
Abigail membersihkan senapan angin miliknya. Satu minggu tinggal di kabin membuat dirinya menjadi senang berburu. Ia mendapat banyak manfaat dari hal ini. Abigail bisa melepas penat, mendapat daging buruan dan juga melatih kemampuannya dalam menembak dan bersabar mengintai sasaran.
"Aku harap hari ini akan mendapat seekor kelinci." Gumam Abigail lagi.
Dengan penuh semangat ia mengambil ransel dan senapannya kemudian pergi meninggalkan kabin. Ia sengaja menampakkan diri dalam jangkauan kamera petugas pengawas hutan. Sebab ia yakin, orang yang tengah memburunya pasti meretas banyak jaringan kamera untuk mendapat informasi keberadaan dirinya.
Abigail mulai berjalan menjauhi kabin. Ia mengambil arah yang berbeda setiap harinya. Matahari mulai tenggelam saat ia pergi.
Dua hari yang lalu ia melihat sebuah liang kelinci saat memantau monitor miliknya. Hampir satu bulan yang lalu, Mikha sudah memasang kamera di daerah sekitar kaki gunung. Sehingga ia dan Abigail dengan mudah memantau keadaan hutan.
Sekalipun Abigail berada dalam pengawasan, ia pun perlu berhati-hati dan selalu waspada. Bahkan selama tidur di kabin ia selalu menyisipkan sebilah pisau. Senjata tambahan selain pistol yang memang selalu menemani saat ia tidur.
Setelah hampir satu jam berjalan, Abigail tiba di tempat yang menjadi lokasi liang kelinci. Tempat tersebut lebih gelap karena banyak pepohonan yang lebih rindang. Ia segera menggunakan teleskop thermal dan memantau sekeliling. Area sekitarnya aman, tidak ada ular atau binatang buas lain yang akan mengganggunya.
Abigail mengeluarkan beberapa ikatan kecil rumput dan meletakkannya di depan liang. Kemudian ia kembali tempatnya bersembunyi dan duduk dengan tenang untuk menunggu.
Gadis itu tersenyum kecut, karena saat ini dirinya pun seperti kelinci itu. Bersembunyi dan sedang berada dalam pantauan si pembunuh bayaran. Ia yakin keberadaannya saat ini telah diketahui dan orang tersebut bisa datang kapan saja.
Lewat teropongnya ia bisa melihat pergerakan seekor kelinci yang berada di mulut liang. Kelinci itu terlihat mengendus namun tetap waspada. Kemudian berlari ke arah Abigail meletakkan umpannya. Tepat saat si kelinci berada di atas pan, Abigail segera melepas sebuah tembakan.
"Kena!" Abigail membereskan peralatannya dan segera menghampiri hewan buruannya. Kelinci yang berukuran lumayan besar sudah terkapar tidak bernyawa di tanah.
Ia mengangkat kelinci dengan tangan kirinya dan tersenyum miris. "Aku tidak akan bernasib sama dengan hewan ini." Gumamnya lagi.
Ia segera meninggalkan tempat itu dan kembali ke kabin. Namun saat hampir mencapai tempat tinggalnya, ia melihat beberapa titik cahaya di area yang lebih terbuka dengan banyak rumput.
"Orang berkemah?"
Abigail mengambil teropong malam setelah meletakkan hewan buruan dan peralatannya. Ia berjalan sedikit ke depan dan mengambil posisi yang aman.
Dari posisinya dan ditunjang dengan peralatan yang memadai, Abigail bisa melihat situasi di sekitar api unggun yang berada di tengah dan dikelilingi oleh beberapa tenda.
"Kamera?" Abigail melihat seseorang sedang membersihkan peralatan elektronik. "Sepertinya itu peralatan untuk syuting."
__ADS_1
Gadis itu menarik nafas lega, ia berdiri dan segera pergi dari sana. Namun saat mengambil tas peralatan dan hewan buruannya, Abigail mendengar suara ranting patah. Ia segera mengeluarkan pisau dan kembali meletakkan ranselnya.
Abigail diam sejenak, sekali lagi terdengar suara ranting yang patah dari arah kiri. Ia mengambil pistol, dengan dua senjata itu Abigail bergerak maju. Sesaat kemudian terlihat kilatan cahaya, sepertinya cahaya itu berasal dari senter ponsel. Cahaya itu bergerak sedikit lebih jauh dari sana.
Abigail mengernyit, ia ragu untuk terus memeriksa. Namun ia tidak boleh melewatkan apapun, meski hal itu tidak mengancam nyawanya. Abigail bersembunyi di balik sebuah pohon besar. Ia mulai bisa mendengar suara hembusan nafas.
Lebih dari satu orang. Gumam Abigail dalam hati ketika sadar orang yang menyalakan senter ponsel hanya sebagai pengecoh.
