ASISTEN CULUN

ASISTEN CULUN
Bab 19. Mimpi Buruk


__ADS_3

Darren tersenyum saat melihat Abigail sedang menyiapkan bajunya. Ia menatap punggung gadis itu dengan penuh cinta.


"Abi."


"Ya." gadis itu segera berbalik.


Darren mengernyit, menatap gadis cantik yang ada di hadapannya sekarang.


"Siapa kamu?" tanya Darren dengan telunjuk mengacung ke depan.


Mata dan cara menatapnya sama, tinggi dan postur tubuhnya sama. Tapi wajah jauh berbeda.


Tanpa sadar Darren meraba dadanya. Debaran yang ia rasa sama seperti saat ia melihat Abigail.


Dengan mata yang terpaku pada gadis di depannya, Darren melangkah untuk mendekat. Senyuman manis gadis itu menular padanya hingga tanpa sadar Darren pun ikut tersenyum.


Perlahan Darren mengulurkan tangan menyentuh pipi gadis tersebut. Tangannya merasakan kelembutan kulit pipi yang menciptakan desiran hangat di seluruh tubuh Darren.


Melihat gadis di depannya hanya diam saja sambil membalas tatapannya, Darren semakin berani. Ibu jarinya mengusap bibir merah alami yang menggoda itu.


"Abi, aku mencintaimu." lirih Darren dengan wajah yang semakin dekat.


Namun tiba-tiba keadaan di sekitar mereka menjadi gelap. Darren tersentak, ia menatap sekelilingnya.


"Abigail." tangannya berusaha menggapai gadis di depannya. Akan tetapi hanya ruang kosong yang ada di sana.


"Abi?"


Darren melangkah kesana kemari. Ia semakin heran saat kakinya tidak tersandung ataupun tubuhnya menabrak apapun. Padahal seingat Darren ia sedang berada di kamarnya.


Pemuda itu terus melangkah di dalam kegelapan hingga kemudian perutnya membentur pagar besi. Darren berhenti, ia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan mata.


Darren memeluk tubuhnya saat merasakan hembusan angin. Dan sesaat kemudian ia bisa melihat dengan jelas situasi di sekitarnya.


Nafasnya tercekat saat menyadari dimana ia berada saat ini. Balkon kamar di apartemennya yang lama.


Darren menatap sedikit ke bawah, ke atap gedung yang berada tepat di sebelah gedung apartemennya. Jarak kedua gedung itu hanya sekitar 4 meter.


Mata Darren membulat sempurna. Di tengah atap gedung itu berdiri seorang wanita dengan baju berlumuran darah. Bahkan sebuah pisau masih tertancap di bagian dadanya. Wanita itu menatap Darren dengan sendu. Kedua sudut matanya mulai mengeluarkan darah. Bahkan dagu dan lehernya pun telah basah oleh darah yang keluar dari mulutnya.


Perlahan wanita itu berjalan hingga mencapai batas tepi gedung. Rasa takut menyergap saat Darren melihat wanita itu tetap berjalan ke arahnya meski kakinya sudah melayang di udara. Darren ingin berlari menjauh, namun kakinya tak dapat digerakkan.


Keringat dingin bercucuran, dengan sekuat tenaga Darren berusaha bergerak menghindar. Namun sia-sia, untuk sekedar memejamkan mata saja ia tidak mampu.


Tangan mungil dan pucat itu terulur. Darren melihat telapak tangan yang sudah dipenuhi darah itu hendak menutup wajahnya.


Dada Darren naik turun dengan cepat, nafasnya memburu. Ia berusaha untuk teriak meski tak ada suara yang keluar. Tiba-tiba ia bisa bergerak, kedua tangannya terulur ke depan berusaha mendorong wanita itu agar menjauh. Tubuhnya bergerak ke samping dengan sangat kuat.


"Akhhh!!!"


Darren membuka mata dengan raut wajah kesakitan. Dinginnya lantai kamar membuat Darren segera sadar. Ia mengerang seraya menggerakkan tubuhnya dan duduk.


Darren bersandar di tepi tempat tidur sambil mengusap kepalanya yang sakit akibat jatuh dari kasur. Ternyata ia kembali bermimpi buruk tentang wanita itu.


☘️☘️☘️


Abigail mengernyit saat mendapati Darren terlihat lelah bahkan wajahnya pucat. Ia meletakkan tas dan menuju pantry. Beberapa menit kemudian Abigail membawa segelas teh untuk Darren.


