
Abigail mengamati ruang tempat mereka disekap. Tidak ada celah yang bisa digunakan untuk melarikan diri. Gadis itu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan untuk menenangkan diri. Mereka meninggalkan basement Sky City dengan kepala ditutup kain layaknya seorang tawanan.
"Maaf." Lirih Darren.
Abigail dan Trias sontak menatap pemuda tersebut yang sedang duduk dengan memeluk kedua kakinya.
"Sekali lagi aku tidak berpikir dengan jernih, aku menuruti emosiku." Ucapnya penuh penyesalan.
Abigail memilih diam, toh hal inilah yang ia inginkan. Meskipun ia juga sempat terkejut karena tidak menyangka akan secepat ini.
Trias pun bungkam, ia tak tahu harus menanggapi apa. Marah pada Darren pun tidak ada gunanya, mereka semua sudah menjadi tawanan. Ia hanya bisa berharap, Darren akan menjadikan semua ini pelajaran dan tidak lagi menuruti emosinya. Itu pun jika mereka memiliki kesempatan untuk tetap hidup.
Tetap hidup? Trias tersenyum kecut. Sepertinya jika berhasil hidup, aku harus segera menikahinya. Gumam Trias di dalam hatinya sambil mengingat wajah seorang gadis yang mulai mengisi hatinya baru-baru ini.
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki di luar ruangan, ketiganya segera berdiri. Terlihat beberapa pria masuk sambil membawa kain. Kemudian yang lain menodongkan senjata ke arah Abigail, Darren dan Trias.
Tanpa banyak bicara, kepala ketiganya segera ditutup dengan kain dan digiring keluar dari ruangan tersebut.
Setelah berjalan beberapa saat, Abigail dapat mendengar suara mesin dari sebuah mobil.
"Mana sopirnya? Kita harus segera memindahkan mereka." Seru seseorang yang memegang lengan Abigail.
"Kemana anak baru itu?" Terdengar sahutan tak jauh dari posisi Abigail. "Nah itu dia. Dari mana saja kamu?!"
"Maaf, saya harus ke toilet." Jawab seorang pria lainnya yang disebut anak baru.
Dari balik kain Abigail tersenyum tipis, ia sangat mengenali suara itu. Oleh sebab itu, tanpa melawan Abigail masuk ke dalam mobil setelah orang yang memegangnya menyuruhnya masuk.
"Malang sekali nasibmu, kau ikut menjadi korban." Ucap pria tersebut sambil menepuk pundak Abigail beberapa kali setelah gadis itu duduk.
Dari balik penutup kepalanya Abigail hanya bisa tersenyum.
☘️☘️☘️
Selama lebih dari empat jam mobil itu bergerak, namun belum juga tiba di tempat tujuan. Bukan karena jauh, namun mereka sengaja berputar-putar dan memilih rute tak biasa. Hal ini biasa dilakukan para anggota gangster Son of ***** untuk mengecoh penguntit, maupun membuat bingung tawanan itu sendiri.
Tubuh Abigail tiba-tiba limbung begitu mobil melintasi jalan yang tak rata. Beruntung seseorang yang bertugas menjaga tawanan dengan sigap menangkap tubuhnya.
"Hei! Ada apa denganmu?" Pria itu bertanya sambil membantu Abigail untuk kembali duduk dengan benar.
Abigail mengerjap, sesaat kemudian ia menguap.
"Maaf, aku tertidur."
"Apa?" Pria tersebut tak percaya dengan yang didengarnya.
__ADS_1
"Hei anak baru, apa yang ia ucapkan?" Seorang penjaga lain yang duduk di depan Darren jadi penasaran.
"Gadis ini tertidur." Jawab pria yang membantu Abigail.
"****! Dia santai sekali. Sudah mau mati masih sempat tidur." Ujar pria di depan Darren sambil terkekeh geli. "Tahan kantukmu nona, tak lama lagi kau akan tidur untuk selamanya."
Ucapan pria tersebut disambut tawa oleh rekan-rekannya yang lain termasuk sopir dan seorang lagi yang duduk di depan.
Abigail merasakan ada seseorang yang berada tepat di depan wajahnya.
"Kita sudah tiba, tak lama lagi kau akan bersenang-senang, Athena." Bisik pria yang tadi membantunya untuk kembali duduk.
Kemudian Abigail merasakan sebuah ujung jari menyentuh pergelangan tangannya dan membuat gerakan membentuk segitiga.
Abigail tersenyum, ternyata pria di depannya adalah salah satu anak buah Liam, yang kini mengemudikan van tersebut.
Sesaat kemudian mobil berhenti, mereka segera turun dan kembali berjalan. Abigail dapat mendengar suara air dan merasakan hembusan angin yang kencang.
"Kita berada di area pergudangan lama di tepi laut." Bisik anak buah Liam yang kini memegang lengan Abigail. Gadis itu hanya mengangguk samar.
