren segera bertanya.


"Sepertinya aku melihat beberapa orang berjaket hitam dengan gambar simbol yang sama dengan gagang pisau kemarin." Darren menjawab pertanyaan Trias tanpa menatap lawan bicaranya.


Setelah berkata seperti itu, Trias terdiam. Ia lupa jika ada Abigail bersama mereka. Sebelum Trias sempat mengatakan sesuatu, dua orang pria menghampiri mereka.


"Maaf kami terlambat." ucap salah satu diantara mereka.


Darren, Trias dan Abigail segera berdiri menyambut kedatangan produser dan asistennya.


"Kami belum terlalu lama." sahut Trias berbasa basi. Setelah saling berjabat tangan, mereka pun memulai pembicaraan perihal rencana produksi album baru Darren.


......................


Padatnya kegiatan Darren selama beberapa hari terakhir membuat pemuda itu merasa ingin beristirahat.


"Abigail, kosongkan jadwalku hari ini." Darren memberikan perintah begitu melihat Abigail masuk ke apartemen.


"Tapi Tuan hari…"


"Aku tak ingin dibantah." Darren memotong ucapan Abigail dengan cepat.


Setelah berkata demikian, ia berbalik menuju kamarnya. Namun ada sesuatu yang mengusiknya hingga ia kembali berbalik menatap Abigail.


Abigail merasa risih dengan tatapan Darren yang memindainya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dan hal itu dilakukan Darren sampai beberapa kali.


"Ada yang salah dengan saya, Tuan?" Abigail memberanikan diri untuk bertanya.


"Sejak awal kau memang sebuah kesalahan." jawab Darren dan berbalik. Sepertinya ada yang berbeda dengan Abigail, tapi apanya? Darren bertanya-tanya dalam hatinya.


Abigail mengernyit, namun kemudian mengangkat kedua bahunya tak peduli. Ia segera mengambil ponsel menghubungi Trias dan mengatakan Darren ingin libur.


"ABIGAIL!!!" 


Abigail yang baru selesai berbicara dengan Trias terperanjat karena tiba-tiba Darren sudah berdiri sambil berkacak pinggang di depan pintu kamarnya. 


"Buatkan segelas susu coklat."


"Ba…" Abigail tak melanjutkan ucapannya karena Darren langsung masuk kembali ke dalam kamar.

__ADS_1


Ia segera menuju pantry membuat segelas susu coklat hangat. Abigail pun berinisiatif menambahkan setangkup roti pada nampan yang sudah berisi segelas susu tadi.


Setelah mengantar pesanan Darren, Abigail segera kembali ke pantry.


"ABIGAIL!!!"


Sekali lagi Abigail mendengar teriakan Darren namun kali ini dari dalam kamarnya. Ia bergegas menuju kamar Sang Penyanyi dan mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk.


"Masuklah!" teriak Darren sekali lagi.


"Ada ap….."


"Atur walk in closet itu berdasarkan warna. Aku ingin perubahan suasana. Jika Trias datang mencariku, katakan aku tidur di kamar depan." seusai memberi perintah dan meninggalkan pesan, Darren segera keluar kamar, masih dengan roti di tangannya.


"Musisi menyebalkan." rutuk Abigail.


"Aku mendengarnya!" seru Darren dari depan pintu. Pemuda itu tersenyum, mengerjai Abigail sudah menjadi hobi baru Darren.


Abigail menatap walk in closet milik Darren dan menghembuskan napas dengan kasar. Namun gadis itu tetap mengerjakan perintah meski ia merasa kesal.


Menjelang siang, ia sudah menyelesaikan tugasnya. Abigail segera menuju pantry untuk menyantap bekalnya disana.


Tak lama kemudian terdengar pintu terbuka. Tanpa perlu menengok, Abigail yakin jika Darren sudah bangun dan berjalan keluar kamar.


Gadis itu memilih mengerjakan perubahan jadwal di meja pantry.


"Mengubah jadwal seenak perutnya." gerutu Abigail pelan. Dan tiba-tiba saja ia teringat sesuatu.


Beberapa bulan yang lalu ia pernah membuat Tania kelabakan karena meminta wanita itu mengosongkan jadwalnya untuk dua hari.


"Ternyata seperti ini repotnya." Abigail terkekeh pelan, menertawakan dirinya sendiri. "Sepertinya aku menuai apa yang aku tabur."


"ABIGAIL!!!"


Teriakan Darren membuat Abigail terkesiap. Ia segera menuju kamar Darren.


"Ya ampun!" Abigail menghentikan kakinya dan segera berbalik. Ia merasa risih dengan Darren yang hanya melilitkan handuk di pinggangnya dan memegang baju di kedua tangannya.


Darren tersenyum sinis. "Aku tak bermaksud menggodamu. Lagi pula siapa yang mau denganmu." cibirnya. "Atur walk in closet, kembalikan semua pakaian dan aksesoris ke posisi sebelumnya. Aku bingung saat mencari baju." 


Setelah berkata seperti itu, Darren menuju ruang kerja dan berganti disana. Ia tahu Abigail pasti kesal, namun Darren tak peduli.


Terdengar kertak gigi setelah Darren menutup pintu.


"Walk in closet sialan!!!" Kedua tangan Abigail mengepal di kedua sisi tubuhnya.


Merasa mulai dikuasai emosi, Abigail menutup matanya rapat-rapat. Kemudian ia menarik nafas dan membuangnya secara perlahan. Abigail melakukan itu selama beberapa kali hingga ia merasa lebih tenang.


Hari sudah malam ketika Abigail meninggalkan apartemen Darren. Ketika keluar dari gedung, ia melihat beberapa pria berbadan besar dan tegap duduk di motor mereka masing-masing. Mereka mengenakan helm full face berwarna hitam, senada dengan jaket yang mereka pakai.


Mata Abigail memicing, ia mengingat simbol tersebut. Kemudian ia memperbaiki letak kacamatanya dan berjalan melewati orang-orang itu dengan tenang. Penampilan Abigail saat ini tak akan membuat siapapun curiga.


Setibanya di apartemen miliknya, Abigail menghubungi sang kakak dan menceritakan apa yang ia lihat dalam perjalanan pulang tadi. Begitu menerima laporan Abigail, Mikha segera menghubungi trias agar kembali pindah apartemen.


Abigail sedang berendam dalam bathtub saat ponselnya berdering. Ia memasang headset sebelum mengangkat telepon.


"Halo."


"Halo Ai. Kakak sudah mengingatkan Trias dan memerintahkannya untuk memindahkan Darren ke tempat lain."


"Baguslah kalau begitu. Apa ada hal lain yang dikatakannya?"


"Dia hanya protes karena menurutnya aku belum mengirim agen untuk mengawal Darren secara pribadi."


Abigail tertawa geli. " Lalu apa yang Kakak katakan?"


"Aku hanya menjawab agen itu sudah bekerja tanpa mereka ketahui."


"Jawaban yang tepat."


"Baiklah, sampai nanti. Kakak menyayangimu."


"Aku pun menyayangimu."


Abigail melepas headset kemudian membiarkan tubuhnya tenggelam di dalam bathtub untuk beberapa saat.

__ADS_1


......................


__ADS_2