"Terima kasih Bi." ucap Darren tulus seraya menepuk tempat di sebelahnya.


Abigail ragu, namun pandangan memelas Darren membuatnya tak tega. Ia segera duduk di samping Darren seperti yang diminta pemuda itu.


"Darren?" Abigail terperanjat saat Darren tiba-tiba meletakkan kepala di pundaknya. Ia juga bergerak karena risih dengan sikap manja Darren.


"Diamlah Bi. Tolong biarkan aku begini sebentar saja. Kumohon." pinta Darren dengan suara yang terdengar lemah.

__ADS_1


Abigail diam, ia menuruti permintaan pemuda itu. Dan kemudian Darren berpindah, ia meletakkan kepalanya di paha Abigail.


"Beberapa waktu yang lalu aku menyaksikan seorang wanita dibunuh." ujar Darren sambil memejamkan mata.


"Saat itu sekitar pukul 03.00 dini hari. Aku menyaksikan ia ditikam berkali-kali di atap gedung kosong tepat di samping gedung apartemenku yang lama."


Abigail sudah mengetahui dari berkas yang ia baca saat menerima misi. Dan ia tidak menyangka, Darren akan menceritakan hal itu kepadanya.


"Apartemen yang sebelum ini?" Abigail pura-pura bertanya agar Darren tidak curiga.


Darren menggeleng pelan. "Bukan, tapi yang sebelumnya lagi. Aku sudah dua kali berpindah apartemen." pemuda itu menarik nafas dengan berat.


"Aku masih ingat dengan jelas logo di jaket para pembunuh itu." imbuh Darren masih dengan mata yang terpejam.


"Tidak lapor polisi?"


"Sudah, tapi percuma. Bahkan akses temanku di kepolisian juga ditutup."


Abigail terdiam, ia tahu kasus yang melibatkan keluarga politikus terkenal ini tidak mudah.


"Sahabatku yang ikut menyelidiki kasus ini mengatakan, korban yang identitasnya dirahasiakan itu adalah menantu kandidat calon presiden, politikus besar, Tuan Robert de Lima."


"Bahkan beberapa hari kemudian, asistenku meninggal karena overdosis."


"Apa hubungannya?" Abigail mengernyit.


"Dia bersih Bi, kami mengenalnya dengan baik. Ia pasti dibunuh untuk mengancam dan mengintimidasi diriku."


"Apa ini yang membuatmu tidak bisa tidur?"


Darren membuka matanya perlahan dan menatap langsung ke mata Abigail. "Bukan, semalam aku mimpi didatangi wanita itu lagi. Dan ini bukan pertama kalinya."


Abigail merasa iba, tanpa ia sadari tangannya telah terulur dan mengusap kepala Darren.


Darren tertawa kecil mendengar pendapat Abigail.


"Disatu sisi, aku akan terselamatkan. Namun disisi lain, karirku akan segera berakhir. Karena begitu keluargaku mengetahui hal ini, mereka akan segera menarikku dari dunia entertainment."


Abigail mengangguk-anggukkan kepalanya. "Begitu rupanya."


"Aku masih ingin menjadi penyanyi." ucap Darren sambil kembali menutup matanya. "Aku mencintai pekerjaan ini."


Abigail tidak merespon, ia hanya terus mengusap kepala Darren. Hingga akhirnya ia mendengar suara dengkuran halus yang menandakan pemuda itu sudah terlelap.


Perlahan Abigail bergeser dan menyangga kepala Darren dengan bantal. Ia berdiri dan menatap pemuda itu sejenak.


"Tampan." lirih Abigail dengan sangat pelan. Kemudian ia membawa teh yang sudah disajikan kembali ke pantry.


Suara bel membuat Abigail bergegas membuka pintu.


"Selamat pagi Abigail."


"Selamat pagi Kak Trias." jawab Abigail dengan senyuman hangat.


Trias menyerahkan sebuah paper bag kecil. "Pengganti smartphone milikmu yang rusak akibat perbuatan Dona. Nomornya juga sama dengan milikmu yang lama."


"Ya ampun Kak, tidak perlu seperti ini. Aku juga berencana membelinya hari ini."


Trias menggeleng pelan dan tersenyum kecut. "Kami pun turut bersalah sudah memprovokasi Dona. Tolong terima saja." pinta Trias.