Abigail, Trias dan Darren ternyata dibawa ke markas utama Son of ***** yang berada di area gudang terbengkalai.
Ketiganya duduk di sebuah kursi dengan tangan terikat di belakang namun tali yang digunakan tidak menyatu dengan kursi. Kemudian terdengar langkah seseorang mendekat dan menarik kain yang menutupi kepala Abigail, Darren juga Trias.
Abigail menunduk dan menutup mata. Cahaya di dalam gudang menyilaukan matanya.
"Tidak, sebab kau tidak ikut bersama kami." Jawab Darren dengan dingin.
Rosalin tertawa renyah mendengar jawaban Darren. "Aku sedang menikmati surga dunia bersama Brody, jadi tidak bisa bergabung denganmu."
Darren menatap Rosalin dengan jijik.
"Oh ayolah, jangan menatapku seperti itu. Salahmu sendiri tidak pernah mau menyentuhku."
"Aku tidak melakukannya karena aku menghormatimu."
Rosalin tersenyum kecut. "Omong kosong!" Dengusnya.
Namun kemudian ia berhenti saat sudut matanya melihat Abigail.
Dengan cepat ia mendekati gadis itu. Tanpa berbicara tangannya sudah bergerak menampar pipi kanan dan kiri Abigail secara bergantian.
"ROSALIN!!!JANGAN SENTUH DIA!!!" Darren dan Trias berteriak histeris bahkan berdiri. Namun dengan sigap beberapa pria yang masih berdiri di sekitar mereka menekan bahu keduanya hingga mereka kembali duduk.
Rosalin berhenti dan melangkah mundur setelah ia merasa tangannya pegal. Dengan napas terengah-engah ia menatap Abigail dengan senyum puas. Kedua pipi gadis itu terlihat memerah dan mulai bengkak.
__ADS_1
Rosalin kembali mendekati Abigail dan berhenti tepat di depan gadis itu.
"Aku sangat membencimu karena Darren begitu manis terhadapmu." Sambil berkata begitu, tangan kanan Rosalin terulur dan menarik rambut Abigail dengan sangat kuat.
"Akhh!" Abigail terpekik merasakan sakit di pangkal lehernya.
"Ap…apa?!" Rosalin mundur dengan wajah tak percaya melihat rambut palsu di tangannya.
Sialan! Dia kuat sekali sampai lemnya pun tak bisa menahan rambut palsu itu. Gerutu Abigail saat melihat benda yang selama ini ia pakai berada di tangan Rosalin.
Rambut indah Abigail tergerai, membuat manik mata Rosalin berkilat iri. Hingga ia memutuskan untuk kembali mendekati Abigail dan mengamati wajah gadis itu dengan cermat.
"Biya!!! Mana pembersih make up milikku?" Rosalin berteriak pada seseorang.
Jantung Abigail bertalu, Rosalin sedang kalap. Ia pasti akan melakukan apapun yang ada dipikirannya saat ini.
Beberapa saat kemudian seorang pria gemulai datang dengan tergopoh-gopoh membawa sebuah kotak. Ia segera menyerahkan wadah tersebut pada Rosalin.
Wanita itu menyeringai, ia mengambil sebuah kapas yang terlihat lembab. Namun belum sempat ia mengusap wajah Abigail, suara Brody menghentikan pergerakan tangannya.
"Kau bersenang-senang tanpa diriku?"
Rosalin berbalik dan memasang senyum manis menyambut kedatangan Brody.
"Aku baru saja mulai."
Brody melihat para tawanan dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Wajah gadis itu sudah bengkak, padahal aku berencana membunuhnya dengan cepat karena dia tidak tahu menahu soal masalah kita." Ujarnya sambil menatap Rosalin dengan kesal.
"Dia membuatku mual." Rosalin mengerucutkan bibirnya dan bersuara manja. Namun kali ini Brody tidak terpengaruh, pria itu tetap memasang wajah kesal.
"Kalau ingin menyiksanya jangan disini, harusnya kau lakukan di tempat lain. Disini hanya khusus bagi orang yang bermasalah langsung denganku."
Sambil berkata seperti itu, Brody mengeluarkan sepucuk senjata dari punggungnya.
"Jangan pakai senjata!" Rosalin segera memegang tangan Brody. "Aku ingin melihatnya berlari seperti istrimu saat itu. Dan mati dengan begitu banyak hujaman belati."
Perkataan Rosalin sontak membuat Abigail, Darren dan Trias terbelalak.
"Ternyata, kau juga ada disana." Suara Darren terdengar bergetar.
"Tentu saja." Sahut Rosalin dengan bangga. Ia bahkan tersenyum manis menatap Darren.
Perempuan gila! Umpat Abigail dalam hati.
__ADS_1
...****************...