Sesaat kemudian sebuah bayangan berkelebat dengan cepat mengitari pohon tempat Abigail bersembunyi. Refleks gadis itu menodongkan Desert Eagle kesayangannya dan menempelkan benda mematikan tersebut di tubuh bayangan itu. Bahkan pisau yang berada di tangan kirinya sudah hampir menusuk area pribadi bayangan tersebut. Namun sesaat kemudian ia merasa ada sebuah benda logam yang dingin menempel di pelipisnya.
"Siapa kau?!" Suara berat seorang pria membuat jantung Abigail segera berdetak dengan cepat. Perlahan ia menurunkan kedua senjata yang sudah terangkat itu.
"Da..Darren?" Abigail tercekat, meski tidak melihat wajah, namun ia sangat hafal dengan suara pemuda itu.
"Abi?"
Darren pun tidak kalah terkejut, ia segera menurunkan senjatanya. Namun dengan cepat Abigail menahan tangan Darren, tepat saat itu juga si pembawa senter tiba.
"Abigail?" Orang yang tidak lain adalah Trias terkejut melihat Abigail dan Darren yang masih dalam posisi membawa senjata meski sudah setengah diturunkan.
Trias segala mengeluarkan beberapa buah glow stick sebagai penerangan mereka. Saat keadaan sekitar menjadi lebih terang, Abigail dengan mudah dapat memandangi wajah tampan Darren. Begitupun Darren, ia tidak melepaskan pandangannya dari gadis yang ada di hadapannya.
Trias tersenyum tipis, ia berbalik untuk pergi dan menjatuhkan glow stick. Akan tetap suara dari ranting patah yang diinjak olehnya membuat kedua insan yang saling bertatapan mengerjap dan menatap Trias.
"Jangan pergi Kak." Pinta Abigail. "Apa yang kalian berdua lakukan disini?" Lanjutnya lagi.
"Ada syuting untuk sebuah single yang akan rilis." Jawab Darren sambil terus menatap Abigail.
"Sudah bisa memegang senjata ya." Abigail tersenyum menatap tangan kanan Darren.
"Ya, agar aku pun bisa melindungi diri sendiri." Sekali lagi Darren menanggapi ucapan Abigail tanpa melepaskan pandangannya.
Trias menatap keduanya sambil menggaruk tengkuknya yang mulai gatal akibat gigitan serangga hutan. Definisi anti nyamuk yang sesungguhnya. Darren yang terang-terangan menatap dengan kilatan rindu, dan Abigail yang terlihat bingung sekaligus malu-malu.
__ADS_1
"Dan kau, apa yang kau lakukan disini?" Darren balik bertanya.
"Aku…" Abigail gelisah.
Gadis itu menunduk, ia memejamkan matanya rapat-rapat. Pertemuan tidak diduga ini membuat fokusnya pecah. Ia menarik dan menghembuskan nafas berulang kali untuk mengembalikan fokusnya.
Abigail melangkah meninggalkan Darren dan Trias tanpa menjawab pertanyaan Darren.
"Lebih baik kalian segera kembali. Tempat ini berbahaya." Ujarnya sambil berjalan menuju ransel dan hewan buruannya.
Ketika Abigail mulai berjalan meninggalkan mereka dengan menenteng ransel dan kelinci, Darren segera mengambil beberapa glow stick dan berjalan mengikuti Abigail. Trias yang kebingungan pun melakukan hal yang sama.
"Abi!" Darren berusaha menghentikan Abigail. "Jangan lakukan ini kepadaku."
Abigail tidak menggubris, ia terus berjalan dengan pikiran kacau dan dada yang terasa sesak.
"ABIGAIL!!!" Darren kembali memanggil dengan suara yang lebih keras.
"Jangan ikuti aku!" Abigail berbalik dan menghentakkan tangannya dengan kesal. Bahkan kelinci yang ia pegang sampai terlepas.
"Tidak! Aku tidak akan berhenti sampai kau menjelaskan kepadaku! Jangan tinggalkan aku seperti ini!" Seru Darren tidak mau kalah.
Abigail tidak mengindahkan perkataan Darren, ia kembali melangkah dengan cepat untuk pulang. Darren semakin terpancing, ia berlari menyusul.
"Aku bilang jangan tinggalkan aku seperti ini!" Darren menangkap lengan Abigail dan memaksa gadis itu untuk berhenti.
"Kita bertemu disaat yang tidak tepat Darren! Kumohon mengertilah! Lepaskan aku!" Suara Abigail terdengar tercekat, bahkan seperti orang yang putus asa.
Pemuda di depannya tidak tahu dilema yang ia alami. Bagaimana perjuangannya melawan perasaan dan berusaha mengendalikan keadaan agar tetap sesuai rencana. Mereka harus keluar dari hutan dalam keadaan hidup.
Namun Abigail lupa, ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa dikendalikan. Bahkan ada banyak hal yang tidak bisa berjalan seperti yang kita mau.
Pertemuannya dengan Darren seakan pukulan telak bagi Abigail. Tidak ada yang namanya sempurna, ia harus bisa fleksibel menghadapi setiap perubahan yang datang tiba-tiba.
__ADS_1
...****************...