Abigail menerima paper bag itu meski ragu. "Te…terima kasih Kak."


"Maaf sudah merepotkanmu." jawab Trias sambil menepuk bahu Abigail kemudian menuju ruang tengah. "Darren tidur?"


"Iya, katanya semalaman ia tidak dapat tidur."

__ADS_1


Trias melirik jam tangannya sejenak dan menarik nafas berat. "Mari biarkan dia beristirahat dulu."


☘️☘️☘️


Menjelang siang, Abigail, Trias dan Darren tiba di Sky City. Meski kurang istirahat, Darren dapat melakukan semua yang sudah dijadwalkan dengan baik.


Sore hari, ketika sudah berada kembali di ruangan Darren, tiba-tiba Trias mendapat telepon dari perusahaan rekaman yang sudah menandatangani kesepakatan dengan Darren.


Wajah murung Trias ketika sambungan telepon berakhir membuat Abigail dan Darren was-was.


"Mereka membatalkan kerjasama dan bersedia membayar kerugian." ucap Trias dengan pelan.


"Ap…apa?!" Darren berdiri dan menatap Trias tak percaya. "Apa alasannya?"


"Tidak ada alasan khusus." Trias merebahkan tubuhnya di sofa dan menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Apa lagi ini?!" geram Darren.  "Aarrgghhhh!!!" pemuda itu menarik rambut dengan kedua tangannya sebagai bentuk pelampiasan kekecewaan.


Baru saja Abigail hendak berbicara, tiba-tiba Roki membuka pintu.


"Aduh Abiiii, kemana saja sih? Ayo cepat ikut miss." Roki masuk begitu saja dan menarik Abigail dengan kuat. "Pinjam Abigail dulu yes." ujarnya lagi entah pada siapa.


Akhirnya Abigail mengikuti Roki saat tidak ada respon dari Trias maupun Darren.


☘️☘️☘️


Setelah beberapa menit membantu Roki, Abigail bergegas kembali dan mendapati Trias tengah berdiri di tengah ruangan dengan bingung.


"Ada apa Kak?"


"Darren, dia pergi diam-diam saat aku sedang berada di toilet." jawab Trias dengan wajah lelah. "Abigail, ayo kita cari dia. Darren adalah saksi pembunuhan, aku takut kalau…." Trias menghentikan kalimatnya dan menegang.


"Aku tahu, tadi pagi sebelum tidur Darren sudah menceritakan masalah itu kepadaku." Abigail berusaha menenangkan Trias.


Trias menarik nafas dalam-dalam. "Aku tidak tahu itu bagus atau buruk. Yang jelas sekarang ayo kita mencarinya."


Sore hingga malam hari Abigail dan Trias berkeliling mencari Darren ke tempat-tempat yang menjadi favoritnya. Namun hasilnya nihil, Darren tak kunjung ditemukan.


Trias memijat pelipisnya. "Kalau sudah begini ia pasti berada di club malam itu."


"Kalau begitu ayo kita kesana."


Trias menggeleng. "Tidak. Biarkan saja dulu dia begitu, lebih baik kita tunggu hingga ia pulang." ucapnya lagi sambil memutar arah kembali ke apartemen Darren.


"Benarkah?"


"Ya, disana ada orang dari keluarganya." jawab Trias berusaha tenang.


Setibanya di apartemen Daren, Trias dan Abigail menanti kedatangan Sang Penyanyi dengan perasaan tidak menentu.


Menjelang tengah malam, suara bel membuat Abigail dan Trias berlari membuka pintu. Keduanya terkejut melihat Darren sudah berada di depan pintu apartemen bersama dengan Rosalin.


"Hai, aku mengantar Darren. Sepertinya ia mabuk berat." ucap Rosalin dengan tenang.


"Terima kasih." Trias menggantikan Rosalin untuk memegang Darren. Kemudian ia menuntun Darren kembali ke kamarnya.


Abigail memicing ketika melihat Rosalin memindai apartemen sementara Darren.


"Terima kasih Nona." ucap Abigail menyadarkan Rosalin.


"I…iya, permisi."


Abigail menatap kepergian Rosalin dengan alis bertaut. Setelah menutup pintu, ia segera mengambil ponsel rahasianya dan menelepon Kakaknya.


......................

__ADS_1


__ADS_2